Archive for June, 2012

Kali Surabaya Sudah Mati!

Kali Daerah Wonocolo Surabaya

Surabaya merupakan kota maritim. Hal ini membuat Surabaya dilalui oleh banyak sungai, baik itu sungai besar maupun sungai kecil. Dengan banyaknya sungai yang mengalir melewati kota ini, seharusnya banyak potensi yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Namun sebaliknya, sebagian besar sungai-sungai ini di manfaatkan sebagai Wc sekaligus kakus oleh warga bantaran sungai. Tidah hanya itu, bahkan sungai-sungai tersebut di jadikan sebagai tempat pembuangan sampah baik itu oleh masyarakat bantaran sungai maupun masyarakat dari tempat lain. Salah satunya sungai yang mengalir di kecamatan Wonocolo Surabaya.

Sungai di daerah ini, sudah tidak lagi seperti layaknya sebuah sungai yang bersih. kondisi Ekosistem sungai, baik di dalam sungai maupun di tepi sungai, sangat memprihatinkan. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya jumlah dan variasi ikan serta jenis hewan lainya dan juga tumbuh-tumbuhan yang berhabitat di sungai ditambah lagi baunya yang sangat menyengat karena kondisinya sebagai tempat pembuangan akhir. Padahal melihat kondisi masyarakat Surabaya pada saat ini, kebutuhan terhadap air sangat meningkat. Hal ini seharusnya bisa menjadi alasan pemerintah dan masyarkat Surabaya untuk merevitalisasi dan menjaga kebersihan sungai agar potensi sungai bisa di manfaatkan semaksimal mungkin menjadi penopang kebutuhan sehari-hari masyarakat dan juga bisa dijadikan sebagai industri pariwisata.

Tags:

Sri, Istri yang Gigih Dalam Menghadapi Suaminya

access form gstatic.com

20 Mei 2012, minggu pagi buta, terlihat Sri pontang panting mencari bantuan dari tetangganya. Sri sedang menggendong putri bungsunya, mencoba menjelaskan kepada tetangganya bahwa dia sedang membutuhkan bantuan dengan segera. Rahmad sedang terbaring lemas karena mabuk berat di salah satu komplek hiburan malam yang berada di daerah Surabaya Barat. Dengan nada suara yang terbata-bata, Sri mencoba mencari simpati tetangganya. ketika dia sedang mencoba menjelaskan kronologis kejadianya, tiba-tiba saja Bu Am memotong pembicaraan Sri, “saya akan mencoba bertanya dulu pada mas Doni, mungkin dia bisa bantu menjemput suamimu”. Tanpa ada yang meminta Sri mengucapkan terima kasih kepada Mbak Am atas bantuanya.

Pada pagi hari itu terlihat tetangga mendengarkan cerita Sri dengan simpati. Ibu Atun bertanya, “terus, bagaimana kamu tahu kalau suamimu di tempat itu?”, Sri pun menjawab, “tadi pagi Suryo, teman suamiku mengabarkan keadaan mas Rahmad lewat telepon…..”. dengan terus menerangkan kepada tetangganya tersebut, perempuan berambut lurus tersebut mencoba menahan tangisnya yang sudah sangat berat sekali untuk dibendung. Tak lama kemudian Mbak Am keluar dengan mengedarai mobil beserta suaminya menghampiri Sri yang sedang berkerumun dengan tetangganya. “ayo Sri naik, biar mas Doni yang mengatarmu menjemput suamimu”, pinta Mbak Am. Tanpa berpikir panjang, Sri kembali ke rumahnya mengambil dompet dan setelah itu masuk ke mobil menjemput suaminya.

Hampir pukul 09.00, Sri dan Rahmad, yang masih tak berdaya, sampai kembali di rumahnya dengan diantarkan oleh Mas Doni. Dengan dibantu beberapa tetangganya, Rahmad dibopong diantarkan masuk ke dalam rumah. Karena terlalu banyak minum minuman keras, kondisi Rahmad sempat tidak sadarkan diri pada. Dengan panik Suryo mencoba menolong dengan memberikan napas buatan dengan maksud agar Rahmad tersadarkan diri.. Namun. Namun Rahmad tak bereaksi. Kemudian Suryo memberikan air putih untuk diminum. Namun sialnya Rahmad masih dalam kondisi yang sama.

