Archive for August 25th, 2012

My Frist Trip to Jogjakarta

“Berlibur keliling nusantara merupakan sebuah impian yang harus diwujudkan. Pertama kali ku awali dari Jogjaarta dan Jawa tengah.”

Nusantara merupakan anugerah luar biasa dengan alam pemandangan eksotis dan keberanekaragaman budaya. Secuil alam surga yang berada di seberang samudera Pasifik ini membutuhkan waktu dan tenaga lebih untuk mengelilinginya. Mulai dari putihnya pasir pantai Kuta, mahakarya Borobudur, pesona surga bawah laut Bunaken, dan beribu keindahan lainya yang ada di Nusantara. Dan dari kesemuanya itu, ingin aku nikmati satu per satu.

Pertama, aku awali langkahku ke pesona yang paling dekat, Jogjakarta dan Jawa Tengah. Dengan bermodal numpang liburan kakak laki-laki, awal Juli 2008, kita berangkat menyusuri perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah dengan Toyota Kijang keluaran tahun 90’an. Meski sebenarnya bukan sebuah liburan gratis, tapi aku menikmati moment ini. Sambil nyambi sebagai pengasuh untuk dua keponakan yang masih di bawah sepuluh tahun, aku masih bisa melihat hamparan pegunungan dan luasan Jawa tengah dari atas Borobudur.

sabtu pagi, kira-kira pukul 05.00, kita tinggal mengemasi barang yang sudah di siapkan semalam dan memasukkanya ke dalam mobil. Mulai dari kotak P3, nasi buntel buatan ibu, sambel goreng, baju ganti, dan segudang barang persiapan lainya yang sudah kita siapkan beberapa hari sebelum berangkat. Setelah semua siap, kita tinggalkan kota Banyuwangi tepat pukul 06.00 dengan Kijang keluaran 90’an bersama kakak dan kedua anak laki-lakinya. Sebuah awal pertualangan paling berkesan telah dimulai.

Pukul 7.30 kita sudah sampai di Banyuwangi Barat dan hampir memasuki kabupaten Jember. Sebelum masuk ke Jember, kita harus melewati jalan berkelok-kelok naik-turun gunung Kumitir yang membuat perut terasa mual. Pukul 9.00 kita sudah melewati Jember kota dan terus menuju ke barat. Sampai di Surabaya, sekitar pukul 13.00, kita berhenti sejenak, berziarah sambil shalat Dzuhur di makam Sunan Ampel. Setelah selesai shalat lalu berdzikir di makam Sunan Ampel, kita lanjut makan siang bekal yang sudah dibikinin ibu. Setelah istirahat selesai dan badan kembali fresh, kita melanjutkan perjalanan pukul 14.00 tepat dengan terus melaju melalui ke barat jalur pantai selatan Lamongan.

Hampir tengah malam, sekitar pukul 23.00, kita sudah memasuki kabupaten Demak. Kondisi badan yang capek sudah tidak memungkinkan lagi untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya kakak memutuskan untuk berhenti di masjid agung Demak sekalian berziarah dan bermalam di sana.

Kumadang Adzan subuh membangunkan kami yang tertidur pulas karena kecapean. Kami bangun dan shalat subuh setelah itu mencari sarapan dan langsung berangkat lagi meneruskan perjalanan.

pukul 10.00 kita sudah memasuki wilayah Magelang dan beberapa menit lagi kita sudah berada di candi termegah di dunia yakni Borobudur. Tepat sesuai dugaan, pukul 10.15 kakak sudah memarkir mobil di pelataran candi Borobudur. Dengan tiket masuk Rp.9000 per orang, kita memulai pertualangan mengelilingi candi yang pernah di nobatkan menjadi 7 wonders ini. Di sini semua tumbuhan di kasih nama yang memudahkan aku untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan. Perjalanan menuju Borobudur cukup melelahkan karena jarak pintu masuh dengan lokasi candi cukup jauh. Setelah 15 menit berjalan, kita sampai di lokasi Candi. Memang yang di ceritakan orang tentang kemegahan candi ini terbukti. Bangunan yang dibangun oleh raja Samaratungga pada dinasti Syailendra ini mempunyai luas 123×123 meter dengan tinggi 42 meter dengan 10 tingkat. Pemandangan dari puncak Borobudur sangant eksotis sekali dengan deretan bukit Manoreh sebagai backgroud dan hamparan bumi Jawa tengah yang terlihat sangat luas. Musim liburan seperti ini lokasi Borobudur dipadati oleh wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga untuk berkelililng mengelilingi kompleks sangat tidak memungkinkan. Akhirnya kita memutuskan untuk keluar candi dan memasuki museum yang ada di depan candi.

