HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Archive for May 25th, 2013

Harapan baru saat kita terpuruk

hendra01 300x225 Harapan baru saat kita terpuruk

Mei 2013 ini adalah bulan yang amat suram bagi saya, sampai-sampai saya ingin menghilangkan ini dalam hidup. Masa itu masa dimana hidup saya tersia-sia begitu saja, masa dimana saya pernah merasa sangat dilupakan apalagi saat bersamaan ketika karier saya juga jatuh. Dan yang pasti, Mei 2013 adalah dimana saya mengalami hal yang oleh anak muda sekarang diberi nama Galau.
Tentu saja tidak akan menyerah begitu saja. Seorang lelaki ditakdirkan Tuhan memiliki mental baja dan pantang menjadi cengeng. Pun begitu dengan saya, saya tidak akan kalah hanya oleh hal kecil ini, Saya harus menjadi seseorang yang lebih baik dan terus melangkah maju.
Saya tak perlu berlama-lama dalam keterpurukan, yang perlu saya lakukan hanya berkemas dan pergi jauh untuk sesaat. Masa itu pula saya sudah melupakan apa arti itu perjalanan karena terpaku pada sosok wanita yang manis namun bisa melupakan begitu saja. Akhirnya saya memang ditakdirkan untuk kembali mengembara, kembali melakukan perjalanan.
Purwokerto
Saya punya alasan sentimentil pergi ke Purwokerto. Di sana ada banyak sahabat saya, namun ada satu sahabat yang benar-benar mengerti saya. Bukan alasan kotanya memang, saya memang terlalu subjektif. Bukan menikmati kota, namun ingin sekedar bertamu saja, ngobrol lalu pulang.
Tapi ternyata saya tak sekadar bertemu sahabat saya. saya ternyata menikmati Purwokerto dengan kesederhanaannya. hiruk pikuk perasaan di hati teredam dengan ketenangan dan kesahajaan Purwokerto.
Saya jatuh cinta pada kota ini sejak saya kuliah tentunya, disini saya merasa tenang. Tidak diburu apapun, sepi dan menentramkan. Hati saya yang berkecamuk menjadi tenang kembali. Mendamaikan. Akhirnya saya menghabiskan waktu beberapa hari di Purwokerto, saya mengunjungi Baturaden (masih dingin ternyata daerah ini) lalu makan gorengan Mendoan yang sangat khas.
Saya benar-benar menikmati momen di Purwokerto. seolah reinkarnasi, saya  kembali menjadi diri saya dan kembali menjalani hari sebagai seorang Hendra. Tidak lebih dan tidak kurang. Bukan menjadi orang lain sesuai tuntutan.
Jogjakarta
Tepat di bulan yang sama pula, saya angkat ransel lagi. Sebagaimana layaknya kebiasaan awal tahun yang membuat resolusi, saya pun begitu. Resolusi saya adalah menghilangkan masa lalu dan menatap masa depan.
Saya memang ingin benar-benar membuang semua kenangan buruk itu. Makanya saya pergi ke tempat yang benar-benar membuat saya bisa berkontemplasi mencari ketenangan batin, sebuah tempat dengan tingkat religiusitas dan norma adat yang masih dijunjung tinggi, karenanya saya pergi ke Jogja.
Sendirian saya  mengelilingi Jogja. tanpa teman, tanpa peta, saya hanya ingin tersesat. Menikmati Jogja dalam ketidaktahuan, menikmati momen-momen tersesat supaya bisa menikmati Jogja dengan lebih intim.
Salah satunya adalah Kotagede. Kotagede adalah salah satu kota tua di Jogja. Banyak peninggalan bersejarah dapat ditemukan di sana. Salah satunya adalah Masjid Kotagede, tempat ibadah Islam tertua di Jogja. Masjid ini masih terlihat hidup walau usianya sudah ratusan tahun yang lalu. Saya melihat, warga masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Sungguh religius sekali kota ini.
Saya seperti seorang yang hilang, sendiri. Tapi toh manusia lahir sendiri dan berangkat ke kehidupan selanjutnya juga sendiri. Tidak ada yang salah dengan kesendirian, karena dalam kesendirian kita bisa melihat harapan. Dalam kesendirian itu pula saya melihat ukuran diri, seberapa kuat diri saya, menakar diri itu perlu supaya tidak menjadi manusia yang sombong dan tersesat dalam sindroma egoistis.
Mungkin jika disamakan dalam film, pengalaman saya akan sama seperti film Eat , Love and Pray. Mengelilingi Jogja memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa banyak, belajar menghargai kehidupan dan belajar melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang. Hal yang selama ini hilang dari saya, karena mata dan pikiran saya terkungkung oleh satu hal saja.
Lalu apa yang saya dapat dari Jogja? pacar? tidak. Gebetan? tidak juga. Saya hanya mendapatkan perspektif baru dalam menjalani hidup. Saya mendapatkan banyak nasihat dari perjalanan, pengalaman yang mendewasakan dan saya bertemu dengan kawan-kawan lama yang menyadarkan bahwa hidup saya belum berakhir, masih ada masa depan yang harus diraih dan perlu diingat, tidak ada yang namanya kesendirian, yang ada hanyalah keterkungkungan untuk berhubungan. Pada akhirnya saya benar-benar seperti terlahir kembali untuk menikmati hidup yang baru dengan optimisme tinggi.

Selamat move on!