Saat ini Rahmad di rawat sendiri oleh Sri. Dengan kejadian ini, Sri berharap Rahmad bertaubat dan kembali ke jalan yang benar dengan meninggalkan kebiasaan-kebiassan lamanya yang sangat tidak baik bagi keluarga dan lingkunganya.

Tags: ,

Adaptasi hingga Metamorfosis IV

“Aku mulai merasa terasing di sini”

“ Aku sudah tidak kenal lagi dengan siapa pun”

“ Serasa orang baru yang berkunjung ke tempat ini”

Itulah yang aku rasakan sebagai orang lama yang sempat beberapa waktu fakum. Sebuah komunitas pertama yang menerima ku pertama kali ketika aku berada di kota “boyo” ini. Komunitas yang mengajarkan banyak hal dan menunjukkan ku seperti apa kota Surabaya. sengaja tak ku sebutkan komunitas apa jelasnya. Tapi yang jelas komunitas ini mengajarkan ku banyak hal. Mulai dari bagaimana cara menyesuiakan diri, berelasi dengan orang lain, sampai harus tahu bagaimana cara menjadi diri sendiri.

Entalah…..

Banyak pertimbangan, hingga akhirnya terucap kata “I finished”. Aku selalu teringat rasa-rasa awal aku menyesuaikan diri di komunitas ini. Perih, kecewa, iri, dan sampai aku relakan air mata mengalir untuk ini. Berkompetisi dengan yang lebih tua, mencari perhatian pembina agar sedikit saja dilirik, selalu mengasah rasa ingin tahu apa yang sebenarnya diinginkan komunitas. Aku rela dipermalukan, hanya ingin dapat perhatian mereka. Mereka yang suda lebih dahulu menjadi anggota komunitas. Mencoba menjadi sesuatu seperti layaknya mereka agar dapat diterima dan akhirnya menjadi seseorang yang eksis.

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berjuang menyesuaikan diri. Bukan waktu yang singkat untuk merasakan menjadi seseorang yang diabaikan bahkan dilirik pun tidak. Lebih baik dianggap aneh dan dikutuk dengan sumpah serapah karena itu masih ada pedulinya. Tapi, jika dianggap ngobrol saja engga apalagi dilibatkan dalam sebuah moment. Rasanya seperti kejatuhan durian jika tiba-tiba mereka mengajak ku keluar untuk sekedar karoke atau hanya makan biasa. Setahun pertama keberadaan ku bagaikan mahluk halus yang keberadaanya tak pernah di sadari namun ditakuti. Mereka asyik bercanda kesana kemari namun ketika giliran ku ikut nimbrung, keadaan berubah senyap dengan seketika. Seakan-akan merka menyaksikan mahluk asing lewat di depan mereka.

Bersambung…….

Tags:

Bidin, Jam Tuju pagi Sudah Buka Lapak

Abidin yang biasa dipangil dengan bidin adalah seorang penjual pentol di depan kampus IAIN Surabaya. bapak dua anak paruh baya ini sudah lima tahun berjualan pentol di daerah Wonocolo Surabaya. dia dengan istri beserta dua anaknya sudah lima tahun tinggal di kontrakan daerah Jemursari. Dengan modal sepeda motor dan gerobak pentol dibelakang, sesekali dia berkeliling kampung menjajalkan jualanya ke penduduk.

Kegiatan rutin dia sehari-hari adalah jualan pentol. Setelah selesai menyiapkan daganganya, pukul tuju pagi dia sudah standby di depan kampus agama tersebut. Dia bertahan di sana sampai pukul tiga sore atau sekiranya dagangan yang dia jual sudah habis. Setelah itu, dia langsung pulang ke rumah kontrakan untuk mengambil stok daganganya dan berjualan di tempat lain. Biasanya dia membuka lapak di depan parkiran Jawa Timur Expo (JatimExpo). Setelah dagangannya habis, malam hari, sekitar pukul dua belas malam, dia pulang ke rumah dan istirahat.

