“Surabaya Surabaya oh Surabaya….

Kota kenangan kota kenangan tak kan ku lupa….”

Lirik lagu Nasional di atas mungkin sudah ga asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Memang, Surabaya merupakan kota yang mempunyai banyak sekali julukan. Mulai dari kota Pahlawan sampai dengan kota Buaya. Di kota yang merupakan ibu kota Jawa Timur ini banyak sekali bangunan kuno peninggalan Belanda, baik yang masih terawat dengan baik sampai saat ini maupun yang tak terjamah oleh tangan pemerintah akibat ditutup dengan pagar seng. Selain itu kota terbesar nomor dua di Indonesia ini juga mempunyai segudang kuliner khas yang sudah tersohor seantero nusantara dan sayang sekali untuk dilewatkan.

Kota ini memang tak memiiki jajaran gunung dan pantai bersih untuk refreshing menghilangkan penat akibat deadline kerjaan bagi penduduknya. Hanya jajaran gedung-gedung perkantoran dan mall yag berlomba-lomba menawarkan paket hiburan modern di musim liburan tiba. Tapi coba sesekali di saat weekend atau mungkin pada saat berkunjung ke kota rujak cingur ini anda menghemat uang anda untuk membayar taksi, mengistirahatkan kendaraan di garasi rumah, dan tabung sebagian anggaran belanja di Bank. Kemudian anda bawa peta kota Surabaya dan bekal secukupnya untuk memulai jalan-jalan dalam arti sesungguhnya.

Memang, untuk berjalan kaki mengelilingi kota Surabaya bukanlah sesuatu yang diminati banyak orang. Namun, dengan berjalan kaki anda dapat menyentuh kota kenangan ini. Dapat benar-benar merasakan atmosfir kota Surabaya sesungguhnya yang terkenal dengan budaya tinggi yang masih mengakar sampai sekarang serta jajaran arsitektur bangunan kuno yang mengagumkan. Anda tak butuh berbaju rapi namun cukup pakai pakaian sepantasnya dengan sendal jepit atau sendal outdoor dan teman jalan agar rasa capek tak terasa.

Bagi saya mengelilingi kota Surabaya dengan berjalan kaki merupakan sebuah pengalaman menarik dan tak terlupakan. Mulai dari menikmati megahnya gedung-gedung bertingkat sampai menemukan sesuatu yang sama sekali tidak disangka keberadaaanya. Untuk jalan-jalan perdana diawali sekitar setahun silam yakni 2011. Sekitar bulan Juli, jalan-jalan dengan tujuan Taman Tugu Pahlawan. Start dimulai dari Wonokromo pada pukul 10.00 dengan menilik pintu air kali Jagir bersama dua temen kampus saat weekend. Pintu kali jagir ini dibangun pada tahun 1923 dan tertulis di dinding “bangunan cagar budaya sebagai lokasi paoekan, tempat bersauhnya tentara tar—tar yang akan menyerbu Kediri pada tahun 1923” . saat malam tiba, pintu air ini akan kelihatan cantik dengan efek lampu hias warna-warni dan tak sedikit pula komunitas photografer kota rujak cinggur mangkal di tempat ini untuk hunting bareng-bareng. Selesai di pintu air Jagir, kami lanjut ke kampung bantaran kali Jagir. Rata-rata orang yang menduduki kampung ini adalah para pekerja Informal seperti: pengamen, pengemis, pemulung, dan waria yang tinggal bersama keluarga di rumah semi permanen. Yang menarik ketika kita masih menyusuri bantaran sungai Jagir ini adalah warung dengan nameboard “Bali 9”. Sebenarnya kalau bicara masalah menu yang dijajalkan biasa saja hanya masakan rica-rica pada umumnya. Tapi yang membuat berbeda di sini adalah nama “Bali 9” . konon ceritanya pemilik warung yang bernama Eric adalah seorang pelatih olahraga untuk para tahanan yang dikenal dengan sebutan “Bali 9”. Para tahanan tersebut sudah mendekam di penjara Denpasar selama 8 tahun untuk kasus narkoba dan mereka telah dihukum mati. Untuk mengenang mereka maka Eric menamai warungnya dengan “Bali 9”. Selesai mengintari kali Jagir, kami lanjut dengan menyusuri sepanjang jalan Darmo. Trotoar disini ngedukung banget para pejalan kaki dengan badan trotoar yang luas dan hampir tidak ada motor yang melewatinya. Istirahat sebentar di Taman Bungkul untuk minum, kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan cukup lama, kita sampai di keputran dan lanjut ke jalan Tunjungan. Di jalan yang menjadi pusat kota Surabaya ini berderet banguna kuno yang masih terawat dengan baik sampai saat ini, seperti: Hotel Majapahit, Grahadi, SMA Negeri 6 Surabaya, yang rukun bersanding dengan bangunan modern.

Sampai di daerah Jalan Embong Malang, kami mencoba untuk mencari jalan pintas menuju Tugu Pahlawan dengan memasuki kampung Kedung Rukem. Kampung yang berada di belakang Hotel JW Marriot ini terlihat biasa-biasa saja seperti layaknya kebanyakan kampung lainya di Surabaya. namun yang istimewa dari kampung ini adalah jalannya yang ribet karena saking padatnya penduduk yang menghuni. Entah dari mana asal petunjuknya, kami memilih jalan gang yang membuat kami balik lagi ke Tunjungan Plaza. Ternyata kami kesasar. Kembali lagi masuk gang dan kami sampai di Jalan Kedung Doro. Sungguh jalan yang terlalu nyempal dari arah Tugu pahlawan. Akhirnya kami tanya jalan arah Tugu pahlawan ke warga setempat. Setelah tahu tempat, kami langsung lurus ke arah jalan Blauran kemudian belok ke arah Bubutan. Sensasi kota sepi Bubutan sebenarnya lebih terasa saat pagi hari. Banyak bangunan kuno dan ruko-ruko berjajar di jalan ini. Sekitar 30 menit kita sudah sampai di Tugu Pahlawan yang menjadi target jalan kaki perdana kita kali ini. Lokasi ini pas untuk hunting photo dengan museum barang-barang peninggalan sisa perang saat kemerdekaan. Mulai dari senjata sampai dengan kendaraan tempoe doeloe di pamerkan di sini.

Sensasi wisata seperti ini hanya bisa didapatkan dengan berjalan kaki dan tidak mungkin didapatkan dengan berkendara. Dengan berjalan kaki, jiwa sosial kita akan terbuka dengan melihat dan merasakan kondisi lingkungan yang sebenarnya. Selain itu kita juga mengurangi emisi gas buang atau memperlambat laju pemanasan global. Dan yang terpenting adalah saku kita akan semakin tebal karena wisata seperti ini relatif hemat.