Archive for June 10th, 2012

Adaptasi hingga Metamorfosis III

Di bagian ini aku akan bercerita sedikit banyak mengenai pengalamanku tentang manusia. sesuai dengan pengalamanku selama ini, manusia adalah mahluk terliar sejagat raya dengan segudang motif yang dimilinya. meski aku belum pernah berinteraksi dengan mahluk lain, namun subjekku tentang manusia adalah mahluk licin penuh tipu muslihat. Di sisi lain dia dapat melakukan kegiatan sosial untuk berbagi dengan sesama dan peduli lingkungan. Namun, dengan melakukan kegiatan tersebut sebenarnya ada motif pribadi terselubung yang orang lain tidak ketahui. Mungkin untuk sebuah citra agar dia dipuji dan dikatakan sebagai orang yang mulia dan akhirnya banya orang orang yang peduli dan hormat kepada dia. Siapa yang nebak.

Cerita lain, mungkin dia bisa saja menunjukkan bahwa dia adalah orang paling menderita di dunia dengan menceritakan peristiwa melo masa lalunya ke yang lain yang agar dia dapat dinilai sebagai orang yang tegar dan kuat dalam menghadapi hidup.

Kalau keadaanya demikian, saatnya untuk bangun. Dunia ini diciptakan bukan layaknya sebuah film. Dimana hanya kamu sebagai pemeran utama dan yang lain pendukung dan figuran. Dalam dunia ini, dunia yang benar-benar nyata, bukan kamu saja yang mederita dan seolah-olah paling menderita, tetapi yang lain juga sama. Semua orang punya cerita dengan masalahnya masing-masing.

Mungkin, dari permukaan setiap orang terlihat sama. Terlihat sama-sama baik. Namun, coba hadapkan dalam suatu masalah, atau mungkin dalam sebuah perkumpulan layaknya kelompok. Pasti dari situ mulai tampak seperti apa manusia itu sebenarnya. Manusia-manusia yang mempunyai jiwa selalu ingin tampil dan selalu ingin dianggap lebih dari pada yang lain akan berusaha menonjolkan diri. Dia akan mengambil sikap seolah-olah pahlawan dan rela melakukan apa saja demi kepentingan bersama. Sampai-sampai dia rela bekerja lebih dari pada yang lain. Dibalik semua itu, tidak ada yang nebak motif apa yang sebenarnya dia miliki. Bahkan dia sendiri mungkin tidak menyadarinya.

Dalam sebuah kelompok, orang-orang seperti ini telah terbiasa dianggap pahlawan dengan pengalaman terdahulunya dan dia sendiri meyakini bahwa dia adalah orang baik. Namun, terkadang dia tidak menyadari kelalaian-kelalaian yag telah ia perbuat. Dia mungkin bisa melebih-lebihkan sebuah serita tentang apa yang telah dia perbuat sehingga mereka yang di sekelilingnya merasa yakin dengan jiwa kepahlawananya. Bahkan dia selalu berusaha untuk menjadi sosok yang diinginkan oleh kelompok tersebut.

Di sisi lain, ada beberapa orang yang mempunyai motif pribadi, namun dia kurang lihai dalam menutupinya. Orang seperti ini mudah terpelanting karena kecerobohan-kecerobohan yang dia lakukan.

Dan, yang paling berbahaya menurutku adalah jenis manusia yang mempunyai motif untuk menguasai semuanya namun dia sendiri tidak mengetahui. Dia selalu berpikir bahwa apa yang dilakukanya benar dan kisah hidup yang telah ia lalui merupakan kisah paling menarik se gajat raya. Dia selalu memandang diri sendiri sebagai yang paling benar dan memandang yang lain selalu jahat. Ketika berkonflik, dia akan merasa bahwa dia yang ditindas dan yang lain menindas. Dia selalu memanajemen kisah pedihnya untuk menarik simpati yang lain.

Dan, yang satu ini juga cukup parah. Dia merasa tahu segalanya padahal kenyataanya apa yang dia katakan tidak pernah tepat. Dia selalu mencoba meyakinkan yang lain padahal dia sendiri belum tentu yakin dengan apa yang dia yakini. Dia selalu mengikuti kelompok yang dianggap paling keren. Dalam kenyataanya dia rapuh dan tak dapat berdiri sendiri.

Meski demikian, manusia juga dapat mengendalikan tabiatnya tersebut. Mereka selalu berusaha sedemikian mungkin agar tak terbawa oleh tabiatnya. Mencoba mengendalikan diri dengan hati nurani yang ia miliki.

bersambung……

Tags:

Adaptasi hingga Metamorfosis II

Apapun yang telah aku tulis di bagaian pertama, abaikan saja. Malah lebih baik jangan dibaca. Itu hanya sebuah pengantar yang berantakan dan sulit untuk dipahami. Mungkin hanya untuk formalitas saja agar dapat mengisi layaknya sebuah cerita.

Namun, di sini aku akan mulai bercerita. Atau tepatnya menulis apapun yang telah aku alami. Encoba untuk bertututr apa adanya tanpa ada upaya klasik membumbu-bumbui agar sebuah cerita terdengar menarik.

Surabaya Selatan tepatnya dipinggir jalan depan Graha Pena terlihat sangat wajar sekali. Bahkan lebih wajar ketika tiga tahun lalu aku baru nyampe di sini. Semua terlihat biasa saja dan pengap penuh dengan pendudukyag berjubel di gang-gang. Saking banyaknya penduduk, sampai-sampai bangunan ukuran dua kali tiga pun menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali sekeluarga. Oh, stop.. aku tidak akan memceritakan profil tempat tinggalku sementara ini. Aku harus fokus pada satu kisah dimana kisah tersebut akan menceritakan bagaimana berproses untuk membaur dengan sekitar. Apakah proses tersebut berhasil atau malah menyeret ku suatu tempat lain yang sama sekali aku tidak pahami. Dan, apakah aku akan kehilangan siapa diri aku..

Semuanya masih serba misteri. Misteri dan misteri. Toh, selama tiga tahun lebih ini aku masih terus berproses untuk membaur. Membaur dan membaur hingga membuat diriku menjadi sesosok lain tapi bukan orang lain. Sosok diriku yag terlahir kembali yang membuat segalanya menjadi lebih indah, lebih mudah, lebih elegan, dan itu suatu hal yang aku mau.

Tapi lupakan saja semua itu. Itu terlalu jauh dari jarakku sekarang. Sekarang aku masih terjebak dalam prosesku sendiri yang aku sendiri tidak tahu di mana ujungnya. Entahlah.. proses ini kadang membuatku putus asa dan membuatku berfikir lebih baik mundur dan menarik diri dari kehidupan konyol ini. Memang tidak ada aturan tertulis seseorang harus membaur agar diterima oleh lingkungan dimana dia berada. Tapi keadaan yang memaksa harus seperti ini. Terlalu naif jika aku mengharapkan lingkunganku untuk menerima ku apa adanya. Dan aku sadar, ini adalah tuntutan untukku dan untuk semua orang.

Minggu sore, 10 Juni 2012, aku keluar cari makan. Entahlah.. yang jelas aku telah kecewa dengan warung langgananku dan aku sudah tak nyaman lagi makan di sana. Jika aku bicarakan keburukan apa yang dimiliki warung langgananku tersebut di sini, itu akan menambah catatan dosaku dan memperburuk citranya. Sayang, dia sudah membagun citra yang ia miliki sejak lama. Sambil jalan, aku sebenarnya ingin menceritakan satu per satu warung favoritku. Tapi, itu ntar aja lah. Aku sekarang sedang mengantri di warung penyetan tanpa tenda, hanya gerobak saja, tak jauh dari tempat tinggal sementaraku.

Saking ga telatenya aku melihat lemah gemulainya si pemilik warung yang sedang hamil ini, aku melamun sambil memperhatikan apa yang lewat di hadapanku. Motor lalu lalang dengan pengendaranya, orang jalan kaki, pedagang eh degan di seberang jalan, sampai ibu-ibu renta yang menutup warungnya. Entahlah.. yang jelas pemilik warung lama sekali melayani pesananku.

Tiba-tiba aku melihat dua pasangan remaja boncengan motor berhenti di seberang tepat di depanku. Aku coba mengamati mereka dan perhatianku jatuh ke si cewek yang turun dari motor di seberang sana. Opiniku berkembang liar tentang cewek tersebut. Sampai-sampai aku beranggapan bahwa cewek tersebut gampangan. Ga gampangan bagaimana. Dia nongkrong bareng cowok-cowok sampai larut malam di warung kopi depan gang rumahnya. Di satu saat dia menggendong bayi dan mencoba untuk menimangnya. Dan terkadang juga dia kelaur dengan cowok lain yang ga karuan mukanya saat malam hari. Aku heran dan bahkan di satu sisi aku iri dengan cewek ini. Begitu mudahnya dia membaur dan begitu mudah dia mendapatkan teman. Aku berfikir bahwa aku perlu kenal dengan cewek ini dan belajar banyak denganya.

Aku sudah capek menilai dan melamun. Ku lihat pemilik warung apakah dia sudah selesai dengan pesananku atau belum. Ku lihat dia masih mendadar telur di penggorengan. Ya sudahlah, aku tunggu dan coba menguping kira-kira topik apa yang jadi perbincangan antara penjual dan pembeli baru setelah aku. Yang aku lewatkan di sini tiba-tiba ada pelanggan ibu-ibu dan mungkin dia juga tetangga pemilik warung karena kelihatan akrab. Topik ga jelas dan aku mencoba cari perhatian lain. Sebelum aku menemukanya, tiba-tiba pesananku rampung dan aku langsung membayar.

Sampai di tempat tinggal sementara, aku melihat tetangga kamarku lagi sit up. Akhir-akhir ini dia terlihat rajin sekali berolah raga bahkan yoga. Entahlah, dari mana ia dapat ilmu yoga dengan dengerin lantunan ayat-ayat al quran. Tapi menurutku itu hal lucu aja. Tapi, ngomongin tetangga kostku yang satu ini, aku punya cerita lucu tentang dia. Tapi sekarang belum tepat untuk diceritakan.

bersambung….

Tags:

Orkes Dangdut Makin Erotis, FPI Diam Saja

access form www.wordpress.com

Beberapa waktu lalu media sangat rajin menyuguhkan berita tentang aksi FPI menolak Lady Gaga. Sampai-sampai membuat topik hangat yang lain menjadi kabur akibat masyarakat fokus dengan topik satu ini. Jejaring social juga lebih tertarik untuk mendiskusikan topik ini dari pada curhat tentang kehidupan cintanya. Dan keingginan FPI untuk menggagalkan konser Mother of Moster ini akhirnya berhasil.

Lalu, pihak manakah yang paling dibanggakan?

Sudah bukan rahasia lagi kalau dunia bisnis dan politik penuh dengan persaingan. Bagi mereka benar salah bukan menjadi amsalah, tetapi menang kalah yang harus mereka capai. Tapi tulisan ini tidak akan membahas soal ini. Penulis ingin mengorek lebih dalam lagi mengenai idealisme Front Pembela Islam (FPI).

Ormas islam yang berdiri pada tahun 1998 ini memang penuh dengan kontroversi. Tidak ada yang tahu, apakah memang dibuat seperti ini atau bagaimana. Namun, yang tampak dari apa yang disajikan media mengenai aksi-aksi dari ormas Islam ini, seakan-akan idealis banget. Seakan-akan dia akan membabat habis aksi-aksi yang mengandung unsur-unsur maksiat.

Lalu, bagaimana orkes dangdut yang semakin erotis?

Kalau melihat kasus ini, seakan-akan FPI tidak pernah tahu acara ini dan seakan-akan jarak FPI dengan acara dangdut ini bermil-mil jauhnya. Padahal, kalau FPI menyayangkan Lady Gaga konser di Indonesia akan merusak moral bangsa Indonesia, itu sudah telat. Moral bangsa Indonesia telah kritis bahkan sebelum Lady Gaga terkenal sampai Indonesia. Moral bangsa ini sudah mengalami degradasi sekian tahun lamanya. Korupsi, trafficking, dan lain sebagainya yang ekarang lagi panas diomongin di media manapun.

Kalaupun memang FPI merupakan ormas Islam yang mempunyai idealisme yang tinggi, seharusnya dia harus bebas dari kepentingan manapun baik yang datang dari dalam maupun luar organisasi. Masyarakat, khususnya yang muslim, memang perlu dihindarkan dari segala hal yang berbau maksiat. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang adil dan makmur. Namun, dalam pelaksanaanya tidak perlu dengan aksi anarkis yang membabi buta. Hal ini akan memperburuk citra Islam di mata masyarakat dunia. Kembali lagi bahwa sesungguhnya islam itu ramah dan cinta damai.

Tags: ,