“dasar, bodoh kamu…”

“dasar, jelek kamu..”

“kamu tuh bukan apa-apa, cuman penggangu…”

Dan masih banyak lagi kata-kata kasar lainya yang sering diucapkan. Mungkin, dengan kata-kata tersebut seseorang ingin menunjukkan ke yang lain, bisa kepada orang yang lebih muda, bahwa dia lebih. Dia ingin menunjukkan bahwa dia lebih berkuasa, lebih dituakan, dan dia ingin dihargai dengan melakukan penindasan lewat kata-kata tersebut.

Tanpa disadari, terkadang dengan mudahnya seseorang mengeluarkan statement yang men-judge. Dan lebih parahnya lagi, orang tersebut melakukan lagi dan lagi tanpa ia sadari. Hal semacam itu terkadang sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun dalam sebuah lingkungan. Bahkan, kebanyakan keluarga di Indonesia pun juga melakukan hal yang sama. Mereka beranggapan, dengan cara seperti itu akan mendidik anak menjadi pribadi yang tegar dan mandiri. Lingkungan sekitar, bahkan dalam akademisi pendidikan pun juga melakukan hal yang sama. Dalam sebuah pengkaderan, atau masa adaptasi siswa baru mereka dibentak-bentak dengan sumpah serapah dan tidak jarang main fisik terjadi.

Hal semacam ini bisa saja dilakukan. Namun, harus melihat kondisi psikologi seseorang. Jika seseorang menghakimi yang lain dengan perkataan “bodoh”, maka orang tersebut akan merasa ragu dengan dirinya dan dia akan mempersepsikan dirinya seperti apa yang orang lain bilang. Tentu hal semacam ini akan menjadi sesuatu yang sangat fatal jika diterapkan pada generasi muda. Pengkaderan semacam yang berlaku di institusi pendidikan Indonesia sekarang ini sungguh disayangkan. Karakter mereka akan semakin buruk jika hal semacam ini terus berlaku.

Tags: