HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Archive for March 19th, 2010

Setelah teman-teman membuka log in di blog, saatnya mempublikasikan tulisan pertama. Caranya sebenarnya cukup mudah. Langkah awalnya adalah dengan klik ‘Posts’ yang terdapat di menu samping, lalu klik ‘Add New’ seprti gambar di bawah ini :

tulis artikel wp1 300x225 PANDUAN SINGKAT MEMBUAT POSTING/TULISAN DI BLOG BESWAN

Ada beberapa fitur dasar yang perlu teman-teman ketahui untuk membuat sebuah posting yakni antara lain :

Title/Judul:
Berupa kotak panjang yang terletak tepat di bawah tulisan ‘Add New Post’. Fungsi kotak ini adalah untuk mengisi judul. Sebisa mungkin buatlah judul yang membuat pembaca penasaran, namun masih tetap nyambung dengan artikelnya.

Post Editing Area/Isi artikel:
Berupa sebuah kotak persegi yang terletak di bawah kotak judul. Ada dua versi penulisan. Yakni versi ‘Visual’ dan versi ‘HTML’. Bila  sering menggunakan Microsoft Word, maka teman-teman akan mudah beradaptasi dengan versi visual. Di sana teman-teman akan menemukan tombol-tombol untuk mendekorasi teks, seperti cetak tebal, cetak miring, warna teks, dan lain-lain. Selain itu, teman-teman juga dapat menyisipkan gambar, audio, video dan beberapa tipe file ke dalam artikel. Untuk sementara, sebaiknya teman-teman menggunakan versi visual  karena versi HTML membutuhkan pemahaman akan bahasa HTML.

Kotak Publish:
Terdapat beberapa fungsi di kotak publish, yakni:

  • Tombol ‘Save Draft‘. Berfungsi untuk menyimpan post sebagai konsep. Post yang teman-teman buat akan disimpan di database, namun tidak akan ditampilkan kepada pengunjung.
  • Tombol ‘Preview‘. Berfungsi untuk membuka sebuah jendela baru yang akan menampilkan post teman-teman  sebelum dipublikasikan.
  • Status. Ada 3 jenis status, yakni Published, Pending Review dan Draft. Published berarti post telah dipublikasikan dan dapat dibaca oleh pengunjung. Draft berarti artikel akan disimpan di database dan tidak akan ditampilkan kepada pengguna dan pengunjung selain kita. Sedangkan Pending Review merupakan Draft yang dapat dibaca oleh pengguna lain (selain teman-teman) yang memiliki kewenangan editor atau admin. Fungsi ini akan berjalan efektif bila blog dikelola oleh lebih dari seorang pengguna.
  • Visibility. Berfungsi untuk menentukan siapa saja yang dapat membaca post yang telah teman-teman buat. ‘Public‘ berarti semua orang dapat membaca post tersebut. Bila  mencontreng ‘Stick this post to the front page‘, atau sering disingkat sticky, berarti post tersebut akan selalu ditampilkan pada urutan pertama di halaman index. ‘Password protected‘ berarti post hanya akan ditampilkan bila pengguna memasukkan password yang telah teman-teman tentukan. Sedangkan ‘Private‘ berarti post hanya akan ditampilkan kepada teman-teman dan pengguna lain yang berada di tingkat editor dan admin.
  • Publish Immediately. Berfungsi untuk menentukan kapan post akan dipublikasikan.
  • Delete. Berfungsi untuk menghapus post yang telah teman-teman buat.
  • Publish. Ingatlah selalu untuk mengklik tombol ini setelah melakukan perubahan. Bila teman-teman tidak melakukannya, maka perubahan yang telah dibuat akan hilang dicuri tuyul. …hahaha. Oh ya, Tombol Publish akan berubah menjadi schedule bila teman-teman merubah isi dari bagian Publish immediately. Hal ini wajar. Teman-teman tidak perlu memanggil Densus 88 untuk menjinakkan komputer teman-teman

Categories/kategori:
Berfungsi untuk membagi post yang telah teman-teman buat ke dalam beberapa kategori. Pengkategorian post akan sangat membantu pengunjung dalam mencari artikel yang mereka sukai. Klik ‘Add New Category’, untuk menambahkan artikel baru. Untuk membuat sub-kategori, teman-teman dapat menggunakan drop down, lalu pilih kategori induk, lalu klik Add. Sedangkan untuk menambahkan suatu post ke dalam kategori yang telah dibuat sebelumnya, cukup contreng kategori yang diinginkan.

Post Tags:
Merupakan kata kunci dari post yang  dibuat. Ketikkan maksimal 5 kata atau suku kata yang menggambarkan isi post teman-teman. Pisahkan tiap kata kunci dengan menggunakan koma. Setelah selesai, klik Add.

Bagaimana, ada yang bingung?? Silahkan komment saja di bawah ini. Terima kasih

Sumber : WordPress.com

pidana 300x300 DIALEKTIKA HUKUM BERDASARKAN NURANI DAN ETIKANYALahirnya para calon penegak hukum seperti advokat, jaksa, hakim serta kepolisian tidak terlepas dari institusi pendidikan tingginya. Konon, di tempat inilah (kampus) para calon “pendekar” hukum yang akan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan keadilan hukum terlahir. Pantas kiranya apabila kita menyebut kampus di mana para calon sarjana hukum ini sebagai sebuah kawah candradimuka. Di tempat ini mereka ditempa baik mengenai penguasaan pengetahuan hukum maupun yang berkaitan dengan masalah moralitas (etika) yang menjadi prasyarat mutlak bagi seorang penegak hukum. Namun apa jadinya bilamana idealisme kesempurnaan yang dipelajari semasa duduk di bangku kuliah dengan cita penegakan hukum berkeadilan justru bertolak belakang dengan praktik riil di lapangan. Kini, justicia seringkali terekam tengah bertekuk lutut dan berakhir pada arus perubahan yang dibawa oleh globalisasi dengan anteknya yang bernama kapitalisme. Menilik ke belakang, beberapa pertanyaan fundamental yang kiranya perlu direnungkan bersama yakni bagaimana peran serta eksistensi pendidikan khususnya pendidikan tinggi hukum serta sistem hukum yang dianutnya selama ini terutama terkait dengan masalah moralitas? Ke manakah hati nuraninya di dalam menjalankan fungsinya sebagai penegak hukum yang menjunjung supremasi hukum yang berkeadilan? Entahlah.

QUO VADIS PENDIDIKAN HUKUM NASIONAL

Secara de facto, bagi sebagian kalangan masyarakat kita, perilaku koruptif, praktek mafia peradilan/hukum, dan “vonis dadu” kerap menjadi tontonan keseharian bahkan kini justru menunjukkan jejak kaki yang lebih tegas dan terang benderang. Carut marutnya dunia penegakan hukum di negeri ini tampaknya seolah berada pada titik nadir. Mengutip pernyataan  kekecewaan dari seorang Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi RI), fakultas hukum yang dalam hal ini merupakan salah satu institusi pendidikan hukum telah gagal membentuk karakter seorang sarjana hukum dalam menciptakan suatu bentuk keselarasan antara ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu hukum) dan nilai-nilai moral (etika) yang sarat dengan intelektualitas. Output lulusan yang dihasilkan oleh kampus merah ini tidak mampu secara sadar dan kian menjauh dari nilai-nilai moralitas dalam menjawab permasalahan dan persoalan hukum dewasa ini.  Mari kita lihat penampilan akrobatik yang ditunjukkan oleh para penegak hukum di negeri ini -sebagai seorang sarjana hukum- seperti soal kasus Bibit-Chandra, penyelesaian kasus Bank Century dan puluhan kasus korupsi yang tak tahu ujung pangkalnyapun digadang menjadi simbol amburadulnya sistem penegakan hukum kita. Di tempat yang lain, secara berturut-turut mulai dari kasus “judi koin” Raju bersama sembilan bocah  lainnya, kasus “curhat medik” Prita Mulyasari, kasus “3 biji kakao” nenek Minah hingga kasus “petaka semangka” Basar dan Kholil menjadi pemandangan kontras betapa dewi keadilan dengan mudahnya menebas hak-hak kaum plebeius secara serampangan. Lagi-lagi kita bertanya, sampai sejauh apakah reformasi atas sistem pendidikan hukum akan terus-menerus memproduksi manusia-manusia yang justru akan menghancurkan bangsanya sendiri? Sistem hukum macam apakah yang telah membentuk para penegak hukum kita yang ada sekarang ini? Di sini secara bijak tentunya akar permasalahan hukum kita tak lepas dari keduanya tadi. Kesemuanya tadi jelas berperan dan bertanggung jawab atas bobroknya dunia hukum Indonesia. Sejatinya, dunia hukum pada hakekatnya adalah menjunjung tinggi kebenaran, keadilan serta mengedepankan nilai-nilai dan moral. Karena apa? Karena walau bagaimanapun, ilmu hukum tidak akan menjadi sebuah ilmu yang “ampuh” untuk memberantas segala bentuk ketidakadilan bilamana aspek etika dan moral selalu dianggap sepele dan seringkali disisihkan.

MORALITAS HUKUM

Dalam perspektif etika, Ronald  Dworkin (Rahardjo, 2008) dalam metodenya “moral reading” telah mengkonstruksikan negara hukum Indonesia sebagai suatu negara dengan nurani atau negara yang memiliki kepedulian (a state with conscience and compassion). Artinya, common sense dan legal sense yang berselaras dengan legal and moral ethics sejatinya menempati status penting dalam sistem penegakkan hukum di Indonesia. Sementara itu, pada medio 1970-an, Philippe Nonet dan Philip Selznick menyampaikan bahwa obyek pembangunan hukum suatu negara sebaiknya berjalan berdasarkan realitas dinamika internal bangsa sendiri, dan bukan meniru negara manapun. Dilihat dari sudut subyeknya, Kranenburg mengatakan bahwa para sarjana hukum jangan terjebak dalam optik hukum positif semata, tetapi harus membuka hati dan pikirannya terhadap perkembangan masyarakat. Dengan demikian, menjalani hukum sebaiknya tidak sekedar dipandang dari sudut legalistik-positivistik dan fungsional an sich, namun juga secara natural memiliki watak kebenaran dan berkeadilan sosial. Jika kita kembali pada Pancasila sebagai filosofische grondslag, maka akan ditemukan bahwa keadilan sosial (social justice) menjadi prinsip penting dalam sistem hukum kita.

EKSPEKTASI HUKUM DAN KEADILAN

Mencermati problematika hukum di negeri ini, kita tentu berkeyakinan bahwa setidaknya masih banyak para aparat penegak hukum yang tentunya masih memiliki moral dan nurani bersih namun (sengaja) dimarginalkan sehingga sudah seyogianya momentum ini dimanfaatkan sebagai renaissance nurani hukum. Berkaitan dengan itu, sudah selayaknya diperlukan komitmen serta political will dari pemerintah, parlemen, pimpinan lembaga penegak hukum, dan pimpinan institusi pendidikan hukum yang diharapkan menjadi elemen vital dalam hal ini. Masyarakat amat merindukan teladan hukum, sehingga prasyarat kejujuran, ketegasan, dan keberanian dalam menegakkan hukum dengan moral dan nurani menjadi syarat minimal dari pencarian tersebut (Deryck Beyleveld, Law as a Moral Judgment, 1986). Selain itu, satu hal yang tidak kalah pentingnya yakni dengan menggalang pengawasan oleh rakyat dan pers secara langung dan terus-menerus. Tanpa adanya pemberitaan dari media massa, tentu tabir kelam penegakan hukum seperti sekarang ini tidak akan pernah tersingkap ke meja publik. A blessing in disguise! Oleh karenanya kita patut bersyukur sebab baik aparat penegak hukum maupun masyarakat luas menjadi terlatih pendengaran telinganya, terasah penglihatan matanya, dan tersinari hati nuraninya.

Perjuangan menegakkan keadilan berdasar moralitas dan hati nurani yang tulus memang terasa berat dan tiada henti. Akan tetapi, keyakinan atas pencapaiannya tidak boleh pernah goyah atau redup sedikitpun. Tentunya di masa yang akan datang kita berharap bahwa tak perlu lagi kita mengais-ngais untuk sekedar mencari sebongkah nurani di tengah-tengah ilalang keadilan. Bahkan saking pentingnya arti sebuah nurani hukum, Mahatma Gandhi pernah menyatakan, “In matters of conscience, the law of the majority has no place”.