HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Posts Tagged ‘kekasih’

EPISENTRUM CINTAKU

Untuk Kekasih yang kucinta yang berada di tanah Jawa.
 EPISENTRUM CINTAKU Aku tidak tahu dari mana harus memulai surat ini, kekasihku. Aku juga tidak tahu apakah ketulusanku ini akan memperoleh sambutanmu. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku adalah kekasihmu. Yang paling hebat. Yang paling sadar.

Ketika aku baru merasakan sesuatu yang ganjil belakangan ini. Apa kau tahu kenapa aku tiba–tiba sangat membutuhkanmu? Lalu timbul keganjilan lain, sebuah pertanyaan, apakah kau juga membutuhkanku? Bukan aku ragukan cintamu yang tulus padaku. Bukan, bukan itu. Aku hanya ingin memantapkan hati seiring bertambahnya usiaku dewasa ini. Sekedar mengingat saat kita mengungkapkan kata cinta dan sayang dulunya. Saat kau menepuk tanganku karena berniat menggandengmu. Saat kau diam ketika kucium pertama kali. Aku jadi mengerti, kaulah yang kucari. Aku hanya butuh kau. Lembut, santun, mulia, suci, menjaga diri dan penuh kasih sayang.

Kekasihku, ingatkah kau saat aku jatuh dan terpuruk dalam keadaan dulu? Sekali lagi aku mengerti, Tuhan barangkali benar–benar meletakkan tulang rusukku padamu. Engkau begitu tulus memaafkanku dan mau menerima kekuranganku. Aku akan ingat itu.

Kekasihku, aku kini dua puluh delapan tahun. Dan kau tiga tahun lebih muda. Aku ingat benar. Awal–awal kita pacaran, kau seperti seorang wanita yang selalu cerewet demi kebaikanku. Padahal kau tahu, aku butuh wanita yang bisa berdiskusi dengan baik dan lembut memahami kasih sayang yang sebenarnya. Aku tak butuh pacar yang punya perhatian yang lebih yang pada akhirnya terkesan sangat berlebihan. Aku tak butuh pacar yang cuma bisa memuaskan dahaga nafsu bercinta. Maka aku heran, ketika wajahmu tergambar tepat dua kali aku istikharah. Aku gembira? Tidak, aku bingung.

Bingung? Iya. Tapi kini tidak. Waktu menunjukkan siapa dirimu. Kau jauh lebih baik dari sekedar ngambek dan menangis saat wanita mempertahankan pendapat. Kau mengandalkan Tuhan ketika bicara. Kukuh. Aku kini sadar kau adalah pagar. Kau tidak sok suci. Kau hanya mengatakan, “Kalau mas menjadi orang yang mas kalahkan dengan cara seperti ini, apa yang akan mas katakan di depan Allah nanti?”

Kekasihku, lihatlah keadaan kita dan keluarga kita ya secara utuh. Cinta yang telah kita bangun selama ini, aku ingin kita mewujudkannya dalam sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan waromah. Sebagaimana selalu Mama katakan kepadaku tentang masalah jodoh, “Carilah perempuan yang paling perempuan. Jangan seperti ibu yang masih sering nggresah.” dan Mamamu mungkin akan berkata kepadamu, “Carilah pria yang kebaikannya seperti bapakmu. Pria yang punggungnya kuat.”

Kekasihku, sejujurnya kukatakan, kau adalah ukuran kebaikanku di duniaku. Semoga engkau tahu dan memahami ini. Betapa berat amanah yang telah Tuhan berikan padaku setelah bertemu denganmu dan akhirnya bisa mencintaimu. Serasa aku diwasiati untuk menjagamu. Aku tahu hal ini bukan sekedar karena rasa cintaku. Karena kalau nantinya kita akan menikah dengan mekanisme melalui mahar, aku membelimu beserta hak dan kewajibanmu. Oleh karena itu, aku tak ingin menjadi seorang calon suami durhaka sebab tak bisa berbuat baik kepadamu.

Kekasihku, sebentar lagi kita akan masuk di tahun 2013. Kata sebagian orang bakal ada pembersihan dunia. Kau percaya? Tidak? Kenapa? Baiklah jika itu jawabanmu. Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu sebab esok bagiku adalah misteri. Jadi aku lebih suka menikmati hari ini dan hal–hal yang kita tahu saja. Selebihnya, seperti katamu, aku kembalikan ke Tuhan. Dan jika diberi umur panjang, aku ingin menyaksikan kalender menunjuk tanggal 8 September 2013 kelak. Hari dimana kita menjadi satu. Menautkan hati. Menautkan jiwa.

Kekasihku, jujur aku bingung. Layaknya bingung ketika mengawali surat ini, akupun bingung untuk mengakhirinya. Namun sebelumnya, aku ingin kau tahu, mari kita nikmati nostalgia ini. Ke Yogyakarta atau Semarang? Tunggu aku ya….