HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Category : Kamar Sastra

ISYARAT HATI

Apakah perasaanku salah?
Apa yang ada salah dalam tindakanku?
Aku tidak tahu apa maumu sekarang

Jika….
Yang kamu inginkan, katakanlah
Yang kamu mau, katakanlah
Jika itu memang membuatmu bisa  bahagia
Kondisi sekarang atau nantinya jikalau kamu berubah denganku
Aku merindukankan kamu yang dulu

Mimpi dan Kenyataan Cinta

alone by hidden target Mimpi dan Kenyataan Cinta

Pernah lembut membelaiku
menghadirkan ceria dalam hidupku
pernah indah cahayamu
memberikan sinar dihatiku
tapi kini hanyalah cerita
cerita antara mimpi dan nyataku..
kau hilang bersama kenangan
cintaku melayang bersama dirimu
kau tinggalkan aku dalam
penantian usang…..
kau janjikan dulu
terkubur dalam dilema angan
tapi kini hanyalah cerita
cerita antara mimpi dan nyataku

Imajiner

imajiner 150x150 ImajinerYa, tidak ada kehidupan yang linear. Ada berawal serta pasti berakhir, semua pusaran dari hal-hal yang fragmentaristik dan bermakna sebagai episode. Dan semua itu terjadi serta hadir sebagai cerita yang terjadi dalam benak seorang manusia. Ya, seorang manusia yang dibesarkan, dididik, dan eksistensinya senantiasa terimplemantasikan secara fluktuatif dalam kehidupan. Hhmmm….aktivitas kekinian serta impian yang begitu imajiner. Salah satunya adalah ketika berangkat dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yang bisa diamati bahwa pada waktu tertentu adakalanya  mengalami hal semacam ”kekacauan” dalam diri pribadinya. Tentang kekecewaan, tentang kesedihan, tentang amarah, tentang keinginan-keinginan tak tersampaikan dan sebagainya, yang kesemuanya itu begitu berat untuk disangga. Namun itupun tak memiliki ruang cukup untuk berbagi dengan orang-orang di sekitarnya (baca: yang dipercaya). Dan dari sana, gejolak batin itu terjadi. Manusia itu sudah tak bisa menangis lagi. Manusia itu mencari “tempat” aman yang bisa menyamankan dari luka-luka, dari duka yang dirasakan. Karena terlalu penat beban yang dipegang, ia kemudian sering berangan-angan yang dipungkiri atau tidak, hal ini pasti dialami pada orang-orang yang mengalami derita tersebut. Sekali, dua kali, dan seterusnya, perlahan-lahan akan menemukan keasyikan tersendiri karena terbebas dari rasa sakit (walau sementara) dan tentunya cenderung akan melakukan hal yang sama tiap kali tak bisa keluar dari zona aman saat menghadapi masalah. Ya, melarikan dan melampiaskan diri pada imajinasi/halusinasi yang  diciptakan. Nah, tanpa sadar, dari sana tercipta tanpa sadar muncul karakter-karakter  baru, yang selain ia yang sebenarnya pada karakter tokoh yang ia ciptakan atau menjadi sosok yang ada dalam imajinasinya.  Jika terlampau masuk, hal ini tak pelak mempengaruhinya dalam hal bersikap, berkata, berpikir, dan sebagainya. Sekilas memang tampak biasa, namun orang yang betul-betul memperhatikan akan menganggap bahwa memang ada perubahan yang terjadi pada si manusia. Ironisnya, hal ini dianggap biasa oleh orang sekitar, padahal ia tidak sedang biasa saja (sakit). Perhatian dan sebagainya yang harusnya ia dapatkan, alih-alih dilakukan, ia dan masalahnya justru malah diabaikan begitu saja.

Ya, begitulah imanijer yang ada di dalam diri si manusia itu. Waktu dan cerita yang akan memproses semuanya. Ada diam/angan-angan, kesedihan, ketidakbahagiaan yang mungkin akan menghilang selamanya dan akan kembali ke pusaran kehidupan yang sesungguhnya di alam sana (entah seperti apa nantinya).
Sekian.