Untuk pengolahan bahan dagangan, diatur oleh istrinya. Dia hanya bekerja sebagai penjual. Pada malam hari, istrinya membuat olahan pentol untuk dijual besok. Bisanya sehari Bidin mampu menjual sekitar sepuluh kiligram pentol.

Penghasilan Bidin sebagai penjual pentol, cukup membantu dia untuk membayar rumah kontrakan dan biaya kehidupan sehari-hari keluarnya serta biaya sekolah anaknya. Dia tidak pernah mengeluhkan hasil dari jualanya. Dia selalu mensyukuri apa yang dia peroleh meski terkadang tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Dia merasa puas dengan apa yang telah dia dapatkan dan dia selalu mensyukuri itu.

Untuk menunjang kebutuhan keluarga, istri Bidin juga berjualan gorengan di depan rumah kontrakan. Dia membuka lapak saat sore hari sampai pukul sepuluh malam. Hasil yang diperoleh istrinya cukup menutupi kebutuhan belanja dapur sehari-hari. Bahkan terkadang lebih dan istri Bidin menabungnya untuk kebutuhan masa depan. Mereka bercita-cita untuk membangun rumah sendiri.

Meski terkadang ada perkataan yang tidak enak tentang profesinya dari para tetangga, Bidin mencoba memaklumi itu. Dia sadar profesi dia sebagai penjual pentol tidak sebaik tetangganya yang buruh pabrik atau karywan kantoran. Namun, dia mempunyai prisip asal pekerjaan tersebut halal dan dapat menopang kehidupannya bersama keluarga, dia akan menjalani dengan baik.

Kedepanya Bidin mempunyai angan-angan untuk membuka warung Bakso. Meski dia tahu untuk mewujudkan angan-anganya tersebut memutuhkan dana yang tidak sedikit baginya. Namun, dia tidak pernah menyerah dan dia selalu menyisihkan penghasilanya untuk mewujudkan angan-angan tersebut.

Menurut Abidin, hidup di kota besar layaknya Surabaya ini memang butuh kerja keras. Walaupun banyak sekali lahan untuk mencari keuntungan di kota ini dibandingkan di desa, namun akanberbanding tebalik jika tidak diimbagi kerja keras dan percaya akan keajaiban tuhan. Menurut dia, jangan menyesali keadaan yang telah dia dapat karena menurut bapak asal Jember ini manusia tidak akan pernah tahu jalan mana yang akan membawanya kearah keberuntungan. Dia selalu bekerja keras dan pantang menyerah meski profesinya hanya sebatas penjual pentol.

Tags: ,

Veteran, Nasib Tidak Sepadan dengan Perjuangan

Veteran Indonesia

Seorang Veteran memakan nasi bungkus dan minum segelas air mineral di pinggir trotoar, dengan Tetap Bangga menggunakan seragam perjuangan. Sungguh Menyedihkan Seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan menjalankan kehidupnya dengan memprihatinkan. hal ini di sebabkan Kurangnya Perhatian pemerintah terhadap mereka. Padahal, perjuangan yang mereka lakukan bukan untuk kepentingan pribadi, namun hanya semata-mata untuk kepentingan negara dan bangsa indonesia agar terbebas dari  penjajah.

Memang, nasib veteran perang di belahan bumi manapun hampir mengalami nasib yang sama. Mereka diabaikan dan seakan-akan perjuangan yang telah mereka lakukan tidak pernah terdengar oleh siapa pun. Bahkan sebagian dari mereka, tidak tercantum sebagai daftar veteran. Mungkin mereka tidak pernah mengharapkan apapun dari negara atas pengorbanan yang mereka lakukan. mereka melakukan atas dasar rela demi kecintaanya terhadap tanah air.

Melihat kondisi mereka yang sudah renta, tidak mungkin lagi mereka bekerja seperti dulu. Kini mereka tidak lagi gagah seperti ketika mengusir penjajah. Otot-otot kuat mereka sudah mengendur bahkan untuk mencari sesuap nasi. Kini mereka membutuhkan orang-orang yang peduli akan nasib mereka.

Di beberapa negara maju, walaupun merka terabaikan, namun nasib mereka masih mending jika dibandingkan dengan veteran di Indonesia. Meraka masih mendapatkan dana kompensasi, walaupun tidak cukup besar jumlahnya, dan ditempatkan di asrama khusus para veteran. Mereka dilindung oleh negara dan kesehatanya juga ditanggung negara. Negara masih masih memiliki tanggung jawab sosial pada para veteran bangsa.

Veteran Indonesia

Namun, pemerintah Indonesia kurag peka dalam hal ini. Nasib para veteran negara majemuk ini masih belum pasti. Banyak para veteran yang sekarang hidup kurang berkecukupan, ada yang sekarang berprofesi menjadi penjual alat-alat listrik, menjadi penjaga kamar mandi, tukang kebun, tukang sol sepatu bahkan ada yang menjadi pemungut sampah. Padahal jasa mereka untuk Indonesia sangatlah banyak seperti waktu, harga, tenaga, harta, dan keluarga. Tetapi balasan jerih payah para veteran, pada masa pensiun mereka tidak mendapatkan hal yang layak, seperti tempat tinggal, dana pensiun.

Mereka hidup dibawah ambang kemiskinan. meskipun mereka mendapat tunjangan dana setiap awal bulan dari pemerintah, namun itu belum mecukupi biaya hidup untuk keluarganya. Kita dapat berharap pemerintah segera merespon keadaan ini. Perjuangan mereka sungguh sangat besar pada negeri ini. Akan tetapi keadaan mereka masih di bawah sejahtera.

Seharusnya tidak hanya pada perayaan kemerdekaan saja mereka diingat, tetapi pemerintah dan bangsa Indonesia harus peduli kepada mereka setiap waktu. Dengan demikian jasa mereka yag sangat luar biasa dapat terus dikenang dan dapat memberikan motivasi kepada generasi bangsa untuk terus berjuang membangun negara yang amat makmur ini.

Tags: ,

Tradisi Bullying

“dasar, bodoh kamu…”

“dasar, jelek kamu..”

“kamu tuh bukan apa-apa, cuman penggangu…”

Dan masih banyak lagi kata-kata kasar lainya yang sering diucapkan. Mungkin, dengan kata-kata tersebut seseorang ingin menunjukkan ke yang lain, bisa kepada orang yang lebih muda, bahwa dia lebih. Dia ingin menunjukkan bahwa dia lebih berkuasa, lebih dituakan, dan dia ingin dihargai dengan melakukan penindasan lewat kata-kata tersebut.

Tanpa disadari, terkadang dengan mudahnya seseorang mengeluarkan statement yang men-judge. Dan lebih parahnya lagi, orang tersebut melakukan lagi dan lagi tanpa ia sadari. Hal semacam itu terkadang sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun dalam sebuah lingkungan. Bahkan, kebanyakan keluarga di Indonesia pun juga melakukan hal yang sama. Mereka beranggapan, dengan cara seperti itu akan mendidik anak menjadi pribadi yang tegar dan mandiri. Lingkungan sekitar, bahkan dalam akademisi pendidikan pun juga melakukan hal yang sama. Dalam sebuah pengkaderan, atau masa adaptasi siswa baru mereka dibentak-bentak dengan sumpah serapah dan tidak jarang main fisik terjadi.

Hal semacam ini bisa saja dilakukan. Namun, harus melihat kondisi psikologi seseorang. Jika seseorang menghakimi yang lain dengan perkataan “bodoh”, maka orang tersebut akan merasa ragu dengan dirinya dan dia akan mempersepsikan dirinya seperti apa yang orang lain bilang. Tentu hal semacam ini akan menjadi sesuatu yang sangat fatal jika diterapkan pada generasi muda. Pengkaderan semacam yang berlaku di institusi pendidikan Indonesia sekarang ini sungguh disayangkan. Karakter mereka akan semakin buruk jika hal semacam ini terus berlaku.

Tags:

Adaptasi hingga Metamorfosis III

Di bagian ini aku akan bercerita sedikit banyak mengenai pengalamanku tentang manusia. sesuai dengan pengalamanku selama ini, manusia adalah mahluk terliar sejagat raya dengan segudang motif yang dimilinya. meski aku belum pernah berinteraksi dengan mahluk lain, namun subjekku tentang manusia adalah mahluk licin penuh tipu muslihat. Di sisi lain dia dapat melakukan kegiatan sosial untuk berbagi dengan sesama dan peduli lingkungan. Namun, dengan melakukan kegiatan tersebut sebenarnya ada motif pribadi terselubung yang orang lain tidak ketahui. Mungkin untuk sebuah citra agar dia dipuji dan dikatakan sebagai orang yang mulia dan akhirnya banya orang orang yang peduli dan hormat kepada dia. Siapa yang nebak.

Cerita lain, mungkin dia bisa saja menunjukkan bahwa dia adalah orang paling menderita di dunia dengan menceritakan peristiwa melo masa lalunya ke yang lain yang agar dia dapat dinilai sebagai orang yang tegar dan kuat dalam menghadapi hidup.

Kalau keadaanya demikian, saatnya untuk bangun. Dunia ini diciptakan bukan layaknya sebuah film. Dimana hanya kamu sebagai pemeran utama dan yang lain pendukung dan figuran. Dalam dunia ini, dunia yang benar-benar nyata, bukan kamu saja yang mederita dan seolah-olah paling menderita, tetapi yang lain juga sama. Semua orang punya cerita dengan masalahnya masing-masing.

Mungkin, dari permukaan setiap orang terlihat sama. Terlihat sama-sama baik. Namun, coba hadapkan dalam suatu masalah, atau mungkin dalam sebuah perkumpulan layaknya kelompok. Pasti dari situ mulai tampak seperti apa manusia itu sebenarnya. Manusia-manusia yang mempunyai jiwa selalu ingin tampil dan selalu ingin dianggap lebih dari pada yang lain akan berusaha menonjolkan diri. Dia akan mengambil sikap seolah-olah pahlawan dan rela melakukan apa saja demi kepentingan bersama. Sampai-sampai dia rela bekerja lebih dari pada yang lain. Dibalik semua itu, tidak ada yang nebak motif apa yang sebenarnya dia miliki. Bahkan dia sendiri mungkin tidak menyadarinya.

Dalam sebuah kelompok, orang-orang seperti ini telah terbiasa dianggap pahlawan dengan pengalaman terdahulunya dan dia sendiri meyakini bahwa dia adalah orang baik. Namun, terkadang dia tidak menyadari kelalaian-kelalaian yag telah ia perbuat. Dia mungkin bisa melebih-lebihkan sebuah serita tentang apa yang telah dia perbuat sehingga mereka yang di sekelilingnya merasa yakin dengan jiwa kepahlawananya. Bahkan dia selalu berusaha untuk menjadi sosok yang diinginkan oleh kelompok tersebut.

Di sisi lain, ada beberapa orang yang mempunyai motif pribadi, namun dia kurang lihai dalam menutupinya. Orang seperti ini mudah terpelanting karena kecerobohan-kecerobohan yang dia lakukan.

Dan, yang paling berbahaya menurutku adalah jenis manusia yang mempunyai motif untuk menguasai semuanya namun dia sendiri tidak mengetahui. Dia selalu berpikir bahwa apa yang dilakukanya benar dan kisah hidup yang telah ia lalui merupakan kisah paling menarik se gajat raya. Dia selalu memandang diri sendiri sebagai yang paling benar dan memandang yang lain selalu jahat. Ketika berkonflik, dia akan merasa bahwa dia yang ditindas dan yang lain menindas. Dia selalu memanajemen kisah pedihnya untuk menarik simpati yang lain.

Dan, yang satu ini juga cukup parah. Dia merasa tahu segalanya padahal kenyataanya apa yang dia katakan tidak pernah tepat. Dia selalu mencoba meyakinkan yang lain padahal dia sendiri belum tentu yakin dengan apa yang dia yakini. Dia selalu mengikuti kelompok yang dianggap paling keren. Dalam kenyataanya dia rapuh dan tak dapat berdiri sendiri.

Meski demikian, manusia juga dapat mengendalikan tabiatnya tersebut. Mereka selalu berusaha sedemikian mungkin agar tak terbawa oleh tabiatnya. Mencoba mengendalikan diri dengan hati nurani yang ia miliki.

bersambung……

Tags:

Adaptasi hingga Metamorfosis II

Apapun yang telah aku tulis di bagaian pertama, abaikan saja. Malah lebih baik jangan dibaca. Itu hanya sebuah pengantar yang berantakan dan sulit untuk dipahami. Mungkin hanya untuk formalitas saja agar dapat mengisi layaknya sebuah cerita.

Namun, di sini aku akan mulai bercerita. Atau tepatnya menulis apapun yang telah aku alami. Encoba untuk bertututr apa adanya tanpa ada upaya klasik membumbu-bumbui agar sebuah cerita terdengar menarik.

Surabaya Selatan tepatnya dipinggir jalan depan Graha Pena terlihat sangat wajar sekali. Bahkan lebih wajar ketika tiga tahun lalu aku baru nyampe di sini. Semua terlihat biasa saja dan pengap penuh dengan pendudukyag berjubel di gang-gang. Saking banyaknya penduduk, sampai-sampai bangunan ukuran dua kali tiga pun menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali sekeluarga. Oh, stop.. aku tidak akan memceritakan profil tempat tinggalku sementara ini. Aku harus fokus pada satu kisah dimana kisah tersebut akan menceritakan bagaimana berproses untuk membaur dengan sekitar. Apakah proses tersebut berhasil atau malah menyeret ku suatu tempat lain yang sama sekali aku tidak pahami. Dan, apakah aku akan kehilangan siapa diri aku..

Semuanya masih serba misteri. Misteri dan misteri. Toh, selama tiga tahun lebih ini aku masih terus berproses untuk membaur. Membaur dan membaur hingga membuat diriku menjadi sesosok lain tapi bukan orang lain. Sosok diriku yag terlahir kembali yang membuat segalanya menjadi lebih indah, lebih mudah, lebih elegan, dan itu suatu hal yang aku mau.

Tapi lupakan saja semua itu. Itu terlalu jauh dari jarakku sekarang. Sekarang aku masih terjebak dalam prosesku sendiri yang aku sendiri tidak tahu di mana ujungnya. Entahlah.. proses ini kadang membuatku putus asa dan membuatku berfikir lebih baik mundur dan menarik diri dari kehidupan konyol ini. Memang tidak ada aturan tertulis seseorang harus membaur agar diterima oleh lingkungan dimana dia berada. Tapi keadaan yang memaksa harus seperti ini. Terlalu naif jika aku mengharapkan lingkunganku untuk menerima ku apa adanya. Dan aku sadar, ini adalah tuntutan untukku dan untuk semua orang.

Minggu sore, 10 Juni 2012, aku keluar cari makan. Entahlah.. yang jelas aku telah kecewa dengan warung langgananku dan aku sudah tak nyaman lagi makan di sana. Jika aku bicarakan keburukan apa yang dimiliki warung langgananku tersebut di sini, itu akan menambah catatan dosaku dan memperburuk citranya. Sayang, dia sudah membagun citra yang ia miliki sejak lama. Sambil jalan, aku sebenarnya ingin menceritakan satu per satu warung favoritku. Tapi, itu ntar aja lah. Aku sekarang sedang mengantri di warung penyetan tanpa tenda, hanya gerobak saja, tak jauh dari tempat tinggal sementaraku.

Saking ga telatenya aku melihat lemah gemulainya si pemilik warung yang sedang hamil ini, aku melamun sambil memperhatikan apa yang lewat di hadapanku. Motor lalu lalang dengan pengendaranya, orang jalan kaki, pedagang eh degan di seberang jalan, sampai ibu-ibu renta yang menutup warungnya. Entahlah.. yang jelas pemilik warung lama sekali melayani pesananku.

Tiba-tiba aku melihat dua pasangan remaja boncengan motor berhenti di seberang tepat di depanku. Aku coba mengamati mereka dan perhatianku jatuh ke si cewek yang turun dari motor di seberang sana. Opiniku berkembang liar tentang cewek tersebut. Sampai-sampai aku beranggapan bahwa cewek tersebut gampangan. Ga gampangan bagaimana. Dia nongkrong bareng cowok-cowok sampai larut malam di warung kopi depan gang rumahnya. Di satu saat dia menggendong bayi dan mencoba untuk menimangnya. Dan terkadang juga dia kelaur dengan cowok lain yang ga karuan mukanya saat malam hari. Aku heran dan bahkan di satu sisi aku iri dengan cewek ini. Begitu mudahnya dia membaur dan begitu mudah dia mendapatkan teman. Aku berfikir bahwa aku perlu kenal dengan cewek ini dan belajar banyak denganya.

Aku sudah capek menilai dan melamun. Ku lihat pemilik warung apakah dia sudah selesai dengan pesananku atau belum. Ku lihat dia masih mendadar telur di penggorengan. Ya sudahlah, aku tunggu dan coba menguping kira-kira topik apa yang jadi perbincangan antara penjual dan pembeli baru setelah aku. Yang aku lewatkan di sini tiba-tiba ada pelanggan ibu-ibu dan mungkin dia juga tetangga pemilik warung karena kelihatan akrab. Topik ga jelas dan aku mencoba cari perhatian lain. Sebelum aku menemukanya, tiba-tiba pesananku rampung dan aku langsung membayar.

Sampai di tempat tinggal sementara, aku melihat tetangga kamarku lagi sit up. Akhir-akhir ini dia terlihat rajin sekali berolah raga bahkan yoga. Entahlah, dari mana ia dapat ilmu yoga dengan dengerin lantunan ayat-ayat al quran. Tapi menurutku itu hal lucu aja. Tapi, ngomongin tetangga kostku yang satu ini, aku punya cerita lucu tentang dia. Tapi sekarang belum tepat untuk diceritakan.

bersambung….

Tags:

Orkes Dangdut Makin Erotis, FPI Diam Saja

access form www.wordpress.com

Beberapa waktu lalu media sangat rajin menyuguhkan berita tentang aksi FPI menolak Lady Gaga. Sampai-sampai membuat topik hangat yang lain menjadi kabur akibat masyarakat fokus dengan topik satu ini. Jejaring social juga lebih tertarik untuk mendiskusikan topik ini dari pada curhat tentang kehidupan cintanya. Dan keingginan FPI untuk menggagalkan konser Mother of Moster ini akhirnya berhasil.

Lalu, pihak manakah yang paling dibanggakan?

Sudah bukan rahasia lagi kalau dunia bisnis dan politik penuh dengan persaingan. Bagi mereka benar salah bukan menjadi amsalah, tetapi menang kalah yang harus mereka capai. Tapi tulisan ini tidak akan membahas soal ini. Penulis ingin mengorek lebih dalam lagi mengenai idealisme Front Pembela Islam (FPI).

Ormas islam yang berdiri pada tahun 1998 ini memang penuh dengan kontroversi. Tidak ada yang tahu, apakah memang dibuat seperti ini atau bagaimana. Namun, yang tampak dari apa yang disajikan media mengenai aksi-aksi dari ormas Islam ini, seakan-akan idealis banget. Seakan-akan dia akan membabat habis aksi-aksi yang mengandung unsur-unsur maksiat.

Lalu, bagaimana orkes dangdut yang semakin erotis?

Kalau melihat kasus ini, seakan-akan FPI tidak pernah tahu acara ini dan seakan-akan jarak FPI dengan acara dangdut ini bermil-mil jauhnya. Padahal, kalau FPI menyayangkan Lady Gaga konser di Indonesia akan merusak moral bangsa Indonesia, itu sudah telat. Moral bangsa Indonesia telah kritis bahkan sebelum Lady Gaga terkenal sampai Indonesia. Moral bangsa ini sudah mengalami degradasi sekian tahun lamanya. Korupsi, trafficking, dan lain sebagainya yang ekarang lagi panas diomongin di media manapun.

Kalaupun memang FPI merupakan ormas Islam yang mempunyai idealisme yang tinggi, seharusnya dia harus bebas dari kepentingan manapun baik yang datang dari dalam maupun luar organisasi. Masyarakat, khususnya yang muslim, memang perlu dihindarkan dari segala hal yang berbau maksiat. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang adil dan makmur. Namun, dalam pelaksanaanya tidak perlu dengan aksi anarkis yang membabi buta. Hal ini akan memperburuk citra Islam di mata masyarakat dunia. Kembali lagi bahwa sesungguhnya islam itu ramah dan cinta damai.

Tags: ,

Kenapa Indonesia Ga Bikin Karnaval Gede Tahunan Aja?

access form google.co.id

Sudah bukan hal rahasia lagi kalau memang negeri ini mempunyai banyak sekali kebudayaan dan alam yang bagus. Mulai dari kebudayaan yang udah diketahui oleh umum maupun yang masih malu-malu buat di-expose. Tapi anehnya kekayaan tersebut ga dijadiin sebagai modal untuk ngedapetin masukan negara. Meski sudah ada usaha untuk mencoba, Kenapa kebudayaan tersebut ga coba untuk dijual atau dikemas lebih apik lagi sehingga orang-orang yang di luar sana jadi tertarik untuk berkunjung. Misal, melalui program visit apalah atau bikin semacam event tahunan kayak karnaval.

access form google.co.id

Sebenarnya kalau ngomongin soal karnaval, bukan hal baru lagi di Indonesia. Beberapa daerah sudah beberapa tahun belakangan ini mencoba menggelar seperti Parade Bunga di Surabaya, Jember Feshion Carnaval, sampai karnaval perahu hias Sungai Musi. Memang beberapa karnaval yang telah di buat oleh beberapa daerah tersebut telah berhasil mengundang masyarakat luar untuk datang. Tetapi itu masih sebatas turis lokal dan itu pun juga kurang greget. Perlu sesuatu yang lebih agar para bule yang doyan banget berwisata dapat berbondong-bondong dateng untuk berkunjung ke Indonesia.

Sebagai referensi, dapat dilihat karnaval tahunan di Brazil. Perayaan karnaval tahunan yang berpusat di Rio De Jenairo ini mampu menyedot perhatian turis dunia pada musim panas. Perayaan yang berkonsep Brazil dengan mengusung segudang kebudayaan yang mereka miliki, seperti tari samba, musik bosa nova, dan beberapa daerah wisata dan tempat-tempat kebanggaan mereka seperti pantai Balneario, patung raksasa kristus penebus, dan lain-lain. Perayaan spektakuler ini juga di dukung penampilan dari artis lokal maupun mancanegara tiap tahunya.

access form google.co.id

Dengan konsep seperti ini, tentu akan semakin menjual Indonesia ke kancah dunia sebagai salah satu tujuan wisata terbaik dan kebudayaan yang dimiliki akan semakin lestari karena banyak orang yang tahu dan peduli. Ide kreatif dan inovatif harus terus dikembangkan untuk membawa kemajuan bangsa. Tidak ada batasan dalam kreasi dan tidak ada penilaian buruk untuk sebuah kreatifitas.

Tags: