HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Archive for March 20th, 2010

foto008 300x225 REFLEKSI  DI TENGAH DINAMIKA DUNIA PENDIDIKAN DAN UJIAN NASIONALMembicarakan tentang dunia ini memang tidak pernah ada habisnya. Sejenak kemudian saya berpikir tentang itu. Singkatnya, minggu yang lalu atau hampir sepekan, saya menjadi salah satu pengawas tryout ujian nasional di salah satu sekolah terkemuka yang acaranya diselenggarakan oleh sebuah lembaga kursus pendidikan swasta di kota ini. Ketika pada saat itu, pikiran sayapun sedikit terkontaminasi dengan kenyataan dunia pendidikan dewasa ini sesaat saya melihat aktivitas para peserta dari SMP dan SMA yang mengikuti tryout ini. Raut muka dan ketekunan bercampur ketegangan saat mengerjakan soal-soal yang diberikan begitu serius dihadapi oleh anak-anak ini. Mereka tentunya mengharapkan dengan adanya program pelatihan soal-soal pra-UN ini  bisa dijadikan deskripsi secara menyeluruh buat menghadapi “pertarungan sesungguhnya” nanti yang akan dilaksanakan bulan ini sampai bulan Mei 2010 mendatang. Semangat yang diperlihatkan dan ditunjukkan oleh para peserta tryout inipun tak ayal membuat saya berkontemplasi dan kembali mengingatkan saya dulu ketika pada kondisi yang sama pada saat itu mengalaminya. Mungkin ini bisa dikatakan suasana psikologis empirik yang saya alami ketika berusaha mengingat memori indah di bangku sekolah sekaligus bernuansa “ketakutan” pada saat-saat kondisi seperti itu.  Bukan apa-apa, realitas UN dari tahun ke tahun kian bervariasi dan mewarnai terutama pada tingkat urgensi soal-soal yang diberikan. Psikologi ketakutan saya pada saat itupun terasa sekali di tengah detik-detik perjuangan “hidup mati” tentang sebuah yang namanya Ujian Nasional (UN). Berbagai usaha maksimal serta doa terus menerus saya aplikasikan guna mempersiapkan tahap ini. Dan sampai pada saat-saat menegangkan itupun datang (terus terang saja), saya tak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan agar pelaksanaan ujian ini bisa saya kerjakan dengan baik sehingga hasil yang dicapai tentunya sesuai yang diharapkan. Alhamdulillah, Tuhan mengabulkan harapan saya dengan kelulusan yang saya capai selama ini. Nostalgia dan romansa UN tersebut akhirnya membayangi pikiran ini saat saya melihat para peserta tryout tadi. Sedikit melihat kejadian ini, berbagai media massa tak luput banyaknya membahas kasus seputar problematika penerapan UN yang dijadikan standar kelulusan bagi setiap peserta didik entah itu pada tingkat dasar/SD, menengah bawah/SLTP dan menengah atas/SLTA/SMK. Fakta dan data menunjukkan bahwa penentuan angka kelulusan pada Ujian nasional (UN) tingkat SLTP, SLTA dan SMK diawali sejak tahun 2004 lalu, yakni nilai rata-rata pada ujian nasional sebesar 4,0. Setelah itu, targetnya terus naik, yaitu pada 2005 menjadi 4,25, tahun 2006 sebesar 4,50, tahun 2007 naik menjadi 5,0 tahun 2008 sebesar 5,25 dan tahun 2009 angka kelulusan ujian nasional yakni 5,5. Disadari atau tidak, dari pengalaman selama ini, standar kelulusan yang ditetapkan Depdiknas tak dimungkiri menjadi momok tersendiri. Motivasi pihak sekolah menggulirkan kebijakan penambahan jam pelajaran dan program tryout UN lebih disebabkan adanya peningkatan standar kelulusan yang ditetapkan Depdiknas. Asumsi ini tentu tak berlebihan karena tak pernah pihak sekolah membuat kebijakan seperti itu saat diselenggarakan ujian sekolah. Dengan adanya standar kelulusan yang harus dicapai, pihak sekolahpun tidak bisa main-main lagi karena berkaitan dengan masa depan siswa.

Dilema Ujian Nasional

Sudah bertahun-tahun dunia pendidikan di negeri ini menuai kritikan yang cukup tajam dari para pakar, pengamat, dan pemerhati pendidikan. Salah satu persoalan mendasar yang gencar dikritik adalah terlepasnya dunia pendidikan dari realitas sosial yang seharusnya menjadi persoalan inheren yang mengakar dan membudaya dalam ranah dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan kitapun terpasung dalam ruang hafalan-hafalan teori dan rumus, tidak “membumi” serta tidak ada upaya serius untuk membawa para peserta didik mampu menerjemahkan berbagai ranah keilmuan yang diperoleh ke dalam realitas sosial. Produk pendidikan semacam ini hanya diarahkan pada “proses penampungan”. Proses dalam artian ini adalah sebuah produk yang tidak efektif dan tidak mencerdaskan manusia dalam proses pencarian dan pemahaman akan esensi ilmu. Produk tersebut hanya cenderung menerima dan melaksanakan tanpa bisa produktif untuk ikut bersikap kritis dan obyektif serta hanya ikut bermain dalam dataran praksis. Produk seperti ini hanya menciptakan manusia-manusia yang cenderung meniru dan bersifat afektif terhadap keadaan, cenderung indivualistik dan kurang memiliki kepekaan berinisiatif atau bersosialisasi secara lugas dalam kehidupan masyarakat. Harapan yang diberikan sistem pendidikan di Indonesia dewasa ini masih begitu memprihatinkan. Pendidikanpun masih terjebak pada pola-pola pragmatis yang artinya penyelenggaraan pendidikan masih berorientasi pada kelulusan lewat standar UN seperti yang termaktub dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Berbagai pro dan kontra kebijakan ujian nasional yang dilaksanakan kian menjadi kekecewaan bagi masyarakat dalam potret dunia pendidikan sekarang.  Ironisnya, UN yang dijalankan dan dilaksanakan selama ini sepertinya hanya diperlakukan semacam upacara ritual tahunan -meminjam istilah Syamsir Alam (2005)- tanpa memberikan pengaruh berarti terhadap upaya pembinaan, pengelolaan, dan pelaksanaan pendidikan pada tingkat sekolah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan. Solusi berupa informasi pendidikan yang diperoleh lewat UN hanya diperlakukan sebagai barang pajangan dan menjadi dokumen mati. Berbagai instrumen UN semisal soal-soal pilihan ganda yang digunakanpun sebenarnya masih menyimpan berbagai pertanyaan mendasar yang menuntut pembuktian khususnya menyangkut metodologi, terutama pada saat melakukan interpretasi terhadap hasil skor tes dan pemanfaatannya agar sesuai dengan tujuan diselenggarakannya UN. Selain itu, kondisi-kondisi yang menganggap bahwa setiap peserta didik sudah harus “siap tempur” dalam menghadapi UN semakin mereduksi secara struktural dalam proses dinamika dunia pembelajaran dewasa ini. Tak ayal lagi, suasana praktek  semacam itu semakin jauh dari nilai-nilai edukatif dan makin kering dari sentuhan problem-problem sosial yang mestinya “dibumikan” dan diakrabkan dalam dunia peserta didik baik dalam proses belajar mengajar maupun orientasi hasil UN yang dimplementasikan selama ini.

Kehadiran UN dalam dunia pendidikan kita agaknya memang belum memiliki format yang ideal dan jelas tentang bagaimana rasionalitas, keterbukaan serta obyektivitas proses ilmu dan hasil dari “terminal” akhir ini yang bukan hanya sebagai penentu kelulusan melainkan juga sebagai alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional. Para stakeholders masih terus berusaha mencari bentuk dan masih sering melakukan uji coba, termasuk kurikulumnya. Idealnya, UN yang diharapkan memang sudah saatnya bagaimana memikirkan kurikulum yang otentik dan efektif dalam arti relevan bagi kehidupan para peserta didik pada kehidupan nyata bukan hanya di dalam kelas tapi juga di luar ruang kelas. Termasuk juga di dalamnya bagaimana sistem pengujian juga hendaknya tak semata menguji daya hafal dan repetisi, melainkan kemampuan menganalisa bagaimana peserta didik bisa memahami pentingnya esensi ilmu secara sadar serta responsif terhadap berbagai realitas sosial yang ada di masyarakat.

Amanah UU Sisdiknas serta Makna Kontekstualitasnya

Secara eksplisit, Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Melihat esensi dari pasal tersebut, sudah seharusnya dalam tataran yang lebih kontekstual, fungsi pendidikan nasional hendaknya berorientasi pada karakter pemahaman bersama yang lebih dinamis dan konstruktif sehingga hakekat penciptaan generasi muda bangsa ini diharapkan bisa menjadi manusia yang mempunyai hati nurani, jati diri, rasa tanggungjawab, kepekaan normatif  dan sosiologis yang menyangkut nilai dan tata nilai ilmu. Di sini diperlukan suatu transformasi pencerdasan manusia dengan sikap yang kritis, terbuka, produktif, demokratis dan obyektif dalam proses pencarian dan pemahaman akan esensi ilmu pendidikan. Proses inilah dalam sebuah sistem kajian pendidikan antara siswa dengan guru dijadikan sebagai salah satu elemen fundamental  dalam perubahan yang sejajar di tengah mengkaji ilmu secara ilmiah, memanfaatkan ruang-ruang dialogis dan pemahaman bersama akan topik kajian serta tanpa adanya suatu pembatas dan pengakuan dari salah satu pihak (sebagai sindrome negatif) akan makna kesejajaran ruang. Kita tentunya berharap, dunia pendidikan kita -meminjam istilah Paulo Freire- dapat menjadi alat pembebasan yang sanggup menciptakan ruang bagi anak-anak bangsa untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis terhadap berbagai problem sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan. Apa tujuannya? Agar kelak generasi masa depan negeri ini mampu mengartikulasikan proses transformasi sosial secara arif, matang, dan dewasa sehingga terbebas dari perilaku instan, korup, hipokrit, keras kepala, dan mau menang sendiri.

Nb : Foto merupakan hasil dokumentasi pribadi pada waktu menjadi salah satu pengawas tryout