HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Archive for March 4th, 2010

Public Media itu bernama FACEBOOK

facebook logo Public Media itu bernama FACEBOOKFacebook. Membicarakan tentang media ini mungkin tak akan pernah habisnya. Situs jejaring sosial ini dikemas dan diperuntukkan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Indonesiapun kini menjadi salah satu negara yang cukup produktif penggunanya dengan kehadiran  serta akses yang diberikan olehnya (baca;facebook). Tradisi komunikasi konvensional di dunia nyata perlahan  digantikan dengan pengekspresian dan pengkayaan  kehidupan sosial seseorang secara virtual.  Contoh konkretnya  bisa ditemukan antara lain mau “just say hello to another”, komunikasi, sosialisasi, beriklan/berbisnis, sarana informasi, seks, dsb tergantung fungsinya buat apaan.

Menarik di sini, saya mencoba melihat realitas dengan mencari konstelasi atas ini semua. Pertama-tama, pernahkah kita suatu ketika bertemu dengan seseorang, yang tidak kita kenal, belum pernah kita lihat sebelumnya, ketahui sepak terjangnya, tapi dia mengenal kita. Ya, mungkin beberapa kali. It's oke. Mungkin dari berapa diantara mereka tadi, yang berinisiatif menegur terlebih dahulu itu, melancarkan komunikasinya kepada kita dengan mencaci–maki. Mereka menghakimi kita, baik karena perilaku kita pendapat kita, atau sekedar hanya karena gaya kita berbicara. Sinisme, apriori bahkan mencaci maki atau apapun itu yang mereka berikan untuk kita. Mengapa demikian? Ini karena adanya psychological barrier yang agak sulit dilalui, dalam konteks komunikasi tatap muka. Kesungkanan dalam berkomunikasi ini terjadi, karena mereka tidak mengenal anda secara langsung, mereka segan dengan anda karena mungkin dalam strata yang mereka bangun di kepala,  ketika lebih “tinggi” dibanding mereka. Mungkin juga karena penampilan kita katakanlah “intimidatif.”

Sejak tahun Februari 2009 sampai dengan sekarang ini, saya cukup aktif bersosialisasi di situs jejaring sosial ini. Di sini, saya memperoleh kesempatan berjumpa dan berinteraksi dengan banyak sekali pihak, yang dalam dunia nyata belum tentu dapat peluang yang sama. Alhasil, apa yang disebut networking lumayan terbangun. Alm Prof. Sadjipto Rahardjo, seorang guru besar Sosiologi Hukum UNDIP Semarang yang kukagumi karya-karyanya. Saya mendapat pelajaran yang benar-benar berharga tentang apa yang dinamakan dengan proyeksi hukum progresif karena beliau sering mampir di inbox saya hanya untuk memberikan petuah saktinya(padahal beliau termasuk orang yang cukup sibuk lho). Ada Prof. Romli Atasasmita (Guru Besar Hukum Tata Negara UNPAD) dan Prof. Jimly (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi) sempat bercengkrama bersama saya dengan diskusinya. Sungguh, begitu banyak kesempatan yang diperoleh dan ini belum tentu bisa terjadi dalam dunia tatap muka.

Namun di sisi lain, sungguh facebooker adalah juga belantara yang kejam. Tiba–tiba ada seseorang yang tak saya kenal berteriak–teriak @mentioning saya. Memaki–maki saya entah apa motivasinya. Atau ‘meludahi’ saya dengan kata–kata pedas, karena ketidakbecusan argumentasi yang saya berikan (sedikitnya sayapun termasuk yang cukup aktif di berbagai diskusi grup facebook). Awalnya semua ini membuat saya terkejut kejut, geram dan hampir frustrasi. Saya tidak pernah memliki reserve untuk menghadapi hal–hal macam ini. Bukan cengeng, tetapi kaget. Bagaimana batas–batas kepatutan dalam komunikasi, yang biasa kita adopsi dan terapkan dalam komunikasi konvensional tidak ada gunanya di Facebook. Awalnya saya mencoba bereaksi, mencoba menyampaikan tanggapan balik secara serius. Lama–kelamaan saya sadar, itu sia–sia belaka. Langkah yang paling bijak adalah mengabaikannya. Ya kalau taraf “mengganggunya” sudah sampai ke ubun–ubun block saja. Ada yang marah–marah saya block. Entahlah, mungkin dia sudah sangat orgasmus, karena saya selalu berbaik–baik menanggapi caci–makinya. Dia pikir saya tong sampah yang nggak punya emosi hehe.

Manusia akan bisa begitu berbeda di dunia maya. Mereka yang sesungguhnya minderan, introvert, kikuk di dunia nyata, bisa begitu artikulatif, luwes dan supel dalam pergaulan di negeri cyber. Mereka yang tadinya tak punya keberanian menyampaikan protes, dapat meledak–ledak dan menjadi begitu militan dalam menyampaikan ide. Tentu selalu ada dampak positif dan negatifnya. Tetapi lagi–lagi akomodasinya atas aspirasi begitu besar.  yang tadinya tidak akan didengar jika berbicara di alam nyata, bahkan bisa menjadi ‘nabi baru’ yang mencerahkan buat para friends kita, sekalipun sesungguhnya kita adalah no one. Begitu berkhasiatnya wahana komunikasi baru ini, tak jarang bahkan membuat kita melakukan pengabaian atas komunikasi konvensional. Kita lebih asyik berbicara dalam senyap melalui internet, ketimbang beradu bunyi dengan orang–orang di sekeliling kita.

(Tetapi saya kok merasa, yang besar dan bagian terbaik dari itu belum datang. Segera saya berpikir tentang siapa yang akan membuktikan dan menunjukkannya kepada kita. Bahwa pemberontakan adalah propaganda cyber)

4466 1044327002129 1644249644 114340 2901746 n 300x225 Sisi Lain dari Kompleksitas HAK MEMILIHKini, tinggal berapa bulan lagi, berapa hari lagi dan berapa detik lagi, kita semua dihadapkan dengan sebuah momen yang cukup penting buat kabupaten tercinta ini yakni pesta demokrasi bertajuk PILKADA CABUP DAN CAWABUP KABUPATEN KABUPATEN KETAPANG 2010 yang rencananya menurut jadwal dari KPU Daerah pada tgl 19 Mei 2010 mendatang. Pertanyaannya, sudah siapkah kita sebagai masyarakat menggunakan “HAK PILIH” utk memilih calon2 pemimpin daerah ini yg kira-kira sesuai dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat. Di sisi lain, di sini saya mencoba menangkap sedikit urgensinya. Ada 2 kata yg sangat antagonis yakni MEMILIH ATAU TIDAK MEMILIH. Sebuah pilihankan tentunya…hehehe

Saya coba memakai analogi di bawah ini ;
Andaikan ada permintaan ini: kamu harus memilih 1 buah kue dari 1 piring yang berisi satu jenis kue, 2 kue yang sama, 2 kue yang berbeda dan bermacam jenis kue. Mana yang lebih asyik? Kalau jawaban kamu yang asyik adalah memilih dari piring dengan banyak jenis kue, tentu itu jawaban itu normal. Namun pertanyaan berikut: Benarkah mudah untuk memilih satu buah (ingat satu saja) kue dari begitu banyak pilihan? Saya kok tidak yakin.

Pernahkah kamu berbelanja pakaian dan mendapatkan pilihan begitu banyak, entah itu bagus semua atau jelek semua, dan kamu sulit menentukan pilihan, apalagi karena bugjet terbatas. Pusing?

Kalau sudah demikian, apakah kita seharusnya bersyukur karena memiliki hak untuk memilih? Syukur-syukur kalau semua calon yang tertulis di kertas suara adalah orang-orang hebat, baik, jujur, pekerja keras dan mau memikirkan rakyat kecil, sehingga kesulitan kita adalah mencari yang terbaik di antara yang baik. Lha kalau semua jelek (kok pesimistis, skeptis sih)?

Bagaimana dengan hak untuk tidak memilih. Toh itu bagian dari pilihan? Nah, ini bukti lain dari kedaulatan seorang manusia merdeka. Bebas memilih untuk tidak memilih.

Tapi jangan lupa, setiap pilihan kita ada konsekuensinya.

Hidup terlalu singkat
Disini dan sekarang
Dan kita hanya diberikan satu kesempatan
Tapi, mungkinkah di sana ada yang lebih
Mungkinkah aku sudah pernah hidup sebelum ini?
Atau apakah hanya ini yang kita dapat?

Aku terbiasa untuk takut akan kematian
Aku terbiasa berpikir bahwa kematian adalah akhir segalanya
Tapi itu dulu
Aku tak takut lagi sekarang
Aku tahu bahwa jiwaku akan melampauinya <kematian>

Mungkin aku tidak akan pernah menemukan jawabannya
Mungkin aku tidak akan pernah mengerti mengapa
Mungkin aku tidak akan pernah bisa membuktikan
Apa yang aku yakini menjadi benar
Tapi aku tahu bahwa tidak ada salahnya aku tetap mencoba

Aku terus mencoba
Lepaskan semua ketakutan dan rasa sakit
Pikiranku yang terus mempertanyakan
Telah membantuku untuk mencari
Apa makna dalam hidupku lagi

Akhirnya aku merasakan
Damai bersama mimpiku
Dan sekarang aku ada disini
Sekarang benar-benar jelas
Aku menemukan semua maknanya

Aku percaya
Bahwa setelah kita tiada
Jiwaku akan melanjutkan semuanya