Roket Kertas Ke-25: Nomenklatur & Semua yang Rumit


rcg4 Roket Kertas Ke 25: Nomenklatur & Semua yang Rumit

Menemui Tuan Badut Bulan,

Yang sedang membaca.

Aku pernah menulis tentang rumitnya penamaan di salah satu suratku. Carolus Linnaeus susah payah membuat metode Binomial Nomenklatur untuk membari nama resmi bagi semua makhluk hidup berdasarkan apa genusnya, apa spesiesnya. Kita diklasifikasi berdasarkan satu kesepakatan ilmiah yang tak perlu kuuraikan di sini. Jadi, meskipun makhluk abu-abu besar berbelalai panjang itu bisa saja disebut gajah, elephant, elefante, atau slon di berbagai belahan dunia, semua tetap merujuk pada satu makhluk yang sama, famili elephantidae. Kita sering membahas ini, kan?

Aku pula pernah menuliskan padamu tentang ‘cara’. Tentu ini berkaitan. Maksud dan tujuan orang bisa saja sama meski cara mereka berlainan. Bukan begitu, Tuan?

Perihal klasifikasi, semua hal di semesta ini memang sudah ditakdirkan terbagi menjadi kelompok-kelompok, yang terbagi lagi menjadi kelompok-kelompok lebih kecil, dan seterusnya. Aku, sejak kecil selalu mengelompokkan segala hal berdasarkan gender. Itu terjadi secara alamiah tanpa kupelajari. Apapun itu. Benda mati, makhluk hidup, warna, bahkan kata-kata. Semua hal rasa-rasanya selalu memiliki sisi maskulin dan feminin, baik buruk, pantas tak pantas. Semua hal selalu terasa punya perbedaan meski secara wujud ia terlihat sama saja. Bukankah ini agak membuatmu berfikir lebih berat?

Oke, maaf. Sejak kecil pemikiranku sudah rumit, eh? Bukankah semua hal di dunia ini jika terlalu dipikirkan memang nyata-nyata rumit, Tuan Badut Bulan? Atau justru sebenarnya terlalu sederhana? Sesuatu yang terlalu sederhana hingga justru menimbulkan perdebatan pelik sepanjang masa. Dunia ini melelahkan, kan?

Aku tadi sedang merapikan meja kerja dan mendapati segala jenis alat gambar dan pewarna tergeletak berantakan. (Kau tahu? Mereka menuntut aku untuk mensketsa lebih banyak lagi untuk alternatif desain. Makanya semua jadi berantakan begini). Aku menyusun satu persatu dry pastel, pensil dan spidol warna dan tanpa kusadari mereka sudah terklasifikasi sesuai ‘gender’. Buatku, warna-warna turunan merah, kuning dan perkawinan antara keduanya selalu termasuk dalam kelompok feminin. Sedangkan warna turunan biru, hijau, hitam, cokelat, adalah warna-warna maskulin. Sejak kecil aku selalu begitu. Jangan tanya mengapa. Aku bahkan hanya tersenyum dengan caraku mengelompokkan yang tanpa sadar itu.

Tuan Badut Bulan, yang mengerutkan kening.

Dunia ini begitu rumit. Binomial nomenklatur dilakukan, klasifikasi jenis dibuat, penamaan-penamaan, kesepakatan-kesepakatan ilmiah ditetapkan. Semua itu dilakukan agar semesta ini tersederhanakan dan lebih mudah dimengerti dan dipelajari. Aku mungkin tak kalah rumit. Hubungan kita juga mungkin sama rumitnya. Untuk bisa mengerti, kau tak perlu banyak mempertanyakan atau mempelajari teori-teori ilmiah. Cukup rasakan. Aku, kita, sebenarnya sederhana. Cinta.

Yang rumit namun sederhana,

 

Gadis Perakit Roket.

(Salah satu surat dalam rangka proyek #30HariMenulisSuratCinta sejak 1 Februari-2 Maret)
  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 plus 9?