HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Posts Tagged ‘Ketapang’

Kehamilan istri 7 bulan

undangan bg hendra 1 300x228 Kehamilan istri 7 bulanSaat ini, kehamilan istri saya sudah memasuki bulan ke-7, yang menandakan bahwa akan hadir manusia baru di dunia ini, seorang manusia yang Insya Allah dapat memberikan nuansa yang berbeda dalam hidup kami berdua.

Keajaiban demi keajaiban mewarnai setiap waktu  yang kami lalui berdua. Si Kecil sudah mulai bergerak dan aktif pertanda telah menunjukkan diri bahwa dia ada serta ingin selalu diperhatikan oleh kedua orang tuanya.

Mohon doa restunya, semoga bayi yang dikandung istri saya selalu sehat dan diparingi (diberikan) lancar semuanya serta diberikan pula kesehatan bagi ibunya. Amin.

Alhamdulillah Wa syukurillah atas semua rahmat-Mu.

Ketapang, 21 April 2010

0ca4f0b41bfdee8290fecc6220271b3b PARA KARTINI YANG TERMARGINALKAN: Kontemplasi tentang Sebuah Arti di hari KartiniBetapa berisiknya ketika mendengar suara penggiling beras memenuhi seisi ruangan pasar Sentap di kawasan Jalan Imam Bonjol, Kota Ketapang, Kalimantan Barat. Di sisi lain, lantai semen yang becek dan penuh dengan sampah juga turut menjadi bagian di pasar tradisonal ini. Di sudut bagian belakang tepatnya di tempat penjualan ikan, ayam dan daging sapi, bau amis terasa menusuk hidung, ditambah dengan pecahan telur di lantai pasar yang turut menambah bau amis. Namun, warna-warna hijau segar sayur dan merah tomat serta wortel tampak memanjakan mata, meski terhampar tak beraturan di meja-meja jualan. Ramai para pengunjung dapat dilihat di pagi dan sore hari yang membuat semua penjual sibuk melayani mereka. Ya, layaknya pasar tradisional. Kadang-kadang beberapa pemuda-pemuda nakal seringkali membuat ulah dengan meminta uang kepada para penjual. Inilah suasana pasar tempat wanita-wanita penjual sayur menggelar dagangan mereka untuk membantu perekonomian keluarga. Inilah hari-hari yang mereka hadapi, meskipun di hari Kartini yang mengagung-agungkan kemajuan kaum wanita.

Ketika melihat jam tangan yang menunjukkan tepat pukul 11.00 WIB, saat saya memasuki areal pasar yang sehari-hari merupakan pusat perbelanjaan warga Kota Ketapang itu. Suasana pasar tak lagi seriuh dan seramai di pagi hari. Hanya beberapa calon pembeli yang tampak mondar-mandir di antara meja-meja yang menyediakan aneka sayur. Menimbang-nimbang di meja mana si penjual menawarkan harga yang lebih rendah. Beberapa wanita penjual sayur duduk di kursi kayu seraya merapikan dagangannya, sementara yang lain berceloteh tentang pemilihan kepala daerah yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Bagaimana mereka bercerita hingga sepak terjang elit politik yang terkadang saling menjatuhkan satu sama lain menjadi topik hangat di sela-sela kegiatan melepas lelah setelah berjam-jam sebuk melayani pelanggan.  Ada dua orang wanita yang tampak berusia lanjut menarik perhatian saya. Seorang di antara mereka tampak tertidur pulas di atas meja yang tadinya digunakan untuk menjual aneka sayuran. Suara berisik penggiling beras yang memekakkan telinga itu sama sekali tak mengganggu nyenyaknya tidur siang wanita penjual sayur di pasar itu, sekalipun udara Kota Ketapang panas menyengat di sekujur kulit. Wanita itu tidur dengan pulasnya. Wanita yang seorang lagi duduk santai di sisi temannya. Dia tak berbicara, hanya memandangi wanita-wanita lain sambil sesekali tersenyum mendengar perkataan mereka. Tengah hari seperti ini adalah waktu istirahat mereka dan kemudian kembali sibuk melayani pembeli di sore hari. Inilah keseharian yang selalu dihadapi oleh wanita-wanita penjual sayur di pasar tradisional. Saya kemudian menghampiri dua wanita penjual sayur yang sedang berbincang-bincang di sudut pasar. Salah seorang yang lebih tua duduk di atas meja di antara daun-daun singkong, pakis dan tempe yang masih tersisa. Namanya Tisaudah. Sedangkan yang seorang lagi duduk di kursi kayu menghadap ke meja jualannya yang masih terisi berbagai jenis sayur dan keperluan dapur lainnya. Sesekali tangannya meraih beberapa ekor ikan asin dan merapikan susunannya dalam baskom kecil berwarna coklat kusam. Wanita itu bernama Mardiyah. Baik Tisaudah maupun Mardiyah bukanlah orang-orang baru di pasar ini. Mereka berjualan sejak pertama kali di pasar Melati (Jalan Merdeka) yang kemudian direlokasi ke Pasar Sentap. Ya, pasar ini tak jauh dari sungai Pawan, sungai kebanggaan warga Ketapang.

Menjelang shubuh, ketika kebanyakan orang masih terlelap dalam tidurnya, kedua wanita ini dan wanita-wanita penjual sayur lainnya telah keluar dari rumah membeli segala masam keperluan dapur dan sayuran untuk kemudian dijual kembali. Tisaudah biasanya turun dari rumah sekitar pukul 4 pagi menuju pasar dekat jembatan Pawan. Di sana, wanita yang telah berumur 65 tahun ini telah mempunyai langganan yang menyediakan aneka sayur dan segala keperluan untuk berjualan. Setelah itu, dia segera menuju Pasar Sentap dan menggelar dagangannya. “Saya sudah lama sekali berjualan di sini, sejak pasar dipindah ke sini.  Sebelumnya saya jualan di daerah lain, mungkin udah 24 tahun saya jualan,” ujarnya. Tak banyak barang yang dijual oleh Tisaudah seperti pedagang sayur lainnya. Dia memilih untuk berjualan tempe, tapai, dan beberapa jenis sayur. Meskipun hasil yang didapatnya juga tak terlalu banyak, namun dia merasa tak terlalu repot melayani pembeli. Puluhan tahun pengalamannya berjualan membuatnya memiliki pelanggan setia, sehingga setiap hari dagangannya tak bersisa terlalu banyak. Komoditas yang terlalu banyak ini juga membuat dirinya tak terlalu lelah. Di usianya yang telah lewat setengah abad membuatnya tak lagi selincah 24 tahun yang lalu. “Tak kuat seperti dulu Dek,” ujarnya singkat. Sayur dan tempe serta barang-barang lain yang dijualnya telah diikat sesuai dengan harganya masing-masing  sehingga dia tidak perlu repot jika ada pembeli yang datang. Hal itu membuatnya bisa sedikit lebih santai dibandingkan teman-temannya yang lain.

Tak jauh berbeda dengan Tisaudah, Mardiyah juga mempunyai aktivitas yang hampir sama. Shubuh, dia sudah harus meninggalkan rumah untuk membeli sayur mayur yang akan dijualnya kembali di Pasar Sentap. Jika Tisaudah belanja di pasar dekat jembatan, maka Mardiyah menganggap Pasar Baru menawarkan harga yang lebih murah dan pilihan yang lebih variatif. “Harganya lebih murah Dek, perginya subuh-subuh jadi sayurnya masih bagus dan belum dipilih orang,” ujar ibu 6 anak ini. Dia menjual lebih banyak kebutuhan dapur, seperti bumbu, terasi dan jenis-jenis ikan asin sedangkan sayur-sayuran tak terlalu banyak dan diletakkannya di ujung meja jualannya. Alasannya cukup klasik, namun selalu dihadapi oleh para pedagang kecil yakni modal.  Dengan beberapa puluh ribu, dia membeli barang-barang jualannya. Kemudian komoditi itu dia jual kembali. Dari hasil jualan itu dia mendapatkan uang sekitar Rp 110.000 per hari. Namun jumlah ini bukanlah keuntungan bersih yang dapat segera dinikmatinya. Dia harus kembali menyisakan puluhan ribu untuk menjadi modal esok hari. Jumlah rupiah yang mereka dapatkan memang tak terlalu besar. Apalagi ditambah dengan pungutan-pungutan yang sering menghampiri mereka. Setiap hari ada saja pungutan yang harus mereka bayar. Meskipun jumlahnya tak terlalu banyak yaitu sekitar seribu atau lima ratus rupiah, namun cukup mengurangi pendapatan mereka yang tak seberapa. Namun mereka masih bersyukur, karena tak pernah ada yang bertindak kasar pada mereka. “Pungutan ada, kadang saya kasi seribu atau lima ratus. Sekarang sih tak ada yang kasar, kalau dulu pernah ada yang suka maksa,” ujar wanita yang telah memasuki usia 57 tahun itu.

Baik Tisaudah, Mardiyah maupun wanita-wanita penjual sayur lainnya adalah para pedagang kecil yang menjadi bagian penting dalam kegiatan perekonomian. Meski pendapatan mereka tergolong kecil, namun selama puluhan tahun mereka turut berjuang membantu suami mereka untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik. Mereka-mereka inilah wanita hebat yang menjadi salah satu tiang ekonomi keluarga. Saat sekolah-sekolah, media dan banyak organisasi wanita memperingati hari Kartini, mereka justru tak merasakan apa-apa pada hari tersebut. Untuk mereka, hari ini, kemarin dan esok adalah hari yang sama. Berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sisi Lain dari Kompleksitas HAK MEMILIH

4466 1044327002129 1644249644 114340 2901746 n 300x225 Sisi Lain dari Kompleksitas HAK MEMILIHKini, tinggal berapa bulan lagi, berapa hari lagi dan berapa detik lagi, kita semua dihadapkan dengan sebuah momen yang cukup penting buat kabupaten tercinta ini yakni pesta demokrasi bertajuk PILKADA CABUP DAN CAWABUP KABUPATEN KABUPATEN KETAPANG 2010 yang rencananya menurut jadwal dari KPU Daerah pada tgl 19 Mei 2010 mendatang. Pertanyaannya, sudah siapkah kita sebagai masyarakat menggunakan “HAK PILIH” utk memilih calon2 pemimpin daerah ini yg kira-kira sesuai dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat. Di sisi lain, di sini saya mencoba menangkap sedikit urgensinya. Ada 2 kata yg sangat antagonis yakni MEMILIH ATAU TIDAK MEMILIH. Sebuah pilihankan tentunya…hehehe

Saya coba memakai analogi di bawah ini ;
Andaikan ada permintaan ini: kamu harus memilih 1 buah kue dari 1 piring yang berisi satu jenis kue, 2 kue yang sama, 2 kue yang berbeda dan bermacam jenis kue. Mana yang lebih asyik? Kalau jawaban kamu yang asyik adalah memilih dari piring dengan banyak jenis kue, tentu itu jawaban itu normal. Namun pertanyaan berikut: Benarkah mudah untuk memilih satu buah (ingat satu saja) kue dari begitu banyak pilihan? Saya kok tidak yakin.

Pernahkah kamu berbelanja pakaian dan mendapatkan pilihan begitu banyak, entah itu bagus semua atau jelek semua, dan kamu sulit menentukan pilihan, apalagi karena bugjet terbatas. Pusing?

Kalau sudah demikian, apakah kita seharusnya bersyukur karena memiliki hak untuk memilih? Syukur-syukur kalau semua calon yang tertulis di kertas suara adalah orang-orang hebat, baik, jujur, pekerja keras dan mau memikirkan rakyat kecil, sehingga kesulitan kita adalah mencari yang terbaik di antara yang baik. Lha kalau semua jelek (kok pesimistis, skeptis sih)?

Bagaimana dengan hak untuk tidak memilih. Toh itu bagian dari pilihan? Nah, ini bukti lain dari kedaulatan seorang manusia merdeka. Bebas memilih untuk tidak memilih.

Tapi jangan lupa, setiap pilihan kita ada konsekuensinya.