HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Category : Humor

Asyiknya punya bos

Seperti apa sih bos yang asyik menurut persepsi karyawan?
Berikut ini coba mengutip komentar-komentar di Twitter pagi ini tentang #bosyangasyik. Beragam komentarnya, ada yang menyoroti dari sisi skill dan kompetensi seorang bos yang diharapkan, ada yang menyoroti sifat seorang bos, tetapi ada juga yang menyoroti penampilan dan lifestyle yang asyik dari seorang bos.
Apakah Anda seorang bos yang asyik?
#bosyangasik itu menganggap karyawan sebagai partner utk mencapai tujuan yg sama
#bosyangasik itu menganggap karyawan sebagai asset perusahaan yang perlu dijaga dan dibela
#bosyangasik itu bukan hanya menghargai karyawan dengan benefit, tetapi juga tepukan ramah di pundak
#bosyangasik itu tidak perlu nanya2 khidupan karyawannya, cukup tahu sedikit saja
#bosyangasik itu membina dan gk takut membinasakan
#bosyangasik itu menghindari gosip kantor dan meredam benih2 gosip yg bisa merebak di kantor
#bosyangasik itu tidak melulu duduk jaim di belakang meja besarnya
#bosyangasik itu mampu menganalisa masalah, bukan menambah masalah
#bosyangasik bukan hanya menegur pd saat kita salah, tp juga mau memuji pd saat kita benar
#bosyangasik itu yg bisa menjadi payung pelindung anak buahnya
#bosyangasik mau membantu karyawannya untuk maju, berkembang dan mandiri
#bosyangasik itu boz yang ga pelit berbagi ilmu dan mau mendengarkan curhatan dari staf ataupun karyawan lain
#bosyangasik itu bisa ngasih solusi bukan cuma nyalah2in tp gak ada ide
#bosyangasik itu selalu memposisikan diri sebagai sahabat bukan atasan
#bosyangasik itu bisa menjadi guru & teman untuk karyawannya. Terlihat lebih asyik & berwibawa, karyawan menghormati, bos menghargai…
#bosyangasik itu tidak menjatuhkan ketika anak buah melakukan kesalahan… apalagi di depan karyawan lain
#bosyangasik Marah2 khusus kerjaan & work-related attitude saat jam kerja. Usai jam kerja, ngajak bir dingin #truestory
#bosyangasik itu mendukung karyawannya bertatto dan mensupport karyawan biar makin produktif
#bosyangasik itu bisa merubah gaya rambutnya, belah pinggir saat meeting, tp bisa spiky saat jumat malam
#bosyangasik itu kalo gak punya duit juga jujur ama anak buah, jujur yang bikin respect
#bosyangasik itu mendukung inovasi anak2nya dan ngebolehin anak2nya nonton bola di lapangan pas jam kantor
#bosyangasik itu punya “senyum bos” – yg bukan nyengir atau sinis
#bosyangasik yang gak kepo setiap malam minggu gw keluar sama siapa dan ngapain
#bosyangasik tidak bossy
#bosyangasik penuh wi-ba-wa bukan wih bawa Alphard
#bosyangasik itu mau ikut nyapu2 sama OBnya, bukan cuma tunjuk sana tunjuk sini
#bosyangasik itu pulang pergi kantor naik kendaraan umum dan gengsinya ditaro di gudang
#bosyangasik itu bisa “di depan,” bisa “di tengah,” bisa “di belakang”
#bosyangasik itu yang mau main futsal/pingpong/volley dll sama anak buahnya
#bosyangasik ngajak traktir karyawan
#bosyangasik itu pake celana pendek
#bosyangasik itu ga sok asik
Nah, tidak gampang kan ternyata menjadi bos yang asyik?

PETUAH SANG KAKEK

Alkisah, tahun demi tahun terus berjalan dan tak terasa saatnya Dara (nama samaran) akan berangkat ke kota untuk mencari kerja. Ya, di kampungnya, setiap hari dia cuma bekerja mencari getah bersama sang Kakek untuk kemudian dijual di pasar-pasar tradisional. Kehendak untuk merubah nasib telah dipikirkan secara matang oleh perempuan muda ini. Sempat berpikir juga karena baru pertama kalinya ingin pergi ke kota. Bukan apa-apa, Si Dara ini termasuk perempuan yang “bening”. Maksudnya, kulitnya putih, tinggi dan umurnya pun masih dibilang muda. “Kalau kamu ingin dan mau kerja, harus siap-siap. Banyak godaannya. Jadi, awas! jangan macam-macam. Ntar, kalau ada apa-apa,  cepat kamu calling ke kampung ya,” ujar sang kakek yang terkadang kalau ngomong suka nambah-nambah keinggris-inggrisan.

Calling, Kek? Apa maksudnya?” balas  si Dara. Perlu diketahui, memang Dara dikenal di kampungnya sebagai bunga desa tapi terkadang dia kalau berpikir sedikir lola (loading lama). “Ehh, itu artinya kasih tahu, dodol!! kalau ada apa-apa dengan kamu, cepat beritahu Kakek di kampung ni” pinta si kakek. “Kalaupun nanti di sana kamu pengen pacaran, kamu harus pandai-pandai memilih. Sebab, di kota kebanyakan cowok tu mata keranjang dan maunya enaknya sendiri. Habis nabrak orang, maen ditinggal aja. Madu sudah habis, lebah dibunuh. Habis sepah, manis dibuang. Eh, kebalik! Habis manis sepah dibuang,” timpal sang kakek saat menasehati cucunya itu.

“Terus, kalau pengen cari cowok yang bagus tu, kamu harus ingat tiga hal. Pertama, kamu harus cari cowok yang setia. Kedua, kamu harus cari tipe cowok tu yang suka berhemat. Dan yang ketiga, tu cowok haruslah seorang bujang tulen. Jangan asal sembat aja. Ntar salah-salah malah suami orang lagi yang disikat. Maklumlah, jaman sekarang nih. Banyak yang lesbat. Lengah sedikit, embat!” celetuk sang kakek yang tak henti-hentinya memberikan petuah “sakti”nya kepada sang cucu. Si Dara pun langsung mengangguk-angguk sembari mengingat pesan dari kakeknya itu.

Waktu pun berlalu. Dara sudah pergi ke kota. Ya, bisa dibilang cukup lama dia di sana. Mungkin kalau dihitung, ada sekitar lima sampai tujuh bulan lamanya.  Dan sampai pada akhirnya, Dara pun kembali dari kota menuju ke rumah ibunya di desa. Nah, kebetulan sang Kakek sedang berkunjung ke rumah ibunya si Dara. Ngelihat ada kakeknya, Si Dara pun dengan sigapnya langsung mengadu. Teringat kembali apa yang dinasehati oleh sang kakeknya itu sebelum dia berangkat ke kota waktu dulu. Dia  menceritakan pengalamannya selama di kota sekaligus ingin meminta doa restu dari sang kakek karena sekarang sudah mendapatkan seorang laki-laki yang notabene-nya ingin melamarnya untuk kawin.

Singkat cerita, si Dara pun mengatakan sudah siap lahir batin untuk mengarungi dunia rumah tangga bersama laki-laki itu. Kemudian dia meminta restu dari sang kakek. “Kek, aku sudah ketemu jodoh di kota. Namanya Huasin (nama samaran). Apa yang kakek pesankan ke aku, sudah aku penuhi termasuk tiga hal yang dulu pernah kakek sampaikan.” ujar si Dara.

Sang kakek pun mengangguk-angguk mendengar ucapan dari cucunya itu. Sambil dielus-ulus jenggotnya yang cuma tinggal tujuh lembar sembari meneguk air kopi buatan si Wati (nama samaran), anak kandungnya, ibunya si Dara. “Nah…itu baru bagus. Berarti inget dengan pesan orang tua,” kata sang kakek yang kayaknya coba membungkuk-bungkukkan badannya. Ya….biar kelihatan tua dan bijaksana gitu deh.

“Tahu gak Kek, kalau kami sedang jalan-jalan, si Huasin tu pastinya selalu gandeng tangan aku. Selalu mesra, itu tandanya dia sangat setiakan, Kek?” lanjut si Dara yang menceritakan tentang si calon pendampingnya itu. Si kakek kemudian mengangguk lagi. “Wah, si Dara ni pintar sekarang, sudah bisa nerima nasehatku,” pikir sang kakek dalam hati. “Lanjut Kek, kalau soal hemat, dia laki-laki paling hemat sedunia lho. Apa sebab? Pas kami habis jalan-jalan di kota, dia ngajak aku nginap di hotel. Lalu dia (si Huasin) bilang,’Dek Dara, ketimbang kita pesan dua kamar dan itukan pasti cuma buang-buang duit aja, mending kita pesan satu kamar aja ya’…Itukan artinya berhemat, iya gak Kek?” ujar sang cucu lagi. Mendengar itu, wajah sang kakek pun langsung memerah. “Terus, yang ketiga. Kakekkan pernah berpesan kalau aku harus cari yang bujang tulen. Nah, ternyata diapun bujang tulen, Kek…!” kata si Dara. “Tahu dari mana kamu kalau dia tu bujang tulen?” tanya si kakek. “Pas waktu di hotel tu, dia membuka “peralatannya” itu dan rupanya masih terbungkus dengan getah…” jawab sang cucu. Ketika mendengar ucapan cucunya itu, sang kakekpun tanpa sadar langsung terjerembab dan PINGSAN.

Laporan Majikan

Nico adalah seorang pembantu. Suatu siang, dia menelpon majikannya di kantor.

Nico : “Hallo tuan, ini saya Nico.”
Majikan : “Iya, Co.  Ada apa telepon?”
Nico : “Ah tidak apa-apa tuan. Saya Cuma mau lapor sekalian minta maaf. Waktu saya setrika, baju tuan terbakar…”
Majikan : (yang sementara tengah sibuk di kantornya kemudian menjawab)”Sudahlah Co, biar saja! tidak apa-apa. Nanti saya beli yang baru…”
Nico : “Oh, tuan baik sekali, terima kasih!”
Majikan : “Hallo Co, sepertinya di situ ramai sekali. Terlalu banyak suara-suara di sebelahmu. Emang kamu ada di mana sekarang? Kamu telepon dari mana?”
Nico : “Saya di wartel, tuan…”
Majikan : “Kenapa tidak telpon dari rumah saja?”
Nico : “Tidak bisa tuan. Masalahnya, rumah juga ikut terbakar bersama baju tuan yang tadi saya laporkan…”
Majikan : “Apaaaaaaaa??!!”