Aroma tanah kering di pinggir sungai, lantunan ayat suci Al-Quran dari pengeras suara surau, percikan air dari kran kamar mandi, dan kekeringan tanah ini mengingatkanku pada kampung halaman. Kampung halaman menjelang musim Ramadhan.

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Namun, aku masih berada di kota rantau. Pikiran sudah berada di kampung halaman yang berjarak beberapa mil dari kota rantau sekarang ini. Kota Surabaya ini tak memberikan kesan apa-apa bagiku ketika Ramadhan. Hanya suara cekikikan anak-anak kecil berlarian di gang-gang sesaat buka puasa. Itu seingatku di awal bulan Ramadhan setahun yang lalu sebelum balik ke kampung. Berbeda dengan di kampung halaman Banyuwangi.

Di kota kecil ini, setiap tahunya aku selalu berkumpul dengan keluarga besar yang sangat hangat. Meski aku berada di kota rantau, namun khusus bulan penuh berkah ini, aku berada bersama keluarga satu bulan penuh. Dan itu kenangan setahun lalu. Sepertinya tahun ini aku harus merelakan bulan penuh kehangatan keluarga ini di kota rantau. Menyelesaikan tugas yang sudah terbebankan dan belum terselesaikan sampai beberapa bulan ke depan. Tugas yang sangat banyak dan butuh waktu lebih untuk penyelesaianya.

Seingatku, ketika Ramadhan tiba, semua terasa indah. Keluarga yang berada di luar kota, semua kembali ke rumah bersama-sama menikmati indahnya bulan yang datang setahun sekali ini. Kakak, adik, ibu, dan bapak semua berkumpul dalam satu rumah dan menciptakan kehangatan yang tak ada gantinya di dunia ini. Ketika sore tiba, masing-masing menyibukkan diri dengan tugas masing-masing. memasak, membereskan rumah, dan menyiapkan sajian buka puasa. Semua terasa istimewa ketika Adzan Mahrib dikumandangkan dan bersama-sama sekeluarga menyantap masakan yang telah di masak bersama. Tak ada yang istimewa dalam masakan ini. Semua biasa-biasa saja seperti masakan pada keluarga umumnya. Namun, entah dengan resep seperti apa, ibu menyulap segalanya menjadi istimewa dan lebih dari pada masakan manapun di dunia ini bahkan hotel bintang lima sekalipun.

Terasa lebih lagi ketika mendekati lebaran. Kita sekeluarga sibuk dengan aktivitas masing-masing. ibu dan kakak perempuan tiap harinya sibuk di dapur membuat kue-kue untuk hari kemenangan nanti. Aku dan kakak laki-laki sibuk membenahi rumah dan membuatnya tampak lebih indah. Mengecat, membenahi perabot yang rusak, mencuci karpet dan korden, dan menata taman rumah. yang lebih istimewa lagi ketika beebelanja baju lebaran sekeluarga. Berkeliling toko di kota kecil ini, serasa lebih menyenangkan dari pada keliling mall besar di Singapure sekalipun. Mencari perabot baru, menservis mobil, dan menyiapkan segala sesuatunya agar terlihat sempurna ketika lebaran datang nanti.

Lebaran datang, semua senang. Tak ada yang sedih di bulan ini. Semua orang desa keluar dengan raut muka bahagia bersalam-salaman berkunjung bergilir ke rumah tetangga. Semua saling mengucapkan selamat dan bermaaf-maafan tanpa terkecuali. Serasa apa yang terjadi selama setahun terasa ringan dan terbang tanpa beban. Tak ada moment satu pun di dunia ini yang menggantikan ini semua.

Yah, akhirnya aku harus merasakan Ramadhan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aku harus merelakan hangatnya karpet depan televisi di kampung halaman. Aku harus merelakan serunya mencat dan membuat rumah kelihatan lebih indah. Aku harus merelakan panen ubi di kebun milik orang tua dan memasak sajian takjil. harus merelakan sedapnya sambal teri campur petai spesial buatan ibu tercinta. Harus merelakan keliling kampung saat sahur bareng keponakan dak teman-temanya. Merelakan buka bareng keluarga besar di rumah nenek dan menginap. Dan aku harus merelakan moment istimewa lainya berpuasa dengan keluarga besar di kampung halaman.