HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Posts Tagged ‘hati’

Confucius motivation 300x123 AYO CERITAKAN BERBAGAI HAL INSPIRATIF YANG DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Saya jadi teringat ketika masih bekerja pada bidang HR (Human Resources) di salah satu perusahaan pembiayaan yang cukup terkemuka pada waktu itu. Saat itu, banyak training-training yang pernah saya ikuti serta tentunya sering menimba ilmu dan/atau pengalaman menarik dengan Top Management khususnya di bagian HR Department perusahaan tersebut. Mereka sering bercerita tentang perjalanan hidup atau karier mereka. Umumnya, kisah-kisah mereka sungguh menginspirasi dan menggugah kita untuk melakukan sesuatu atau juga mengingatkan kita akan hal yang perlu kita kerjakan dalam hidup ini jika mau sukses. Satu pertanyaan mendasar bagi saya pribadi adalah apakah kita terus menunggu untuk sukses dulu baru kemudian kita bercerita tentang kesuksesan diri kita? Atau apakah memang bagi orang yang baru memulai kariernya belum punya cerita yang inspiratif seperti yang dikatakan oleh orang-orang sukses di perusahaan tempat saya bekerja dulu?

Either write something worth reading or do something worth writing (Benjamin Franklin)

Ya, saya akan coba mendeskripsikan pemikiran sederhananya seperti ini dengan contoh.  Pertama, faktor manusia (human) itu sendiri. Teringat dulunya, saya pernah mengikuti sebuah survey yang pernah diadakan perusahaan tempat saya bekerja dulu yaitu EOS atau singkatan dari Employee Opinion Survey buatan Gallup Organization (salah satu organisasi survey berskala internasional). Mungkin sebagian teman-teman di sini pastinya pernah mendengar EOS Gallup ini. Saya menemukan hal menarik dari survey tersebut yakni soal bicara tentang salah satu faktor yang membuat karyawan termotivasi dan akan tinggal di perusahaan. Apa itu? Faktornya adalah challenging work. Gambaran sederhananya begini, adanya suatu pekerjaan yang menantang tentunya akan selalu menggugah intelektualitas setiap orang untuk menjajaki berbagai pendekatan untuk sebuah hasil yang lebih baik. Pertanyaan sederhananya kemudian adalah apakah memotivasi merupakan esensi pekerjaan itu sendiri? Kadangkala kita memang sering melupakan faktor manusia (human) dari pekerjaan itu sendiri. Maksudnya adalah membangun infrastruktur relationship antar sesama karyawan yang dilihat dari perspektif manusia (human). Sering terjadi bahkan kita terkadang lupa bahwa di balik dokumen/pekerjaan yang sedang kita tangani, ada seseorang yang sangat mengharapkan kecepatan dan pelayanan prima. Tentunya, semua itu dapat diartikan bagian dari tantangan dalam berkarya namun sering luput dari perhatian dalam mengemukakan cerita kita.

Kalau kita mau menyajikan kisah/cerita yang menarik, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kisah/cerita yang menarik itu adalah challenging work atau bagaimana faktor manusia (human) dalam menanggapi challenging work itu sendiri?

Writing from Heart

Saya pernah mendapatkan sebuah sms /pesan dari seorang sahabat lama, sesama mahasiswa di kampus tempat saya menimba ilmu dulunya. Singkatnya, saya sudah cukup lama kenal dengan sahabat ini, sering bertemu dan berbagi cerita atau ocehan yang tentu saja mengalir apa adanya dari mulutnya. Sms-nya yang saya ingat pada waktu itu kurang lebihnya begini: “Sangat sulit untuk memulai cerita/kisah, tersendat di tengah jalan, dan kacau di akhir”. Galau deh….hahaha

Ya, bermula dari situ, dia terus menceritakan kepada saya tentang beberapa hal yang memang cukup pelik dan sulit ketika ingin memulai sesuatu serta bagaimana cara menyelesaikannya. Saya pun akhirnya mencoba mengirimkan feedback sms-nya dengan bunyinya begini: “Bro, coba tuangkan saja dalam bentuk tulisan dan bikin blog, ceritakan di situ seolah-olah kita ketemu dan kamu bercerita kepada saya. Boleh sendirian or kamu bisa tarik siapa saja yang berada di dekatmu lalu mulailah bercerita”.

Sahabat saya ini kemudian mengirimkan satu lembar tulisannya ke email saya dan di situ ada note di bagian akhir tulisannya dengan kalimat begini: “Sampai disini saya mulai tertatih-tatih, bahkan mulai kacau ketika ingin mengakhiri tulisan ini”. Selanjutnya, saya mulai mengajukan beberapa korespondensi atau pertanyaan untuk membantu beliau memoles kisahnya dan setelah itu, diapun berhasil menyelesaikan tulisannya dengan judul “Belajar dari kegagalan, mulailah dengan Mimpi”. Ketika sahabat saya ini selesai menulis dengan judul tersebut, dia mengatakan kepada saya bahwa dia seolah-olah hampir tidak percaya berhasil menyelesaikan ceritanya itu dalam bentuk tulisan, kemudian dia membaca kembali tulisannya tersebut. Kok bisa? Ya, tentu saja bisa! Nah, “Sangat sulit untuk memulai cerita/kisah, tersendat di tengah jalan, dan kacau di akhir” yang saya ringkas di atas tadi, sebetulnya hanya ada di otak kepala sahabat ini. Begitu dia singkirkan dengan bantuan beberapa korespondensi dari saya, malah ternyata bisa.

Saya pribadi mencoba memberikan kiat sederhana kepada sahabat ini, antara lain: Pertama, menulislah dari hati . Kedua, ayo ceritakan apa yang di pikiranmu saat ini. Ketiga, biarkan ide tersebut mengalir, baru setelah itu bisa dikoreksi di belakang. Keempat, latih terus kemampuan menulismu. Maksudnya adalah bukan soal berlatih menulis saja, tapi juga bisa memulai dengan mencermati berbagai kejadian di sekitar kita dan/atau kehidupan sehari-hari, ya siapa tahu di antaranya ada yang menarik untuk ditulis. Kelima, mintalah saran/kritik dari teman, dan yang terakhir adalah belajarlah menulis dari seorang profesional di bidangnya.

Imaginary Resistance

Cerita ini bermula saat saya masih bekerja di salah satu perusahaan sawit yang cukup besar di Kalimantan Barat. Seorang teman yang satu ini adalah seorang ibu muda beranak satu. Komitmennya untuk berkarya dan mengurus anak dan rumah tangganya sama-sama tingginya, dan dia ingin lakukan sungguh-sungguh sepenuh hati.

Kita bertemu dalam sebuah kesempatan pertemuan/rapat tentang persoalan suatu pekerjaan (saya dan dia berada di departemen/divisi terpisah, saya di HR dan dia di Operation).  Pasca rapat tersebut, dia kemudian bertanya kepada saya tentang bagaimana langkah terbaik untuk memungkinkan dia bisa menapaki semua hidupnya secara berimbang, antara bekerja dan keluarga.

Sahabat ini bercerita tentang salah satu tantangan yang dihadapi adalah bekerja sampai larut sehingga perhatian terhadap anak dan keluarga menjadi tersampingkan. Salah satu pertanyaan mendasar saya adalah siapa yang menyuruh untuk bekerja sampai larut padahal jam kerjanya sampai jam 17:30? Saya pribadi juga di dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, salah satu kuncinya adalah list daftar pekerjaan yang akan atau telah dilakukan serta menyusun target/deadline kapan pekerjaan itu selesai dan tuntas (termasuk evaluasi terhadap pekerjaan itu) sehingga dari sisi waktu jam pulang kerja bisa sesuai dengan aturan jam pulang kerja perusahaan. Di department dia, saya lihat memang merupakan salah satu department yang cukup sibuk mengurusi soal  operasional perusahaan (sebenarnya semua department itu sama pentingnya buat perusahaan, tinggal tupoksi masing-masing bagian itu yang berbeda). Selanjutnya, dia menemukan beberapa alasan-alasan di balik kekhawatiran antara pekerjaannya antara lain sebagai berikut: Pertama, tinggal dan bekerja sampai larut adalah karena perasaan tidak enak dan takut pada atasan tanpa alasan. Kedua, apakh atasan juga pernah melarang untuk  pulang on time. Dan ketiga, dia dan teman-teman di department-nya belum pernah mencoba untuk pamit pulang on time

Semua alasan di atas hanya karena kekhawatiran yang ada di kepalanya dan terbawa perasaan solidaritas dengan teman-teman di department/bagian itu. Saya coba menanyai pertanyaan memancing kepada dia, “Coba Ibu tanyain kepada Kadept (Kepala Department) tentang pekerjaan Ibu saat ini”. Tak lama kemudian, saya mendengar dari dia ketika berbicara dengan kepala department tersebut, dia sendiri kaget dengan  jawabnya: “ngga apa-apa, kamu yang atur pekerjaan. Yang penting kerjaan beres, SLA dan SLS beres.”

Sahabat ini ingin “Menjadi ibu yang baik dan punya waktu cukup untuk mengajari anak-anaknya.” yang pada akhirnya dia pun mulai membuat komitmen untuk pulang on time, tapi mulai dengan target sekali seminggu. Nah, untuk itu langkah sederhana yang bisa dilakukan dana saya sharing-kan dengan dia adalah Pertama, membicarakan rencana itu dengan suami dan kepala department-nya untuk mendapatkan dukungan mereka. Kedua, komitmen yang kuat untuk menyelesaikan pekerjaan yang memang harus selesai hari itu sesuai standar pelayanan yang dituntut dari pekerjaannya. Dan ketiga, meng-update kepala bagian/department tentang progress pekerjaannya serta mendiskusikan kembali apakah ada lagi yang perlu diselesaikan pada hari itu sebelum dia pulang.

Dua bulan berselang kemudian setelah itu, dengan gembira dia memaparkan bahwa bukan saja sekali seminggu tapi sudah sampai 3-5 kali seminggu dia bisa pulang on time.,Bahkan, enam bulan kemudian, sahabat ini mengakui sudah hampir setiap hari dia pulang jam 17:30. Kalau ada yang mendesak harus diselesaikan, paling dia pulang 18:30. Dan yang paling membahagiakan adalah, kata sahabat ini: “Saya merasa semakin dekat dengan anak, kemajuannya di sekolah pun cukup bagus.”

Kembali di awal pembukaan tulisan ini, banyak cerita inspiratif yang kita temukan dari orang lain, melalui berbagai media atau langsung dari yang bersangkutan. Saya yakin bahwa teman-teman juga punya cerita inspiratif tentang pengalaman hidup masing-masing. Tinggal pertanyaannya kemudian adalah bagaimana menyajikannya kepada orang lain yang juga sedang mencari cerita inspiratif. Pastinya teman-teman juga punya, dan itu banyak….hehehe

“You have to decide what your highest priorities are and have the courage  – pleasantly, smilingly, non-apologetically – to say ‘no’ to other things. And the way to do that is by having a bigger ‘yes’ burning inside.” (Stephen Covey)

Sekian, terima kasih.

Sumber Referensi :

Covey, Stephen. (1989). 7 Habits of Highly Effective People. E-book.

Padiku, Dedi (2014). Mengejar-ngejar Mimpi. Jakarta: AsmaNadia Publishing House.

Sumber gambar : kutipkata.com