HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

BELAJAR DAN BERMAIN POLITIK

Tanpa saya sadari, akhirnya saya mencoba mengingat sepotong memori klasik sejak saya kecil (umur 6 tahun ketika itu) ketika almarhumah nenek secara singkat menceritakan bagaimana dulunya orang-orang zaman dulu belajar dan menulis.

Nenek : Dra, tahukah kamu dulu waktu zamannya neneknya (nenek moyang) nenek belajar dan menulis pakai media     apa?
Saya : Emangnya dulu pakai apa belajar dan menulis itu, Nek?
Nenek : Dulu, waktu itu belajarnya belum pakai kertas seperti sekarang tapi cuma pakai batu tulis. Habis nulis terus dihapus, jadi harus beneran diingat. Udah  gitu kalau salah, batu tulisnya di”tabokin” dan kalau dapat nilai tinggi, batu tulisnya ditempelin di jidat biar ada bukti. Begitu.

Saya : Waduuu…..!!!(sambil terheran mendengar cerita Nenek)
Nenek : Hahahahahaha……

Kelihatan sederhana sekali sekaligus menggelitik tapi begitu bermakna arti sebuah pembelajaran pada waktu itu. Sistem pendidikan yang sedang berjalan hari ini sudah cukup jauh dari meletakkan dasar-dasar berpikir kritis, analitis dan kreatif. Segala bentuk kemudahan telah termutasikan menjadi kelemahan dalam sistem pembangunan generasi kemudian.  Baiklah, selanjutnya sekitar 2 (dua) tahun yang lalu, saya jadi teringat omongan seorang kawan saya sewaktu masih aktif dalam dunia akademik (perkuliahan). Pada saat itu kebetulan, ceritanya saya waktu itu berkunjung ke rumahnya. Kita lalu berbincang-bincang soal politik dan hukum di negeri ini (saya dan kawan saya ini juga tergabung dalam organisasi Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia DPC Purwokerto). Sesaat, ketika ngobrol-ngobrol dengan asyiknya, secara tidak disadari kemudian saya melihat adik kawan saya di ruang tengah (tidak begitu jauh dari kita) sedang belajar mengenali dan menulis di bukunya tentang apa yang disebut dengan Indonesia sebagai suatu negara. Hhmmm. Terkesan melihat aktivitasnya, saya mencoba menanyakan kepada kawan saya itu perihal adiknya tadi.

Saya : Sob, adikmu kok begitu antusias belajar mengenai negara Indonesia. Emangnya dia belajar tentang apa saja terkait itu?
Sobat : Adik saya itu sedang belajar bagaimana cara bikin negara termasuk asal-usul Indonesia itu dari mana, terus kemudian mencoba menggambarkan letak negaranya dalam peta dunia, memberi nama serta memilih sistem pemerintahannya.
Saya : Sekarang, sudah kelas berapa dia?
Sobat : Sudah kelas 5 (lima) Sekolah Dasar (SD).

Ya, kemampuan berkreasi dan menginspirasi memberikan pengalaman tersendiri bagi anak-anak termasuk adik kawan saya itu dalam mempelajari segala dialektika dunia pendidikan. Dunia anak-anak yang penuh imajinasi tentunya….hehehe.

Secara pribadi, saya menyenangi pelajaran matematika. Teringat jadinya saat ketika saya dulu duduk di bangku sekolah menengah bawah setingkat SLTP. Kejadian pada waktu itu, salah satunya kalau tidak salah adalah saat saya mencoba mengerjakan soal bagaimana menghitung hasil dari variabel aljabar dengan menggunakan berbagai rumus fungsi baik distributif, asosiatif dan komutatif. Dan ternyata hasilnya salah!!! Berikut secuil petikan saat saya dikoreksi oleh guru saya :

Sang Guru : Rumus fungsinya ini salah, lihat saja uraian rumus ini dari turunan rumus lainnya. Ada hal yang berbeda dari hasilnya.
Saya : Mengapa saya dianggap salah?
Sang Guru : Ya, itu salah. Karena rumus itu tidak sesuai dengan buku ini.

Belajar politik bisa dimulai sejak berusia dini. Melalui pendidikan formal, mulai dari belajar melihat dan membentuk rukun tetangga, membangun kelurahan dan kecamatan, membentuk kota, mengembangkan provinsi, membangun negara, hingga merundingkan sistem antar negara di dunia serta dapat mengisi ruang-ruang kualitas politik anak negeri. Pembelajaran ilmu-ilmu dasar seperti aritmatika, logika, matematika, ekologi, akuntansi, ekonomi koperasi, moneter, sosiologi, kesejarahan, hingga beragam pengetahuan dasar lainnya dapat diberikan dalam bentuk ruang-ruang dimensi sosial kehidupan. Proses belajar dengan menemukan  akan terus memberikan gerakan otak untuk mencari hal yang baru, untuk sesuatu yang lebih baik bagi kehidupan. Jadi, bukan semata untuk menjadi robot intelektual yang kemudian menerima sistem yang tengah stabil, yang ketika sistem mengalami guncangan, maka berlarianlah semuanya mencari tempat perlindungan yang aman. Mampukah negeri ini untuk menemukan sebuah sistem pendidikan yang lebih mencerdaskan bagi keberlanjutan kehidupan dalam sebuah keadilan dan kesejahteraan bersama? Sebuah tantangan bagi pemimpin bangsa ini ke depannya.

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

6 Responses to “BELAJAR DAN BERMAIN POLITIK”

  1. suhandi says:

    Bagi sy tidak penting seberapa bagus sistem pendidikan itu, jika penerapan dari sistem itu tidak sesuai dengan apa yang direncanakan dan dicanangkan. Yg terpenting mengubah pola pikir, kebiasaan dan budaya pendidikan Bangsa ini.

    NB: nasihat dari nenek mas menginspirasi sy, ada pesan tersirat diasana, betapa kita harus mensyukuri dan memanfaatkan pendidikan dgn baik. tidak spt perjuangan beliau demi mengenyam pendidikan. tp salut y mereka ketika nulis langsung harus dihafal.. hm..klo sy abis nulis disimpen.hahaha. SKS dah.

  2. seprisubarkah says:

    pendidikan is the best…….tapi di negara kita…..

  3. Rahman Wahyy says:

    Wah, pas mz Hendra suka matematika, orang yang saya cari buat mendebati ketidakmengertian ini.
    Ayah saya guru matematika, bahkan pakar; saya malah tidak suka! Kuliah disuruh ambil jurusan ini, lima bulan next, mandek!
    Apa sih matematika itu? Rey anak saya di pesantren mengeluh soal tidak bisa di topik variabel (juga topik2 lain). Berapa siswa tidak bisa? Hampir semua, jawabnya! Saya cari tahu, saya juga tidak bisa. Lalu saya tanya ke kakak kelasnya, ke pamannya(guru fak lain), ke kakak2nya yg telah tamat, ke karyawan, ke pegawaian, kelain-lainan; mereka juga tidak tahu. Cuma ingat pernah telah mempelajarinya. Setelah itu untuk apa? Yaah, waktu itu untuk sekolah, kita harus belajar, dan guru mengajar, dan matematika salah satu pelajarannya, dan mengisi ulangan, dan lulus di ujian.
    Selagi kita belum tahu apa dan untuk apa itu fungsi dan kwadrat, ini rumusnya! Untuk apa rumusnya, besok ulangan! Selagi bingung, lusa topik lain, pelajaran lain, guru lain, persoalan lain, dan lain-lain.
    Kenapa tidak: sekali waktu Rei dengan “O Begitu” nya tatkala baru mengerti; mencari luas itu misalnya kita membeli sebidang tanah yang panjangnya sekian meter, lebarnya sekian meter. Lalu distrimin ada berapa kolom meter di dalamnya, itu luas tanah tersebut. Gampangnya kita pakai rumus panjang kali lebar. Dengan begitu kita bisa menentukan berapa harga tanah itu dari berapa permeternya.
    Teman sebangku kuliah saya (dagang spear part motor), dua puluh tahun kemudian, dan itu sekarang: hari gini baru memahami apa itu pemerintah daerah, legislatif, bumn, saham, kurs nilai tukar, valas, dll, ketika semua itu keluar dari penjelasan saya yang dibuat gamblang dan menyentuh kebutuhan ingin tahunya.
    Sekolah, dengan apa yang pernah kita dapati di sana, apa sudah menyentuh kebutuhan belajar anak? Atau cuma mengejar target kurikulum pemerintah?
    Apa yang kau cari UN?
    By : Rahman Wahyu
    NB : Ketemu di topik ini ya mz? Ichal masih terus cari cara tukar linknya. Terima kasih blog saya dilink pada blognya mz Hendra. Cuman kapan papanya (om rahman wahyu) kawin dengan tantenya mz Hen, tanya Ichal bloon. He he becanda saja! Biarin kalau mz Hen merasa pas dengan sebutan itu. Siapa tahu teman-teman bloger mz penasaran pengin lihat seperti apa blog Omnya mz Hendra. He he.
    Oke, segitu dulu. Salam blogger!
    Gorontalo, 9 april 2010, 12,30 dini hari (lagi belum bisa tidur)

  4. hendra says:

    Sistem pendidikan di negeri masih boleh dikatakan masih memprihatinkan terutama dari sisi objektivitas ilmu. Masih adanya pola pragmatisme itulah yg terjadi sekrang Mz Rahman. Padahal kegiatan aktivitas pembelajaran pada dasarnya akan selalu mengarahkan pemahaman guna terbentuknya skema berpikir. Ya, menjdikan peserta didik yg mempunyai hati nurani, jati diri, tanggung jwab, serta memiliki kepekaaan normatif dan sosial yg menyangkut nilai dan tata nilai. Proses yg ada sekarang yg terjadi adalah “proses penampungan“. Maksudnya, proses yg menjadikan manusia hny sebatas menerima dan melaksanakan, tanpa ikut produktif utk bersikap kritis dan obyektif. Begini, saya juga pernah menanyakan kpd teman2 mahasiswa yg bergelut dlm dunia keguruan matematika(FKIP contohnya). Selain pelatihan teknis mengenai penggunaan rumus2 matematika yg nantinya siap diajarkan, aplikasi apalgi yg pernah dijelaskan oleh dosen2 itu? Ya mungkin masalah2 yg berkaitan dgn kompetensi guru (kualitas seorang guru), moralitas guru (nurani guru) dan konseling (msalah belajar siswa). Mereka mengatakan, rata2 boleh dibilang, materi yg disajikan itu cukup sedikit dijelaskan oleh dosen. Kebanyakan berkutat di nuansa teorisasi angka2 yg bersifat afektif, tidak dinamis, statis sekali menurut saya. Nah, bagaimana ini? Yg pasti akan berdampak saat sang calon guru tersebut ketika mengaplikasikn ilmunya nanti. Harus menyalahkan siapa kalau sudah seperti ini? Pemerintah dan pengelola institusi pendidikan jelas harus melihat akar masalah sebenarnya. Sayangnya, amanah UUD mengenai hak utk memperoleh pendidikan malah cenderungnya dikomersialisasikan. Entah oleh siapa. Institusi pendidikan seperti sekolah dan universitas hendaknya jgn lantas dianggap “alergi“. Banyak sisi yg kita kita dayagunakan kalau saja kita mau proaktif. Jadi bukan hny sekedar memposisikan antara guru dgn siswa atau mahasiswa dgn dosen cuma soal batasan yg paling pintar atau tidak. Perlu pendekatan yg sifatnya dialogis. Ya, komunikasi dua arah itu hendaknya ditanamkan sedini mungkin.
    Masalah UN, memang hendaknya bisa dijadikan kontemplasi bagi stakeholders utk mencoba merumuskan bagaimana sistem pemetaan terhadap mutu pendidikan nasional yang baik bagi masyarakat. Will-nya belum kelihatan. Selama mementingkan kepentingan politik praktis, maka sektor pendidikan yg diharapkan selama ini, akan mandeg atau mungkin ikut bersama arus politik yg ada. Burukkah? Silahkan Mz Rahman yg bisa menilai itu.
    Saya memang menyenangi matematika tp gak pintar2 amat. Amat aja gak pintar,,,,,,hehehe
    Panggilan “Om“ hanya memberikan kesan bhw saya menghormati orang yg lebih tua dari saya saja Mz Rahman. Itu saja, gak lebih kok atau “kalau mau lebih tggu tante saya bercerai dulu ya Mz….yg sabar….hahahahaha“. Just kidding….
    Oke, salam blogger Mz Rahman.

  5. Rahman Wahyu says:

    Dear Mz Hendra.
    Kalau belajar di sekolah tidak lebih sebagai bak tampungan; apa tidak bakal tumpah ruah dan mubazir? Lalu satu masa dari hidup kita disia-siakan di dan oleh sekolah dengan ‘caranya’.
    Hasilnya apa kalau setelah di bangku kuliah ekspresinya cuma tawuran sesama mahasiswa, bentrok dengan polisi, sampai tarungan dengan masyarakat yang dirugikan haknya di jalan. Kalau pendidikan sebagai sarana belajar untuk mencari solusi, faktanya kenapa lain.
    Bicara (a.l) matematika, saya prihatin dengan eksistensinya pada murid SD, SMP, SMA> Kalau dikuliahan, mereka sebagian sudah dekat dengan manfaatnya. Terutama bagi yang ambil jurusan keguruan matematika, karena akan jadi guru dan mendapatkan gaji dan sertifikasi dari situ, selanjutnya akan membuat ‘lingkaran setan’ yang sama kepada murid2nya.
    Juga mahasiswa tehnik sipil, karena rumus sinus, secan, dan tangens trigonometrinya bakal segera diterapkan dalam kenyataan profesinya. Itu juga kalau menunggu lapangan kerja yang tepat. Bila tidak?
    Saya tidak anti matematika(sekolah) dengan begitu (baca: Apa Yang Saya Dapat Dari Sekolah). Kalau matematika (juga pelajaran lain) sudah betul, seharusnya anak merasa tertarik dan tersentuh kebutuhan belajarnya. Namun kalau anaknya yang betul(tidak suka memang), pelajaran itulah yang dipertanyakan. Barangkali pendalamannya perlu dipraktisi, metodenya perlu dievaluasi, cara mengajarnya perlu dikritisi.
    Boleh jadi faktornya bisa diluar itu. Politik pendidikan dan kebijakannya, latar belakang dan motivasi siswa, situasi dan kondisi lingkungan belajar. Tapi siapa yang harus bertanggungjawab dalam dan telah menghadirkan keadaan itu. Kita-kita saja yang punya otoritas kadang harus terpaku tidak berdaya dalam sistem seperti ini, apatah lagi sisiswa. Apakah harus terpulang kepada pribadi masing-masing? Pribadi siapa?
    Sampai di situ dulu! Bagaimana?
    NB: – Untuk alasan (panggilan om)nya saya bisa terima. Kadang saya lebih suh baik dan dewasa. Jadi kalau sudah dituakan dengan ‘om’nya, faktanya saya merasa kurang, bahkan dalam prakteknya kalah jauh tertinggal dibelakang dengan semua teori dan konsep-konsepnya. Saya selalu merasa kurang dan masih perlu belajar banyak dari yang lain. Melihat kepintaran dan kedewasaan orang lain, kadang kala saya merasa bodoh dan kekanakan. Misalnya dibandingkan dengan Hendra dengan pikiran2 akademiknya saya salut dan kurang pede(kalau boleh turunkan sedikit tensinya). Ibaratnya saya ini merasa terperangkap dalam sosok ‘om’ di tengah ketidakdewasaan dalam prakteknya.
    – Awas lho, diembel-embelin om, malah jadi segan dan kurang sreg teman-teman pebloger lain bertandang ke blog gue. hehehehe

  6. Lukisan Minimalis Murah says:

    seni yg luar biasa bikin bingung. tapi sangat menarik tuk dipelajari.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 5 * 7?