Perempuan & Maskara Adriana Lima


“I won’t cry for you. My mascara’s too expensive”, — Adriana Lima.

Quote yang provokatif dari seorang model supercantik kenamaan ini sangat populer. Perempuan dan rias mata bisa menjadi topik yang dangkal, namun juga bisa menjadi sangat dalam.

Satu-satunya alasan mengapa rias mata adalah riasan wajah favorit sekaligus paling kubenci adalah karena ketidakmampuanku membendung air mata sendiri. Tak pernah ada kalimat pengungkapan pendapat yang memang menyakitkanku keluar dari mulut tanpa diiringi genangan di mata yang pada akhirnya tumpah menetes di pipi. Ketika aku mencoba mengusapnya maka eyeliner dan maskara akan ikut luntur, membuat sekeliling mataku hitam. Belakangan, aku sudah terlatih untuk menangis tanpa berusaha mengusapnya.

Ini menyebalkan bagiku. Karena aku bukan tipe perempuan yang rajin membawa dompetmake-up lengkap untuk touch-up disaat-saat dibutuhkan. Ini menyebalkan bagi orang-orang disekelilingku. Karena mereka harus payah-payah menenangkanku, si cengeng ini, agar segera henti tangisnya.

Setelah kupikir berulang kali, aku ketika kecil lebih kuat dari aku yang sekarang. Lebih mandiri, percaya diri, kuat, tegar. Didikan tegas dan disiplin ayah menuntutku seperti itu. Aku tak menangis jika bukan untuk sesuatu yang benar-benar perlu. Aku, balita paling tak rewel yang pernah orangtuaku tahu. Ditinggal kerja, ketika sakit, bahkan saat jatuh menyebabkan luka di lututku mengalirkan darah menetes-netes perihpun aku sanggup mengatupkan rahang, menahan tangis.

Sekarang? Orang berbicara dengan nada sedikit keras saja mataku berkaca-kaca.

Hari ini hari Kartini, ya? Kita kenal kata emansipasi sejak masih bocah, tanpa paham makna sebenarnya. Aku seringkali sinis dan menjuluki ‘Emansipasi Tuan Putri’ terhadap para perempuan yang mengagungkan emansipasi namun masih saja membedakan mana ‘pekerjaan lelaki’ mana ‘pekerjaan wanita’. Kesetaraan macam apa? Standar ganda yang memuakkan.

Aku? Ah, aku terang tak begitu peduli karena memang masih ingin menjadi tuan putri yang dimanja-sayangi laki-laki. Dan pada waktu-waktu tertentu, tak menolak mengerjakan ‘pekerjaan lelaki’ sesimpel mengganti bohlam kamar yang mati, memanjat gudang untuk mengambil koper, atau menaiki anak tangga portabel untuk mencopot semua gorden jendela rumah. Cukup fair tanpa harus terlalu ngotot dengan ‘kesetaraan gender’, kan?

Perihal ‘Woman Power‘, rasa-rasanya pas sekali kalau dibahas sekarang ini. Mama seringkali bilang padaku bahwa perempuan dengan tangisnya sama sekali bukan pertanda bahwa ia lemah. Menghadapi masalah dalam diam dan dengan elegan adalah kekuatan yang setiap perempuan harus punya. Namun air mata adalah kelembutan hatinya yang terluka. Dan itu, bukan kelemahan. Perempuan seringnya dianggap terlalu perasa dan menomorsatukan perasaan di atas logika. Tidak salah. Namun anggapan bahwa itu adalah kelemahanlah yang salah.

Terlepas dari ocehan tak beraturanku di atas, belakangan banyak sekali kejadian yang menuntutku untuk menjadi kuat dan tegar. Sekelilingku percaya bahwa aku bisa melakukan ini, bertanggung jawab atas itu. Memaksa aku bicara tanpa harus basah mata. Meyakinkanku bahwa segalanya akan baik-baik saja dan mereka akan selalu ada. Namun kenyataannya tak berjalan sesuai rencana. Dalam semalam saja semua amburadul tak karuan. Semangatku seperti jejeran pin yang menunggu dihantam bola bowling. 3 strikes dalam semalam, aku tumbang keseluruhan.

Tanpa sempat membersihkan rias mata, isak tertahanku berhasil membuat rias mata itu luntur, untuk kesekian kali. Simbol pertahananku paling depan, sukses mereka hancurkan. Rasa terkhianati, rasa tak dihargai, semua rasa buruk lainnya campur aduk menyiksaku dalam gelap kamar. Hingga akhirnya mampu tidur, dini hari menjelang pagi.

Habis gelap, terbitlah terang. Itu yang Kartini bilang. Pagi datang, kubuka jendela lapang-lapang. Renung yang panjang menjelma tangan-tangan yang membantuku kembali berdiri, mengangkat dagu, mengusap tangis. Dalam hatiku tumbuh keyakinan yang aku selalu tahu bahwa itulah sebenar kekuatan perempuan. Keyakinan, ketegaran.

Kubilang lantang, “Selamat Hari Kartini! Perempuan harus tetap kuat meski tersakiti, berkali-kali!”

Dan, ya, jangan lagi menangis untuk hal-hal yang lebih sepele dari maskaramu, perempuan.

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 plus 5?