HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Category : Humaniora

pilkada serentak 20181 300x167 PENGENALAN SEDERHANA TIPE PEMILIH DALAM PEMILUKADASuasana memang mulai menghangat menjelang pemilihan Gubernur Kalimantan Barat maupun beberapa kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Ya, sebentar lagi Pilkada serentak 2018 yang akan datang akan segera dimulai. Pada Pilkada 2018 kali ini Khususnya yang terjadi di Kalbar, ada 6 (enam) daerah yang akan menggelar pilkada serentak tahun depan, yaitu Provinsi Kalimantan Barat itu sendiri, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Kubu Raya, Kota Pontianak, Kabupaten Mempawah, dan Kabupaten Sanggau.

Saya tidak akan membahas calon-calon yang akan bertarung dalam pemilu serentak tersebut, namun lebih menyoroti tingkah laku pemilih yang akan berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini yang akan menentukan siapa yang akan memimpin daerahnya masing-masing.

Mari kita bicara fakta. Demokrasi adalah sistem pemerintahan dimana seluas – luasnya publik (tidak bisa seluruhnya, karena selalu ada mereka yang merasa tidak perlu atau pada suatu titik tak terjamah) berpartisipasi secara aktif dalam pelaksanannya. Karena tidak mungkin seluas – luasnya publik tersebut terlibat langsung dalam sistem pemerintahan, maka dibuatlah cara pendelegasian wewenang publik itu kepada pihak – pihak yang dapat mewakili mereka. Legitimasi konsep keterwakilan ini kemudian diterapkan melalui cara pemilihan. Sejauh ini di Indonesia, sifatnya masih langsung. Dalam skala negara, memilih wakil baik untuk domain eksekutif atau legislatif membutuhkan pendekatan yang lebih rumit. Karena tidak seperti memilih ketua rukun tetangga, akses pemilih untuk mengenal dekat secara pribadi para kandidat hampir tidak mungkin. Disini kemudian peran popularitas dan elektabilitas memegang peranan penting.

Jika kita mengelompokkan pemilih berdasarkan perilaku memilih mereka, maka kita dapatkan 3 (tiga) kelompok besar. Pemilih Rasional, pemilih Tradisional/Kultural dan pemilih Emosional. Pemilih rasional adalah pemilih yang benar – benar memperhatikan bahwa hak pilihnya sangat penting dan tak mau menyia-nyiakannya dengan memilih kandidat tertentu secara gegabah. Kelompok ini benar – benar mencari tahu rekam jejak semendalam mungkin setiap sosok yang menjadi opsi. Mereka tidak akan jatuh tersungkur takjub pada kemasan dan pencitraan dari calon belaka dan tidak akan pernah berhenti untuk menggali, sampai semua parameter – parameter yang dipakai untuk menentukan pilihan lengkap. Perilaku pemilih ala Anthony Downs ini begitu berhati – hati sampai tak sedikit yang akhirnya menyobek kartu pemilih mereka, jika dirasa para kandidat rata – rata mengecewakan atau tidak ada calon yang benar – benar layak dipilih.

Pemilih Tradisional/Cultural melandaskan pilihan pada hal – hal yang secara tradisi diterapkan. Misalnya memilih kandidat dari partai tertentu, karena memang sudah menjadi kelaziman dalam keluarga. Di kelompok ini, peran pemimpin untuk menentukan siapa yang dipilih menjadi sangat dominan. Di level keluarga mungkin si kepala keluarga sementara di tingkat komunitas adalah para sesepuh. Sehingga jika kepala suku, pemuka agama atau tokoh masyarakat menentukan pilihan mereka, maka dengan sendirinya komunitasnya akan mengikuti. Menyimpang dari pilihan tersebut dianggap membangkang, kualat dan konsekuensinya bisa saja tidak membuat nyaman buat si individu. Dalam perjalanan peradaban manusia, jumlah pemilih yang tergabung dalam kelompok ini relatif akan menyusut. Seiring kian majunya sebuah peradaban, ketergantungan manusia pada kelompok akan semakin berkurang. Penyebabnya ada pada pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bidang teknologi yang membuat manusia menjadi semakin mandiri dan kurang bergantung pada orang lain. Kondisi ini juga akan membuat cepat atau lambat mereka akan menjadi mandiri atas pilihan – pilihan politik mereka. Namun ini berjalan secara gradual, tidak langsung melompat ke kelompok rasional. Mereka harus melalui transisi ke kelompok emosional terlebih dahulu.

