“Berlibur keliling nusantara merupakan sebuah impian yang harus diwujudkan. Pertama kali ku awali dari Jogjaarta dan Jawa tengah.”

Nusantara merupakan anugerah luar biasa dengan alam pemandangan eksotis dan keberanekaragaman budaya. Secuil alam surga yang berada di seberang samudera Pasifik ini membutuhkan waktu dan tenaga lebih untuk mengelilinginya. Mulai dari putihnya pasir pantai Kuta, mahakarya Borobudur, pesona surga bawah laut Bunaken, dan beribu keindahan lainya yang ada di Nusantara. Dan dari kesemuanya itu, ingin aku nikmati satu per satu.

Pertama, aku awali langkahku ke pesona yang paling dekat, Jogjakarta dan Jawa Tengah. Dengan bermodal numpang liburan kakak laki-laki, awal Juli 2008, kita berangkat menyusuri perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah dengan Toyota Kijang keluaran tahun 90’an. Meski sebenarnya bukan sebuah liburan gratis, tapi aku menikmati moment ini. Sambil nyambi sebagai pengasuh untuk dua keponakan yang masih di bawah sepuluh tahun, aku masih bisa melihat hamparan pegunungan dan luasan Jawa tengah dari atas Borobudur.

sabtu pagi, kira-kira pukul 05.00, kita tinggal mengemasi barang yang sudah di siapkan semalam dan memasukkanya ke dalam mobil. Mulai dari kotak P3, nasi buntel buatan ibu, sambel goreng, baju ganti, dan segudang barang persiapan lainya yang sudah kita siapkan beberapa hari sebelum berangkat. Setelah semua siap, kita tinggalkan kota Banyuwangi tepat pukul 06.00 dengan Kijang keluaran 90’an bersama kakak dan kedua anak laki-lakinya. Sebuah awal pertualangan paling berkesan telah dimulai.

Pukul 7.30 kita sudah sampai di Banyuwangi Barat dan hampir memasuki kabupaten Jember. Sebelum masuk ke Jember, kita harus melewati jalan berkelok-kelok naik-turun gunung Kumitir yang membuat perut terasa mual. Pukul 9.00 kita sudah melewati Jember kota dan terus menuju ke barat. Sampai di Surabaya, sekitar pukul 13.00, kita berhenti sejenak, berziarah sambil shalat Dzuhur di makam Sunan Ampel. Setelah selesai shalat lalu berdzikir di makam Sunan Ampel, kita lanjut makan siang bekal yang sudah dibikinin ibu. Setelah istirahat selesai dan badan kembali fresh, kita melanjutkan perjalanan pukul 14.00 tepat dengan terus melaju melalui ke barat jalur pantai selatan Lamongan.

Hampir tengah malam, sekitar pukul 23.00, kita sudah memasuki kabupaten Demak. Kondisi badan yang capek sudah tidak memungkinkan lagi untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya kakak memutuskan untuk berhenti di masjid agung Demak sekalian berziarah dan bermalam di sana.

Kumadang Adzan subuh membangunkan kami yang tertidur pulas karena kecapean. Kami bangun dan shalat subuh setelah itu mencari sarapan dan langsung berangkat lagi meneruskan perjalanan.

pukul 10.00 kita sudah memasuki wilayah Magelang dan beberapa menit lagi kita sudah berada di candi termegah di dunia yakni Borobudur. Tepat sesuai dugaan, pukul 10.15 kakak sudah memarkir mobil di pelataran candi Borobudur. Dengan tiket masuk Rp.9000 per orang, kita memulai pertualangan mengelilingi candi yang pernah di nobatkan menjadi 7 wonders ini. Di sini semua tumbuhan di kasih nama yang memudahkan aku untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan. Perjalanan menuju Borobudur cukup melelahkan karena jarak pintu masuh dengan lokasi candi cukup jauh. Setelah 15 menit berjalan, kita sampai di lokasi Candi. Memang yang di ceritakan orang tentang kemegahan candi ini terbukti. Bangunan yang dibangun oleh raja Samaratungga pada dinasti Syailendra ini mempunyai luas 123×123 meter dengan tinggi 42 meter dengan 10 tingkat. Pemandangan dari puncak Borobudur sangant eksotis sekali dengan deretan bukit Manoreh sebagai backgroud dan hamparan bumi Jawa tengah yang terlihat sangat luas. Musim liburan seperti ini lokasi Borobudur dipadati oleh wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga untuk berkelililng mengelilingi kompleks sangat tidak memungkinkan. Akhirnya kita memutuskan untuk keluar candi dan memasuki museum yang ada di depan candi.

Sebenarnya banyak sekali wahana wisata yang ditawarkan, seperti naik kuda keliling candi dan pertunjukan gajah melukis. namun kakak lebih memilih masuk museum. Di dalam museum ini terdapat perahu layar asli Indonesia, yaitu Pinisipi, dan barang-barang peninggalan kerajaan Mataram dan kerajaan kuno lainya seperti pecahan logam dan bentuk-bentuk kerajinan seperti Guci dan piring.

Setelah puas berwisata di Borobudur, pukul 13.00, kita langsung bertolak menuju tujuan wisata selanjutnya, yakni keraton Jogjakarta. Tak sempat membeli oleh-oleh memang ketika di Borobudur dan hanya berphoto sekali saja di lokasi candi dengan biaya Rp. 20.000. sekitar pukul 14.00 kakak sudah memarkir mobil di area parkir wisata keraton Jogjakarta. Setelah selesai shalat Dzuhur di masjid agung sebelah keraton, kakak langsung mengajak aku dan kedua anaknya masuk keraton Jogjakarta. Memang tidak ada yang istimewa di sini. Hanya miniatur patung yang memeragakan aktifitas keraton dan beberapa pernak-pernik khas keraton. Hanya 15 menit saja mengelilingi keraton, kami langsung beranjak menuju pasar Beringharjo di jalan Malioboro. Di sini kita memanjakan diri dengan makan sepuasnya kuliner yang dijajalkan pasar ini serta belanja puas sovenir khas Jogja seperti: tas, baju, dan pernak-pernik lainya. Memang kita sengaja menumpahkan nafsu di sini karena di pasar ini harga semua barang yang dipasarkan relatif murah dan pastinya terjangkau.

Puas dengan pasar Beringharjo, kita kembali ke area keraton. Di sini kita hanya duduk santai sembari menghilangkan rasa capek. Pukul 16.00, kita sudah bertolak meninggalkan Jogjakarta dan kembali ke Banyuwangi. Perjalanan kembali Jogjakarta-Banyuwangi memang memakan waktu sehari semalam. Namun, memori keceriaan liburan ini tak terlupakan sampai saat ini dan ketika menulis kisah ini, kenangan empat tahun masih terasa sekali membekas di hati.