Archive for June 17th, 2012

Kali Surabaya Sudah Mati!

Kali Daerah Wonocolo Surabaya

Surabaya merupakan kota maritim. Hal ini membuat Surabaya dilalui oleh banyak sungai, baik itu sungai besar maupun sungai kecil. Dengan banyaknya sungai yang mengalir melewati kota ini, seharusnya banyak potensi yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Namun sebaliknya, sebagian besar sungai-sungai ini di manfaatkan sebagai Wc sekaligus kakus oleh warga bantaran sungai. Tidah hanya itu, bahkan sungai-sungai tersebut di jadikan sebagai tempat pembuangan sampah baik itu oleh masyarakat bantaran sungai maupun masyarakat dari tempat lain. Salah satunya sungai yang mengalir di kecamatan Wonocolo Surabaya.

Sungai di daerah ini, sudah tidak lagi seperti layaknya sebuah sungai yang bersih. kondisi Ekosistem sungai, baik di dalam sungai maupun di tepi sungai, sangat memprihatinkan. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya jumlah dan variasi ikan serta jenis hewan lainya dan juga tumbuh-tumbuhan yang berhabitat di sungai ditambah lagi baunya yang sangat menyengat karena kondisinya sebagai tempat pembuangan akhir. Padahal melihat kondisi masyarakat Surabaya pada saat ini, kebutuhan terhadap air sangat meningkat. Hal ini seharusnya bisa menjadi alasan pemerintah dan masyarkat Surabaya untuk merevitalisasi dan menjaga kebersihan sungai agar potensi sungai bisa di manfaatkan semaksimal mungkin menjadi penopang kebutuhan sehari-hari masyarakat dan juga bisa dijadikan sebagai industri pariwisata.

Tags:

Sri, Istri yang Gigih Dalam Menghadapi Suaminya

access form gstatic.com

20 Mei 2012, minggu pagi buta, terlihat Sri pontang panting mencari bantuan dari tetangganya. Sri sedang menggendong putri bungsunya, mencoba menjelaskan kepada tetangganya bahwa dia sedang membutuhkan bantuan dengan segera. Rahmad sedang terbaring lemas karena mabuk berat di salah satu komplek hiburan malam yang berada di daerah Surabaya Barat. Dengan nada suara yang terbata-bata, Sri mencoba mencari simpati tetangganya. ketika dia sedang mencoba menjelaskan kronologis kejadianya, tiba-tiba saja Bu Am memotong pembicaraan Sri, “saya akan mencoba bertanya dulu pada mas Doni, mungkin dia bisa bantu menjemput suamimu”. Tanpa ada yang meminta Sri mengucapkan terima kasih kepada Mbak Am atas bantuanya.

Pada pagi hari itu terlihat tetangga mendengarkan cerita Sri dengan simpati. Ibu Atun bertanya, “terus, bagaimana kamu tahu kalau suamimu di tempat itu?”, Sri pun menjawab, “tadi pagi Suryo, teman suamiku mengabarkan keadaan mas Rahmad lewat telepon…..”. dengan terus menerangkan kepada tetangganya tersebut, perempuan berambut lurus tersebut mencoba menahan tangisnya yang sudah sangat berat sekali untuk dibendung. Tak lama kemudian Mbak Am keluar dengan mengedarai mobil beserta suaminya menghampiri Sri yang sedang berkerumun dengan tetangganya. “ayo Sri naik, biar mas Doni yang mengatarmu menjemput suamimu”, pinta Mbak Am. Tanpa berpikir panjang, Sri kembali ke rumahnya mengambil dompet dan setelah itu masuk ke mobil menjemput suaminya.

Hampir pukul 09.00, Sri dan Rahmad, yang masih tak berdaya, sampai kembali di rumahnya dengan diantarkan oleh Mas Doni. Dengan dibantu beberapa tetangganya, Rahmad dibopong diantarkan masuk ke dalam rumah. Karena terlalu banyak minum minuman keras, kondisi Rahmad sempat tidak sadarkan diri pada. Dengan panik Suryo mencoba menolong dengan memberikan napas buatan dengan maksud agar Rahmad tersadarkan diri.. Namun. Namun Rahmad tak bereaksi. Kemudian Suryo memberikan air putih untuk diminum. Namun sialnya Rahmad masih dalam kondisi yang sama.

Saat ini Rahmad di rawat sendiri oleh Sri. Dengan kejadian ini, Sri berharap Rahmad bertaubat dan kembali ke jalan yang benar dengan meninggalkan kebiasaan-kebiassan lamanya yang sangat tidak baik bagi keluarga dan lingkunganya.

Tags: ,

Adaptasi hingga Metamorfosis IV

“Aku mulai merasa terasing di sini”

“ Aku sudah tidak kenal lagi dengan siapa pun”

“ Serasa orang baru yang berkunjung ke tempat ini”

Itulah yang aku rasakan sebagai orang lama yang sempat beberapa waktu fakum. Sebuah komunitas pertama yang menerima ku pertama kali ketika aku berada di kota “boyo” ini. Komunitas yang mengajarkan banyak hal dan menunjukkan ku seperti apa kota Surabaya. sengaja tak ku sebutkan komunitas apa jelasnya. Tapi yang jelas komunitas ini mengajarkan ku banyak hal. Mulai dari bagaimana cara menyesuiakan diri, berelasi dengan orang lain, sampai harus tahu bagaimana cara menjadi diri sendiri.

Entalah…..

Banyak pertimbangan, hingga akhirnya terucap kata “I finished”. Aku selalu teringat rasa-rasa awal aku menyesuaikan diri di komunitas ini. Perih, kecewa, iri, dan sampai aku relakan air mata mengalir untuk ini. Berkompetisi dengan yang lebih tua, mencari perhatian pembina agar sedikit saja dilirik, selalu mengasah rasa ingin tahu apa yang sebenarnya diinginkan komunitas. Aku rela dipermalukan, hanya ingin dapat perhatian mereka. Mereka yang suda lebih dahulu menjadi anggota komunitas. Mencoba menjadi sesuatu seperti layaknya mereka agar dapat diterima dan akhirnya menjadi seseorang yang eksis.

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berjuang menyesuaikan diri. Bukan waktu yang singkat untuk merasakan menjadi seseorang yang diabaikan bahkan dilirik pun tidak. Lebih baik dianggap aneh dan dikutuk dengan sumpah serapah karena itu masih ada pedulinya. Tapi, jika dianggap ngobrol saja engga apalagi dilibatkan dalam sebuah moment. Rasanya seperti kejatuhan durian jika tiba-tiba mereka mengajak ku keluar untuk sekedar karoke atau hanya makan biasa. Setahun pertama keberadaan ku bagaikan mahluk halus yang keberadaanya tak pernah di sadari namun ditakuti. Mereka asyik bercanda kesana kemari namun ketika giliran ku ikut nimbrung, keadaan berubah senyap dengan seketika. Seakan-akan merka menyaksikan mahluk asing lewat di depan mereka.

Bersambung…….

Tags: