Kadang kaki ini terasa sakit untuk melangkah….

Kadang tanggan ini terasa kaku untuk bergerak…

Kadang mata ini terasa pedih untuk berkedip…

Dan, hidup ini memang selalu begitu…

Tak ada yang sempurna di sini…

access form silverbearcafe.com

Kehilangan, dikecewakan, diabaikan, itu sudah menjadi bumbu dalam kehidupan yang bercita rasa tinggi ini. Terkadang, aku sulit memaafkan seseorang yang telah mengecewakan ku. Terkadang hati ini terasa berat dan sulit sekali untuk membuka lembara baru. Memaafkan orang yang telah berbuat salah. Aku tahu, tak seorang pun di dunia ini yang sempurna. Orang selalu merusak dan menghancurkan sesuatu yang tampak begitu sempurna. Menghacurkan segala sesuatu yang tertatata begitu apik.

Memang siapa yang peduli. Mungkin hanya aku saja yang terlalu naif merasakanya terlalu dalam. Sampai-sampai melihat ke depan pun enggan. Aku selalu menghindar dari kerumunan. Aku lebih nyaman menyendiri dengan dunia kecilku. Aku tidak ingin dikecewakan lagi dan aku menghindar untuk sakit hati lagi.

Aku merasa gugup ketika berada di tengah-tengah banyak orang. Seakan mata ini berat untuk menatap ke depan. Kepala menjadi tertunduk dan sesekali terangkat. Goresan luka di telapak tangan ini masih sangat terasa. Sayatan pisau di telunjuk jari ini masih perih. Lebam di mata sungguh sangat berat sekali bahkan untuk meneteskan air mata. Semua masih tampak terasa meski ini sudah terlewatkan beberapa tahun lamanya.

Siapa yag bisa mengobati luka ini?

Semua ini tak kan pernah hilang. Hanya aku yang merasakan dan orang lain hanya menebak. Menebak apa yang tampak dari luar, sungguh sakit sekali jika ada orang lain yang pura-pura ikut merasakan apa yang aku rasakan. Mereka tidak akan pernah tahu bagaimana perihnya bekas luka yang tak pernah tersembuhkan ini. Bekas luka yang terasa nyeri setiap saat.

Penderitaan apa yang pernah mereka ceritakan, aku telah mengalaminya lebih dulu. Dicampakkan, dihina, dikucilkan, bahkan harus berjuang sendirian dalam mengatasi semua kondisi terpuruk, itu sudah menjadi biasa bagiku. Aku hanya menghindar dan tak terlalu bercerita. Itu sama saja dengan membuka pembalut pada luka yang belum kering. Perihnya terasa bahkan sampai di ujung pelipis.

Semua sudah menjadi biasa bagiku bahkan dengan orang-orang menatap acuh. Semua terasa sama bagiku bahkan dengan orang-orang berbisik di belakang menusuk dengan kata-kata tajamnya. Dan, semua akan terasa sama meski itu suatu hal yang tidak menyenangkan. Akan tetap ku jalani hidup denga warna-warni dan terus berputar.