REGRETTER – the untold regret

June 16th, 2014 by irwansitinjak No comments »

Hey there,
Its been awhile, or I don’t know exactly when was the last time we blow each others mind. Its good to write again and I wish you could feel me out there, in another world and in another life. You know I try too hard then I give up too easily in the past. Sorry for not realized your attention. Here, today and tomorrow I will always remember our time. And this fiction dedicated to you.
Never thought you’re gone so fast.

monet-abstract

Prak!
06.00 a.m terpampang di ponsel dan aku hanya bisa membantingnya di tempat tidur. Meskipun aku tahu sudah sebulan lebih seharusnya alarm di smartphone itu harus ku ganti jamnya, tapi aku tidak pernah menggantinya. Kini aku tidak perlu bangun pagi. Kini aku tidak perlu bergegas mengejar kuliah pagi, dan tak perlu menggerutu dini hari. Aku adalah mahasiswa semester akhir yang telah menyelesaikan semua mata kuliahku tanpa cela. Tidak ada satu mata kuliahpun yang berlabel nilai C. Ya, semua dosen pikir aku cukup pintar, padahal aku hanya cukup mengikuti rule setiap dosen. Dan sekarang, final paper sudah ku anggurin lebih dari sebulan. “Analisa semiotika terhadap komunikasi antar pribadi ayah dan anak dalam psikologi keluarga” Kata-kata itu adalah judul final paperku yang aku sendiri tidak tahu mengapa penelitianku berkiblat ke komunikasi antar pribadi. Ntah apa alasannya, aku juga tidak paham. Kadang, kau pikir kau mengerti dirimu sendiri, padahal di beberapa point kau malah sedang mencoba mengerti dirimu dan bahkan ketika kau mulai mengerti, kau ragu tentang siapa sebenarnya dirimu. Mungkin itu yang sedang menimpaku. Aku pun belum mengerti kenapa karya ilmiah yang menjadi kunci gelar sarjanaku sudah saban hari terbengkalai, sama seperti sepatu converseku yang tak kunjung jua dicuci. Bedanya sepatu itu sudah bertahun-tahun tak dicuci, tapi aku tak berharap sang skripsi mengijak usia tahunan. Bagiku itu ironi.

Aku Maxwel, orang-orang memanggilku Max dan nama Max cukup commonly used utk orang-orang yang bernama Maxwel, namun sudahlah. Itu tak mengapa, asal tidak dipanggil Paul, seperti yang dilakukan ibuku. Begonya, karena dia berharap ada seseorang seperti Paul McCartney, personil band kesukaannya The Beatles dikeluarga kami. Ya, karena hanya ada aku laki-laki di rumah.

I had single parent. And its mom. Namun, dia telah menghadap sang Pencipta setahun lalu. Sudahlah, aku tidak mau mengungkapkan detailnya mengapa karena itu cukup menyayat jiwa dan seluruh logika serta imajinasiku. Aku selalu diajarkan untuk mandiri sejak kecil oleh Mom. Sejak kepergian Mom, aku mencoba kerja part time sebagai photographer lepas untuk beberapa media online. Hasilnya cukup untuk membiayai sewa kamarku. Aku tidak tinggal di bersama keluarga sejak kuliah. Aku mendapat beasiswa di Princeton sedangkan Mom tinggal di Loiseland. Butuh 3 jam lewat jalur udara.

*****

Famous-Cafe-Terrace-at-Night-by-font-b-Van-b-font-font-b-Gogh-b-font

Malam ini aku akan perform untuk pertama kali di Victoria Café & Gallery. Sejak sepinya orderan photo, aku berusaha mencari pekerjaan lain sambil memikirkan nasib final paperku yang sama sekali enggan ku sentuh. Lucky me, teman kampusku Ricky merekomendasikanku pada sang owner café yang tak lain adalah ayah Ricky untuk live acustic setiap Jumat sampai Sabtu. Walaupun harus perform dan menghibur pengunjung sampai tengah malam, Harry, begitu aku menyapa ayah Ricky, telah membuat kesepakatan soal fee dan nilainya sedikit lebih banyak ketimbang sebagai photographer lepas.
Aku cukup mahir memainkan gitar, dan aku tahu Ricky juga. Kadang aku mengajak dia untuk berduet. Di sini selain perform aku harus bersedia menghibur dengan mencoba menyanyikan lagu permintaan pelanggan atau bahkan bernyanyi bersama mereka.It was great to sing along with different kind of people every nite.

**

Sebulan sudah aku menjadi penghibur di Victoria,itu berarti umur final paperku juga sudah bertambah sebulan tanpa noda baru dariku. Aku tahu aku seharusnya tidak begitu, tapi aku masih tidak tahu mengapa. Bahkan, bodohnya sekarang aku selalu bangun jam 1 siang and doing nothing after that. I’m a zombie and I’m alive.

**

Clap clap clap clap!
Riakkan tepuk tangan pengunjung Café termehag yang pernah kudengar sejauh ini. Ini disebabkan oleh seorang wanita yang kuiringi saat bernyanyi. Sepertinya dia sedikit mabuk, sesaat sebelum memintaku memainkan irama feeling good-nya nina simone, dia menyempatkan memberikan speech. “You only live once, so enjoy every single of your life. Remember, heartbreak cant stop you to enjoy life,” teriaknya kemudian dia bernyanyi sambil menari robot. Well, walaupun lagu dan tariannya tidak seirama, dia kelihatan lucu dan menghibur. Apalagi wanita berparas elok itu mengajak semua pengunjung untuk bernyanyi bersama. Sepertinya dia baru diputusin kekasihnya atau mungkin dia yang memutuskan, who knew?!

Its already 12 in the mid nite and its time for closing speech as always. Meskipun pengunjung masih belum sepi, tapi aku cukup lelah dan uncle Harry sangat baik. Dia tidak pernah memaksaku untuk perform lebih lama.

Hey younh man, may I have one more song,” sapa seorang pria tegap bermata tajam.
“Sorry sir, I’m a lil bit unwell basicly, tomorrow I’ll give you more than 1 song before 12 am,” balasku.
“Ku mohon, satu lagu saja,” ujarnya datar.
Sepertinya pria ini mabuk dan aku tidak sukak tatapannya. Tanpa ragu aku hanya membalas dengan senyum dan mencoba berlalu pelan sambil mematikan mic ku.
Hey, young man I’m begging you. If you cant sing just play that guitar then I’ll sing and im not a drunk man as you thought,”bisiknya sambil mengikuti dari belakang.
Dari mana dia tahu aku berpikir dia sedang mabuk. Ok, memang aku berpikir sepertinya dia sedang mabuk. Senyumnya membuatku cukup simpati.
But you have to promise me just one song or I’ll get mad,” kataku seraya membuat kesepakatan.
Sure thing,” balasnya cepat.
What kind of song sir?” tanyaku
Let It Be from The Beatles,” ungkapnya.

Oh shit, this man is so old fashion. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka lagu ini. Terlalu sering dinyanyikan banyak orang. Ntahlah, mungkin pria ini juga sedang terkena sindrom gagal moved on seperti banyak pengunjung lain. Aku juga tidak terlalu hafal liriknya, tapi untuk ritme alunan musik aku masih paham karena lagu ini is a kind of another general song for me.

** When I find myself in times of trouble
Mother Mary comes to me
Speaking words of wisdom, let it be
And in my hour of darkness
She is standing right in front of me
Speaking words of wisdom, let it be
Let it be, let it be
Let it be, let it be
Whisper words of wisdom, let it be

And when the broken hearted people
Living in the world agree
There will be an answer, let it be
For though they may be parted
There is still a chance that they will see
There will be an answer, let it be
Let it be, let it be
Let it be, let it be
Yeah there will be an answer, let it be
Let it be, let it be
Let it be, let it be
Whisper words of wisdom, let it be

Let it be, let it be
Ah let it be, yeah let it be
Whisper words of wisdom, let it be
And when the night is cloudy
There is still a light that shines on me
Shine on until tomorrow, let it be
I wake up to the sound of music,
Mother Mary comes to me
Speaking words of wisdom, let it be
Yeah let it be, let it be
Let it be, yeah let it be
Oh there will be an answer, let it be
Let it be, let it be
Let it be, yeah let it be
Oh there will be an answer, let it be
Let it be, let it be
Ah let it be, yeah let it be
Whisper words of wisdom, let it b
e **

Entah monster apa yang merasukiku, aku sungguh menikmati musikku dan suara si pria yang kupikir sedang mabuk ini. I know now he is not drunk. After the last reff, I see he is crying. Did I made a mistake atau dia terlalu menghayati setiap lirik.

Are you ok sir?” tanyaku pelan.
“Tidak kenapa,” jawabnya sambil tersenyum dan menyalam tanganku.
Next time, we should sing another Beatles’ song,” katanya.
“Ok,” balasku singkat sambil berberes.
“Hey young man, thanks. You are great than I thought,”ucapnya tersenyum sambil menuju pintu exit sendiri.
“Jadi dia datang sendiri,” gumamku dalam hati.

**

“Max, bagaimana perkembangan penelitianmu untuk final paper? Mohon segera kabari saya.” Siang ini terbangun hanya karena dosen mengirim pesan singkat tersebut sebanyak 3 kali dengan pesan yang sama. Damn! Aku langsung mencari akal untuk membalas, namun aku tak tahu harus beralibi apa. Sudahlah, tidak usah dibalas.
**
Hari ini hari sabtu, dan malam ini aku akan perform. Aku sudah mengkonfirmasi Harry bahwa hari ini aku akan perform sampai jam 12.30 am. Jam 1 aku dan Ricky akan menghadiri beer party Janet, pacar Ricky yang telah menyelesaikan final testnya.

Kali ini aku melihat a man that I thouth drunk last nite duduk di meja depan mini stage, tempat aku perform. Dan dia duduk sendiri dengan Heineken small size di meja nya.

“Selamat malam semua, tonite is a special nite not just because its Saturday nite, malam ini malam special karena saya dan kamu semua adalah special. Malam ini, siapapun yang ingin bernyanyi di depan sangat dipersilahkan dan kita akan sing along together. Enjoy this place and anjoy the rhythem of the guitar,” sapaku kepada pengunjung café malam ini.

Lagu pertama yang kubawakan adalah lagu Swedish House Mafia, Don’t You Worry Child. Semalaman aku mencoba belajar mengakustikan lagu ini dengan nada yang pas tanpa harus memasukkan high note sehingga terkesan out of control. Al hasil, banyak yang ikut bernyanyi bersamaku. Selama memainkan lagu ini, aku meihat pria yang bernyayi bersamaku semalam selalu menatapku tanpa melirik sisi lain. Tatapannya kosong dan lirih. Seperti air danau yang tenang tanpa angin yang membentuk ombak kecil. Namun, kelihatan sangat bermakna dan tulus. Sungguh kelihgatan behitu penuh arti yang indah.

Namun, aku tak menghiraukannya karena tugas utamaku adalah menghibur pengunjung, dan biasanya, setiap malam minggu, Harry selalu membayarku lebih karena menurutnya pengunjung di setiap malam minggu lebih banyak dan dia pikir itu karena permainan gitarku. Ntahlah, menurutku bukan karena aku, tapi aku bersyukur bisa dibayar lebih.

**

Jam menunjukkan pukul 12.30 dan aku mengentikan permainan gitarku.
Bye everybody and have a good nite,” tutupku.
Aku dan Ricky bergegas keluar café menuju Galaxy Club yang hanya beberapa blok dari Victoria Café untuk acara beer partyJanet. Aku terkejut melihat a last nite I thought he was a drunk man sudah berdiri di depan Victoria Café.
Young man, where do you go,” tanyanya.
Galaxy Club, there’s a lil party. Actually his girlf friend party,” balasku sambil menunjuk Ricky yang tepat berdiri di sebalahku.
“Boleh berbicara sebentar,”
Sure, ngobrol aja langsung pak,”
Not here,”
This man is freak but I don’t know I think he is a good man.
Sorry sir, I cant, see you next time,” aku berlaju meninggalkannya tanpa menoleh.
“Hey, my name is Thomas,” teriaknya saat aku berjalan tergesa-gesa bersama Ricky.
Max, he said that his name is Thomas, what is that mean. You don’t know him,” Tanya Ricky.
I don’t know, maybe he is a man from another space,” balasnya sambil tertawa.

**

Sunday, aku datang 10 pm. 60 menit lebih lama, dan aku tahu Harry sedikit kesal karena aku telat sejam. Aku langsung menghidupkan sound dan mengeluarkan gitar. Sebelum membawakan lagu pertama aku melihat lagi pria yang menyebut namanya Thomas duduk di meja yang sama seperti malam sebelumnya. Kali ini tatapannya sangat sayu dengan senyuman yang tulus. Kali ini aku benar-benar penasaran dan berencana akan berbicara kepadanya setelah aku selesai perform.
Masih pukul 11pm aku sudah melihat Thomas menuju pintu exit bersama wanita paruh baya. Ya, mereka seperti seumuran, mungkin itu istrinya. “Besok malam saja aku berbicara kepadanya,” ucapku dalam hati.
Selesai perform aku melihat satu kotak berwarna merah tua dengan motif ukiran eropa kuno. Mungkin berukuran 30 kali 20 cm. Dan itu berada di meja Thomas duduk tadi. Apa mungkin kotak ini milik Thomas. Ya, ini pasti milik dia, sebab tidak ada orang lain yang duduk di meja ini. Dia pasti lupa. Aku mengangkat kotak tersebut dan meletakkannya di atas rak buku hias di samping mini stage.
“Besok akan kukembalikan,” pikirku.

