Salam Tanduk Kambing, Yah! d(-___-)b


Gimana rasanya bisa manja-manjaan sama ayah di usia twenty something? Asyik ya pasti. Apalagi yang jadi anak kesayangan, anak tunggal. Sebagai anak yang terakhir kali bermanja sama ayahnya saat masih umur 8 tahun, jelas-jelas saya ngiri. Super iri malah. :D

Seperti tentang mama, kayaknya saya sudah banyak sekali bercerita tentang ayah dimana-mana. Termasuk di blog ini. Bahkan cerita tentang perjalanan pertama saya sama ayah mengantarkan saya jadi pemenang blog competition beswan djarum. Makasih, yah. Abis gini Inong liburan gratis~ :D

Buat yang belom baca, boleh mampir ke sini :)

Hari ini 24 Desember. Ulang tahun ayah. Iya, ayah Capricorn, kayak saya. Sepanjang umur belum pernah saya mengucapkan langsung pada sosok jenius nan mengagumkan itu. Bahkan saya baru ingat ulang tahun ayah sejak SMP. Sejak saat itu, kala semua merayakan malam natal, saya mengucap doa untuk ayah. Tak jarang berdialog dengannya. Bercerita dalam gelap kamar saya, di dalam selimut hangat. Cerita yang bisa tentang apa saja. Tentang menu makanan hari itu, tentang dosen saya yang sedang menyebalkan, tentang rencana dan resolusi tahun baru.

Saya selalu membayangkan ayah sedang duduk disamping saya, mendengarkan sambil matanya sesekali melirik siaran berita di televisi. Tangan kami sibuk melipat kertas bungkus wafer cokelat yang isinya sedang kami kunyah bersama. Ayah akan duduk tenang, memberikan hasil lipatan origaminya pada saya, dan saya akan memamerkan hasil lipatan saya pula yang biasanya berupa kodok-kodokan atau bangau.

Biasanya hasil lipatan itu akan saya simpan dalam kaleng bekas biskuit yang memang dikhususkan untuk menyimpan hasil lipatan-lipatan dari kertas bungkus wafer cokelat favorit kami berdua.

Saya juga membayangkan, setiap sore di hari Minggu, saya dan ayah akan bermain di halaman rumah kami yang penuh pohon dan rimbunan bunga. Saya akan berlarian disekitar ayah yang sibuk menyapu daun kering dengan kostum favoritnya : kaus dan celana pendek, atau tertawa girang karena angin yang menerpa saya saat saya mendorong tubuh di ayunan agar terayun lebih tinggi.

Ayah akan mengingatkan saya untuk mandi lagi karena baju saya yang penuh bau asap, sementara dia mengunyah kue atau pisang goreng yang disiapkan mama di teras. Dan saya selalu ingat, saya akan nyengir dan mengangguk sambil mengacungkan jempol.

Saya ingat pula, setiap malam akan ditemani belajar. Tepat setelah makan malam. Ada rasa puas dan bangga saat menunjukkan prestasi didepannya. Seperti halnya saat saya berlarian kemudian jatuh di aspal yang rusak hingga lutut berdarah banyak. Saya menangis? Iya. Tapi tanpa suara. Saya diam dalam gendongan ayah yang berlari kerumah untuk segera memeriksa luka saya.

Luka yang cukup dalam melihat darah saya mengalir hingga ke mata kaki. Mama bahkan ketakutan hingga menangis. Ayah membawa saya ke kamar mandi. Menyiram luka saya dengan air bersih. Rasanya perih bukan main tapi saya tahan. Sayalah, bocah 5 tahun yang terlalu ingin membuat bangga ayahnya. Luka seperti ini tak boleh membuat saya menangis. Hanya isak pelan terdengar tapi airmata saya menetes tanpa henti. Sungguh rasanya perih.

Ayah mendongak menatap saya setelah selesai membalut luka dengan kapas dan kasa yang sudah diberi obat. Memeluk dan mengelus rambut saya pelan,

“Anak ayah emang pinter. Luka sebegini nggak boleh bikin kamu lemah. Anak ayah paling cantik. Paling pinter. Paling kuat.”

Saya mengangguk.

Saya ingat caranya memarahi saya bila menonton televisi terlalu dekat, saat saya sengaja lupa gosok gigi sebelum tidur, saat saya membaca buku sambil tiduran, saat saya makan diselingi minum berganti-gantian, saat saya membuat berantakan meja kerjanya. Saya ingat saya memilih mengunyah obat yang pahit ketimbang menelannya dengan segelas air hanya agar ayah bangga. Saya ingat betapa bahagia saat ulang tahun ke 7 saya disuruh memilih, seharian jalan sama mama belanja baju-baju cantik yang saya inginkan, atau dengan ayah ke toko buku dan memilih semaunya buku yang saya inginkan, dan saya memilih opsi kedua. Saya ingat saat berkeliling ke rumah-rumah tetangga sehabis sholat Ied. Saya ingat harus tidur tepat pukul 9 malam, tepat saat siaran Dunia Dalam Berita dimulai. Saya ingat. Selalu ingat. Semuanya.

Begitu banyak kenangan manis masa kecil saya bersamanya. Setiap tahun berputar dikepala saya layaknya sebuah film. Banyak rindu, banyak sesak. Tapi pada akhirnya saya hanya tersenyum. Karena doa saya pasti sampai. Pasti.

Happy birthday, Daddy. Mungkin Fina yang ini nggak sekuat yang dulu, mungkin malah lebih manja. Nggak bisa jadi ‘kembaran ayah’ lagi, nggak seperti yang ayah mau. Tapi Fina yang ini tetep berusaha banggain ayah, walaupun dengan caranya sendiri. Eh, Yah, tetep ya, setiap liat santa claus selalu inget ayah. Putih, gendut, kalo ketawa ‘Ho Ho Ho~’. *kabur* :p. I love you, Daddy. And always will be.

dari anak tersayangmu, si Capricornian cantik. Salam tanduk kambing, Yah! d(-__-)b

@Ladibaa

, ,

  1. #1 by johantectona on December 25, 2012 - 4:12 AM

    tisu… butuh tisu… terlarut haru :'(

  2. #2 by Finna Ladiba on December 25, 2012 - 9:04 AM

    kan. padahal lagi cerita seneng-seneng kannnnn. hahahaha. nih selimut aja nih daripada tisu :p

  3. #3 by desica on December 27, 2012 - 3:06 PM

    kopenoosss koteka

  4. #4 by finnaladiba on January 24, 2013 - 8:00 AM

    @kudes : koteka buat kulep gak ada kud. kulep seukuran cabe keriting sih~ :p

    @kak suc : yakali banyak yang jagain kek narapidana :p

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 + 7?