Ruang (Untuk Jarak Kita yang Sekian Senti pada Peta)


 

Melody tersentak. Ada yang mengetuk pintu berwarna jingga di depannya. Diletakkannya buku yang sedari tadi ia baca ke sebelah bantal kemudian beranjak ke arah pintu. Mengintip dari lubang kecil di sana yang sejajar matanya.

Ada Maliq disana. Dengan senyum konyolnya. Melody tersenyum sambil memutar kunci. Pintu di hadapannya membuka. Ruang itu jelas kini dihadapannya. Ruang berdinding violet yang asing namun terasa nyaman.

Maliq tersenyum, berdiri di depannya. Melody membalas dengan canggung. Sudah lama ia tak melihat laki-laki berperawakan tinggi sedang yang selalu membuatnya tertawa itu. Sejak liburan mereka di Lombok setahun yang lalu.

Kini, laki-laki itu tiba-tiba saja datang.

“Hei, Mel. Gue ganggu ya?,” Maliq nyengir sambil garuk kepala.

Melody, yang lebih suka dipanggil Mel, tersenyum menjawab,

“Nggak sih. Lagi baca aja tadi. Kok lu tiba-tiba…”

“Gue kan pernah minta alamat lu waktu itu, Mel. Hehehe…,” cengiran di wajah Maliq tak hilang.

Mereka berdua kemudian duduk berhadapan di sebuah meja kecil dengan dua kursi berwarna kuning. Bercengkerama dan tertawa berdua. Celetukan-celetukan konyol Maliq disela-sela obrolan selalu mampu membuat ruangan itu hangat oleh tawa renyah Mel yang gampang terhibur.

“Jadi gimana tuh Tio sama Feby? Ih gue kangen banget sama mereka, Liq,” ujar Mel sambil menggelung rambutnya keatas. Baju kaos bergambar kucing dan celana tidur yang ia pakai membuatnya terlihat sangat santai namun tetap cantik.

“Iya, ya. Pada sibuk tuh mereka. Gue juga kangen kita jalan bareng lagi kayak dulu,” Maliq merubah duduknya jadi bersila diatas kursi. Sesekali rambutnya ia rapikan dengan ruas jari. Bagian depan rambutnya kini telah panjang rupanya.

“Harus, ya, Liq. Kita harus traveling bareng lagi!,” Mel manyun. Dia sungguhan berharap mereka bisa berkumpul lagi.

Mel, Maliq, Tio dan Feby diakrabkan sebuah perjalanan. Ketika mereka berempat ingin menghilang sejenak dari rutinitas masing-masing, mereka justru dipertemukan di tempat tujuan. Seminggu di Lombok, mereka sudah akrab layaknya sahabat lama meski kenyataannya mereka terpisah jarak yang sangat jauh. Mel di Jakarta, Maliq di Jogja, Tio di Samarinda & Feby di Padang.

Maliq tertawa. Mel terlihat semakin lucu jika cemberut.

“Iyaaaa… Pasti. Nunggu skripsi gue kelar dulu ye, Mel. Hahaha.”

Mel tersenyum simpul.

“Liq…”

“Hmm?”

“Gue ngantuk…”

“Yaudah tidur aja. Hehe.”

“Gue tidur duluan, ya?”

“Iya. Sleep tight, Mel..”

Ruangan berdinding violet itu mengabur dalam pandangan Mel. Dinding-dindingnya perlahan menjadi kelabu.

Maliq tersenyum. Mel pasti sudah terlelap sambil memeluk gulingnya.

***

“Mel. Pindah kesini aja, ya? Gue gak bisa masuk ke sebelah, nih. Rese. Sebel gue,” Maliq duduk di sofa panjang berwarna hijau lime.

Mel melongok kemudian ikut masuk ke ruangan bernuansa putih dengan sedikit aksen hijau itu. Duduk disamping Maliq. Mel tersenyum ke arahnya,

“Gak bisa masuk kenapa, Liq? Gak bisa dibuka? Gue bisa-bisa aja tuh. Tadi pas gue masuk emang nggak ada elu sih…”

“Nah, itu dia tuh, Mel. Kayaknya cuma gue aja deh yang nggak bisa masuk. Kenapa ya?,” Maliq memasang tampang heran sekaligus kesal. Tak bisa bertemu Mel sungguh membuatnya sebal.

Mel tertawa kecil sambil mematikan laptopnya.

“Iyaaaa…. Yaudah disini aja dulu. Nggak masalah kok..,” Mel beranjak ke tempat tidur dan merebahkan badan.

Maliq bangkit untuk mengambil minum.

“Lu seharian kemana aja, Mel?,” tanya Maliq sambil menenggak segelas air putih yang diambilnya dari kulkas.

“Ini gue baru kelar latihan sama anak-anak di kampus. Trus yaudah langsung pulang deh,” Mel memeluk bantal dan meletakkan kacamatanya ke sisi tempat tidur.

“Paduan suara itu?,” Maliq duduk di sofa dan menyalakan televisi.

Mel sekarang tidur telungkup dan menyangga tubuhnya dengan siku.

“Iya. Bentar lagi kan konser pra kompetisi, Liq. Latihannya sekarang sampe tengah malam gini. Capek sih, tapi gue seneng banget. Hehe,”

Maliq mengalihkan perhatiannya dari televisi, “Yang buat ke Roma itu kan? Kapan lu berangkat, Mel?”

“Bulan depan, Liq. Aaaah akhirnya gue bakal nginjek Roma, Liq. Roma!,” Mel antusias. Kompetisi choir tingkat internasional yang akan dihelat di Roma ini memang sudah ditunggunya sejak lama.

“Woaaaaaaaahhhh! Bawain gue oleh-oleh ya, Mel? Seriusan nih gue! Ah, Mel, gue juga pengen jalan-jalan ke Romaaaa,”

Mel tertawa. Maliq selalu membuatnya tertawa dengan berbagai cara. Termasuk dengan merengek sok manja seperti itu.

“Iyaaaa. Gue bawain koper gue yang isinya pakaian kotor!,” Mel usil menjahili Maliq.

“Ah elu mah! Dasar,” Maliq nyengir karena digoda Mel.

***

Ruang luas bercat biru muda semburat toska itu riuh. Semua orang berbicara. Entah siapa mendengar siapa. Biasanya Mel ikut serta dalam kehebohan ruangan ini, bahkan menjadi pusat perhatian. Namun kali ini Mel enggan turut membuat riuh.

Ah, mereka sedang mengobrolkan apa, sih?

Terlihat di satu sudut kelompok yang berapi-api mengkritik kenaikan harga BBM. Di satu sisi seorang laki-laki sipit kurus yang berkepala plontos  sedang bersemangat menceramahi sekelompok remaja yang hanya manggut-manggut setuju. Di sisi lain ada yang sedang tertawa riuh dengan obrolan berpusat ke satu tema: Jomblo. Mel mengedikkan bahu. Ia maklum karena ini malam Minggu. Malam dimana hak asasi jomblo diinjak injak dan di tertawakan. Satu senyum menyungging di bibirnya.

Mana Maliq? Apa dia ada disini?

Dia baru saja melewati sekelompok teman yang menyebut-nyebut namanya, menyapa dan menjawab mereka sekenanya lalu kemudian berlalu dari hadapan mereka.

Mel menuju satu sudut yang hening. Ada sebuah kotak surat disana. Dibukanya pelan-pelan. Ah, benar saja. Satu surat dialamatkan padanya. Ia tersenyum. Maliq memang jarang ada di ruangan ini. Tapi surat yang kini dibacanya itu adalah surat dari laki-laki itu.

“Mel, ke ruangan sebelah ya. Gue juga ada masalah di ruangan yang kemaren. Gak bisa masuk juga. “

Mel bergegas keluar dari ruangan biru muda yang riuh itu. Menutup pintu dan mencari Maliq.

***

“Liq?”

Mel masuk ke ruangan dominan hijau muda itu dan mencari-cari Maliq.

Yang ia cari sedang tekun di depan computer berlayar besar miliknya.

Maliq merasa dipanggil. Benar saja. Mel, perempuan yang diam-diam dipujanya itu sudah disana. Kebingungan mencarinya.

“Halo, sweetheart… Akhirnya dateng juga. Welcome! Ruangan baru kita! Hahaha”

Mel tersenyum lega.

“Lu tuh ya gue cariin daritadi tau nggak sih, Liq. Ternyata disini. Lu katanya gak punya akses kesini. Kok sekarang bisa?”

“Bisa dong sekaraaang. Kan demi elu. Hehehe,” cengiran khas Maliq mengembang diwajahnya.

“Ah so sweeeeet, you, sweet potatoooo,” Mel terkikik menggoda Maliq.

“Ah kok sweet potato sih? Telo dong? Payah nih nggak romantiiiis…,” Maliq balas menggoda.

Mereka berdua kini rebah di tempat tidur. Selimut menyelamatkan dari udara dingin.

“Liq…,” Mel memangil pelan. Smartphone-nya ia angkat setinggi-tingginya dengan tangan. Layarnya tepat sejajar menghadap wajahnya. Sesekali ia gerakkan smartphone itu ke segala arah.

“Apa?,” Maliq menjawab. Matanya menerawang ke langit-langit. Ruangan hijau muda itu membuatnya tak bisa tidur.

“Coba deh ya. Ini gue barusan download aplikasi seru yang bisa bikin smartphone kita jadi jendela buat ngeliat angkasa…”

“Gimana gimana?”

Mel masih menggerak-gerakkan smartphone-nya ke segala arah.

“Iya..jadi tuh ya, kita kayak lagi neropong bintang. Kita bisa liat rasi bintang, liat planet, satelit, galaksi…bahkan meteor shower!”

Maliq takjub. Jika ada hal yang paling disukainya selain profesinya sebagai penyiar radio, itu adalah astronomi dan senyum Mel. Dua hal itu kini menjadi satu. Maliq benar-benar jatuh cinta.

“Whoaaaaa keren banget! Aplikasi apaan? Gue juga mau download  ah!”

Beberapa menit kemudian mereka asyik dengan smartphone masing-masing. Meneropong bintang.

“Liq! Di zenith gue sekarang ada Cancer!”

“Wah. Iya. Kalo Capricorn dimana?”

Jam tiga pagi kala itu. Mel memutar tubuhnya. Mencari kesegala arah tempat dimana bintang Capricorn berada. Akhirnya ia berbalik telungkup untuk mengecek titik nadirnya.

“Ah! Ini dia! Di titik nadir, Liq! Ahahahaha. Kok bisa ya? Bintang gue ada di atas, bintang lu di bawah. Logikanya sih pas jam tiga sore ini bakal ganti tempat ya, Liq? Jadi elu di atas, gue dibawah. Iya nggak sih?”

Mel menyerocos asyik sendiri. Maliq tertawa.

“Iya kali. Gue nggak masalah kok lu mau diatas ato dibawah, Mel. Yang mana yang lu suka aja…,” Maliq menggoda Mel lagi.

Yang digoda memeletkan lidah kesal.

“Ih Maliiiiiq. Gue seriuuuuus…”

“Gue jugaaaaa….”

Maliq terkekeh karena lagi-lagi berhasil mengusili perempuan itu.

“Eh, Mel. Besok jadwalnya gue siaran…”

“Oh, ya? Seminggu sekali ya? Yang program curhat cinta itu kan?”

“Iya. Lu dengerin ya? Siapa tau lu kangen gitu kan sama gue trus pengen denger suara gue…”

“Idih. Ngapain? Suara lu kalo siaran kan yang sok cakep gitu. Males gue. Hahaha”

“Emang cakep kali… Bweeek… Hahahaha”

“Iya deh gue dengerin. Jam berapa sih?”

“Jam Sembilan. Gue berharap banget lu dengerin, Mel…”

“Ih apasih, Liiiq. Iya iyaaa gue dengeriiiiin. Ntar kasih link buat streamingnya aja ya,”

“Horeee..Ahahaha,”

Mel tersenyum. Wajahnya merona merah. Maliq tak hanya selalu bisa membuatnya tertawa, tapi juga benar-benar bahagia. Laki-laki ini membuatnya jatuh cinta.

“Tapi…..gue mau ntar playlist lu isinya lagu favorit gue semua. Gue gak mau tau. Kudu bisa…”

“Bisa-bisa gue ditimpuk komputer sama PD gue Meeeeel….”

“Ya biarin….Ahahahhahaha”

“Ih tega lu…”

Hampir subuh. Dua anak manusia itu mulai terpejam. Mel memeluk gulingnya. Selimut menutupi tubuhya hingga dada. Sementara itu Maliq tersenyum dalam lelapnya.

Sementara ruang hijau muda itu mulai luruh. Dinding-dindingnya luntur. Melebur bersama dengkur.

***

Mel melirik jam dinding di kamarnya. Jam sembilan malam kurang sepuluh menit. Seharian tadi Maliq sudah mewanti-wanti dirinya agar stand by dengan earphone di telinga dan streaming radio saat Maliq siaran.

