Archive for June 30th, 2012

Candaan atau Celaan?

access form metrotvnews.com

“eh, muka kamu tuh kayak moncong bemo….”

“saking putihnya kulit kamu, sampe-sampe aku ga bisa bedain dengan knalpot bututku”

“bagus, bagus kok body kamu. Sampe aku bingung mana yang kendang mana yang pantat kamu, *hahahahaaaa…”

*bercanda

Kata-kata tersebut kadang dengan mudah sekali keluar dari mulut tanpa melihat bagaimana perasaan yang lain. Mungkin, kita berpikir bahwa dengan dicandain seperti itu, orang lain akan merasa diperdulikan dan merasa lebih dekat. Padahal tidak setiap orang kebal dengan candaan yang terkadang kelewat batas.

Memang, manusia tidak hidup dengan kondisi yang tegang terus dan terkadang butuh rileksasi. dengan sedikit selingan komedi ditengah-tengah aktifitas, akan menjadikan pikiran refresh. Situasi tidak selalu tegang agar pikiran tidak jadi stres. Namun, komedi juga ada batasnya.

Tidak semua orang suka dengan komedi meski rata-rata orang menyenaginya. Ada tipe-tipe orang cukup sensitif dan tidak bisa menerima gurauan sambil lalu. Tipe orang seperti ini akan merasa direndahkan jika dijadikan bahan lelucon.

Juga tidak semua kondisi dapat dijadikan bahan tawaan. Ketika kondisi yang membutuhkan perhatian lebih, akan sangat tidak lucu sekali jika tiba-tiba ada orang dalam suatu kondisi tersebut membuat suatu candaan yang tidak pas.

Seorang pelawak pun juga terkadang tidak suka dijadikan bawan lawakan dengan teman sepanggung. Dia bisa jadi tertekan dan merasa dilecehkan karena apa yang dijadikan bahan lawakan tersebut merupakan suatu hal yang sensitif. Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu, ada seorang pelawak yang cukup terkenal melaporkan teman sepanggungnya karena dia merasa bahan lawakan yang dibawakan teman sepanggungnya tersebut sudah kelewatan.

Mungkin ada baiknya jika para pelawak layar kaca dapat membatasi candaanya. Akan menjadi lebih baik lagi jika dia dapat membedakan mana yang patut untuk dijadiin bahan tawaan dan mana yang tidak. Karena percaya atau tidak, lawakan yang dibawakan di layar kaca tidak jarang menjadi sebuah trending topic dan ditirukan oleh pemirsa se Indonesia.

Adaptasi hingga Metamorphosis V

Saat harus memilih antara mana yang benar dan mana yang salah, itu adalah sebuah dilema. Setiap orang mempunyai versi masing-masing dalam menanggapi orang lain dan berpotensi untuk melakukan sebuah hegemoni. Berusaha menyakinkan yang lain bahwa pandanganya merupakan pandangan yang paling kuat dan tidak dapat di bantah lagi. Aku kagum dengan orang yang berkepribadian seperti itu. Meski kelihatanya sagat jahat, namun aku memandang sisi kuat dari dirinya.

Sepengalaman ku, setiap orang mempunyai motif dalam setiap dia melakukan relasi. Ada sebuah dorongan yang mengakibatkan dia melakukan komunikasi dengan orang lain. Ketulusan tanpa ada maksud apa-apa merupakan sebuah tanda tanya terselubung. Jika orang tidak mempunyai ketertarikan, tidak ada kepentingan, dan tidak ada hubungan, tidak mungkin seseorang melakukan komunikasi dengan yang lain. Dia akan mencoba untuk menklarifikasi dan mencari kebenaran sebuah fakta tentang apa opini yang berlaku terkait dirinya.

Kadang, seseorang menjadi yakin sekali dengan omongan orang yang dia kenal atau bahkan orang asing sekalipun. Dan, tidak jarang pula orang akan meragukan omongan seseorang yang telah digambarkan buruk dengan yang lain meski sebenarnyaapa yang disampaikanya benar. Terkadang orang tergantung dengan persepsi dan gambaran yang tampak dapat mengaburkan kondisi yang sebenarnya.

Orang tidak pernah tahu dampak apa yang akan terjadi atas persepsinya tentang orang lain. Seseorang akan menjadi yakin jika persepsi atas dirinya tersebut dikatakan oleh orang banyak. Biasanya dalam sebuah perkumpulan atau suatu kelompok sebuah persepsi atas seseorang akan sangat mudah menyebar dan sangat berpengaruh. Bayangkan saja jika seorang ketua kelompok atau orang berpengaruh dalam suatu kelompok berpendapat jelek tentang seseorang dan dipercaya oleh anggota kelompok. Itu akan membentuk seseorang yang dianggap jelek tersebut menjadi benar-benar nyata karena dia meyakini bahwa persepsi yang berlaku dikelompok tersebut tentang dirinya adalah mutlak. Sangat parah sekali dampaknya jika budaya seperti itu terus berkembang.

Terkadang proses penyesuaian diri memang berat. Banyak sekali konflik dan dilema yang terjadi yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah proses penyesuaian diri. Apakah tenggelam dan terbawa arus hingga menjadi sesuatu yang berbeda sesuatu yang kehilangan jati diri. Atau bahkan dapat bertahan dan diterima menjadi sesuatu diri yang utuh sesuatu yang mempunyai jati diri teguh. Ini memang bukan pilihan. Namun, ini adalah sebuah proses yang menentukan seberapa kuatkah diri seseorang jika harus dihadapkan pada sesuatu yang komplek yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri tanpa kehilangan sebuah jati diri.

*Bersambung………

Tags: