HANYA MANUSIA – Hendra Blog

Sebuah Catatan dari Setitik Keniscayaan

Posts Tagged ‘Puisi’

My Pray….

Ketika kumohon pada Allah kekuatan, Dia memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat…
Ketika kumohon pada Allahkebijaksanaan, Dia memberiku masalah untuk kuatasi…
Ketika kumohon pada Allah kesejahteraan, Dia memberiku akal untuk berfikir…
Ketika kumohon pada Allah keberanian, Dia memberiku bahaya untuk kuhadapi…
Ketika kumohon pada Allah sebuah cinta, Dia memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong…
Ketika kumohon pada Allah untuk meringankan bebanku, Dia memberiku pundak yang kuat…
Ketika kumohon pada Allah bantuan, Dia memberiku kesempatan…

Aku tak pernah menerima yang kupinta…
tetapi…
Aku menerima segala yang kubutuhkan…
==== do’aku terjawab sudah ====

Mimpi dan Kenyataan Cinta

alone by hidden target Mimpi dan Kenyataan Cinta

Pernah lembut membelaiku
menghadirkan ceria dalam hidupku
pernah indah cahayamu
memberikan sinar dihatiku
tapi kini hanyalah cerita
cerita antara mimpi dan nyataku..
kau hilang bersama kenangan
cintaku melayang bersama dirimu
kau tinggalkan aku dalam
penantian usang…..
kau janjikan dulu
terkubur dalam dilema angan
tapi kini hanyalah cerita
cerita antara mimpi dan nyataku

ws rendra 61 AKHIR DI DUNIA BAGI SI BURUNG MERAK BUKAN BERARTI AKHIR DARI KARYA KARYA MONUMENTALNYAKetika melihat judul di atas, sejenak saya beretorika tentang sosok manusia yang satu ini.  Dari mulai mengenal beliau sejak saya SMP hingga kini sampai sekarang ketika di akhir hayatnyapun, terasa sejuk mendengar berbagai karya-karyanya selama ini. Entah apa ini hanya pengobatan perasaan saja bagi saya di tengah berbagai kemelut hidup yang terus  berproses tiada hentinya. Sejujurnya, terasa sekali kedamaian yang mendayu lewat goresan tinta yang diciptakan oleh Sang “Si Burung Merak”.  Dialah almarhum WS Rendra, seorang sastrawan dan budayawan sejati, seorang yang saya kagumi sampai-sampai saya bermimpi ingin memeluk beliau hingga akhir hayatnya. Hati ini menangis saat mendengar kabar bahwa sosok yang teguh dalam memegang prinsip dan visinya selama ini telah meninggalkan kita di dunia, saya berpikir bahwa pencapaian karya-karyanya akan berakhir pula. Dan ternyata tidak!!! Benar-benar seorang manusia yang monumental, begitu pemikiran saya. Di akhir hayatpun, beliau masih sempat menulis sebuah puisi yang mengenai kepasrahan menjelang kematian dengan mengingat Tuhan. Sungguh!!saya terkesima melihat realita ini. Bait demi bait puisi terakhirnya mengingatkan kita tentang arti kematian manusia untuk menghadap Sang Khalik, Sang Pencipta manusia di bumi ini. Menengok ke belakang jauh sebelum kematiannya, saya jadi teringat pesan moral yang disampaikan oleh beliau saat meraih sebuah penghargaan dalam acara penerimaan Achmad Bakrie Award tahun 2006 silam. Beliau mengatakan dalam sebuah kalimat subtansial dengan logat jawanya, “Maning ing kahanan, nggayuh karsaning Hyang Widhi” yang artinya kurang lebih: “masuk ke dalam kontekstualitas, meraih kehendak Allah“.  Bisa diinterpretasikan bahwa untuk masuk ke dalam kontekstualitas itu, prepare-nya adalah kepedulian (rewes) dan cinta kasih (katresnan). Di situ diajarkan bahwa seharusnya antara das sollen dan das sein disadari betul oleh setiap manusia dalam landasan hubungannya dengan manusia yang lain berdasarkan konteks emansipasi individu.  Emansipasi individu di sini yang berarti peduli akan kesetaraan hak hukum, hak sosial, dan hak politik antar sesama manusia harus dengan kesadaran bahwa kekuasaan modal, distribusi, dan energi tidak boleh dimonopoli oleh satu/pihak lain dengan kebebasan yang romantis dan cengeng karena itu akan menganggu kemaslahatan orang banyak. Begitulah pemikirannya yang sampai dengan detik ini masih selalu terngiang ketika saya terjatuh sekalipun dalam kerasnya dialektika hidup dan perasaan. Terkait dengan puisinya sesaat menjelang sakaratul maut, saya akan mempersembahkan puisi monumentalnya untuk teman-teman di blog ini yang mungkin belum mendengar atau membacanya. Berikut di bawah ini:

TUHAN, AKU CINTA PADA-MU

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengen makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta pada-Mu

By:  Rendra

31 July 2009 di RS Mitra Keluarga Depok

Selamat Jalan bapakku. Karya-karyamu akan selalu dikenang selamanya oleh negara ini. Semoga Tuhan memberikan tempat terindah untukmu di sana. Amin.