Kelompok pemilih emosional adalah kelompok yang paling rentan dipengaruhi. Meski telah mandiri namun guna memilih dengan tepat mereka masih membutuhkan panduan. Sedangkan untuk mendapat pemahaman melalui proses pencarian, pengumpulan dan penyaringan informasi mereka belum mapan. Ujungnya, pada fase metamorfosis perilaku memilih dari “bergantung” menjadi “merdeka” para pemilih di kelompok ini mengandalkan rasa sebagai parameter. Tak aneh karenanya, pada ranah ini pemilih bisa berayun dari pilihan yang satu ke pilihan yang lain dengan sangat mudah. Swing voter, istilahnya populernya, adalah bentuk kegamangan dalam memilih, pindah dari satu opsi ke opsi berbeda karena pegangan ideologis yang tidak ajeg atau miskinnya bekal informasi terhadap pilihan – pilihan. Sekali lagi, rasa terhadap calon menjadi alat sensor utama, ketimbang secara aktif melakukan pengukuran aspek – aspek instrumental dari seorang kandidat seperti kemampuan memimpin, kemampuan pengambilan keputusan, kecakapan menguasai bidang – bidang kebijakan publik dan seterusnya. Pemilih pada kelompok ini lebih menitikberatkan aspek – aspek ekspresif seperti yang disampaikan Geoferry Brennan, dimana pemilih lebih tertarik atas apa yang dipilihnya ketimbang hasil dari jika pilihan tersebut terwujud. Artinya konsep like and dislike sangat mempengaruhi. Kandidat bisa saja terpilih karena lebih tampan dibanding lainnya, lebih ramah dibanding yang lainnya, lebih santun dan seterusnya. Di Indonesia, kita menyaksikan aspek ekspresif yang dijadikan standar bagi pemilih berubah dari masa ke masa. Ada masa dimana sosok calon pemimpin yang sarat nuansa aristokrasi mengemuka. Yang gayanya kelurah-lurahan, cerdas, santun, bertutur kata teratur, rapi dan cermat lebih disuka. Dalam perjalanan waktu kemudian, yang demikian dirasa tidak lagi memberikan bukti atas perubahan yang diharapkan, maka sosok dengan imaji seperti itu ditinggalkan. Sebab pemilih merasa tipologi pemimpin gaya konvensional dan klasik seperti itu, ibarat ningrat yang sama sekali tidak paham apa yang jadi aspirasi, keluh dan harapan publik. Pemimpin seperti itu sangat berjarak dengan realitas di akar rumput. Maka muncul harapan, jika saja ada calon pemimpin yang benar – benar seperti “kita”, berbicara gaya “kita”, berpakaian seperti “kita” mungkin akan memahami apa yang rakyat mau, karena ia tidak akan hanya hinggap di singgasananya di awang – awang. Dia akan ada diantara kita, duduk dikursi yang sama, minum dari gelas yang serupa dan menghirup aroma egaliter yang sama. Sosok seperti itulah yang mungkin lebih pas sekarang ini. Sekali lagi, memilih yang kelurah – lurahan atau yang sama dengan “kita” bukan beranjak dari aspek – aspek rasional-instrumental, tetapi lebih kepada citra emosional-ekspresif.

Para akademisi bidang politik mungkin sepakat bahwa kelompok pemilih emosional masih relatif banyak jumlahnya pada negara yang menerapkan sistem demokrasi liberal seperti Indonesia di era ini. Belum lagi, jika ada tipologi pemilih yang cukup berkembang saat ini, yakni pemilih skeptis. Ya, di sinilah potensi golput bisa saja terjadi.

Memang, parpol dan/atau kandidat butuh perjuangan ekstra untuk merebut perhatian jenis pemilih sesuai karakteristik yang sudah dijelaskan sebelumnya.  Ya, tugas yang tidak mudah. Kesimpulanya adalah pemilih merupakan urat nadi politik, karena apa ? karena itulah yang menjadi penentu hidup matinya bangsa ini agar tidak jatuh pada pemimpin yang zhalim dan lemah.

Back to basic. Pertanyaan mendasarnya adalah masuk tipologi pemilih seperti apakah anda?

Salam Melek Politik.

Sumber referensi :

Anthony Downs, An Economic Theory of Democracy, 1975.

Geoferry Brennan, Democracy and Decision: The Pure Theory of Electoral Preference, Cambridge University Press, 1993.

Hanta Yuda, Industrialisasi Pilkada, publish artikel tanggal 25 November 2010 dari Hanta Yuda, Direktur Eksekutif Lembaga Survey Poltracking Indonesia, akses di blogger gagasanhukum.wordpress.com tanggal 16 Agustus 2017

Kevin Raymond Evans, Sejarah Pemilu dan Partai Politik di Indonesia, PT Arise Concultancies, 2003.

Samuel P. Huntington, The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, Norman: University Oklahoma, 1991.

(Note: Tulisan ini merupakan pandangan/opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan institusi di mana penulis berkarya)

Confucius motivation 300x123 AYO CERITAKAN BERBAGAI HAL INSPIRATIF YANG DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Saya jadi teringat ketika masih bekerja pada bidang HR (Human Resources) di salah satu perusahaan pembiayaan yang cukup terkemuka pada waktu itu. Saat itu, banyak training-training yang pernah saya ikuti serta tentunya sering menimba ilmu dan/atau pengalaman menarik dengan Top Management khususnya di bagian HR Department perusahaan tersebut. Mereka sering bercerita tentang perjalanan hidup atau karier mereka. Umumnya, kisah-kisah mereka sungguh menginspirasi dan menggugah kita untuk melakukan sesuatu atau juga mengingatkan kita akan hal yang perlu kita kerjakan dalam hidup ini jika mau sukses. Satu pertanyaan mendasar bagi saya pribadi adalah apakah kita terus menunggu untuk sukses dulu baru kemudian kita bercerita tentang kesuksesan diri kita? Atau apakah memang bagi orang yang baru memulai kariernya belum punya cerita yang inspiratif seperti yang dikatakan oleh orang-orang sukses di perusahaan tempat saya bekerja dulu?

Either write something worth reading or do something worth writing (Benjamin Franklin)

Ya, saya akan coba mendeskripsikan pemikiran sederhananya seperti ini dengan contoh.  Pertama, faktor manusia (human) itu sendiri. Teringat dulunya, saya pernah mengikuti sebuah survey yang pernah diadakan perusahaan tempat saya bekerja dulu yaitu EOS atau singkatan dari Employee Opinion Survey buatan Gallup Organization (salah satu organisasi survey berskala internasional). Mungkin sebagian teman-teman di sini pastinya pernah mendengar EOS Gallup ini. Saya menemukan hal menarik dari survey tersebut yakni soal bicara tentang salah satu faktor yang membuat karyawan termotivasi dan akan tinggal di perusahaan. Apa itu? Faktornya adalah challenging work. Gambaran sederhananya begini, adanya suatu pekerjaan yang menantang tentunya akan selalu menggugah intelektualitas setiap orang untuk menjajaki berbagai pendekatan untuk sebuah hasil yang lebih baik. Pertanyaan sederhananya kemudian adalah apakah memotivasi merupakan esensi pekerjaan itu sendiri? Kadangkala kita memang sering melupakan faktor manusia (human) dari pekerjaan itu sendiri. Maksudnya adalah membangun infrastruktur relationship antar sesama karyawan yang dilihat dari perspektif manusia (human). Sering terjadi bahkan kita terkadang lupa bahwa di balik dokumen/pekerjaan yang sedang kita tangani, ada seseorang yang sangat mengharapkan kecepatan dan pelayanan prima. Tentunya, semua itu dapat diartikan bagian dari tantangan dalam berkarya namun sering luput dari perhatian dalam mengemukakan cerita kita.