Sebenarnya banyak sekali wahana wisata yang ditawarkan, seperti naik kuda keliling candi dan pertunjukan gajah melukis. namun kakak lebih memilih masuk museum. Di dalam museum ini terdapat perahu layar asli Indonesia, yaitu Pinisipi, dan barang-barang peninggalan kerajaan Mataram dan kerajaan kuno lainya seperti pecahan logam dan bentuk-bentuk kerajinan seperti Guci dan piring.

Setelah puas berwisata di Borobudur, pukul 13.00, kita langsung bertolak menuju tujuan wisata selanjutnya, yakni keraton Jogjakarta. Tak sempat membeli oleh-oleh memang ketika di Borobudur dan hanya berphoto sekali saja di lokasi candi dengan biaya Rp. 20.000. sekitar pukul 14.00 kakak sudah memarkir mobil di area parkir wisata keraton Jogjakarta. Setelah selesai shalat Dzuhur di masjid agung sebelah keraton, kakak langsung mengajak aku dan kedua anaknya masuk keraton Jogjakarta. Memang tidak ada yang istimewa di sini. Hanya miniatur patung yang memeragakan aktifitas keraton dan beberapa pernak-pernik khas keraton. Hanya 15 menit saja mengelilingi keraton, kami langsung beranjak menuju pasar Beringharjo di jalan Malioboro. Di sini kita memanjakan diri dengan makan sepuasnya kuliner yang dijajalkan pasar ini serta belanja puas sovenir khas Jogja seperti: tas, baju, dan pernak-pernik lainya. Memang kita sengaja menumpahkan nafsu di sini karena di pasar ini harga semua barang yang dipasarkan relatif murah dan pastinya terjangkau.

Puas dengan pasar Beringharjo, kita kembali ke area keraton. Di sini kita hanya duduk santai sembari menghilangkan rasa capek. Pukul 16.00, kita sudah bertolak meninggalkan Jogjakarta dan kembali ke Banyuwangi. Perjalanan kembali Jogjakarta-Banyuwangi memang memakan waktu sehari semalam. Namun, memori keceriaan liburan ini tak terlupakan sampai saat ini dan ketika menulis kisah ini, kenangan empat tahun masih terasa sekali membekas di hati.

Tags:

Menyentuh Kota Surabaya dengan Jalan Kaki

“Surabaya Surabaya oh Surabaya….

Kota kenangan kota kenangan tak kan ku lupa….”

Lirik lagu Nasional di atas mungkin sudah ga asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Memang, Surabaya merupakan kota yang mempunyai banyak sekali julukan. Mulai dari kota Pahlawan sampai dengan kota Buaya. Di kota yang merupakan ibu kota Jawa Timur ini banyak sekali bangunan kuno peninggalan Belanda, baik yang masih terawat dengan baik sampai saat ini maupun yang tak terjamah oleh tangan pemerintah akibat ditutup dengan pagar seng. Selain itu kota terbesar nomor dua di Indonesia ini juga mempunyai segudang kuliner khas yang sudah tersohor seantero nusantara dan sayang sekali untuk dilewatkan.

Kota ini memang tak memiiki jajaran gunung dan pantai bersih untuk refreshing menghilangkan penat akibat deadline kerjaan bagi penduduknya. Hanya jajaran gedung-gedung perkantoran dan mall yag berlomba-lomba menawarkan paket hiburan modern di musim liburan tiba. Tapi coba sesekali di saat weekend atau mungkin pada saat berkunjung ke kota rujak cingur ini anda menghemat uang anda untuk membayar taksi, mengistirahatkan kendaraan di garasi rumah, dan tabung sebagian anggaran belanja di Bank. Kemudian anda bawa peta kota Surabaya dan bekal secukupnya untuk memulai jalan-jalan dalam arti sesungguhnya.

Memang, untuk berjalan kaki mengelilingi kota Surabaya bukanlah sesuatu yang diminati banyak orang. Namun, dengan berjalan kaki anda dapat menyentuh kota kenangan ini. Dapat benar-benar merasakan atmosfir kota Surabaya sesungguhnya yang terkenal dengan budaya tinggi yang masih mengakar sampai sekarang serta jajaran arsitektur bangunan kuno yang mengagumkan. Anda tak butuh berbaju rapi namun cukup pakai pakaian sepantasnya dengan sendal jepit atau sendal outdoor dan teman jalan agar rasa capek tak terasa.

Bagi saya mengelilingi kota Surabaya dengan berjalan kaki merupakan sebuah pengalaman menarik dan tak terlupakan. Mulai dari menikmati megahnya gedung-gedung bertingkat sampai menemukan sesuatu yang sama sekali tidak disangka keberadaaanya. Untuk jalan-jalan perdana diawali sekitar setahun silam yakni 2011. Sekitar bulan Juli, jalan-jalan dengan tujuan Taman Tugu Pahlawan. Start dimulai dari Wonokromo pada pukul 10.00 dengan menilik pintu air kali Jagir bersama dua temen kampus saat weekend. Pintu kali jagir ini dibangun pada tahun 1923 dan tertulis di dinding “bangunan cagar budaya sebagai lokasi paoekan, tempat bersauhnya tentara tar—tar yang akan menyerbu Kediri pada tahun 1923” . saat malam tiba, pintu air ini akan kelihatan cantik dengan efek lampu hias warna-warni dan tak sedikit pula komunitas photografer kota rujak cinggur mangkal di tempat ini untuk hunting bareng-bareng. Selesai di pintu air Jagir, kami lanjut ke kampung bantaran kali Jagir. Rata-rata orang yang menduduki kampung ini adalah para pekerja Informal seperti: pengamen, pengemis, pemulung, dan waria yang tinggal bersama keluarga di rumah semi permanen. Yang menarik ketika kita masih menyusuri bantaran sungai Jagir ini adalah warung dengan nameboard “Bali 9”. Sebenarnya kalau bicara masalah menu yang dijajalkan biasa saja hanya masakan rica-rica pada umumnya. Tapi yang membuat berbeda di sini adalah nama “Bali 9” . konon ceritanya pemilik warung yang bernama Eric adalah seorang pelatih olahraga untuk para tahanan yang dikenal dengan sebutan “Bali 9”. Para tahanan tersebut sudah mendekam di penjara Denpasar selama 8 tahun untuk kasus narkoba dan mereka telah dihukum mati. Untuk mengenang mereka maka Eric menamai warungnya dengan “Bali 9”. Selesai mengintari kali Jagir, kami lanjut dengan menyusuri sepanjang jalan Darmo. Trotoar disini ngedukung banget para pejalan kaki dengan badan trotoar yang luas dan hampir tidak ada motor yang melewatinya. Istirahat sebentar di Taman Bungkul untuk minum, kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan cukup lama, kita sampai di keputran dan lanjut ke jalan Tunjungan. Di jalan yang menjadi pusat kota Surabaya ini berderet banguna kuno yang masih terawat dengan baik sampai saat ini, seperti: Hotel Majapahit, Grahadi, SMA Negeri 6 Surabaya, yang rukun bersanding dengan bangunan modern.

Sampai di daerah Jalan Embong Malang, kami mencoba untuk mencari jalan pintas menuju Tugu Pahlawan dengan memasuki kampung Kedung Rukem. Kampung yang berada di belakang Hotel JW Marriot ini terlihat biasa-biasa saja seperti layaknya kebanyakan kampung lainya di Surabaya. namun yang istimewa dari kampung ini adalah jalannya yang ribet karena saking padatnya penduduk yang menghuni. Entah dari mana asal petunjuknya, kami memilih jalan gang yang membuat kami balik lagi ke Tunjungan Plaza. Ternyata kami kesasar. Kembali lagi masuk gang dan kami sampai di Jalan Kedung Doro. Sungguh jalan yang terlalu nyempal dari arah Tugu pahlawan. Akhirnya kami tanya jalan arah Tugu pahlawan ke warga setempat. Setelah tahu tempat, kami langsung lurus ke arah jalan Blauran kemudian belok ke arah Bubutan. Sensasi kota sepi Bubutan sebenarnya lebih terasa saat pagi hari. Banyak bangunan kuno dan ruko-ruko berjajar di jalan ini. Sekitar 30 menit kita sudah sampai di Tugu Pahlawan yang menjadi target jalan kaki perdana kita kali ini. Lokasi ini pas untuk hunting photo dengan museum barang-barang peninggalan sisa perang saat kemerdekaan. Mulai dari senjata sampai dengan kendaraan tempoe doeloe di pamerkan di sini.

Sensasi wisata seperti ini hanya bisa didapatkan dengan berjalan kaki dan tidak mungkin didapatkan dengan berkendara. Dengan berjalan kaki, jiwa sosial kita akan terbuka dengan melihat dan merasakan kondisi lingkungan yang sebenarnya. Selain itu kita juga mengurangi emisi gas buang atau memperlambat laju pemanasan global. Dan yang terpenting adalah saku kita akan semakin tebal karena wisata seperti ini relatif hemat.

Tags: