HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Archive for August 18th, 2016

Ritual Gunting Rambut dan Tinjak Tanah Sang anak

Poster Acara Praja page 001 300x197 Ritual Gunting Rambut dan Tinjak Tanah Sang anakYa, memang agak terlambat menuliskan cerita judul diatas karena acaranya sudah berlalu, tapi tak apalah daripada tidak sama sekali. Cerita ini bermula dari apa yang pernah disampaikan oleh Ibu saya sendiri. Beliau pernah mengatakan bahwa ketika kita sudah memiliki anak, menurut adat kebiasaan yang dipegang orang tua zaman dahulu bahwa ada ritual-ritual yang mesti dijalankan untuk sang anak agar si anak tentunya membawa keberkahan dan keselamatan. Ritual-ritual tersebut seperti salah satu diantaranya adalah upacara gunting rambut dan tedhak siten. Mungkin istilah yang terakhir ini agak membingungkan buat saya secara pribadi. Saya akhirnya bertanya untuk istilah ini, apa arti tedhak siten? Sekilas dari namanya memang kata-kata itu bernuansa jawa (mengingat juga sang Ibu juga merupakan orang jawa….hehehe). Sang Ibu menjelaskan secara singkat bahwa tedhak siten adalah salah satu ritual adat Jawa. Jika diartikan secara harfiah berdasarkan Kamus Bahasa Jawa, tedhak dapat diartikan sebagai turun sedangkan siten artinya tanah. Sehingga dengan demikian, tedhak siten dapat dimaknai sebagai turun ke tanah atau menapakkan kaki ke tanah. Lebih lanjut dari penjelasan beliau, upacara tedhak siten ini dilakukan sebagai rangkaian  acara yang bertujuan agar si anak tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Dari penjelasan singkat diatas, kalau dikorelasikan dengan budaya di tempat saya berada saat ini yaitu di Ketapang Kalimantan Barat yang secara mayoritas menganut adat/budaya Melayu, prosesi ini dapat diistilahkan dengan bahasa daerah setempat yaitu “tinjak tanah”. So, apapun namanya yang pasti tentunya sebagai anak, saya berkewajiban mengikuti semua arahan dan bimbingan dari orang tua untuk merealisasikan itu semua toh secara agama, kebiasaan ini tidak bertentangan dengan ajaran agama kita.

DSC 0047 1 200x300 Ritual Gunting Rambut dan Tinjak Tanah Sang anakSecara singkat, ritual acara gunting rambut dan tinjak tanah pun akhirnya kami laksanakan pada tanggal 7 Agustus 2016 kemarin dan bersamaan dengan usia anak kami menginjak umurnya yang ke-4 (empat) bulan. Tradisi ini memang awalnya berasal Jawa (seperti yang dijelaskan di awal paragraf tulisan ini) akhirnya mengakar menjadi tradisi adat Melayu di tempat kami juga. Pelaksanaan acara gunting rambutpun dapat dilihat dengan mempersiapkan beberapa barang dan aktifitas sebagai berikut: Pertama, pemasangan kendit. Kedua, Pemasangan kain kuning. Ketiga, rambut si anak diikat-ikat yang mana setiap ikatan tersebut dipasangi manik-manik. Dan keempat,  sebuah talam yang berisi gunting, kelapa cengkir yang sudah dihiasi dan masih berisi airnya, sebatang lilin yang menyala, bunga rampai, dan kase beras (tepung tawar). Setelah aktifitas tersebut dijalankan, prosesi acara ini tentunya didahului dengan pembacaan ayat-ayat Al-Quran dari ibu-ibu Qasidah.

Nah, yang seru ketika saya melihat saya adalah aktifitas si anak yang kemudian disodorkan kepada orang-orang yang menurut kami wajib dihormati seperti orang tua kami sendiri dan/atau orang-orang yang dihormati dari sisi usia, agama ataupun adat istiadatnya. Orang-orang inilah yang akan mengambil gunting  sambil membaca doa singkat untuk kebaikan anak kami dan setelah itu ikatan rambutnya kemudian digunting. Selanjutnya adalah proses pengguntingan ikatan rambut si anak diserahkan  ke beberapa orang berikutnya dan seterusnya seperti itu (biasanya disesuaikan dengan jumlah bunga cucok telur yang hitungan ganjil, minimal 3 dan maksimal 7).

DSC 0059 1 200x300 Ritual Gunting Rambut dan Tinjak Tanah Sang anakAcara selanjutnya yang tidak kalah serunya adalah kala melihat sang anak melakukan prosesi kedua yakni “tinjak tanah”. Sebelum acara ini berlangsung, kemarin malam kami mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti “balai jawe” atau rumah mini tanpa dinding (balai) serta tangga yang terbuat dari tebu kuning, juadah sebanyak 6 (enam) jenis yaitu: dodol merah, dodol putih, cucor, ariadam, cengkarok, dan sesagun yang masing-masing ditaruh dalam sebuah piring, dan yang terakhir adalah Sepiring lagi berisi tanah dan sebiji telur ayam kampong. Bahan-bahan tersebut dapat dijelaskan dalam aktifitas sebagai berikut yaitu: Pertama, tebu yang telah dibuat tangga tersebut ditutup dengan kain batik 7 lapis atau sekurang-kurangnya 3 lapis. Selanjutnya, kue-kue yang di dalam 6 buah piring dan piring ketujuh yang berisi tanah dan telur disusun di depan “tangga” dengan urutan, dodol, dodol putih, cocor, ariadam, cengkarok, sesagun, tanah, telur ayam, dan paku keminting. Nah, setalah  acara gunting rambut selesai, maka sang anak tersebut mula-mula melewati bangunan yang dinamakan “balai jawe” (rumah untuk si anak) yang disambut oleh orang tua/ dan langsung diinjakkan ke tangga dari tebu. Sampai di puncak, lalu menurun dan diinjakkan ke piring-piring yang berisi kue-kue tersebut. Setiap putaran maka kain penutup tangga tebu dibuka. Setelah genap tujuh kali, maka telur dipecahkan dan diinjakkan ke kaki sang bayi. Biasanya tangga tebu tersebut dilemparkan ke halaman rumah lalu jadi rebutan anak-anak dan juga orang tua yang punya anak kecil serta kakek-kakek yang punya cucu. Namun, biasanya sebelum sempat dilempar ke halaman langsung diperebutkan. Perebutan tangga tebu ini menandakan bahwa acara “tinjak tanah” telah selesai.

Menurut adat Melayu, Acara Tinjak Tanah ini dapat bermakna sebagai berikut: Pertama, sang bayi turun dari rumah yang dilambangkan dengan Balai Jawe. Kedua, dalam mengarungi kehidupan ada naik dan turunnya dengan lambang tangga tebu. Ketiga, dalam mengarungi kehidupan mengalami pahit manisnya kehidupan dengan lambang  juadah-juadah dalam enam buah piring. Keempat, lambang paku keminting merupakan doa bagi sang bayi agar tegar dalam mengarungi kehidupan kelak. Kelima, akhirnya disadarkan kepada sang anak bahwa kita ini berasal dari tanah dan kembali ke tanah dengan lambang memecahkan telur ayam di atas tanah pada piring terakhir. Dan Keenam, adapun rebutan tangga tebu adalah suatu lambang bagi sang anak bahwa rezeki dari Allah tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan dengan tangan, akal, dan pikiran.

Demikian, sekelumit cerita mengenai rangkaian adat istiadat untuk anak kami yakni Gunting Rambut dan Tinjak Tanah. Ya memang, meskipun berbeda daerah, agama dan kepercayaan; tradisi adalah suatu hal yang perlu dilestarikan dan semua tujuannya untuk kebaikan si kecil. Kami selaku orang tua berharap serta mohon doanya untuk anak kami agar menjadi tumbuh menjadi anak yang sehat, mandiri dan tentunya menjadi anak yang diamanahkan oleh Allah SWT sebagai anugrah buat kami sebagai orangtua. Amin Ya Robbal Alamin.

Ya finish, terima kasih….hehehe