Kembalikan SUCI

July 10th, 2015 by johantectona

Halo dunia, halo peradaban..

Lama banget saya tidak membuka laman ini, ya begitulah manusia.. selalu punya alasan untuk mengkambing hitamkan kesibukan.

Saya sibuk, saya repot, hingga akhirnya saya jarang ngeblog. Alibi basi untuk menghapus rasa malas.

~~ sudah ya prolognya, sudah.

Jujur, saya ngeblog kali ini bukan karena saya galau seperti biasa, kali ini saya ngeblog karena saya tergelitik oleh sebuah pengumuman. Sebuah penguman untuk menyampaikan uneg – uneg.

Punya uneg-uneg tentang #SUCI5? Yuk, tulis ulasannya dan dapetin iPod Shuffle! #ReviewSUCI5

suci5

Meskipun di sana ada keterangan “dapetin iPod shuffle”, rasanya perlu dipertegas, tujuan saya bukan itu.

Tujuan saya adalah…

Alhamdulillah, sebagai anak muda yang haus akan hiburan cerdas, saya harus mengucapkan terima kasih kepada Kompas TV yang telah melahirkan Stand Up Comedy Indonesia atau yang lebih dikenal dengan SUCI. Tidak hanya melahirkan, Kompas TV juga telah berhasil dengan baik menumbuh kembangkan SUCI.

Jadi tujuan pertama saya adalah TERIMA KASIH KOMPAS TV.

Berikutnya, seperti halnya kehidupan yang normal, rasanya tak akan adil jika semua berjalan dengan baik, pasti.. pasti ada kekurangan yang harus diperbaiki. Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Namun, di SUCI 5 bukan hanya retak, gading – gading itu telah hilang entah ke mana.

Meskipun kata orang – orang saya tidak selucu Dodit atau Babe, namun saya sudah mengikuti dunia per-stand up an sejak zaman Raditya Dika Open Mic di Bober kafe Bandung, saya yang kebetulan waktu itu di Bandung menyempatkan hadir untuk melihat Kak Radit Stand Up, iya Kak Radit yang belum juga nikah itu. Semenjak saat itu, saya jadi penasaran tentang Stand Up Comedy. Seiring berjalannya waktu sampailah saya benar – benar terkejut karena teman saya Abdur masuk  menjadi finalis SUCI 4, dan semenjak saya tahu Abdur menjadi finalis, saya semakin penasaran tentang SUCI, kok bisa sih Abdur HA HA HA. Dan akibat dari rasa penasaran itu, saya selalu menyempatkan diri untuk membuka Youtube dan menonton video – video tentang Stand Up Comedy di sela – sela rutinitas pekerjaan, awalnya hanya video SUCI 4 yang terbaru, tetapi akhirnya saya pun menonton semua video SUCI yang ada di Youtube. Bahkan khusus SUCI 4 saya bela – belain hadir di Balai Kartini untuk melihat para komika open mic secara live.

Nah dengan berbekal selera humor ala kadarnya, modal nonton beberapa kali show di Balai Kartini, modal nonton video – video SUCI 1 sampai SUCI 4 + semua video SUCI 5 di Youtube saya berani menyimpulkan, SUCI 5 telah kehilangan “gading”.

Di SUCI 5 saya merasa kehilangan tajamnya kritik akan kondisi sosial yang sedang booming, di SUCI 5 saya tidak menemukan luapan – luapan cerdas yang memakili sebagian keresahan hati saya dan masyarakat soal pemerintah. Berbeda dengan SUCI sebelum – sebelumnya, banyak komika yang dengan lantang berani menyuarakan keresahan yang memang meresahkan. Bukan keresahan yang sengaja dibuat – buat untuk menjadi materi yang terkesan maksa.

Saya tahu, di setiap minggunya komika harus membuat materi baru dengan tema yang telah ditentukan, tetapi ya itu.. entah kenapa, olahan materi para komika di SUCI 5 kurang bernas. Banyak materi yang menurut hemat selera saya terlalu garing dan kurang berbobot.

Bukankah seharusnya Stand Up tidak hanya menghibur namun juga menyampaikan keresahan agar didengar oleh pihak yang seharusnya mendengar? (saya sotoy dengan anggapan ini..)

Atau.. atau karena SUCI sponsornya sudah banyak maka ada hal – hal yang harus melunak sesuai kesepakatan?

Atau jangan – jangan SUCI sudah mulai kehilangan generasi penerus? SUCI kesulitan mencari komika cerdas nan berani untuk dibawa ke panggung?

Atau, mungkinkah ada kesalahan dalam menentukan tema di setiap minggunya sehingga para komika kurang bisa mengeksplore materinya dengan bebas?

Saya berharap hilangnya “gading” ini jangan terulang lagi di SUCI 6, SUCI harus kembali. Kita masih sangat butuh hiburan – hiburan cerdas.

Jadi tujuan kedua saya adalah, kembalikanlah SUCI, perbaiki semua kekurangan yang ada di SUCI 5 dan kembalilah dengan SUCI 6 yang WOW.

Ehehe, ambil nafas dulu ya.. hap happp biar gemesnya sedikit mencair.

Ok kembali lagi, menjadi komentator itu memang enak, hanya modal sedikit riset ( kalau mau ) dan bumbu – bumbu pengalaman sudah bisa meluncurkan anak panah untuk menyerang membabi buta. Karena jarang berfikir panjang dan keseringan ceplas – ceplos, menjadi komentator itu bisa saja melukai tanpa sengaja.

Tetapi jika komentator dipaksa bercermin dengan pertanyaan seperti ini, memangnya kamu berani open mic? kok berani – beraninya menyampaikan uneg – uneg sevulgar itu? saya akan jawab, saya berani dan tentu saja saya bisa namun soal lucu entahlah, karena saya berkeyakinan “semua pasti akan lucu pada waktunya”.

Maka tujuan ketiga saya adalah meminta maaf, mohon maaf kepada pihak – pihak yang mungkin tersinggung dengan uneg- uneg saya ini, saya hanyalah penggemar SUCI yang mencoba menjadi komentator. Kehilangan itu tidak enak, dan inilah yang coba saya sampaikan.

Terima kasih SUCI, SUCI harus terus hidup, SUCI jangan berhenti, SUCI jangan mati ya. :D

Sekian #ReviewSUCI5 dari saya.

x(

December 3rd, 2014 by johantectona

seyem

 

by: Theta

#SEVEN SINS

December 3rd, 2014 by johantectona

Seperti biasa group WhatsApp tak pernah sepi, notifikasi selalu menumpuk di ujung kiri atas layar handphone. Mau tidak mau, fokus saya pun beralih kesana, pikiran saya otomatis ikut mencerna semua obrolan. Dan terpujilah kalian semua sore ini, kalian telah sukses menampar saya secara berjamaah. Sakit? tidak!! namun harus saya akui, tamparan itu cukup menyadarkan, tamparan itu berhasil membangunkan saya. Terima kasih telah membuat pipi saya memerah.

“Seven Sins”.

Sesuai namanya, group ini punya rutinitas menggali dan terus menambang dosa. Kepo adalah aktivitas wajib bagi seluruh anggota. Setiap anggota group secara naluriah telah terlatih untuk kepo. Kami terbiasa kepo dengan urusan dosa satu sama lain. Ya begitulah, tiada hari tanpa kepo,  mulai dari kepo soal berapa banyak dosa yang dimiliki si x akibat punya banyak simpanan, kepo tentang berapa lama dosa yang telah dibuat si y dan z karena merindukan pacar orang, atau bahkan kepo soal dosa akademik si abc yang telah meninggalkan skripsi demi sebuah perjalanan atau gemerlapnya pentas. Selalu begitu, kami kepo terhadap dosa – dosa picisan.

Bisa dibayangkan betapa kacaunya, group ini benar – benar rusak. Oiya satu lagi, selain kepo yang tak terbatas, saling membully juga termasuk kegemaran kami. Kami tak pernah berfikir ulang untuk menelanjangi anggota group yang lagi apes. Habisi tanpa ampun. Sebuah group yang hancur.

Sialnya, sore ini saya yang lagi ketiban sampur. Saya dibully sampai gundul, saya ditekan sampai saya tak mampu menyanggah. Jarang – jarang saya yang menjadi korban, namun tak apalah, semoga kenangan sore tadi bisa selalu menjadi pengingat saya bahwa unik itu asyik.

**

Saya bukan Arman Dhani, saya juga bukan Agus Mulyadi. Saya adalah Johan, saya adalah Tectona.

Terobsesi oleh orang lain itu tidaklah hina, namun jangan sampai lupa, dirimu adalah makhluk ciptaanNya, dirimu bukan produk buatan cina, dirimu sudahlah pasti sempurna. Begitulah kira – kira kalimat bijak yang tiba – tiba saya ingat setelah kejadian sore tadi.

Kenapa aku? kemana aku yang biasanya? mengapa tiba – tiba begini?

Labil, mungkin sedang labil. Ah, tapi bukan.. ini bukan labil, ini mungkin penyakit percaya diri, ah.. bukan juga, ini adalah ketidak sabaran, ini adalah hasutan setan, benarkah?

Beberapa jam saya berkutat dengan pertanyaan itu, hingga akhirnya saya mencoba mengukapkan semuanya lewat dashboard ini.

***

Ketika menginginkan sesuatu, biasanya saya mengungkapkan apa yang saya inginkan, saya menulisnya atau saya menceritakan keinginan saya kepada teman. Tujuannya adalah supaya ketika saya lupa dengan keinginan itu, catatan atau teman saya bisa membantu mengingatkan.

Iya, saya ingin menjadi penulis. Saya ingin ahli di bidang social media dan lingkungan. Saya ingin menjadi pengusaha. Saya ingin menjadi Suami. Saya ingin menjadi Bapak. Saya ingin menjadi Kakek. Saya ingin bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Lucu? silahkan ditertawakan.

Itulah keingian – keinginan saya, mungkinkah bisa terwujud? setiap keinginan berasal dari sebuah niat, dan saya selalu punya keyakinan, niat yang baik pasti akan menemukan jalannya sendiri. Kita tak perlu risau lewat jalur yang mana, tugas kita hanya mengantarnya sampai tujuan.

Semoga Seven Sins tak pernah bosan menenemani saya untuk mengantar niat yang baik itu sampai dengan tujuan.

****

Terlalu jauh Jo, benahi dulu dirimu.

Cobalah konsisten, latihlah fokusmu.

Jangan lupa berdoa.

Tapi aku yakin, kamu pasti bisa.

= = = = =

Tamparan, Bangkit, Curhat, Monolog || Sekali lagi terima kasih, Seven Sins.

#Mengapa

October 3rd, 2014 by johantectona

Mengapa?

Kenapa hanya menjadi draft?

Mengapa?

Kenapa tidak seperti dulu?

Mengapa?

Bukankah menulis itu mudah? bukankah kamu pernah melakukannya? bukankah kamu juga salah satu juara waktu itu?

Lalu, mengapa?

Aku tunggu tulisan – tulisanmu!


site tracking with Asynchronous Google Analytics plugin for Multisite by WordPress Expert at Web Design Jakarta.