**

Sudah dua malam Thomas tidak menampakkan wujudnya. Aku pun semakin bertanya. Apakah dia sedang sakit? Seingatku, malam terakhir aku melihatnya dia berjalan tertatih saat menuju pintu keluar bersama wanita paruh baya. Mungkin dia memang sedang sakit.
Dan selama perform, aku kehilangan fokus. Aku tidak menerima permintaan lagu dari pengunjung dan aku sering menatap kotak berwarna coklat yang ketinggalan di meja Thomas.
“Donna, apa ada pengunjung yang menanyakan soal kotak merah itu?” tanyaku pada Donna, sang waitress.
“Tidak, malah aku pikir itu hiasan baru yang sengaja diletakklan di atas rak buku,” balasnya.
Memang kelihatan bagus dan match dengan rak buku tapi aku yakin ini punya Thomas.
Selesai perform, aku semakin penasaran dengan kotak tua itu dan tanpa ragu aku membawanya pulang.

**

Aneh, kotak ini memiliki kombinasi namun tidak berfungsi. Dengan gampangnya aku membuka kotak tersebut sesampainya aku di kamar sewaku.
Barang pertama yang kudapati adalah kaset album Let It Be nya The Beatles dengan sign yang tak asing bagiku tertuang di depan cover album. Aku cukup familiar dengan tanda tangan ini, tapi aku menghiraukan pikiran sepintasku dan memperhatikan barang-barang lain.
Tak ada lagi barang di dalam kotak tersebut selain beberapa lembar kertas denhan lambang-lambang asuransi yang tidak ku hubris serta selembar kertas yang telah dilipat dua. Dengan penasaran aku membukanya dan aku melihat sekumpulan tulisan yang menyatu yang aku yakini adalah sebuah pesan. Ini adalah sebuah surat. Tanpa bersalag dan penasaran aku membuka dan membacanya.

Dear Maxwel,
Kau sudah besar sekarang, seingatku kau dulu masih 2 tahun dan aku masih bisa mengendongmu. Kau adalah jagoanku kala itu dan aku yakin kau tetap jagoanku hingga kini.

Ada beberapa hal yang tak bisa dijelaskan dengan perkataan karena ketidakberdayaan. Aku sangat senang melihatmu sekarang. Kau bisa memainkan musik dan kau sudah mandiri.

Kau ingat saat kita menyanyikan lagu let it be bersama, itu adalah hari yang paling membahagiakan seumur hidupku. Itu juga merupakan lagu kesukaan ibumu. Kau lihat album the beatles yang ada bersama surat ini. Itu adalah tanda tangan ibumu di dalamnya.

Hey, little max. Aku sangat sedih menuliskan surat ini. Aku ingin meluapkan semuanya kepadamu secara langsung namun aku tak bisa. Ada banyak hal yang belum kau mengerti namun seharusnya memang tak perlu kau mengerti. Aku dan Ibumu berpisah secara baik-baik karena memang kami tak seharusnya bersama. Setelah kau berumur 2 tahun, kami memutuskan untuk berpisah dan sudah berkomintmen untuk bergantian merawatmu. Namun, semuanya berbeda setelah aku menikah lagi. Aku menikah dengan wanita yang sangat kucintai. Dia sama seperti ibumu, sangat lembut dan pengasih. Tapi, Tuhan tidak mengijinkannya memiliki anak seumur hidupnya. Dia keras kepala, dia sangat yakin bisa memiliki anak sehingga dia tidak bersedia mengadopsi anak.
Max, aku sangat menyayangimu. Tak ada penyesalan terbesar dalam hidupku selain hidup bersamamu. Maafkan aku. Banyak alasan yang bisa kusebutkan namun aku tahu, itu tidak akan bisa mengobati hatimu.

Selesaikan tesismu Max, kemarin aku bertemu dengan Mr.Boston dosenmu. Dia adalah rekan kerjaku, dan aku bangga mendengar prestasimu di kampus. Selamat atas beasiswamu. Aku tahu akulah alasan mengapa thesismu terhenti sesaat. Dan aku menyalahkan diriku sendiri atas hal itu. Bagaimana mungkin, kau meneliti sebuah komunikasi antar pribadi antara ayah dan anak jika aku tidak pernah berkomunikasi denganmu secara langsung. Tapi ingatlah, komunikasi tak harus berbicara. Hati hanya bisa berkomunikasi dengan hati. Aku menyayanimu Max.

Besok aku akan menyumbangkan ginjalku kepada isteriku, lagi pula aku sudah mengidap penyakit brainplague. Kau tahu, penyakit kemunduran otak akibat serangan virus. Beberapa dokter mengatakan ada obatnya, tapi aku tidak yakin, karena mereka memaksaku untuk kemoterapi namun aku menolak. Aku tahu penyakit itu langka dan mematikan. Jadi lebih baik ada kepastian istriku lebih lama hidup daripada aku yang bisa dihitung jari harinya untuk hidup.
My Little Max, Aku sangat menyayangimu.

Aku berharap kau mau memaafkanku. Oh ya, kau ingat buku-buku yang kau dapat disetiap ulangtahunmu sejak kau masuk senior high school. Itu adalah hadiah dariku. Heros, Charlie, The Notepad, dan sebut saja. Itu semua adalah buku kesukaanku dan aku berharap kau menyukainya juga, selain ceritanya bagus, ada nilai baik yang boleh kita tiru. Aku sedih mendengar kepergian ibumu. Kamu jangan khawatir soal biaya. Aku sudah memasukkanmu ke dalam asuransi sejak kau kecil. Seluruh kelengkapan dokumen ada bersama kotak ini dan kau boleh menghubungi no telp yang ada di dalamnya. Aku tahu ini tidak bisa membalas semua penyesalanku.

Max, I love you my son.

Thomas Gimbell Dowres
Your beloved father

**

I don’t know, these tears are overflowing. I think I know but sometimes never knowing why. Setelah membaca surat itu, aku masih bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa? Why you leave me ? why you leave mom? Why you said you love me but you’re not there everytime I call a dad? Why? Why? Why?

**

Jumat dan Sabtu aku tidak hadir ke Victoria. Aku bagai mayat hidup di kamar. Bahkan pizza yang sudah mulai membusuk tak tergubris olehku. Aku ingin bertemu Thomas, tapi sesaat ada niat untuk tidak bertemu yang semakin besar. Aku begitu menyalahkannya, namun disaat bersamaan ada rasa sayang yang harus kulampiaskan kepadanya.
Aku seperti orang gila yang hanya bisa terbaring di ranjang.

**
Max, open the door,” teriak Ricky.
Aku mendengar teriakkannya namun kakiku tak hayal seperti batu.
Max, whats wrong men?” We are worry about you.
Prakkkk! Aku terkejut sontak mendengar dobrakan Ricky. Dia berhasil membuka pintu dengan paksa.
“Max, kamu kenapa? Kamu sadar?”
Dengan lirih dan lambat aku menjawab “I’m okay men.”

**

Hari ini hari Minggu dan aku harus perform karena hari ini adalah hari ulang tahun Harry. Tak ada staff yang ingin mengecewakannya. Aku pun tak yakin apakah aku bisa perform saat hati dan pikiranku berlayar entah kemana.
“Uncle harry, I cant perform tonite and im really sorry,” kataku dengan nada rendah dan wajah yang pucat.
“Kamu sakit?, wajahmu keliahtan pucat, istirahat saja ya. Ricky, antar Max pulang,” ujar Uncle Harry.

Sesaat menuju pintu exit, seorang wanita paruh baya yang seingatku bersama Thomas beberapa hari yang lalu datang menghampiriku.
“Max,” ujarnya.
“Ya,” jawabku sontak.
Dia tersenyum iklhas dan menangis sambil memberikanku sebuah foto.
Foto Thomas dengan senyum lepas dan badan yang gagah bak pahlawan.
“Dia telah pergi dan dia sangat mencintaimu lebih dari yang kau tahu, aku tak tahan lagi harus menangis setiap hari. Aku harus pergi,” ujarnya dan bergegas pergi.

Aku tertunduk lemas, kaku, dan mati rasa.

images

** FIN **


Kadang kau tak menyadari, bahwa bagian terbaik dalam hidupmu mungkin saja bersama orang yang tak kau harapkan di waktu yang tak kau perkirakan. Sometimes you don’t have to understand, because there’s a lot of thing we canot understand.

Extra Short Story: Stop Complaining!

August 5th, 2013 by irwansitinjak 1 comment »

It’s more than a year ago, I decided to choose my carrier path in tv industry as broadcaster. But, life is a mistery, sometimes, life will make it thru our plan. Buts sometimes plan should disappear.

Lebih dari sebulan, aku sudah menapakkan kaki di industry yang sangat bertolak belakang dengan industry kreatif. Masih sangat baru memang, namun entah kenapa, ada rasa di dalam hati yang tidak bisa dideskripsikan, bak berkata “kamu akan hidup di bidang ini”. Setelah hampir sebulan bekerja di salah satu tv swasta lewat jalur program, aku beralih haluan ke industry bank.

Ketika selesai in class training di bank dan masuk ke cabank, beberapa orang-orang memang sering bertanya. Kamu kok keluar dari tv, kamu kok banting stir dari tv ke bank, kamu tahu gak, aku pengen banget kerja di media, dan sebagainya-sebagainya.

Ya, begitulah. Aku juga tidak tahu besok aku akan ketemu siapa, besok aku akan tidur jam berapa, besok aku makan dimana. Aku memang berencana, aku mengatur kakiku melangakah kemana, aku melihat apa, aku memutuskan untuk bangun jam berapa. But, who knows what could happen?

Sekarang, aku memutuskan untuk bahagia dengan apa yang ada padaku saat ini. Pekerjaan, teman, handphone, laptop, kamar kosan, kemeja-kemeja yang mulai rajin dipakai, and another stuffs. Aku memutuskan untuk bahagia dengan hidup yang sekarang. Bersyukur lebih banyak!

Oh, ya. Kemarin, aku ketemu dengan teman-teman seangkatanku dulu semasa kerja di tv. Ya, meskipun setengah dari angkatanku memilih untuk keluar dari tv tersebut, tapi kita masih aktif berkomunikasi. Dan aku besyukur buat waktu yang menghadirkan raga kami bersama untuk sekedar bersilaturahmi , buka puasa bareng, dan ya seperti biasa, menggosipkan hal-hal bodoh yang tak ada matinya, dan yang tak kalah hebatnya, meneriakkan yel-yel yg dulu sering kami lakukan di kelas :p

Ahhh, life is too beautiful. And life is too blessed to complain. Have a blessed life people 

 

Team IBD

More Than A ‘Message’ From Mas Pepeng

April 21st, 2013 by irwansitinjak 2 comments »

Mas_Pepeng_by_elangkarosingo

 

Dear digital diary!

Sudah berapa lama kamu saya abaikan?

Hahahha, jangan bertanya kenapa ya? Kamu pasti akan bosan mendengar alasannya.

Hari ini aku punya sedikit cerita untukmu. Jangan salahkan aku jika aku bercerita hanya pada saat aku ada waktu dan ingin bercerita padamu. Cukup berikan dimensimu padaku, maka aku akan menuangkannya ke dalam susunan kata yang bisa kau cerna. Kamu siap? Baiklah, siap atau tidak siap aku tetap akan bercerita.

Kamu tahu, belakangan ini aku merasa sepertinya sedang masuk ke dalam fase gundah gulana. Aku juga tidak paham betul bagaimana mendefenisikan keadaan ini. Mungkin ini juga bagian dari fase gundah gulana itu. Ini bukan penyakit, karena dia tidak membuatku terluka. Menderita? Mungkin, tapi tidak semenderita orang-orang yang sedang ditimpa musibah atau ada dalam tragedi kehidupan yang menyakitkan.

Sepulang kerja, aku selalu berpikir dengan sendirinya apakah aku sedang ada dalam sebuah mimpi yang berkepanjangan dan tidak tahu kapan terbangun. I just don’t know, sometimes I think I don’t feel my own life. Sudah hampir tepat setahun aku berada di Ibu Kota. Sudah menjalani tiga perusahaan (teman-temanku memanggilku kutu loncat krn tidak pernah betah bekerja di satu perusahaan). Berpindah – pindah kos tiga kali, dan sekarang mempertanyakan diri. Apa yang sudah aku dapat selepas menyelesaikan studi Sarjanaku . Bekerja? Sudah. Bahagia? Ntahlah. Mungkinkah aku mencari kebahagiaan. Well, semua orang mencari itu. Berarti aku masih normal. Masih seperti manusia kebanyakan. I just can’t stop thinking so damn much.

Kemarin aku pulang kerja, dan masih berpusing-pusing ria, serta bertanya-tanya dalam hati. Apakah aku bahagia dengan hidupku sekarang? Apakah aku akan bahagia dengan pekerjaanku nantinya? Apakah aku akan mempunyai waktu untuk diriku sendiri? Bahkan ketika aku berdoa, aku malah lebih banyak bertanya ketimbang bersyukur. Oh, poor me!

“Tak tik tuk, pletak pletik,” aku mengutak-ngatik smartphone ku sambil tiduran sepulang kerja. Bosan! Lalu setiba saja aku mengetik namaku di search engine, GOOGLE. Keyword “Irwan Sitinjak” lalu search…!

Oke, halaman pertama, ada profil facebook, twitter, linked, my space, kompasiana, Oh my god! Semua social media. Fufufufu…

Tiba-tiba ketemu nama “pepeng” dan ada namuku di dashboard judul. Curious!  Kenapa ada namuku di blognya mas pepeng. Dengan ligat, aku membuka blog pribadinya dan aku teringat!

Dua tahun yang lalu, mas pepeng pernah jadi “Tokoh Kita” di web beswan djarum (fyi, saya adalah beswan djarum angkatan 26, incase you guys wondering) dan saya sebagai beswan djarum diberi kesempatan untuk bertanya. Aku sebenarnya tidak terlalu ingat secara menyeluruh kemarin bertanya apa saja. Tapi lebih ke arah self courage. Bagaimana mas pepeng bisa menyelesaikan studi Masternya dalam keadaan sakit. Bagaimana dia masih bisa bersyukur di tengah keadaan yang sangat tidak menyenangkan. Bagaimana dia bisa berjuang untuk meraih mimpinya ketika keadaan diri sendiri kelihatan tidak bisa berlari untuk mengenggap mimpi.  Bagaimana cara meredam kekecewaan? Terutama kekecewaan terhadap diri sendiri. Oh ya, apa kalian masih mengenal mas Pepeng? Sang host kuis era 90-an “Jareeee jareeee” ok, jika kau anak jaman sekarang dan belum kenal, silahkan googling terlebih dahulu :p

Berikut kutipan jawaban mas pepeng yang aku copy dari blog beliau.

 

Irwan, terima kasih masih ingat jareee jareeee….

Program itu dimulai tahun 1992, pada HUT RCTI yang ke-3, dan berakhir pada tahun 2001. Genap 9 tahun saya jadi pembawa acara Jari Jari.

Kekecewaan selalu jadi bagian dari kehidupan manusia. Masalahnya, apakah kita mampu menebusnya dengan tindakan ksatria? Mengakui bahwa kekecewaan adalah sebuah proses kemenangan yang ter­tunda, kemudian kita bangkit untuk mulai mencobanya.

Protes kepada kenyataan tidak ada artinya. Hanya menambah beban pada jiwa kita yang bisa berdampak langsung membangkitkan watak manusia pada umumnya, yaitu, selalu mencari kesalahan atau menyalahkan apapun di luar dirinya agar bisa memuaskan ketidak mampuannya menyelesaikan masalah.

Lebih parah lagi jika kita protes kepada Allah. Apa hak kita protes kepada SANG MAHA KUASA? Misal kita protes dengan pertanyaan: “Oh GOD, why me?” Lalu bayangkan jika Allah menjawab: “Why NOT?” Ilustrasi di atas saya uraikan untuk pengantar sebuah pertanyaan yang harus kita jawab dengan JUJUR dan penuh NYALI (courage):

“Akankah selesai persoalan, kekecewaan dan semua yang terkait jika kita hanya protes dan marah saja?”

Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

1. Apakah kita akan mengejar semua yang kita citakan dengan bangkit dan merebutnya kembali?.

2. Atau, cukup hanya dengan protes, marah menggerutu tanpa penyelesaian? Jika yang kita pilih yang nomor 2 berarti kita sudah menjadi korban atas persoalan kita sendiri.

Sangat sayang jika dunia ini diisi dengan karakter manusia nomor 2 karena menyerahkan dirinya menjadi korban dan dikontrol oleh hal-hal yang merugikan. Manusia jenis ini bisa dikategorikan sebagai manusia “Learned helplessness” (manusia yang belajar untuk tidak berdaya)

Untuk Anda Irwan, saya berdo’a semoga menjadi orang yang tak kenal putus asa. Penuh semangat seperti saat anda pertama kali belajar sepeda.

Jatuh bangun, jatuh lagi. Bangun lagi sampai akhirnya Anda termangu merasakan keberhasilan naik sepeda dengan keseimbangan prima. Suatu hal yang Anda cita-citakan dengan teguh saat belajar dan ingin mahir bersepeda. Benarkah demikian?

Satu hal yang menakjubkan saat kita anak-anak adalah kemampuan kita bangkit dan melenting

setinggi-tingginya (tanpa rasa kecewa, apalagi putus asa sedikitpun). Hal itulah yang sangat kita butuhkan saat kita ingin berhasil meraih cita

Irwan selamat berkarya. Sukses, sehat dan banyak rejeki untuk Anda

Salam untuk keluarga….

 

Saya bukan tipe melankolis, tapi ketika membaca itu kembali di saat saya berada dalam low courage, saya cukup tersentuh.

Saya membaca berulang-ulang part ini

“Untuk Anda Irwan, saya berdo’a semoga menjadi orang yang tak kenal putus asa. Penuh semangat

seperti saat anda pertama kali belajar sepeda.” Dan “Irwan selamat berkarya. Sukses, sehat dan banyak rejeki untuk Anda”

karena pesan itu khusus untuk saya, seakan ia tahu bahwa saya memang sedang dihadapkan pada fase kekecewaan yang besar. Thankyou mas Pepeng! You are blessed! Dan terima kasih buat dua buku hadiahnya :D

And for you guys who read this!

Keep your dream alive! Go catch your dream dan make it real! Never give up! DO good and be good!

 

ODB_220413

 

Mudaku !

December 10th, 2012 by irwansitinjak 3 comments »

Ku tiupkan asa nan gagah di atas egoku.

Aku terlena dengan keakuanku,

Melepas energiku, seluruh semangatku, dan kegilaanku.

Tak ku pungkiri kebodohanku,

Namun aku tetap berjalan

Karena ini adalah aku!

Biar saja dunia begitu dan begini

Aku tetap menerobos ketidaktahuanku,

dengan logika dan imajinasi yg aku sadari.

Aku sadari tidak beriringan secara seimbang.

Hingga, aku sendiri mulai melepaskan tanya.

Inikah mauku?

Benarkah aku sungguh2 seperti ini?

Mudaku,

Kaulah labilku

Mudaku

Kaulah perjuanganku

Mudaku,

Kaulah fase nikmatku

Namun, aku tak mau menjadi si bodoh akibat kelalaian mudaku.

Berdiri saat ini, memandang untaian sebuah hidup yg sedang dicipta.

Ini mudaku!

Awal sebuah metamorfosis. Kedewasaan akal.

Kematangan cita.

Kesempurnaan dari-Nya.

Aku dan mudaku!!

10 Des 2012

2.00 a.m

@irwanstinjak

images

Salam Benci – Fiksi Nyata

November 13th, 2012 by irwansitinjak 7 comments »

I don’t wanna be the one who scream loudly when theres a lot of stupid things happen in my world. Because I hate my self for that. Eventually feel so sorry for blaming my self. Its just like a routine undescribe thing. I call that “my idiot” before the party is over!

Kadang aku harus membenci aku..

Ting!
Dentingan lift berbunyi begitu nyaring, aku tiba di lantai 20 tempat rutinitasku terlampiaskan. 24 jam, bisa jadi, kadang bisa hanya  5 jam. Atau untuk ukuran ekstremnya bisa menjadi 4 x 24 jam. Itu rekor tertinggiku sampai saat ini berada di kantor dan berkutat dengan semua hal yang beraroma pekerjaan. Mungkin aku sendiri yang akan memecahkan rekor itu nantinya. But please Neptune! Not this time. Aku berjalan menuju mejaku dan kemudian langsung berhadapan dengan Post It berwarna kuning berjudul THINGS TO DO! Seketika itu aku bertanya, kapankah things to do ini hanya diisi satu kalimat idaman yang bertuliskan NOTHING? Kapan-kapan! Jawabku sendiri.

Hhhhhh..
Helaan nafas yg kurasa sangat bodoh ini menunjukkan aku harus segera melanjutkan pekerjaanku satu persatu. Oh salah, sekaligus saja. Satu persatu akan terasa sangat lama.

Tadaaaaaaaa….
Sudah malam, dan semua materi pekerjaan ini masih on progress. Andai saja aku bisa editing dengan software AVID, akan kukerjakan semua materi video itu, andai saja aku bisa editing grafis, akan ku selesaikan semua materi grafis-grafis ini. Andai saja aku punya suara yang cukup berat seperti kodok, aku sendiri yang dubbing, andai saja aku punya sedikit kuasa, aku sendiri yang menandatangani semua segala macam bentuk request form tanpa harus menunggu kehadiran atasan A , atasan B, dan semua orang yang terlalu penting ini. Sial! Aku terlalu banyak berandai dan itu menjerumuskanku ke dalam level emosi yang lebih tinggi.

STUPID!
Kalau semuanya dikerjakan oleh satu raga itu namanya ROBOT! Dan perusahaan ini tidak perlu membuat ruangan editing, grafis, dubbing, dan lain-lain. Aku yang berandai-andai, namun aku juga yang harus mematahkan pemikiran bodohku. Tapi, kadang aku sangat benci ketika aku harus menunggu terlalu lama divisi lain menyelesaikan pekerjaannya untuk kepentingan pekerjaanku.


Ah, rumit!
Dia bilang ini dinamika kerja, dia bilang ini flownya, dia bilang sistemnya salah, si dia dan si dia terlalu banyak berbicara. Dan aku hanya bisa marah dalam hati ketika semua proses pekerjaan ini sangat menyebalkan. Aku memang tidak seharusnya marah, tapi orang-orang disekitarku memaksaku untuk marah. Aku tidak seharusnya mengeluh, hei, i’m not complaining this fall!!

AHHHHHHHHHHHHHHHH!
AKU seharusnya membenci diriku karena terlalu !  sungguh terlalu!
Terlalu tidak bersyukur karena dulu, pekerjaan inilah yang aku inginkan. Terlalu berpikir sebegitu berat, padahal bisa saja semua diringankan oleh kepala dan hati yang positif!

Kadang aku memang harus membenci, membenci diriku sendiri dan melampiaskannya kepada satu aura lepas yang tak memiliki batas. Bisa jadi lewat tulisan, makian, teriakan, atau apapun yang bisa aku lakukan dengan waktu dan dimensi yang nyata pula.


Oh Venus, maafkan aku yang serba absurd. Mungkin sudah saatnya aku masuk ke dalam fase “ikutin alur, nikmati, dan bergerak perlahan” Aku harus punya filterku sendiri!


Sekian cerita yang tak ada ujungnya ini, oh ya, awal ceritanya juga random, silahkan mencerna dan berimaijnasi sendiri. Aku benci harus menciptakannya sendiri!

SALAM BENCI!


nshss