Pagi yang Tengkurap di Jendela Kaca


Malam begitu gigil. Bukan. Bukan karena suhu kota atau suhu kamar kita yang turun sekian derajat. Melainkan kitalah. Dua yang gigil sendiri sebagai segelas air putih dari botol kaca di kulkas yang diapungkan di dalamnya persegi-persegi es beku. Berkeringat karena gigil yang entah. Mungkin karena telah sebegitu lamanya. Mungkin karena telah sebegitu jauhnya. Lalu apa yang kaku beku pada masing-masing kita sudah saatnya cair.

Kemudian langkah kecil-kecil detik waktu melebar. Semakin lebar. Semakin besar. Membuat jarak kita semakin membuatmu tak tergapai. Setiap malam punya pagi untuk ditinggalkan. Setiap pagi punya malam untuk diharap-harapkan. Pagi, pagi ini, tengkurap di jendela kaca. Ia pingsan. Denyutnya begitu lemah. Nafasnya satu-satu. Entah kapan akan siuman.

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 + 9?