HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Posts Tagged ‘anak’

Happy Birthday to My Son – 4 April 2017

Praja 300x300 Happy Birthday to My Son   4 April 20174 April 2016, tepat setahun yang lalu. Seorang bayi mungil lahir dari rahim istriku. Kami beri nama Rizky Prajab Apriliendra, seorang pembela bagi orang tuanya, bangsa ya, dan agamanya.

Di ulang tahunmu yang pertama ini, Papa dan Mama hanya bisa berpesan kepadamu Nak. Jika kelak engkau besar nanti, jadilah insan yang senantiasa bertakwa serta selalu senantiasa mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadamu.

 

 

 

 

Tidak ada yang bisa Papa dan Mama berikan kepadamu di hari ulang tahunmu ini selain kasih sayang seorang Papa dan Mama yang tulus kepada anaknya. Kecupan Papa dan Mama di keningmu sebagai ungkapan Selamat Ulang Tahun untukmu nak.

Seutas do’a Papa dan Mama di hari Ulang Tahunmu sayang :

Ya Allah…jadikanlah anakku sebagai “pandangan mataku” yang selalu membahagiakanku di kala kesedihan datang dan yang mengingatkanku saat diuji kebahagiaan serta jadikanlah ia orang yang Kau pilih untuk menabur kebaikan. Amin.

Wanita Rumah Tangga versus Wanita Karier

5e198 supermomcover huffpostcom 420x280 300x200 Wanita Rumah Tangga versus Wanita KarierSecara tradisional pada konteks negara-negara di Asia, wanita yang sudah menikah diharapkan untuk tinggal di rumah dan menjaga kesejahteraan anak-anak dan keluarga mereka. Belakangan ini, posisi wanita yang telah menikah telah berubah secara signifikan. Jumlah wanita yang telah menikah dan memasuki pasar pekerja meningkat secara signifikan — menjadi wanita pekerja yang sukses dan ibu/istri pada saat yang bersamaan.
YouGov melakukan survei terhadap panelis di region Asia-Pasifik mengenai pendapat mereka terhadap ibu pekerja dan ibu rumah tangga.

Di Asia, kebanyakan wanita yang berstatus ibu atau istri adalah juga pekerja (60%). Di antara negara-negara yang disurvei Cina (75%) memiliki persentase paling tinggi dari ibu pekerja, sementara persentase paling rendah terdapat di Indonesia (51%).

Secara umum, mayoritas responden (62%) berpendapat bahwa posisi ibu pekerja sebagai lebih ideal. Hal tersebut lebih banyak didukung oleh responden wanita (67%), responden dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi (62%), dan responden dengan pendapatan yang lebih tinggi (60%).  Sesuai dengan hasil survei, wanita pekerja paling banyak didukung oleh responden di Cina (80%), dan paling sedikit didukung oleh responden dari Indonesia (52%).

Jika ibu rumah tangga dan ibu pekerja diberikan kesempatan, akankah mereka memilih untuk bertahan dengan peran mereka sekarang?

Menariknya, jumlah ibu rumah tangga yang berpendapat bahwa posisi ibu pekerja sebagai lebih ideal (36%) lebih tinggi daripada ibu pekerja yang berpendapat bahwa posisi ibu rumah tangga sebagai lebih ideal (20%).

Untuk ibu pekerja, hal yang paling mereka sukai dari menjadi ibu pekerja adalah:

  • Bisa membantu keuangan keluarga (69%)
  • Menjadi contoh bekerja keras kepada anak-anak (35%)

Untuk ibu pekerja, hal yang paling tidak mereka sukai dari menjadi ibu pekerja adalah:

  • Tidak bisa mendampingi anak ketika anak sedang sakit (51%)
  • Tidak bisa mendidik anak secara penuh (47%)

Untuk ibu rumah tangga, hal yang paling mereka sukai dari menjadi ibu rumah tangga adalah:

  • Dapat memperhatikan perkembangan anak (64%)
  • Dapat menemani anak dalam berbagai macam kondisi (57%)

Untuk ibu rumah tangga, hal yang paling tidak mereka sukai dari menjadi ibu rumah tangga adalah:

  • Tidak bisa membantu keuangan keluarga (65%)
  • Tidak memiliki karir yang bisa dibanggakan (47%)

