Banyuwangi merupakan kawasan Jawa Timur paling indah pesona bentang alamnya. Ini telah saya buktikan dengan menjelajahi beberapa pesona alam seperti surfing di ombak tertinggi ke-2 dunia yaitu pantai Plengkung atau bule biasa menyebut dengan G-land, melihat pelepasan penyu di penangkaran penyu pantai Sukomade, menikmati indahnya air terjun Lider, dan masih banyak pesona alam lainya yang telah saya jelajahi di tanah kelahiran ini. Pesona alam ini terbentuk karena posisi Banyuwangi berada di perbatasan Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia dan terdapat beberapa gunung api yang masih maupun sudah tidak aktif. Namun ada satu pengalaman yang tak terlupakan sampai saat ini ketika menjelajah sunrise di kawah Gunung Ijen kemudian berlanjut berpetualang Afrika di taman nasional Baluran.

access form google.co.id

Petualangan ini dimulai saat lulus sekolah menengah atas atau sekitar awal bulan Juli tahun 2009. Bersama dengan lima teman lainya, petualangan ini dimulai dengan mendaki gunung Ijen untuk melihat pesona sunrise di puncak kawah Ijen. Sabtu malam sekitar pukul 22.00, kami menuju lokasi yang dapat ditempuh kurang lebih sekitar satu jam setengah melalui jalur Banyuwangi dengan menggunakan motor. Sekitar pulul 23.30 kita telah sampai di Paltuding , titik awal sebelum mendaki gunung Ijen. Di Paltuding ini tersedia beberapa fasilitas seperti: penginapan, lapangan camping, Musholla, toilet, penangkaran rusa dan penangkaran berbagai jenis tumbuhan langka.

Setelah beberapa jam mengistirahatkan badan di penginapan bertarif 150ribu permalam, pukul 4.30 kami mulai mendaki gunung Ijen untuk menikmati pesona sunrise di atas gunung. Jalan tanah menanjak dengan ketinggia 2.400 meter di atas permukaan laut akan kami lalui dengan berjalan kaki. Pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan kendaraaan demi keselamatan dan hanya petugas Vulkanologi saja yang diperbolehkan menggunakan motor.

Sepanjang perjalanan menuju kawah, kami menjumpai para pengangkut bongkahan sulfur atau belerang yang telah mereka ambil dari dasar kawah. Tak jarang kami bertemu dengan wisatawan asing yang memang jumlahnya cukup banyak di area wisata ini. Perjalanan cukup jauh, pengelola menyediakan beberapa pos peristirahatan dipinggir jalan pendakian untuk istirahat sejenak. Namun kami tidak memanfaatkan fasilitas tersebut karena tak ingin ketinggalan momen sunrise di puncak gunung.

access from google.co.id

Setelah berjalan sejauh 3 kilometer, kita sampai di puncak gunung kawah Ijen. Setelah beberapa detik, sinar keemasan muncul dari balik gundukan tanah menjulang tinggi menyinari danau kawah hijau toska dan jajaran gunung hijau di sekeliling Ijen. Dingin yang menusuk secara perlahan tergeser oleh rasa hangat sinar matahari yang mulai merambah ke tubuh. Bunga Edelweis dan pohon cemara gunung yang tadinya terlihat samar-samar, kini semakin berani menonjolkan keelokanya menambah pesona kecantikan kawah Ijen. Untuk melihat lebih dekat keindahan danau kawah, kita harus menuruni jalan setapak tebing kaldera yang biasa dilalui para penambang. Sering kali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan karena itu sangat disarankan untuk para pengunjung menggunakan sapu tangan basah. Air kawah cukup tenang dan berwarna hijau toska. Memang, pemandangan di sini terlihat begitu menakjubkan di pagi hari.

access form google.co.id

Setelah puas menikmati pesona kawah Ijen, kami turun gunung untuk kembali ke pos Paltuding. Sepanjang perjalanan menuruni gunung, pemandangan hijau cemara dan jajaran gunung berderet membentuk pesona alam yang menyejukkan mata. Sampai di Paltuding, kami langsung melanjutkan perjalanan ke air terjun Banyuputih. Air terjun yang terdapat di kabupaten Situbondo ini merupakan saluran pembuangan air danau kawah. Saking tergiurnya dengan warna air hijau toska cerah layaknya softdrink, saya mencuci muka dengan air ini. Kulit muka perih bukan main karena kadar asam  air ini sangat tunggi.

access form google .co.id

Puas menikmati pesona gunung Ijen, sekitar pukul 9.00, kami melanjutkan petualangan menuju Taman Nasional Baluran. Hampir pukul 10.00, kita sudah sampai di pusat Banyuwangi. Karena sudah lama penasaran dengan Rujak Soto, kami berhenti di Warung yang terletak di depan Stadion Diponegoro Banyuwangi. Kuliner khas Banyuwangi ini merupakan paduan Rujak Cingur dan Soto Babat, tapi rujaknya berbeda dengan Rujak Cingur Surabaya. Selain tidak memakai cingur Petis yang digunakan terasa keset dan lebih nikmat dibandingkan petis biasa. Untuk sotonya, mirip soto Madura tapi hanya menggunakan daging babat saja. Saat disajikan, Rujak Soto tak ubahnya seperti rujak yang disiram soto. Ditambah taburan emping mlinjo dan kerupuk udang yang menjadikan makanan ini makin gurih. Warung yang kita kunjungi ini memang baru buka beberapa menit. Namun, pelanggan yang antri sudah lumayan padat. Dengan harga Rp. 7.500 per porsi, ditambah dengan segelas es teh, rasa penasaran nikmatnya kuliner yang hanya ada di Banyuwangi ini terbayar sudah.

access form nusantara.asia

11.00, kita sudah berada di Batangan kab. Situbondo.dengan harga tiket Rp. 2.500 per orang, kami telah mendapatkan akses penuh untuk berkeliling Taman Nasional yang merupakan perwakilan ekosistem hutan spesifik kering di pulau Jawa. Setelah selesai melihat panduan rute kunjungan, kami langsung menuju tempat pertama, yatu evergreen atau hutan hujan sepanjang tahun. Di tempat ini kita disugui pemandangan pohon-pohon besar dan tinggi serta sungai yang membelah hutan yang mengalir dengan air jernih. Setelah menghabiskan waktu setengah jam di evergreen, kita beranjak menuju Bekol untuk istirahat dan makan siang.

Perjalanan menuju Bekol melewati Savana atau padang rumput yang luasnya kurang lebih sekitar 12.000 hektar total 40% dari luas Baluran. Sengaja tidak berhenti di sini karena sangat terik dan tumbuhan yang mendominasi tempat ini rumput berduri. Kita hanya bermotor pelan sambil menikmati pemandangan dan sesekali menjumpai kumpulan rusa dan burung elang yang terbang berputar mencari mangsa. Sayang, kitak berjumpa dengan kumpulan banteng yang jadi ikon taman nasional ini.

access form google.co.id

access form google.co.id

Sekitar pukul 13.00, kita sudah sampai di Bekol. Setelah selesai makan di kafetaria dan shalat Dzuhur, kita menuju menara Bengkol. Di atas menara berketinggian 64 meter, kita dapat melihat berbagai jenis satwa seperti merak, ayam hutan, kerbau liar, rusa, kijang, dan hamparan padang rumput berlatar belakang dereten pegunungan serta sayup-sayup biru laut layaknya phatamorgana padang pasir.

Terik matahari sudah mulai bergeser ke barat, waktunya kami melanjutkan perjalanan ke pantai Bama. Sekitar pukul 16.00 kita sudah mendirikan tenda di tempat ini. Selain lapangan luas untuk becamping, pengelola juga menyediakan beberapa fasilitas seperti empat rumah panggung yang bagian bawah dapat difungsikan sebagai tempat makan, dan tempat kendaraan. Untuk penerangannya menggunakan generator diesel yang menyala dari jam 18.00- 24.00 WIB. Setelah itu, petromaks yang digunakan. Sementara itu, rumah permanen yang disewakan menggunakan listrik tenaga matahari dengan watt terbatas. Untuk makanan, biayanya relatif murah. Semuanya bergantung pada menu yang akan dipesan.

Usai mendirikan tenda, kami menikmati indahnya pantai Bama pada waktu surut.  hamparan padang rumput laut nan luas dengan berbagai macam hewan laut yang dapat dipegang dengan mudah seperti sotong, landak laut, ubur-ubur, mentimun laut, kuda laut, dan masih banyak hewan laut lainya. Namun, kita tidak boleh sembarangan mengambil biota laut untuk dikonsumsi. Ada sanksi yang berlaku dihutan lindung ini. melihat kondisi gelap hutan bakau pada sore hari, kami mengurungkan niat untuk menjelajah karena di hutan ini terdapat berbagai macam binatang buas seperti ular, biawak, babi hutan, ajax, dan binatang buas lainya. Dilokasi perkemahan banyak sekali monyet berkeliaran. Jadi disarankan untuk mengamankan bekal dan barang-barang yang sekiranya membuat monyet tertarik.

access form liocooper.com

Senja berganti malam, suasana pun berubah riang. Dengan diterangi bulan melingkar gembira dan api unggun diatas pasir lembut, kami pun bernyanyi dengan diiringi gitar oleh salah satu teman sambil asyik bercanda. Waktu yang lewat dengan cepat pun sama sekali tak terhiraukan sampai baru sadar kalau air laut sudah kembali pasang. Kami pun beranjak ke tenda untuk beristirahat.

Meski adzan Subuh tak membangunkan kami, namun pukul setengah lima kami sudah bersih dan segar merenung dipinggir pantai menanti datangnya sang mentari. Setelah beberapa menit berlalu, rona kemerahan muncul malu-malu dari seberang pulau perlahan-lahan menampakkan diri. Tak sabar dengan segera kami berpose ria berphoto bersama secara bergantian. Indahnya luar biasa. Air pantai tenang dengan memantulkan cahaya perak diiringi matahari yang secara perlahan naik ke tahta melebarkan sayap menerangi seluruh jagad. Tak sabar, kami segera melepas pakaian dan menikmati percikan cahaya perak segar penuh dengan kehangatan. Panorama bawah menari mengikuti irama air laut bersenandung bersama. Rumput laut, terumbu karang, ikan hias, kuda laut, mentimun, landak laut, dan yang lainya seirama menyambut datangnya sang pembawa kebahagiaan.

access form google.co.id

Puas berenang dan menikmati panorama bawah laut, kami berjemur ala bule dipinggir pantai. Meski kulit sudah hitam legam bawaan dari lahir tapi tetap percaya diri berjemur dengan telanjang dada. Hari sudah dirasa makin panas, sekitar pukul 9.30, kita merobohkan tenda dan mengemasi barang-barang. Pukul 10.00, kita beranjak meninggalkan hutan lindung Balura dan kembali ke rumah masing-masing.

Sampai di Banyuwangi Utara, kami berhenti untuk sarapan. Sego Tempong khas Banyuwangi menjadi menu pilihan pas. Dinamakan Sego Tempong karena Nasi dengan sambal khas ini disantap dengan lauk , seperti ikan laut segar goreng, tempe dan tahu goreng, bisa juga ayam goreng dan empal. Sambal diracik dengan bahan tomat, cabai, dan terasi. Bahkan saking pedasnya, orang yang habis menyatap Nasi Sambal ini seperti ditempong atau ditampar. Dari sinilah muncul istilah “Nasi Tempong” yang membuat penyuka makanan pedas menjadi ketagihan. Cukup merogoh kocek Rp. 5000- Rp. 8.500 per porsi, perut terisi dengan baik dan lidah pun terasa puas. Setelah sarapan di warung nasi tempong, kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

Tips berwisata di kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran

· Banyak agen wisata di kota Malang dan Surabaya yang menawarkan paket wisata

kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran

· Tarif yang mereka tawarkan berkisar antara Rp. 1.000.000 sampai Rp. 3.000.000 untuk paket wisata Kawah Ijeh dan Rp.600.000 sampai Rp. 1.000.000 untuk paket wisata Taman Nasional Baluran

· Pos pemberangkatan biasanya dari kota tempat agen wisata

· Jika anda ingin backpacking dari luar pulau atau mungkin daerah yang jaraknya jauh dari kabupaten Banyuwangi, sebaiknya anda naik pesawat turun di bandara Ngurah Rai karena jarak Banyuwangi dengan Bali sangat dekat.

· Sediakan bekal makanan secukupnya karena di kedua tempat ini jarang sekali ada tempat yang menjual makanan.

· Jika ke kawah Ijen, pakai pakaian tebal karena suhu di sini berkisar antara 10 sampai 2 derajat Celcius.

· Bulan kunjungan yang baik di Taman Nasional Baluran adalah bulan Maret hingga Agustus. Anda dapat menyaksikan perkelahian antara rusa jantan pada bulan Juli hingga Agustus juga  melihat sekawanan kera abu-abu yang memancing kepiting dengan ekornya saat air laut surut. Ada juga atraksi tarian burung merak saat musim kawin antara bulan Oktober hingga November.

· Untuk kunjungan ke Kawah Ijen, waktu terbaik saat matahari terbit dan sangat disaran bagi anda untuk tidak berkunjung pada sore hari diatas jam 16.00 karena sangat rentan sekali gas beracun.