HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Posts Tagged ‘Laporan’

HARAPAN PERUBAHAN PASCA SAIL SELAT KARIMATA 2016

images HARAPAN PERUBAHAN PASCA SAIL SELAT KARIMATA 2016Beberapa program Pemerintahan Presiden SBY sampai dengan Presiden Jokowi yang sudah dilaksanakan memang diharapkan bisa mengurangi disparitas pembangunan wilayah dan menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia (PMD), yaitu Sail Indonesia yang sudah dilaksanakan sejak Sail Bunaken pada 2009, Sail Banda 2010, Sail Wakatobi-Belitung 2011, Sail Morotai 2012, Sail Komodo 2013, Sail Raja Ampat 2014, Sail Tomini 2015 dan Sail Indonesia ke-8 (Sail Selat Karimata) yang acara puncaknya rencananya akan dihadiri oleh Presiden Jokowi bakal digelar di Sukadana Kabupaten Kayong Utara pada tanggal 15 Oktober tahun ini. Khusus Sail yang terakhir ini, acara launching-nya  sudah diresmikan di Jakarta oleh Menteri Koordinator Maritim Republik Indonesia Rizal Ramli pada tanggal 1 Juni yang lalu.

Selain untuk mengenalkan Indonesia ke panggung dunia dan mempromosikan pariwisata bahari setempat, program Sail Selat Karimata 2016 sejatinya dimaksudkan untuk memajukan dan mensejahterakan daerah (provinsi dan kabupaten/kota) dimana sejumlah kegiatan Sail Selat Karimata berlangsung. Dengan demikian, daerah yang selama ini serba tertinggal hampir di semua bidang kehidupan bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan keunggulan (daya saing) baru bagi NKRI. Tentunya, kita berharap program Sail Selat Karimata 2016 tidak hanya sekedar menjadi acara ceremonial saja. Sail Selat Karimata 2016 mesti kita jadikan sebagai momentum untuk mendongkrak kinerja pembangunan, kemajuan, dan kesejahteraan masyarakat di empat provinsi (Kalbar, Jambi, Kepri dan Bangka Belitung) yang mengelilingi Selat Karimata. Melalui Sail Selat Karimata, kita jadikan kawasan Selat Karimata yang kaya Sumber Daya Alam terbarukan maupun non-terbarukan ini sebagai etalase (role model) pembangunan wilayah terpencil berbasis maritim, dari tertinggal dan miskin menjadi maju dan sejahtera. Mengingat kawasan ini jauh dari pusat ekonomi dan politik negara (Pulau Jawa), maka pola pembangunannya harus menggunakan pendekatan ‘big push’ (dorongan besar). Artinya, ukuran (unit) usaha ekonominya harus besar dan terdiri dari berbagai sektor ekonomi, baik yang ada di daratan maupun lautan kawasan Selat Karimata. Ramuan ini sangat penting supaya memenuhi kaidah skala ekonomi (economy of scale). Kalau ukuran ekonominya kecil dan komponen sektor ekonominya sedikit, maka keuntungan usahanya tidak bisa menutupi biaya transportasi, logistik, dan bahan penolong yang lebih mahal. Sektor-sektor ekonomi kelautan yang sangat potensial untuk dikembangkan melputi: perikanan budidaya, perikanan tangkap, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, pertambangan dan energi, transportasi laut, dan galangan kapal serta industri dan jasa maritim lainnya. Sedangkan, di daratannya bisa dioptimalkan pembangunan sektor pertanian tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan, kehutanan, industri manufaktur, dan pariwisata bentang alam (landscape tourism) yang dalam dekade ini sangat berkembang dan menjadi sektor ekonomi andalan saat ini di Jepang, Korea, dan China. Selain itu, mesti diterapkan sistem manajemen rantai suplai terpadu dari produksi-industri pengolahan dan pengemasan sampai ke pemasaran. Kita bisa gunakan inovasi teknologi terkini (state of the art technology) dalam setiap mata rantai suplai tersebut.

Untuk memastikan bahwa semua program dan kegiatan usaha ekonomi diatas tidak merusak lingkungan, maka stakeholders terkait harus mengaplikasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yang meliputi: penataan ruang wilayah, laju pemanfaatan SDA terbarukan tidak melebihi kemampuan pulih (potensi lestari)-nya, pemanfaatan SDA tidak terbarukan (bahan tambang dan mineral) harus ramah lingkungan, pengendalian pencemaran dan low-carbon economy, konservasi biodiversity, dan mitigasi serta adaptasi terhadap perubahan iklim global serta bencana alam lainnya. Supaya berkah ekonomi (economic rent) dari geliat pembangunan ekonomi diatas bisa dinikmati oleh masyarakat lokal dan rakyat Indonesia secara signifikan, maka peluang investasi dan bisnis diharapkan menjadi skala prioritas bagi penduduk setempat dan pengusaha lokal, baru kepada pengusaha nasional dan global. Andaikan belum ada warga atau pengusaha daerah yang mampu, bisa diberi kesempatan kepada pengusaha nasional atau internasional yang bonafit, kredibel, dan baik. Ini penting agar berkah ekonominya tidak semua lari ke pusat atau luar negeri.

Program big push itu akan sukses, jika pemerintah bisa meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas kawasan Selat Karimata dengan daerah-daerah Indonesia lainnya maupun dengan negara-negara lain di dunia, baik melalui transportasi laut, darat maupun udara serta konektivitas digital. Infrastruktur (pelabuhan, bandara, jaringan jalan, telekomunikasi, listrik, air bersih, dan suplai energi) juga harus diperbaiki dan dibangun yang baru sesuai kebutuhan. Kapasitas dan etos kerja Sumber Daya Manusia setempat juga mesti ditingkatkan melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan yang benar, supaya mampu menggerakan program pembangunan dan ekonomi di atas. Karena jika dibandingkan dengan negara-negara maju dan emerging economies lainnya, fungsi intermediasi perbankan di Indonesia masih sangat rendah (suku bunga sangat tinggi dan persyaratan pinjam untuk sektor riil termasuk sektor kelautan masih terbilang cukup sulit), maka harus ada skim kredit perbankan khusus untuk pendanaan program PMD dan pembangunan wilayah terdepan. Misalnya kredit likuiditas di masa Orde Baru dengan penyempurnaan. Akhirnya, pemerintah dan pemerintah daerah harus bersinergi menciptakan iklim investasi yang kondusif, sehingga para investor serta pengusaha yang bonafit dan kredibel tertarik untuk menanamkan modal dan membangun ekonomi produktif kawasan Selat Karimata.

Dengan implementasi model pembangunan big push berbasis inovasi ramah lingkungan dan sosial budaya seperti di atas, maka kawasan Selat Karimata tidak hanya akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan baru serta mereduksi disparitas pembangunan antar wilayah, tetapi juga turut berkontribusi signifikan bagi terwujudnya Indonesia sebagai PMD dalam waktu dekat.

Sumber referensi :

http://www.pontianakpost.com/15-oktober-sail-selat-karimata

Danuri , Rokhmin. 2013. Membangun Bangsa : Kembalikan Kejayaan Negeri Bahari dan Pertanian Untuk Kemajuan & Kemakmuran Rakyat. Jakarta: Jagakarsa (Gerakan Nelayan Tani Indonesia).

Danuri, Rokmin, Ginting, Sapta Putra. 2013. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: Balai Pustaka.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Kabupaten Kayong Utara belum lama ini menggelar Rapat Paripurna dalam rangka Penyampaian Laporan Hasil Reses Masa Persidangan III tahun 2015 yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kayong Utara, Tajudin didampingi Wakil Ketua DPRD Alias yang berlangsung di Ruang Sidang DPRD tersebut dihadiri oleh seluruh Anggota DPRD Kabupaten Kayong Utara.

Berdasarkan Pasal 70 ayat (6) Peraturan DPRD Kabupaten Kayong Utara Nomor 1 Tahun 2015, bahwa Anggota DPRD secara perorangan atau kelompok wajib membuat laporan tertulis atas hasil pelaksanaan tugasnya pada masa reses yang disampaikan kepada Pimpinan DPRD pada Rapat Paripurna, maka pada Rapat Paripurna Reses Masa Persidangan III tahun 2015 tersebut anggota-anggota DPRD melalui masing-masing daerah pemilihannya telah menghimpun laporan kegiatan pelaksanaan reses, selanjutnya masing-masing DAPIL melaporkannya pada forum Rapat Paripurna.

Dalam penyampaian laporan hasil RESES, masing-masing DAPIL mengemukakan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat, baik di sektor pembangunan fisik maupun non fisik, yang meliputi bidang infrastruktur, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat. Penyampaian hasil RESES Masa Persidangan III Tahun 2015 diawali oleh DAPIL I Kecamatan Sukadana, yang dibacakan oleh H.M. Rawi Naim. Setelah itu, DAPIL II Kecamatan Pulau Maya dan Kepulauan Karimata yang dibacakan oleh Bukhori. Selanjutnya, DAPIL III Kecamatan Teluk Batang dan Seponti yang dibacakan oleh H. Effendi Ahmad, M.Pd.I dan terakhir pembacaan laporan dari DAPIL IV Kecamatan Simpang Hilir yang dibacakan oleh Ishak, ST.

Laporan Majikan

Nico adalah seorang pembantu. Suatu siang, dia menelpon majikannya di kantor.

Nico : “Hallo tuan, ini saya Nico.”
Majikan : “Iya, Co.  Ada apa telepon?”
Nico : “Ah tidak apa-apa tuan. Saya Cuma mau lapor sekalian minta maaf. Waktu saya setrika, baju tuan terbakar…”
Majikan : (yang sementara tengah sibuk di kantornya kemudian menjawab)”Sudahlah Co, biar saja! tidak apa-apa. Nanti saya beli yang baru…”
Nico : “Oh, tuan baik sekali, terima kasih!”
Majikan : “Hallo Co, sepertinya di situ ramai sekali. Terlalu banyak suara-suara di sebelahmu. Emang kamu ada di mana sekarang? Kamu telepon dari mana?”
Nico : “Saya di wartel, tuan…”
Majikan : “Kenapa tidak telpon dari rumah saja?”
Nico : “Tidak bisa tuan. Masalahnya, rumah juga ikut terbakar bersama baju tuan yang tadi saya laporkan…”
Majikan : “Apaaaaaaaa??!!”