Yang Pergi & Yang Tak Ingin Tinggal dalam Ingatan


Yang aku ketahui semenjak mengenalmu, kau adalah laki-laki yang berusaha setengah mati untuk menjadi yang tak bisa ditebak. Yang kau ketahui, aku selalu berhasil memetakanmu. Menjabarkanmu dalam deretan kata sifat. Aku selalu mengerti arah dan cara berfikirmu. Aku selalu mampu menemukan potongan-potongan yang tak mampu orang lain temukan, dari dirimu. Sesuatu yang sebenarnya ada, namun kau sembunyikan. Yang kau benci dariku, aku selalu bisa menemukannya. Menemukanmu.

Apa yang orang gembar-gemborkan tentang cinta dan benci? Mereka hanya terhalang jarak yang sedikit? Mereka sebenarnya bersisian? Kau begitu sinis dengan konsep cinta. Membenci hal-hal yang terlalu memberati perasaan. Hal itu membuatmu tampak angkuh, abai, dingin, tak peduli. Mungkin hanya aku yang menganggapmu sebuah buku yang terbuka. Sebuah ujian tulis maha sulit bagi yang lain namun selayak mengeja buku belajar anak bagiku. Aku mengerti bahwa lukamu begitu dalam. Sedih yang menjadi palung dalam dimana yang terlihat dipermukaan hanya laut biru gelap yang tenang. Kamu membenci segala hal sentimentil dan mencintai keangkuhanmu sendiri.

Kamu, sungguh ingin kutelanjangi. Dan pada akhirnya, kau memang pasrah saja. Membiarkanku membuntutimu, atau bergantian mengikutiku. Seolah ada sesuatu entah apa yang mengikat kita. Menarikku. Menyeretmu. Kita bubuk-bubuk besi yang tak kuasa lari menempel pada magnet kuat. Kau seringkali mengeluhkan semuanya, menyalahkanku dan menudingku sebagai penyebab. Namun setelahnya kau hanya tertawa kecil. Sejenis tawa tanda tak habis pikir. Tawa yang kusukai. Yang selalu disertai gelengan kepala dan menggaruk rambut tebal hitammu yang tak gatal.

Aku mengataimu suka seenaknya, kau menyebutku dukun keras kepala. Aku menudingmu egois, sok tahu, angkuh dan suka mempermainkan perasaan wanita. Kau berkeras bahwa aku adalah wanita menyebalkan yang selalu ingin ikut campur urusan orang. Kita selalu saling menyalahkan, bertudingan, berdebat sengit, membicarakan hal tak penting yang dipanjang-panjangkan hingga kita berdua lelah sendiri. Lalu dalam diam dan temaram kamarmu, saling berpagutan.

Kita sepakat kita bukan pasangan seperti remaja yang berpacaran. Kita bahkan tak pernah membicarakan perasaan, bahkan jika itu di suatu pagi syahdu dimana hujan menderas sejak malam dan aku terbangun dalam pelukmu. Tidak pernah ada. Karena kita memang tak ingin. Kita lebih senang membicarakan hal-hal tak masuk akal. Kau mampu mengimbangi racauanku tentang telaah psikologi manusia, kepribadian orang-orang yang kebetulan kita kenal bersama, atau sekedar mengomentari bumbu masakan timur tengah. Tak ada yang benar-benar penting.

Yang aku ingat, kita juga punya saat-saat serius dimana candaan harus menunggu giliran. Biasanya ketika aku mulai ingin menangis yang karena ingin menangis saja. Tangis yang musababnya terlalu kompleks hingga tak mampu dijabarkan. Terlalu kusut hingga tak mampu kuuraikan. Maka di situlah kamu, duduk mengusap bahuku. Terdiam tak mengerti apa yang harus dilakukan.

Momen serius lainnya adalah ketika aku memaksamu untuk membacaku seperti aku selalu membacamu. Kau selalu menebak dengan asal dan aku biasanya terlalu lelah untuk memaksamu lagi dan memilih mengunyah salad buahku tanpa berniat membagimu sama sekali. Sekali waktu kita pernah berbincang tentang pertemuan, dan perpisahan. Tentang kapan kita bertemu dan kapan kiranya kita akan berpisah. Topik ini menjadi sering sekali kita ulang-ulang. Setiap kali kita mulai merasa tak ada lagi hal yang bisa kita obrolkan. Ketika dirasakan bosan mulai datang. Ketika kamarmu mulai sepi dari obrolan, apalagi peluk dan ciuman.

Kubilang kala itu, aku sudah tau sejak aku pertama membacamu. Rasa jemu dan bosan mengalir dalam darahmu. Sebegitu menyatunya. Sebegitu eratnya. Ia bisa tiba-tiba saja muncul, lalu pergi. Kau tak membantahnya. Kau hanya bergumam bahwa aku benar-benar mengenalmu dengan baik. Aku biasanya hanya tersenyum dan berkata bahwa ketika saat itu tiba, kau harus yakin bahwasanya aku telah mempersiapkan segala hal dengan sangat matang. Jadi kau tak perlu khawatir.

Aku tahu sejak pertama kali kita bertemu, kita akan berpisah. Kau datang memang untuk pergi. Dan tentangku, tak perlu kau risau. Aku adalah manusia yang menerima sesuatu tanpa rasa memiliki. Kebencianmu akan konsep cinta dan sesuatu yang monoton sama halnya dengan kebencianku akan rasa kehilangan. Ketika bertemu denganmu, aku telah berjanji tak akan pernah ingin merasakan kehilangan.

Kau memujiku macam-macam. Kepribadianku, bakatku, tulisan-tulisanku. Akupun begitu menyenangi lukisan-lukisanmu juga kegemaran bertualangmu. Pernah aku kau minta menuliskan sesuatu tentangmu dan ketika membacanya kau hanya diam saja. Kau hanya memelukku dan memintaku untuk memberimu salinannya.

Saat aku balas memintamu melukis potret wajahku, kau benar-benar berusaha untuk mewujudkannya. Percobaan pertama, gagal. Entah apa namun lukisanmu sama sekali tak terlihat seperti aku. Kau kesal dan memintaku menunggu. Percobaan kedua dan kesekian hingga saat ini, kau tak pernah bisa memuaskan dirimu sendiri. Aku tak masalah dengan semua lukisanmu. Toh ini hanya permintaan sambil lalu. Namun kau kelihatan begitu kesal karena tak mampu memenuhi inginku.

Malam ini adalah malam entah keberapa. Kita lagi-lagi membahas perpisahan, kepribadian, dan lukisanku yang tak pernah bisa kau selesaikan. Kali ini kita berbaring di tempat tidurku. Kau masih dengan setelan kantor lengkap, akupun begitu. Jas dan blazer kita jatuhkan begitu saja di lantai. Aku membantumu melonggarkan dasi kemudian mengeluarkan kemeja dari sesak bagian pinggang rokku sendiri.

Kita berbaring telentang dalam diam untuk berapa lama sebelum kau akhirnya bersuara. Langit-langit kamarku gelap, kita tak membuat penerangan apapun. Berbaring dan bercakap-cakap dalam remang. Topik mengalir begitu saja tanpa direncanakan. Aku mengeluh dengan caramu memanggil namaku, yang selalu salah sejak pertama kali kau ucapkan. Kau berkeras tak ingin memanggilku dengan cara yang kuinginkan.

Kau bilang ingin kukenang sebagai kau yang menyebalkan. Sebagai suatu hal tak lazim. Sesuatu tak biasa. Kau bilang, sekalipun aku tak ingin, aku harus terus mengingatmu dengan cara yang kau inginkan. Kau ingin pergi lagi, Isra Gavran Aslano? Pergi yang macam apa kali ini? Kau pernah hilang berkali-kali namun kembali. Apa ini pergi yang macam itu atau lain lagi? Kau sebelum-sebelumnya tak pernah minta izin kan? Apa keinginan-keinginan ini adalah pamitmu?

