Archive for June 15th, 2012

Bidin, Jam Tuju pagi Sudah Buka Lapak

Abidin yang biasa dipangil dengan bidin adalah seorang penjual pentol di depan kampus IAIN Surabaya. bapak dua anak paruh baya ini sudah lima tahun berjualan pentol di daerah Wonocolo Surabaya. dia dengan istri beserta dua anaknya sudah lima tahun tinggal di kontrakan daerah Jemursari. Dengan modal sepeda motor dan gerobak pentol dibelakang, sesekali dia berkeliling kampung menjajalkan jualanya ke penduduk.

Kegiatan rutin dia sehari-hari adalah jualan pentol. Setelah selesai menyiapkan daganganya, pukul tuju pagi dia sudah standby di depan kampus agama tersebut. Dia bertahan di sana sampai pukul tiga sore atau sekiranya dagangan yang dia jual sudah habis. Setelah itu, dia langsung pulang ke rumah kontrakan untuk mengambil stok daganganya dan berjualan di tempat lain. Biasanya dia membuka lapak di depan parkiran Jawa Timur Expo (JatimExpo). Setelah dagangannya habis, malam hari, sekitar pukul dua belas malam, dia pulang ke rumah dan istirahat.

Untuk pengolahan bahan dagangan, diatur oleh istrinya. Dia hanya bekerja sebagai penjual. Pada malam hari, istrinya membuat olahan pentol untuk dijual besok. Bisanya sehari Bidin mampu menjual sekitar sepuluh kiligram pentol.

Penghasilan Bidin sebagai penjual pentol, cukup membantu dia untuk membayar rumah kontrakan dan biaya kehidupan sehari-hari keluarnya serta biaya sekolah anaknya. Dia tidak pernah mengeluhkan hasil dari jualanya. Dia selalu mensyukuri apa yang dia peroleh meski terkadang tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Dia merasa puas dengan apa yang telah dia dapatkan dan dia selalu mensyukuri itu.

Untuk menunjang kebutuhan keluarga, istri Bidin juga berjualan gorengan di depan rumah kontrakan. Dia membuka lapak saat sore hari sampai pukul sepuluh malam. Hasil yang diperoleh istrinya cukup menutupi kebutuhan belanja dapur sehari-hari. Bahkan terkadang lebih dan istri Bidin menabungnya untuk kebutuhan masa depan. Mereka bercita-cita untuk membangun rumah sendiri.

Meski terkadang ada perkataan yang tidak enak tentang profesinya dari para tetangga, Bidin mencoba memaklumi itu. Dia sadar profesi dia sebagai penjual pentol tidak sebaik tetangganya yang buruh pabrik atau karywan kantoran. Namun, dia mempunyai prisip asal pekerjaan tersebut halal dan dapat menopang kehidupannya bersama keluarga, dia akan menjalani dengan baik.

Kedepanya Bidin mempunyai angan-angan untuk membuka warung Bakso. Meski dia tahu untuk mewujudkan angan-anganya tersebut memutuhkan dana yang tidak sedikit baginya. Namun, dia tidak pernah menyerah dan dia selalu menyisihkan penghasilanya untuk mewujudkan angan-angan tersebut.

Menurut Abidin, hidup di kota besar layaknya Surabaya ini memang butuh kerja keras. Walaupun banyak sekali lahan untuk mencari keuntungan di kota ini dibandingkan di desa, namun akanberbanding tebalik jika tidak diimbagi kerja keras dan percaya akan keajaiban tuhan. Menurut dia, jangan menyesali keadaan yang telah dia dapat karena menurut bapak asal Jember ini manusia tidak akan pernah tahu jalan mana yang akan membawanya kearah keberuntungan. Dia selalu bekerja keras dan pantang menyerah meski profesinya hanya sebatas penjual pentol.

Tags: ,

Veteran, Nasib Tidak Sepadan dengan Perjuangan

Veteran Indonesia

Seorang Veteran memakan nasi bungkus dan minum segelas air mineral di pinggir trotoar, dengan Tetap Bangga menggunakan seragam perjuangan. Sungguh Menyedihkan Seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan menjalankan kehidupnya dengan memprihatinkan. hal ini di sebabkan Kurangnya Perhatian pemerintah terhadap mereka. Padahal, perjuangan yang mereka lakukan bukan untuk kepentingan pribadi, namun hanya semata-mata untuk kepentingan negara dan bangsa indonesia agar terbebas dari  penjajah.

Memang, nasib veteran perang di belahan bumi manapun hampir mengalami nasib yang sama. Mereka diabaikan dan seakan-akan perjuangan yang telah mereka lakukan tidak pernah terdengar oleh siapa pun. Bahkan sebagian dari mereka, tidak tercantum sebagai daftar veteran. Mungkin mereka tidak pernah mengharapkan apapun dari negara atas pengorbanan yang mereka lakukan. mereka melakukan atas dasar rela demi kecintaanya terhadap tanah air.

Melihat kondisi mereka yang sudah renta, tidak mungkin lagi mereka bekerja seperti dulu. Kini mereka tidak lagi gagah seperti ketika mengusir penjajah. Otot-otot kuat mereka sudah mengendur bahkan untuk mencari sesuap nasi. Kini mereka membutuhkan orang-orang yang peduli akan nasib mereka.

Di beberapa negara maju, walaupun merka terabaikan, namun nasib mereka masih mending jika dibandingkan dengan veteran di Indonesia. Meraka masih mendapatkan dana kompensasi, walaupun tidak cukup besar jumlahnya, dan ditempatkan di asrama khusus para veteran. Mereka dilindung oleh negara dan kesehatanya juga ditanggung negara. Negara masih masih memiliki tanggung jawab sosial pada para veteran bangsa.

Veteran Indonesia

Namun, pemerintah Indonesia kurag peka dalam hal ini. Nasib para veteran negara majemuk ini masih belum pasti. Banyak para veteran yang sekarang hidup kurang berkecukupan, ada yang sekarang berprofesi menjadi penjual alat-alat listrik, menjadi penjaga kamar mandi, tukang kebun, tukang sol sepatu bahkan ada yang menjadi pemungut sampah. Padahal jasa mereka untuk Indonesia sangatlah banyak seperti waktu, harga, tenaga, harta, dan keluarga. Tetapi balasan jerih payah para veteran, pada masa pensiun mereka tidak mendapatkan hal yang layak, seperti tempat tinggal, dana pensiun.

Mereka hidup dibawah ambang kemiskinan. meskipun mereka mendapat tunjangan dana setiap awal bulan dari pemerintah, namun itu belum mecukupi biaya hidup untuk keluarganya. Kita dapat berharap pemerintah segera merespon keadaan ini. Perjuangan mereka sungguh sangat besar pada negeri ini. Akan tetapi keadaan mereka masih di bawah sejahtera.

Seharusnya tidak hanya pada perayaan kemerdekaan saja mereka diingat, tetapi pemerintah dan bangsa Indonesia harus peduli kepada mereka setiap waktu. Dengan demikian jasa mereka yag sangat luar biasa dapat terus dikenang dan dapat memberikan motivasi kepada generasi bangsa untuk terus berjuang membangun negara yang amat makmur ini.

Tags: ,