 

Sumber informasi survey dan gambar diatas : di sini (sobat-sobat beswan bisa daftar di situsnya untuk melihat berita lengkapnya, kita bisa ikutan survey, pendaftaran gratis dan menangkan hadiahnya, saya jamin terpercaya situs survey tersebut)

Ritual Gunting Rambut dan Tinjak Tanah Sang anak

Poster Acara Praja page 001 300x197 Ritual Gunting Rambut dan Tinjak Tanah Sang anakYa, memang agak terlambat menuliskan cerita judul diatas karena acaranya sudah berlalu, tapi tak apalah daripada tidak sama sekali. Cerita ini bermula dari apa yang pernah disampaikan oleh Ibu saya sendiri. Beliau pernah mengatakan bahwa ketika kita sudah memiliki anak, menurut adat kebiasaan yang dipegang orang tua zaman dahulu bahwa ada ritual-ritual yang mesti dijalankan untuk sang anak agar si anak tentunya membawa keberkahan dan keselamatan. Ritual-ritual tersebut seperti salah satu diantaranya adalah upacara gunting rambut dan tedhak siten. Mungkin istilah yang terakhir ini agak membingungkan buat saya secara pribadi. Saya akhirnya bertanya untuk istilah ini, apa arti tedhak siten? Sekilas dari namanya memang kata-kata itu bernuansa jawa (mengingat juga sang Ibu juga merupakan orang jawa….hehehe). Sang Ibu menjelaskan secara singkat bahwa tedhak siten adalah salah satu ritual adat Jawa. Jika diartikan secara harfiah berdasarkan Kamus Bahasa Jawa, tedhak dapat diartikan sebagai turun sedangkan siten artinya tanah. Sehingga dengan demikian, tedhak siten dapat dimaknai sebagai turun ke tanah atau menapakkan kaki ke tanah. Lebih lanjut dari penjelasan beliau, upacara tedhak siten ini dilakukan sebagai rangkaian  acara yang bertujuan agar si anak tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Dari penjelasan singkat diatas, kalau dikorelasikan dengan budaya di tempat saya berada saat ini yaitu di Ketapang Kalimantan Barat yang secara mayoritas menganut adat/budaya Melayu, prosesi ini dapat diistilahkan dengan bahasa daerah setempat yaitu “tinjak tanah”. So, apapun namanya yang pasti tentunya sebagai anak, saya berkewajiban mengikuti semua arahan dan bimbingan dari orang tua untuk merealisasikan itu semua toh secara agama, kebiasaan ini tidak bertentangan dengan ajaran agama kita.

DSC 0047 1 200x300 Ritual Gunting Rambut dan Tinjak Tanah Sang anakSecara singkat, ritual acara gunting rambut dan tinjak tanah pun akhirnya kami laksanakan pada tanggal 7 Agustus 2016 kemarin dan bersamaan dengan usia anak kami menginjak umurnya yang ke-4 (empat) bulan. Tradisi ini memang awalnya berasal Jawa (seperti yang dijelaskan di awal paragraf tulisan ini) akhirnya mengakar menjadi tradisi adat Melayu di tempat kami juga. Pelaksanaan acara gunting rambutpun dapat dilihat dengan mempersiapkan beberapa barang dan aktifitas sebagai berikut: Pertama, pemasangan kendit. Kedua, Pemasangan kain kuning. Ketiga, rambut si anak diikat-ikat yang mana setiap ikatan tersebut dipasangi manik-manik. Dan keempat,  sebuah talam yang berisi gunting, kelapa cengkir yang sudah dihiasi dan masih berisi airnya, sebatang lilin yang menyala, bunga rampai, dan kase beras (tepung tawar). Setelah aktifitas tersebut dijalankan, prosesi acara ini tentunya didahului dengan pembacaan ayat-ayat Al-Quran dari ibu-ibu Qasidah.

Nah, yang seru ketika saya melihat saya adalah aktifitas si anak yang kemudian disodorkan kepada orang-orang yang menurut kami wajib dihormati seperti orang tua kami sendiri dan/atau orang-orang yang dihormati dari sisi usia, agama ataupun adat istiadatnya. Orang-orang inilah yang akan mengambil gunting  sambil membaca doa singkat untuk kebaikan anak kami dan setelah itu ikatan rambutnya kemudian digunting. Selanjutnya adalah proses pengguntingan ikatan rambut si anak diserahkan  ke beberapa orang berikutnya dan seterusnya seperti itu (biasanya disesuaikan dengan jumlah bunga cucok telur yang hitungan ganjil, minimal 3 dan maksimal 7).

DSC 0059 1 200x300 Ritual Gunting Rambut dan Tinjak Tanah Sang anakAcara selanjutnya yang tidak kalah serunya adalah kala melihat sang anak melakukan prosesi kedua yakni “tinjak tanah”. Sebelum acara ini berlangsung, kemarin malam kami mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti “balai jawe” atau rumah mini tanpa dinding (balai) serta tangga yang terbuat dari tebu kuning, juadah sebanyak 6 (enam) jenis yaitu: dodol merah, dodol putih, cucor, ariadam, cengkarok, dan sesagun yang masing-masing ditaruh dalam sebuah piring, dan yang terakhir adalah Sepiring lagi berisi tanah dan sebiji telur ayam kampong. Bahan-bahan tersebut dapat dijelaskan dalam aktifitas sebagai berikut yaitu: Pertama, tebu yang telah dibuat tangga tersebut ditutup dengan kain batik 7 lapis atau sekurang-kurangnya 3 lapis. Selanjutnya, kue-kue yang di dalam 6 buah piring dan piring ketujuh yang berisi tanah dan telur disusun di depan “tangga” dengan urutan, dodol, dodol putih, cocor, ariadam, cengkarok, sesagun, tanah, telur ayam, dan paku keminting. Nah, setalah  acara gunting rambut selesai, maka sang anak tersebut mula-mula melewati bangunan yang dinamakan “balai jawe” (rumah untuk si anak) yang disambut oleh orang tua/ dan langsung diinjakkan ke tangga dari tebu. Sampai di puncak, lalu menurun dan diinjakkan ke piring-piring yang berisi kue-kue tersebut. Setiap putaran maka kain penutup tangga tebu dibuka. Setelah genap tujuh kali, maka telur dipecahkan dan diinjakkan ke kaki sang bayi. Biasanya tangga tebu tersebut dilemparkan ke halaman rumah lalu jadi rebutan anak-anak dan juga orang tua yang punya anak kecil serta kakek-kakek yang punya cucu. Namun, biasanya sebelum sempat dilempar ke halaman langsung diperebutkan. Perebutan tangga tebu ini menandakan bahwa acara “tinjak tanah” telah selesai.

Menurut adat Melayu, Acara Tinjak Tanah ini dapat bermakna sebagai berikut: Pertama, sang bayi turun dari rumah yang dilambangkan dengan Balai Jawe. Kedua, dalam mengarungi kehidupan ada naik dan turunnya dengan lambang tangga tebu. Ketiga, dalam mengarungi kehidupan mengalami pahit manisnya kehidupan dengan lambang  juadah-juadah dalam enam buah piring. Keempat, lambang paku keminting merupakan doa bagi sang bayi agar tegar dalam mengarungi kehidupan kelak. Kelima, akhirnya disadarkan kepada sang anak bahwa kita ini berasal dari tanah dan kembali ke tanah dengan lambang memecahkan telur ayam di atas tanah pada piring terakhir. Dan Keenam, adapun rebutan tangga tebu adalah suatu lambang bagi sang anak bahwa rezeki dari Allah tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan dengan tangan, akal, dan pikiran.

Demikian, sekelumit cerita mengenai rangkaian adat istiadat untuk anak kami yakni Gunting Rambut dan Tinjak Tanah. Ya memang, meskipun berbeda daerah, agama dan kepercayaan; tradisi adalah suatu hal yang perlu dilestarikan dan semua tujuannya untuk kebaikan si kecil. Kami selaku orang tua berharap serta mohon doanya untuk anak kami agar menjadi tumbuh menjadi anak yang sehat, mandiri dan tentunya menjadi anak yang diamanahkan oleh Allah SWT sebagai anugrah buat kami sebagai orangtua. Amin Ya Robbal Alamin.

Ya finish, terima kasih….hehehe