Pertanyaan-pertanyaan itu hanya tinggal dalam benakku sementara dari bibirku hanya terdengar tawa dan jawaban-jawaban mengiyakan. Kau lalu bertanya, seperti apa aku ingin diingat. Kubilang aku tak ingin tinggal lama dalam ingatanmu meski kau memaksaku untuk itu. Bukankah kau membenci ingatan-ingatan melankolis? Atau aku yang terlalu percaya diri bahwa ingatanmu tentangku nantinya adalah ingatan yang sedih? Entahlah.

Namun seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tak ingin berlama-lama menetap dalam kepalamu. Kenangan-kenangan selalu menjegal langkah maju. Kubilang, jika kau nanti pergi, aku akan bersedia tinggal untuk satu malam saja dalam ingatanmu. Kenanglah aku sebagai perempuan yang tak begitu penting namun jelas memang mempesona. Perempuan dengan kabel kusut di kepalanya. Yang hobi menelanjangi dan mengulitimu. Setelah itu aku akan pergi. Tak hanya dari hadapanmu, namun juga dari kepalamu. Aku bersumpah aku akan melakukannya.

Selesai mengucapkan kalimat terakhir, aku menunggu tawamu sebagai penutup. Namun tidak. Kau malah diam. Apa kau tidur? Ah tidak. Kau tidak tidur. Kau malah menggenggam sebelah tanganku. Erat sekali. Kau menyebut namaku. Seana. Tetap dengan cara yang salah. Namaku sejak lahir dilafalkan seperti yang tertulis. Se-a-na. Bukan Si-na seperti yang selalu kau lakukan. Ketika kau lagi-lagi mengajukan alasan yang sama seperti yang sudah-sudah, aku sudah tak ingin lagi membantah.

Si-na. Si seperti Sea. Laut. Kau bilang kau menyukai laut dan namaku tertulis seperti itu. Sea. Seana Suna Nuala. Kau mengulang-ulang menyebut nama lengkapku hingga lirih dan tak terdengar. Setelah hening panjang yang kukira adalah pertanda lelapmu, kau lalu bersuara lagi. Kau mempertanyakan mengapa kau tak pernah bisa melukis wajahku dengan sempurna. Kujawab dengan asal saja. Kubilang karena aku memang tak pernah ada dalam kepalamu. Tak dapat tempat dalam ingatan dan imajinasimu. Mungkin bagimu, aku memang tak pernah nyata.

Lagi-lagi diam. Namun diam kali ini terasa begitu menyiksa. Aku dan kau, mungkin sama-sama mengerti bahwa kita sama-sama tak sedang terlelap. Hening panjang, sangat amat panjang. Namun ketika akhirnya sunyi dan remang berhasil mengundang kantukku, aku masih bisa mendengar suaramu, meski dalam keadaan setengah sadar. Kau bilang, sepasang sepatu saja tak bisa bersatu. Sementara itu kita ini masing-masing adalah alas kaki kanan-kiri yang berbeda jenis. Kau adalah sandal jepit, dan aku mungkin adalahcrocs.

Terakhir kali yang kurasakan sebelum akhirnya jatuh begitu dalam ke dalam lelap, kau masih menggenggam sebelah tanganku. Erat sekali. Ketika akhirnya pagi datang dan cahaya matahari menusuk-nusuk kesadaranku, hal yang pertama kali kucari adalah kau. Ketika tak kutemukan dimanapun, aku mengerti bahwa kau telah pergi. Entah sejak kapan, entah kemana. Entah. Yang aku tahu, pergimu kali ini tak akan memberikan kembali.

Pagi ini, aku lagi-lagi menangis. Tangis yang masih entah. Tangis yang heran. Bukankah aku telah bersumpah, tidak akan pernah lagi merasakan kehilangan?

 

Surabaya, 14 Juni 2014, 00.33 WIB.

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 plus 3?