HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

DIALEKTIKA HUKUM BERDASARKAN NURANI DAN ETIKANYA

pidana 300x300 DIALEKTIKA HUKUM BERDASARKAN NURANI DAN ETIKANYALahirnya para calon penegak hukum seperti advokat, jaksa, hakim serta kepolisian tidak terlepas dari institusi pendidikan tingginya. Konon, di tempat inilah (kampus) para calon “pendekar” hukum yang akan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan keadilan hukum terlahir. Pantas kiranya apabila kita menyebut kampus di mana para calon sarjana hukum ini sebagai sebuah kawah candradimuka. Di tempat ini mereka ditempa baik mengenai penguasaan pengetahuan hukum maupun yang berkaitan dengan masalah moralitas (etika) yang menjadi prasyarat mutlak bagi seorang penegak hukum. Namun apa jadinya bilamana idealisme kesempurnaan yang dipelajari semasa duduk di bangku kuliah dengan cita penegakan hukum berkeadilan justru bertolak belakang dengan praktik riil di lapangan. Kini, justicia seringkali terekam tengah bertekuk lutut dan berakhir pada arus perubahan yang dibawa oleh globalisasi dengan anteknya yang bernama kapitalisme. Menilik ke belakang, beberapa pertanyaan fundamental yang kiranya perlu direnungkan bersama yakni bagaimana peran serta eksistensi pendidikan khususnya pendidikan tinggi hukum serta sistem hukum yang dianutnya selama ini terutama terkait dengan masalah moralitas? Ke manakah hati nuraninya di dalam menjalankan fungsinya sebagai penegak hukum yang menjunjung supremasi hukum yang berkeadilan? Entahlah.

QUO VADIS PENDIDIKAN HUKUM NASIONAL

Secara de facto, bagi sebagian kalangan masyarakat kita, perilaku koruptif, praktek mafia peradilan/hukum, dan “vonis dadu” kerap menjadi tontonan keseharian bahkan kini justru menunjukkan jejak kaki yang lebih tegas dan terang benderang. Carut marutnya dunia penegakan hukum di negeri ini tampaknya seolah berada pada titik nadir. Mengutip pernyataan  kekecewaan dari seorang Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi RI), fakultas hukum yang dalam hal ini merupakan salah satu institusi pendidikan hukum telah gagal membentuk karakter seorang sarjana hukum dalam menciptakan suatu bentuk keselarasan antara ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu hukum) dan nilai-nilai moral (etika) yang sarat dengan intelektualitas. Output lulusan yang dihasilkan oleh kampus merah ini tidak mampu secara sadar dan kian menjauh dari nilai-nilai moralitas dalam menjawab permasalahan dan persoalan hukum dewasa ini.  Mari kita lihat penampilan akrobatik yang ditunjukkan oleh para penegak hukum di negeri ini -sebagai seorang sarjana hukum- seperti soal kasus Bibit-Chandra, penyelesaian kasus Bank Century dan puluhan kasus korupsi yang tak tahu ujung pangkalnyapun digadang menjadi simbol amburadulnya sistem penegakan hukum kita. Di tempat yang lain, secara berturut-turut mulai dari kasus “judi koin” Raju bersama sembilan bocah  lainnya, kasus “curhat medik” Prita Mulyasari, kasus “3 biji kakao” nenek Minah hingga kasus “petaka semangka” Basar dan Kholil menjadi pemandangan kontras betapa dewi keadilan dengan mudahnya menebas hak-hak kaum plebeius secara serampangan. Lagi-lagi kita bertanya, sampai sejauh apakah reformasi atas sistem pendidikan hukum akan terus-menerus memproduksi manusia-manusia yang justru akan menghancurkan bangsanya sendiri? Sistem hukum macam apakah yang telah membentuk para penegak hukum kita yang ada sekarang ini? Di sini secara bijak tentunya akar permasalahan hukum kita tak lepas dari keduanya tadi. Kesemuanya tadi jelas berperan dan bertanggung jawab atas bobroknya dunia hukum Indonesia. Sejatinya, dunia hukum pada hakekatnya adalah menjunjung tinggi kebenaran, keadilan serta mengedepankan nilai-nilai dan moral. Karena apa? Karena walau bagaimanapun, ilmu hukum tidak akan menjadi sebuah ilmu yang “ampuh” untuk memberantas segala bentuk ketidakadilan bilamana aspek etika dan moral selalu dianggap sepele dan seringkali disisihkan.

MORALITAS HUKUM

Dalam perspektif etika, Ronald  Dworkin (Rahardjo, 2008) dalam metodenya “moral reading” telah mengkonstruksikan negara hukum Indonesia sebagai suatu negara dengan nurani atau negara yang memiliki kepedulian (a state with conscience and compassion). Artinya, common sense dan legal sense yang berselaras dengan legal and moral ethics sejatinya menempati status penting dalam sistem penegakkan hukum di Indonesia. Sementara itu, pada medio 1970-an, Philippe Nonet dan Philip Selznick menyampaikan bahwa obyek pembangunan hukum suatu negara sebaiknya berjalan berdasarkan realitas dinamika internal bangsa sendiri, dan bukan meniru negara manapun. Dilihat dari sudut subyeknya, Kranenburg mengatakan bahwa para sarjana hukum jangan terjebak dalam optik hukum positif semata, tetapi harus membuka hati dan pikirannya terhadap perkembangan masyarakat. Dengan demikian, menjalani hukum sebaiknya tidak sekedar dipandang dari sudut legalistik-positivistik dan fungsional an sich, namun juga secara natural memiliki watak kebenaran dan berkeadilan sosial. Jika kita kembali pada Pancasila sebagai filosofische grondslag, maka akan ditemukan bahwa keadilan sosial (social justice) menjadi prinsip penting dalam sistem hukum kita.

EKSPEKTASI HUKUM DAN KEADILAN

Mencermati problematika hukum di negeri ini, kita tentu berkeyakinan bahwa setidaknya masih banyak para aparat penegak hukum yang tentunya masih memiliki moral dan nurani bersih namun (sengaja) dimarginalkan sehingga sudah seyogianya momentum ini dimanfaatkan sebagai renaissance nurani hukum. Berkaitan dengan itu, sudah selayaknya diperlukan komitmen serta political will dari pemerintah, parlemen, pimpinan lembaga penegak hukum, dan pimpinan institusi pendidikan hukum yang diharapkan menjadi elemen vital dalam hal ini. Masyarakat amat merindukan teladan hukum, sehingga prasyarat kejujuran, ketegasan, dan keberanian dalam menegakkan hukum dengan moral dan nurani menjadi syarat minimal dari pencarian tersebut (Deryck Beyleveld, Law as a Moral Judgment, 1986). Selain itu, satu hal yang tidak kalah pentingnya yakni dengan menggalang pengawasan oleh rakyat dan pers secara langung dan terus-menerus. Tanpa adanya pemberitaan dari media massa, tentu tabir kelam penegakan hukum seperti sekarang ini tidak akan pernah tersingkap ke meja publik. A blessing in disguise! Oleh karenanya kita patut bersyukur sebab baik aparat penegak hukum maupun masyarakat luas menjadi terlatih pendengaran telinganya, terasah penglihatan matanya, dan tersinari hati nuraninya.

Perjuangan menegakkan keadilan berdasar moralitas dan hati nurani yang tulus memang terasa berat dan tiada henti. Akan tetapi, keyakinan atas pencapaiannya tidak boleh pernah goyah atau redup sedikitpun. Tentunya di masa yang akan datang kita berharap bahwa tak perlu lagi kita mengais-ngais untuk sekedar mencari sebongkah nurani di tengah-tengah ilalang keadilan. Bahkan saking pentingnya arti sebuah nurani hukum, Mahatma Gandhi pernah menyatakan, “In matters of conscience, the law of the majority has no place”.

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Responses to “DIALEKTIKA HUKUM BERDASARKAN NURANI DAN ETIKANYA”

  1. hendra says:

    Skeptisme?Pesimistis?? Bagaimana reformasi sistem dan birokrasinya selama ini?Apa dan siapa yg harus disalahkan dlm pelaksanaannya? Apakah pemerintahan ini telah gagal membangun sistem pengawasan internal, eksternal dan penegakan hukum yg telah dijalankan? Tinjauannya bisa dr berbagai sudut pandang (hukum, politik, birokrasi, sosiologi maupun yang lainnya). Namun, apakah itu dpt dijadikan suatu “kebenaran”? Kebenaran sperti apakah itu??
    Itulah sekelumit lingkaran pertanyaan yg smp sekarang ada dan bersemayam di otak saya ketika melihat realitasnya. Berbagai kemungkinan2 di atas bisa saja itu terjadi, tp kalau bicara “mungkin” ya mungkin iya atau tidak?Itu pilihan hidup seorang yg bernama manusia itu sndiri. Dampak serta konsekuensinya akan menjadi pertaruhannya sebagai seorang yg humanis. Lagi2, sebuah keniscayaankah?? Kesimpulannya, berarti sistemnya berdampak sistemik….hehehe
    It’s liberal system. Itulah gambaran sistem di Indonesia yg dikemukakan oleh Alm Prof Rahardjo (Guru Besar FH Undip). Sumber “penyakit”nya adalah manusianya itu sndiri dlm membangun sebuah sistem. Walau bagaimanapun, manusia tetap mengambil peran utama yg lebih signifikan dibanding peraturannya sendiri. Ya!! termasuk sistem yg korup. Sekalipun, dalam keadaan sistem yg liberal, kalau ada itikad, maksud dan perilaku para pemimpin kita (penguasa) utk memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya yg sebesar-besarnya, sistem ini bisa diatasi. Harus ada pendekatan yg lebih paradigmatif bukan pendekatan scientific. Jadi, yg sekarang blm ada yg menjadi “pendobrak” yg progresif atas bobroknya perilaku2 manusianya dlm menciptakan sistem bukan berdasarkan kemaslahatan yg bermanfaat tp lebih kpd upaya pembodohan scr struktural semata. Sebuah “lowongan pekerjaan” bukan….hehehe?! (sekaligus menanggapi “lowongan DICARI ORANG KEEMPAT” yg Mz Rahman tawarkan kepada saya.
    Saat ini, saya lebih menyukai utk duduk sebagai pemikir di jalanan saja mz Rahman, seorang yg msh ingin menemukan mimpi “keadilan sesungguhnya” ada di mana??
    Ya, wlw cuma mimpi dan retorika namun perlahan tp pasti, saya akan terus bergerak serta berusaha utk mengembalikan supremasi keadilan itu di tempatnya layak bagi semua orang. Begitulah “takdir” saya. Tuhan akan terus menjadi inspirator saya, kapanpun dan di manapun saya berada dan berpijak di dunia fana ini.

  2. hendra says:

    Justru dgn atensi mz Rahman inilah semakin terbukanya hati dan pikiran saya, kegundahan saya selama ini utarakan khususnya dlm hal penegakan hukum yg ada dewasa ini. Saya (jujur saja) sgt senang kalau ada yg mau comment di salah satu artikel blog saya apalagi yg memiliki bobot tersndiri (syukur2 buat masukan pribadi saya). Saya bisa memahami apapun itu, bentuk kekecewaan kita sbg masyarakat cuma hanya menjadi penonton atas problematika ini. Ya, dengan “bentuk perhatian” dari sebagian orang saja, bagi saya sudah merupakan modal berharga nantinya utk dapat melangkah menuju kehidupan yg lebih berarti…hehehe
    Waduh….ternyata Mz Rahman lebih pengalaman dlm soal rumah tangga (maafkan saya Mz apabila ada tanggapan yg kiranya menyinggung Mz rahman). Maklumlah, saya lg dlm tahap menuju ke “dunia baru itu”. Ya itu td, RUMAHTANGGA.
    Maafkan saya juga apabila dlm memberikan tanggapan mungkin ada hal2 yg kurang dimengerti Mz Rahman. Saya sadar, selama ini tak luputnya bnyk sekali kekurangan yg saya miliki. Kita sama2 belajar ya Mz..
    Thanks sekali lg atensinya yg sgt berharga. Mudah2an ini menjadi awal yg baik dan seterusnya. Amin.
    Sipz,,,
    Saya tetap sabar menunggu hasil racikan blognya Mz Rahman nantinya. Nice commentnya

  3. Rahman Wahyu says:

    Kontak balik friend! Klik saja blogsportnya Ichal!
    Barusan dia membloging beberapa corat-coret saya. Jangan ditertawain ya? Masih belajar. Nih Ichal titip tanya bagaimana cara membalas coment di blogsportnya for mau jawab tanya mz Hend lalu. Okey segitu dulu. Salam blogger. Rahman Wahyu.

  4. hendra says:

    Antara lingkungan dan ekspektasi diri terjadi destruksi atau reduksi??
    Saya bertanya, siapakah yg membuat dan menciptakan sebuah sistem? Apa dasar penilaian itu baik atau tidak?
    Implikasinya bisa beragam……
    Terkadang mencari yg “lebih” (baik) membutuhkan perjuangan yg tidak mudah. Seberapa jangkauannya selama ini?Ada itikad, paradigma berpikir serta usahanya??
    Saya sendiri pernah merasakan polemik di dlm lingkungan keluarga yg smpt saya agp “asing” bagi saya. Saya coba mendemonstrasikan lewat pemikiran inklusif utk membangun suatu pergaulan. Kepercayaan, tanggungjawab, rela berkorban utk hal-hal kecil dan besar dan hal lainnya menjadi konsekuensi saya di dlm pembangunan karakter dan watak saya sebagai seorang manusia. Kalau bukan manusianya itu sendiri, lalu siapa yg bisa merubahnya?Tuhan?Dia hanya sumber motivasi dan inspirasi, kita yg mengaplikasikan berbagai pilihan yg mesti secara das sollen maupun das sein bisa menjawab berbagai kompleksitas permasalahan yg terjadi selama ini. Saya tetap akan terus belajar (saya yakin Mz Rahman jauh lebih mengerti ketimbang saya yg cuma remaja yg msh “butuh” pemahaman yg lebih jelas) mengenai arti hidup, utk apa, apa manfaatnya di sebuah sistem yg sekiranya dpt adil buat saya dan orang lain juga. Ya, batu itu akan terus ada dan terkadang tersandung di dalamnya. Sekali lg, manusiawikah? pilihan tuk menerima keadaan atau mau merubah (lebih baik atau lebih buruk). HaNYA Anda yg bisa menilai diri anda.
    (Sekali lg maaf y Mz Rahman krn saya baru bisa membalaz sekarang)……Tak lebih kurangnya saya mohon maaf apabila saya terkesan mungkin tidak mempedulikan isi komentar ini….Tetap semangat ya Mz Rahman…
    Salam blogger

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 * 8?