Kalau kita mau menyajikan kisah/cerita yang menarik, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kisah/cerita yang menarik itu adalah challenging work atau bagaimana faktor manusia (human) dalam menanggapi challenging work itu sendiri?

Writing from Heart

Saya pernah mendapatkan sebuah sms /pesan dari seorang sahabat lama, sesama mahasiswa di kampus tempat saya menimba ilmu dulunya. Singkatnya, saya sudah cukup lama kenal dengan sahabat ini, sering bertemu dan berbagi cerita atau ocehan yang tentu saja mengalir apa adanya dari mulutnya. Sms-nya yang saya ingat pada waktu itu kurang lebihnya begini: “Sangat sulit untuk memulai cerita/kisah, tersendat di tengah jalan, dan kacau di akhir”. Galau deh….hahaha

Ya, bermula dari situ, dia terus menceritakan kepada saya tentang beberapa hal yang memang cukup pelik dan sulit ketika ingin memulai sesuatu serta bagaimana cara menyelesaikannya. Saya pun akhirnya mencoba mengirimkan feedback sms-nya dengan bunyinya begini: “Bro, coba tuangkan saja dalam bentuk tulisan dan bikin blog, ceritakan di situ seolah-olah kita ketemu dan kamu bercerita kepada saya. Boleh sendirian or kamu bisa tarik siapa saja yang berada di dekatmu lalu mulailah bercerita”.

Sahabat saya ini kemudian mengirimkan satu lembar tulisannya ke email saya dan di situ ada note di bagian akhir tulisannya dengan kalimat begini: “Sampai disini saya mulai tertatih-tatih, bahkan mulai kacau ketika ingin mengakhiri tulisan ini”. Selanjutnya, saya mulai mengajukan beberapa korespondensi atau pertanyaan untuk membantu beliau memoles kisahnya dan setelah itu, diapun berhasil menyelesaikan tulisannya dengan judul “Belajar dari kegagalan, mulailah dengan Mimpi”. Ketika sahabat saya ini selesai menulis dengan judul tersebut, dia mengatakan kepada saya bahwa dia seolah-olah hampir tidak percaya berhasil menyelesaikan ceritanya itu dalam bentuk tulisan, kemudian dia membaca kembali tulisannya tersebut. Kok bisa? Ya, tentu saja bisa! Nah, “Sangat sulit untuk memulai cerita/kisah, tersendat di tengah jalan, dan kacau di akhir” yang saya ringkas di atas tadi, sebetulnya hanya ada di otak kepala sahabat ini. Begitu dia singkirkan dengan bantuan beberapa korespondensi dari saya, malah ternyata bisa.

Saya pribadi mencoba memberikan kiat sederhana kepada sahabat ini, antara lain: Pertama, menulislah dari hati . Kedua, ayo ceritakan apa yang di pikiranmu saat ini. Ketiga, biarkan ide tersebut mengalir, baru setelah itu bisa dikoreksi di belakang. Keempat, latih terus kemampuan menulismu. Maksudnya adalah bukan soal berlatih menulis saja, tapi juga bisa memulai dengan mencermati berbagai kejadian di sekitar kita dan/atau kehidupan sehari-hari, ya siapa tahu di antaranya ada yang menarik untuk ditulis. Kelima, mintalah saran/kritik dari teman, dan yang terakhir adalah belajarlah menulis dari seorang profesional di bidangnya.

Imaginary Resistance

Cerita ini bermula saat saya masih bekerja di salah satu perusahaan sawit yang cukup besar di Kalimantan Barat. Seorang teman yang satu ini adalah seorang ibu muda beranak satu. Komitmennya untuk berkarya dan mengurus anak dan rumah tangganya sama-sama tingginya, dan dia ingin lakukan sungguh-sungguh sepenuh hati.

Kita bertemu dalam sebuah kesempatan pertemuan/rapat tentang persoalan suatu pekerjaan (saya dan dia berada di departemen/divisi terpisah, saya di HR dan dia di Operation).  Pasca rapat tersebut, dia kemudian bertanya kepada saya tentang bagaimana langkah terbaik untuk memungkinkan dia bisa menapaki semua hidupnya secara berimbang, antara bekerja dan keluarga.

Sahabat ini bercerita tentang salah satu tantangan yang dihadapi adalah bekerja sampai larut sehingga perhatian terhadap anak dan keluarga menjadi tersampingkan. Salah satu pertanyaan mendasar saya adalah siapa yang menyuruh untuk bekerja sampai larut padahal jam kerjanya sampai jam 17:30? Saya pribadi juga di dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, salah satu kuncinya adalah list daftar pekerjaan yang akan atau telah dilakukan serta menyusun target/deadline kapan pekerjaan itu selesai dan tuntas (termasuk evaluasi terhadap pekerjaan itu) sehingga dari sisi waktu jam pulang kerja bisa sesuai dengan aturan jam pulang kerja perusahaan. Di department dia, saya lihat memang merupakan salah satu department yang cukup sibuk mengurusi soal  operasional perusahaan (sebenarnya semua department itu sama pentingnya buat perusahaan, tinggal tupoksi masing-masing bagian itu yang berbeda). Selanjutnya, dia menemukan beberapa alasan-alasan di balik kekhawatiran antara pekerjaannya antara lain sebagai berikut: Pertama, tinggal dan bekerja sampai larut adalah karena perasaan tidak enak dan takut pada atasan tanpa alasan. Kedua, apakh atasan juga pernah melarang untuk  pulang on time. Dan ketiga, dia dan teman-teman di department-nya belum pernah mencoba untuk pamit pulang on time

Semua alasan di atas hanya karena kekhawatiran yang ada di kepalanya dan terbawa perasaan solidaritas dengan teman-teman di department/bagian itu. Saya coba menanyai pertanyaan memancing kepada dia, “Coba Ibu tanyain kepada Kadept (Kepala Department) tentang pekerjaan Ibu saat ini”. Tak lama kemudian, saya mendengar dari dia ketika berbicara dengan kepala department tersebut, dia sendiri kaget dengan  jawabnya: “ngga apa-apa, kamu yang atur pekerjaan. Yang penting kerjaan beres, SLA dan SLS beres.”

Sahabat ini ingin “Menjadi ibu yang baik dan punya waktu cukup untuk mengajari anak-anaknya.” yang pada akhirnya dia pun mulai membuat komitmen untuk pulang on time, tapi mulai dengan target sekali seminggu. Nah, untuk itu langkah sederhana yang bisa dilakukan dana saya sharing-kan dengan dia adalah Pertama, membicarakan rencana itu dengan suami dan kepala department-nya untuk mendapatkan dukungan mereka. Kedua, komitmen yang kuat untuk menyelesaikan pekerjaan yang memang harus selesai hari itu sesuai standar pelayanan yang dituntut dari pekerjaannya. Dan ketiga, meng-update kepala bagian/department tentang progress pekerjaannya serta mendiskusikan kembali apakah ada lagi yang perlu diselesaikan pada hari itu sebelum dia pulang.

Dua bulan berselang kemudian setelah itu, dengan gembira dia memaparkan bahwa bukan saja sekali seminggu tapi sudah sampai 3-5 kali seminggu dia bisa pulang on time.,Bahkan, enam bulan kemudian, sahabat ini mengakui sudah hampir setiap hari dia pulang jam 17:30. Kalau ada yang mendesak harus diselesaikan, paling dia pulang 18:30. Dan yang paling membahagiakan adalah, kata sahabat ini: “Saya merasa semakin dekat dengan anak, kemajuannya di sekolah pun cukup bagus.”

Kembali di awal pembukaan tulisan ini, banyak cerita inspiratif yang kita temukan dari orang lain, melalui berbagai media atau langsung dari yang bersangkutan. Saya yakin bahwa teman-teman juga punya cerita inspiratif tentang pengalaman hidup masing-masing. Tinggal pertanyaannya kemudian adalah bagaimana menyajikannya kepada orang lain yang juga sedang mencari cerita inspiratif. Pastinya teman-teman juga punya, dan itu banyak….hehehe

“You have to decide what your highest priorities are and have the courage  – pleasantly, smilingly, non-apologetically – to say ‘no’ to other things. And the way to do that is by having a bigger ‘yes’ burning inside.” (Stephen Covey)

Sekian, terima kasih.

Sumber Referensi :

Covey, Stephen. (1989). 7 Habits of Highly Effective People. E-book.

Padiku, Dedi (2014). Mengejar-ngejar Mimpi. Jakarta: AsmaNadia Publishing House.

Sumber gambar : kutipkata.com

Suksesi pelaksanaan reformasi birokrasi oleh pemerintah, tidak lain bertujuan untuk mewujudkan pelaksanaan kepemerintahan yang baik (good governance). Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah beserta perubahannya (baca: UU No. 23 Tahun 2014), cukup jelas dalam pasal-pasalnya telah mengatur adanya pembagian kewenangan baik yang menjadi urusan Pemerintahan Pusat, maupun yang menjadi urusan yang dibagi bersama dengan Pemerintahan Daerah. Saat ini, daerah-daerah mengalami implikasi di segala bidang dengan diterapkan UU No. 23 Tahun 2014, salah satunya adalah pembagian urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang diejawantahkan dalam bentuk Organisasi Perangkat Daerah (disingkat OPD).

Pemerintah Pusat melalui Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah (PP No. 18 Tahun 2016). Dikeluarkan PP tersebut merupakan implementasi Pemerintah untuk melaksanakan ketentuan Pasal 232 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2014. Dalam PP tersebut itu pula, dijelaskan bahwa definisi Perangkat Daerah adalah unsur pembantu kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah (vide Pasal 1 angka 1 PP No. 18 Tahun 2016). Selanjutnya,  Pemerintahan Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) tentunya mengimplementasikan PP tersebut dalam bentuk regulasi yaitu Peraturan Daerah sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 3 ayat (1) PP No. 18 Tahun 2016. Dengan demikian, pembentukan perangkat daerah sebagaimana yang diatur dalam PP ini mesti dituangkan dalam bentuk Perda. Terhadap Perda yang sebelumnya mengatur tentang OPD yang selama ini berdasarkan UU Pemerintahan Daerah yang lama maka wajib disesuaikan dengan UU Pemerintahan Daerah yang baru (UU No. 23 Tahun 2014). Hal ini dapat dilihat dalam Ketentuan Penutup Pasal 125 PP No. 18 Tahun 2016 yang menjelaskan bahwa pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Seperti yang dirilis dalam situs berita kompas.com tertanggal 5 Agustus 2016 bahwa Kementerian Dalam Negeri telah melakukan sosialisasi PP tersebut secara intensif kepada seluruh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia di Hotel Mercure, Jakarta Utara. Selain itu, aturan tersebut dapat kita lihat di website resminya Kementerian Sekretariat Negara dan apabila lebih detail dapat kita download di sini (silahkan dibaca secara lengkap ya….hehehe).

By the way, tanpa berpanjang lebar saya tidak mau terlalu jauh untuk membahas serta menganalisis PP No. 18 Tahun 2016. Silahkan teman-teman analisa sendiri dari sudut pandang atau perspektif masing-masing. Tentunya, harapan sekaligus pertanyaan kita bersama adalah bagaimana mensukseskan pelaksanaan reformasi birokrasi yang sudah bergulir saat ini pasca diterbitkan aturan perundang-undangan yang berlaku sekarang serta bagaimana reformasi dalam bidang kelembagaan akan sukses tercapai sesuai dengan road map reformasi birokrasi yang telah dicanangkan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintahan Daerah. Apa itu? yaitu bagaimana pemangku kepentingan di daerah baik Pemerintah Daerah, maupun dari DPRD diharapkan bisa bekerja sama dengan mengedepankan kepentingan kesejahtraan rakyat sebagai tujuan utama. Selain itu, dalam melakukan penataan kelembagaan di daerah sebaiknya dilakukan kajian yang menghasilkan Naskah Akademik yang merupakan hasil tinjauan teroritis maupun praktis sehingga rekomendasi restrukturisasi kelembagaan yang dihasilkan sudah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing daerah.