Mel baru saja pulang dari mengantar ibunya ke pertemuan koperasi. Dalam mobil tadi ia bahkan mengetuk ngetuk setir tanda tak sabar ingin segera tiba. Ibunya saja sampai heran. Tak biasanya anak gadisnya itu seperti ini.

Sesampai di rumah tadi Mel langsung menghambur ke kamar. Berganti piyama, cuci muka dan bergegas membuat segelas cokelat hangat untuk menemaninya mendengar suara Maliq di radio.

Dinyalakannya laptopnya. Browser dibuka. Dikliknya link yang dikirim Maliq kemarin. Ia menunggu.

Beberapa detik kemudian Mel masuk ke ruangan serba putih dengan aksen oranye dan kuning. Ruangan dengan suara musik yang volumenya terasa pas di telinga Mel. Lagu ini…

Tak terasa gelap pun jatuh…

Di ujung malam…menuju pagi yang dingin…

Hanya ada sedikit bintang malam ini…

Mungkin karna kau sedang cantik-cantiknya….

 

Payung teduh. Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan. Maliq tau betul ini lagu favoritnya. Mel tersenyum.

 

Duduk ia di salah satu sofa empuk berwarna kuning dengan bantal-bantal kursi oranye. Matanya mencari-cari dimanakah gerangan Maliq berada. Ruangan itu berjendela. Dilongoknya keluar. Bulan bertahta di langit malam. Sendirian.

 

Tiba-tiba Mel dikejutkan oleh suara Maliq yang menggema di seluruh ruangan.

 

“Hai ketemu lagi bareng gue, Maliq, di program kesayangan kalian……”

 

Maliq merapatkan headphone di telinganya. Senyum terus menerus tersungging disana. Sudah minta izin dia agar kali ini lagu-lagu  yang diputar adalah lagu-lagu dari playlist yang dinamainya ‘Melody’. Dia tau ini saatnya. Maliq akan menyatakan perasaannya pada Melody, lewat radio!

 

Mel mendengarkan suara Maliq mengudara dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Direbahkannya tubuhnya menikmati lagu-lagu favoritnya yang diputarkan oleh Maliq. Curhatan pendengar tentang hubungan LDR dibahas Maliq dengan jenaka, khas dirinya. Mel kadang ikut tertawa. Di ruangan ini, suara Maliq lebih menyeluruh. Seolah-olah ruangan ini adalah dirinya.

 

Degup jantung Maliq kian cepat ketika hampir tiba saatnya ia untuk menyatakan perasaan pada Melody. Disaksikan seluruh kru stasiun radio dan para pendengar setia program yang ia bawakan. Mel tak tahu menahu soal ini.

 

Rencana sudah matang. Maliq akan mengutarakan perasaannya diiringi denting piano dari Yiruma, River Flows in You. Jika Mel menerima, maka Mel harus menelepon ke stasiun radio dan bilang ‘Ya’. Jika tak ada telepon hingga menit ketiga, berarti Maliq tak beruntung kali ini.

 

Maliq yakin dalam hatinya bahwa Mel juga sayang padanya. Jarak tak akan jadi masalah. Maliq yakin itu.

 

Sementara itu Mel masih menyeruput cokelat hangat dari mug berwarna fuchsia miliknya. Menikmati alunan suara Sara Bareilles yang melantunkan Love Song.

 

Maliq menarik nafas. Kurang beberapa detik sebelum denting piano Yiruma menggantikan suara merdu Sara Bareilles.

 

Mel ikut bernyanyi.

 

Maliq memejamkan mata.

 

Mel menggoyangkan kepalanya seirama hentak musik.

 

Maliq memantapkan hati.

 

Musik berganti denting syahdu River Flows in You.

 

Mel terpana. Ini lagu yang biasa menemaninya menulis dan mengantarnya tidur.

 

Maliq bersiap.

 

“Kepada Melody Alinka Puri. Orang-orang selalu bilang bahwa jarak adalah pembunuh berdarah dingin bagi cinta yang tidak siap. Maka telah kubangun rumah kita dengan dinding-dinding virtual. Ia berisi berbagai ruang yang biasa jadi tempat kita bertemu setiap hari. Disana, kita membangun dunia yang hanya kita yang mengerti. Pada dinding-dinding berwarna violet yahoo messenger, ruang hangat serba putih dengan aksen warna dasar gtalk, riuhnya ruang lini twitter, hingga kasur-kasur empuk berwarna hijau muda yang disediakan Line. Dengan semua itu, kita lipat jarak kita yang sekian senti pada peta itu. Aku siap, Mel. Kini kutanya kau, apa kau mau membuktikan pada mereka bahwa kau mampu bertahan oleh jarak yang sementara ini, bersamaku?”

 

Maliq menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. Semua kru terpaku. Pendengar menunggu.

 

“Jika jawabmu adalah ‘Ya’. Kau telfonlah kesini dan katakan padaku. Kutunggu jawabanmu selama tiga menit. Jika tak ada, taka pa. Aku bisa mengerti.”

 

Maliq gugup. Sudah ia utarakan semuanya. Teman-temannya menepuk pundaknya.

 

***

 

 

Kita kembali ke Mel yang tadi tengah terperangah karena denting River Flows in You. Sedang tersenyum-senyum ia sambil memeluk bantal ketika sedetik kemudian kegelapan menelannya.

 

Mel panik. Apa ini? Mel tergeragap di kasurnya. Laptopnya mati seketika. Denting piano itu berganti sunyi. Pemadaman listrik? Ah sayang sekali! Maliq pasti marah karena Mel tak dengarkan siarannya hingga akhir.

 

Dibukanya laci samping tempat tidur. Meraba-raba dimana gerangan lilin dan korek api berada. Biasanya yang begini tak akan lama jadi Mel berinisiatif menyalakan lilin saja.

 

Diletakkannya lilin yang telah menyala itu di atas meja samping tempat tidur kemudian diraihnya smartphone miliknya. Ingin mengabari Maliq bahwa ada pemadaman disini hingga ia tak bisa streaming. Mungkin akan dikabarkannya lewat messenger atau apapun.

 

Sesaat kemudian ia sadar. Selama ini koneksi wifi adalah tempat smartphonenya bergantung selama ia dirumah. Sementara untuk mengabari lewat sms atau telpon pun Mel tak memiliki pulsa. Paket internetnya pun telah habis tadi sore. Ah, bagaimana caranya Mel bisa memberitahu Maliq?

 

 

***

Dua menit sudah berlalu. Maliq berkeringat dingin. Mengapa ia belum juga menelpon? Bukankah ia tadi baru mengirimkan pesan terimakasih padanya karena memutarkan lagu Love Song-nya Sara Bareilles? Mengapa ia tak mengabari? Kemana? Apa Mel tak suka padanya? Apa Mel marah?

Sepuluh detik menjelang menit ketiga sekaligus akhir program yang dibawakan Maliq. Teman-temannya menguatkannya. Menepuk-nepuk punggungnya membesarkan hati. Tiga menit berlalu. Maliq menutup program dengan lesu.

Ia keluar ruang siaran dengan wajah terpukul. Apa benar selama ini Mel tak pernah menyukainya? Atau sekedar teman saja? Berjuta pertanyaan membuncah di kepala Maliq.

***

Ah akhirnya listrik menyala juga! Mel menggumamkan rasa syukur. Gelap dan sunyi membuatnya tak nyaman. Ia kembali menyalakan laptopnya, berharap masih ada Maliq disana dan ia masih bisa mendengarkan lagu sambil bersantai di ruang putih jingga tadi. Namun ia kecewa. Program Maliq sudah berakhir.

Mel ingin mengabari Maliq segera. Diketiknya pesan itu.

“Liq. Sori ya. Tadi abis lagunya Sara Bareilles di rumah gue pemadaman listrik. Jadi gue dengerinnya cuma sampe awal lagunya Yiruma. Hehehe. Lu jangan marah yaaaak.”

***

Maliq mengecek telepon genggamnya. Apa ada pesan yang menyatakan alasan Mel menolak pernyataan cintanya?

Satu pesan dari Mel lewat Line. Sedetik setelah selesai dibacanya pesan itu ia bergegas pulang kerumah sambil menyuruh Mel mengaktifkan Skype miliknya.

Sesampai dirumah…

Ruangan itu bernuansa putih dan biru muda. Nyaman sekali. Mel masuk sambil mencari-cari keberadaan Maliq disana. Kemudian….

“Hoi! Dasar ubur-ubur lu yaaaaaaa…. Bikin orang jantungaaaaaaaaan!”

Maliq muncul dengan raut kesal yang putus asa. Setengah geli setengah gemas pada perempuan dengan piyama dihadapannya.

Mel tertawa sambil memasang tampang memelas minta maaf.

“Yaaaah maaf deeh. Gue kan nggak tau ada pemadaman listriik. Ih lagian kan lu siaran juga tiap minggu. Minggu depan gue dengerin lagi kan bisaaa.”

“Ya bukan gitu masalahnya, Meeeeel. Gue itu tadi diradio…..Ng……,” wajah Maliq berubah merah.

Mel yang menyadari itu langsung terkikik.

“Ih lu kenapa sih, Liq? Tiba-tiba jadi aneh gitu. Hahaha. Emang tadi lu ngapain? Gue kelewatan apa nih di siaran lu?”

Maliq terdiam. Ingin rasanya dicubitnya pipi perempuan dihadapannya itu. Rasa lega bercampur khawatir mengaliri darahnya. Lega karena ternyata Mel bukannya menolaknya tapi tak mendengar penyataan cintanya. Khawatir karena…jangan-jangan sekalipun ia mendengar pasti telepon itu tetap tak akan bordering karena Mel hanya menganggapnya teman.

Maliq menutupi mukanya dengan bantal. Mel menatapnya heran.

“Ngapain lu, Liq?”

“I love you.”

“Hah??”

“Gue sayang sama lu, Mel!”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHA”

“Kok ketawa sih??”

Maliq masih berlindung dibalik bantalnya.

“Ya elu sih ngomong cinta tapi dibalik bantal. Dasar kecebong.”

Tawa renyah Mel masih meledak.

“Ya gue kan malu!”

“I love you, too!”

Mel terkikik. Kini ia paham situasinya. Ia paham mengapa Maliq kekeuh menyuruhnya streaming siaran radio itu. Ia paham apa efek pemadaman listrik tadi terhadap permintaan mendengarkan siaran. Ia tertawa geli.

Laki-laki itu pasti tadi menyatakan cintanya via radio namun dirinya tak mendengar dan menyangka ditolak. Mel semakin terbahak. Namun ia bahagia kini.

Maliq seperti kena serangan jantung sehabis mendengar jawaban Mel tadi. Benarkah apa yang tadi ia dengar? Mel bilang apa tadi? Apa dia tidak mimpi? Semudah itu? Mel…juga mencintainya?

Pelan-pelan dibukanya bantal yang menutupi wajahnya dari kamera. Yang dilihatnya sungguh tak disangka-sangka. Mel, dengan rambut hitamnya yang diurai, dipermanis tak sengaja dengan bandana pink yang membuat wajahnya bersih dari helaian poni, tersenyum memegang tulisan ‘I LOVE YOU, MALIQ J’

Maliq nyengir salah tingkah. Mel terbahak bahagia.

Ruang putih semburat biru muda itu mengecil dengan jarak yang terlipat diantara mereka. Tawa hangat dan cerita-cerita bahagia mereka bagi hingga dini hari.

“Liq…”

“Apa?”

“Minggu depan ulangin lagi dong nembak guenyaaa. Ntar gue telpon deh sambil nyanyi biar romantis. Hahaha”

“Ogah! Ntar PLN rese lagi trus gue diledekin lagi sama anak-anak di radio kayak tadi.”

“Ahahahahahaha. Ih ngambeeeekkk”

“Lu gak tau sih tadi jantung gue hampir melorot ke usus gara-gara nunggu telpon lu? Dasar ratu ubur-ubur!”

“Idih! Gue batal ke Jogja minggu depan kalo gitu!”

“Eh? Lu mau ke Jogja?”

“Iya dooong. Kan mau ketemu pacar gue yang jahil rupawan iniiii…Hahahahah.”

Maliq nyengir. Mukanya merah. Melody tergelak sambil mengejek Maliq yang salah tingkah.

Ruang-ruang virtual yang mereka bangun berhasil mencipta cinta, mengabaikan jarak. Mereka percaya, jarak yang sekian senti di peta yang sementara itu akan berhasil ditaklukkan. Akan mereka cipta ruang-ruang baru. Karena jarak, sesungguhnya tak pernah jadi pembunuh jika bisa dijadikan pengukuh.

 

27 Juni 2013,

@Ladibaa

Teruntuk pasangan-pasangan LDR diseluruh dunia, kalian bisa! :D

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 + 3?