Archive for June 25th, 2012

Ramadhan Tahun Ini Berbeda

Aroma tanah kering di pinggir sungai, lantunan ayat suci Al-Quran dari pengeras suara surau, percikan air dari kran kamar mandi, dan kekeringan tanah ini mengingatkanku pada kampung halaman. Kampung halaman menjelang musim Ramadhan.

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Namun, aku masih berada di kota rantau. Pikiran sudah berada di kampung halaman yang berjarak beberapa mil dari kota rantau sekarang ini. Kota Surabaya ini tak memberikan kesan apa-apa bagiku ketika Ramadhan. Hanya suara cekikikan anak-anak kecil berlarian di gang-gang sesaat buka puasa. Itu seingatku di awal bulan Ramadhan setahun yang lalu sebelum balik ke kampung. Berbeda dengan di kampung halaman Banyuwangi.

Di kota kecil ini, setiap tahunya aku selalu berkumpul dengan keluarga besar yang sangat hangat. Meski aku berada di kota rantau, namun khusus bulan penuh berkah ini, aku berada bersama keluarga satu bulan penuh. Dan itu kenangan setahun lalu. Sepertinya tahun ini aku harus merelakan bulan penuh kehangatan keluarga ini di kota rantau. Menyelesaikan tugas yang sudah terbebankan dan belum terselesaikan sampai beberapa bulan ke depan. Tugas yang sangat banyak dan butuh waktu lebih untuk penyelesaianya.

Seingatku, ketika Ramadhan tiba, semua terasa indah. Keluarga yang berada di luar kota, semua kembali ke rumah bersama-sama menikmati indahnya bulan yang datang setahun sekali ini. Kakak, adik, ibu, dan bapak semua berkumpul dalam satu rumah dan menciptakan kehangatan yang tak ada gantinya di dunia ini. Ketika sore tiba, masing-masing menyibukkan diri dengan tugas masing-masing. memasak, membereskan rumah, dan menyiapkan sajian buka puasa. Semua terasa istimewa ketika Adzan Mahrib dikumandangkan dan bersama-sama sekeluarga menyantap masakan yang telah di masak bersama. Tak ada yang istimewa dalam masakan ini. Semua biasa-biasa saja seperti masakan pada keluarga umumnya. Namun, entah dengan resep seperti apa, ibu menyulap segalanya menjadi istimewa dan lebih dari pada masakan manapun di dunia ini bahkan hotel bintang lima sekalipun.

Terasa lebih lagi ketika mendekati lebaran. Kita sekeluarga sibuk dengan aktivitas masing-masing. ibu dan kakak perempuan tiap harinya sibuk di dapur membuat kue-kue untuk hari kemenangan nanti. Aku dan kakak laki-laki sibuk membenahi rumah dan membuatnya tampak lebih indah. Mengecat, membenahi perabot yang rusak, mencuci karpet dan korden, dan menata taman rumah. yang lebih istimewa lagi ketika beebelanja baju lebaran sekeluarga. Berkeliling toko di kota kecil ini, serasa lebih menyenangkan dari pada keliling mall besar di Singapure sekalipun. Mencari perabot baru, menservis mobil, dan menyiapkan segala sesuatunya agar terlihat sempurna ketika lebaran datang nanti.

Lebaran datang, semua senang. Tak ada yang sedih di bulan ini. Semua orang desa keluar dengan raut muka bahagia bersalam-salaman berkunjung bergilir ke rumah tetangga. Semua saling mengucapkan selamat dan bermaaf-maafan tanpa terkecuali. Serasa apa yang terjadi selama setahun terasa ringan dan terbang tanpa beban. Tak ada moment satu pun di dunia ini yang menggantikan ini semua.

Yah, akhirnya aku harus merasakan Ramadhan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aku harus merelakan hangatnya karpet depan televisi di kampung halaman. Aku harus merelakan serunya mencat dan membuat rumah kelihatan lebih indah. Aku harus merelakan panen ubi di kebun milik orang tua dan memasak sajian takjil. harus merelakan sedapnya sambal teri campur petai spesial buatan ibu tercinta. Harus merelakan keliling kampung saat sahur bareng keponakan dak teman-temanya. Merelakan buka bareng keluarga besar di rumah nenek dan menginap. Dan aku harus merelakan moment istimewa lainya berpuasa dengan keluarga besar di kampung halaman.

Tags:

Trauma Itu, Tetap Traumaku

Kadang kaki ini terasa sakit untuk melangkah….

Kadang tanggan ini terasa kaku untuk bergerak…

Kadang mata ini terasa pedih untuk berkedip…

Dan, hidup ini memang selalu begitu…

Tak ada yang sempurna di sini…

access form silverbearcafe.com

Kehilangan, dikecewakan, diabaikan, itu sudah menjadi bumbu dalam kehidupan yang bercita rasa tinggi ini. Terkadang, aku sulit memaafkan seseorang yang telah mengecewakan ku. Terkadang hati ini terasa berat dan sulit sekali untuk membuka lembara baru. Memaafkan orang yang telah berbuat salah. Aku tahu, tak seorang pun di dunia ini yang sempurna. Orang selalu merusak dan menghancurkan sesuatu yang tampak begitu sempurna. Menghacurkan segala sesuatu yang tertatata begitu apik.

Memang siapa yang peduli. Mungkin hanya aku saja yang terlalu naif merasakanya terlalu dalam. Sampai-sampai melihat ke depan pun enggan. Aku selalu menghindar dari kerumunan. Aku lebih nyaman menyendiri dengan dunia kecilku. Aku tidak ingin dikecewakan lagi dan aku menghindar untuk sakit hati lagi.

Aku merasa gugup ketika berada di tengah-tengah banyak orang. Seakan mata ini berat untuk menatap ke depan. Kepala menjadi tertunduk dan sesekali terangkat. Goresan luka di telapak tangan ini masih sangat terasa. Sayatan pisau di telunjuk jari ini masih perih. Lebam di mata sungguh sangat berat sekali bahkan untuk meneteskan air mata. Semua masih tampak terasa meski ini sudah terlewatkan beberapa tahun lamanya.

Siapa yag bisa mengobati luka ini?

Semua ini tak kan pernah hilang. Hanya aku yang merasakan dan orang lain hanya menebak. Menebak apa yang tampak dari luar, sungguh sakit sekali jika ada orang lain yang pura-pura ikut merasakan apa yang aku rasakan. Mereka tidak akan pernah tahu bagaimana perihnya bekas luka yang tak pernah tersembuhkan ini. Bekas luka yang terasa nyeri setiap saat.

Penderitaan apa yang pernah mereka ceritakan, aku telah mengalaminya lebih dulu. Dicampakkan, dihina, dikucilkan, bahkan harus berjuang sendirian dalam mengatasi semua kondisi terpuruk, itu sudah menjadi biasa bagiku. Aku hanya menghindar dan tak terlalu bercerita. Itu sama saja dengan membuka pembalut pada luka yang belum kering. Perihnya terasa bahkan sampai di ujung pelipis.

Semua sudah menjadi biasa bagiku bahkan dengan orang-orang menatap acuh. Semua terasa sama bagiku bahkan dengan orang-orang berbisik di belakang menusuk dengan kata-kata tajamnya. Dan, semua akan terasa sama meski itu suatu hal yang tidak menyenangkan. Akan tetap ku jalani hidup denga warna-warni dan terus berputar.

Tags:

“After Rain”


Aku cuman aku saja. Aku ga pernah begitu tahu siapa diriku. Aku selalu berada di posisi tengah. Ga jelas dan ga pernah diperuntukkan. Selalu iri dengan orang lain.

Iri dengan orang lain?

Entahlah. Aku ga bisa menjawab dengan pasti. Mereka yang hidupnya datar, selalu dalam keadaan status quo, apakah mungkin pernah merasakan apa yang aku rasakan. Berjuang keras penuh pengorbanan. Entah, Aku juga bingung.

Semenjak aku mulai bisa merasakan sesuatu, seingatku mulai peka terhadap sesuatu, perasaan pertama yang aku rasakan adalah sedih. Menangis, dan menangis. Entahlah. Mugkin testimoni itu belum sepenuhnya benar. Tapi yang jelas aku ingin menguraikan segala perasaanku disini. Sedih, senang, tertawa, kecewa, kehilangan, luka, dan tangis. Semua bercampur jadi satu dan menghasilkan sebuah sajian gurih, pedas, tapi manis.

Entahlah. Aku hanya ingin berbagi. Berbagi suatu hal yang sudah basi yang seharusnya telah aku bagikan ke orang lain di waktu lampau. Aku kecewa karena aku kurang berani. Harus berpikir seribu kali sebelum melakukan tindakan.

Hari ini pikiranku bercampur aduk ga karuan. Banyak yang berlarian kesana kemari di kepalaku dan itu membautku kurang fokus. Kurang fokus terhadap satu titik. Semakin tinggi puncak yang kudaki semakin banyak hal yang ku lihat dan semakin banyak pilihan yang menantang. Ini membuat bergeming. Aku menjadi ragu-ragu dan kehilangan kepercayaan diriku.

Entahlah. Tapi yang aku lihat disini orang bisa gampang aja membicarakan orang lain tanpa tahu kepastian sesungguhnya. Kepastian apakah yang mereka omongin atau jadi bahan topik begaadang itu benar keadaanya. Entahlah. Aku sendiri juga kurang paham dengan itu.

Setiap hari yang aku lihat adalah orang stres karena keadaan hilang begitu saja tidak sesuai yang diinginkan. Entahalah. Apakah mereka benar-benar dalam keadaan depresi atau mereka hanya ingin ingin istirahat sejenak dari kompetisi yang semakin ke ujung semakin meruncing. Mengambil napas, istirahat sejenak sambil berpikir mencari strategi untuk berperang. Berperang dan berperang merebutkan posisi yang ada di puncak sana.

Entahlah. Semakin meruncing keadaan ini, semakin aku mencari posisi netral yang cenderung aman. Aku ga mau terlibat begitu jauh meski sebenarnya aku berambisi. Berambisi untuk berperang merebutkan posisi puncak. Namun aku tahu bahwa dunia ga hanya itu saja. Aku ingin keluar melihat peluang lain yang belum aku ketahui meski dunia yang aku berada sekarag ga sepenuhnya aku ketahui juga. Hanya aku dengar melalui kicauan burung riang di laur sana.

Tags:

Curhatan Basi

access form google.co.id

Jum’at, 9 des 2011 (12.01)

· Aku bener-bener ga paham dengan diriku sendiri. Kenapa aneh yang aku rasakan. Belakangan ini aku telah berubah menjadi orang yang paling tak berguna di dunia. Aku merasa setiap kali bangun tidur, badan berat banget untuk diangkat. Setiap kali baca buku, rasa kantuk menjadi semakin dominan. Ketika mau beribadah, meski berdebat panjang dengan diri sendiri. Apa yang salah. Aku merasa kalah dengan diriku sendiri. Aku merasa kurang berdaya ketika harus berhadaban dengan diriku sendiri. Apa karena terlalu sibuk. Itu bukan alasan. Yang ada motivasi dalam diri sudah mulai menurun. Aku perlu memotivasi diri aku sendiri agar aku kembali pada posisi yang stabil. Memang aku sering berada dalam posisi kacau. Namun, aku ga mau selamanya posisi tersebut selalu dominan dalam diriku. Aku harus terus berproses untuk menjadi lebih baik.

Selasa, 13 des 2011 (08.08)

· Aku semakin ga paham dengan diriku sendiri. Begini dan begini aja yang terjadi. Selalu telat bangun dan telat shalat. Sumpah, aku semakin ga paham dengan diriku sendiri. Seandainya saja aku bisa berubah, aku ingin berubah. Aku kepengen on time dan disiplin kembali. Ga ada lagi kata buat telat.

Rabo, 14 des (09.31)

· Sialan… kenapa sih ketika giliran aku yang ontime, mereka yang ditunggu malah molor. Ini nih yang membuat semangat disiplinku menurun. Ga asyik… aku paling ga betah kalo ngumpul-ngumpul tapi ga jelas. Don’t waste my time!