Archive for April 16th, 2013

Gurita dan Lintah Darat (19 Maret 2013)

Sebenernya lagu wajib yang harus aku putar ketika nyalain laptop itu “Suara Hati Seorang Kekasih”-nya Melly Guslow. Tapi ga tau kenapa malah “Separuh Aku”-nya Noah yang masuk playlist windows media player. Lagu lawas memang ga ada duanya jika harus dibanding dengan lagu yang release baru-baru ini. Banyak kenangan yag melekat dengan lagu tersebut sehingga membuat lagu itu tambah klasik dan melekat di hati.

Sebenarnya aku ga mau ngebahas masalah lagu favorit atau lagu ngebanding-bandingin lagu yang satu dengan yang lain. Semua punya selera masing-masing. entah kenapa “fokus” yang ada dalam otak ini semakin kabur. Tadi pagi mikirin apa, fokus dengan apa, malem ini jadi fokus ke mana juga arahnya kemana. Entah mengapa setelah moment wisuda kemaren Sabtu membuat tujuanku terombang ambing. Ga terombang ambing gimana, kerjaan aja belum pasti dan saldo di tabungan tinggal 27ribu doang. …………………………………………………………………………………………………

Sebenernya bukan masalah kerjaan yang belum pasti sih yang membuat pikiranku terombang-ambing selama tiga hari berturut-turut. Hanya saja permintaan nyokab dan keluarga yang memintaku untuk mendalami ilmu agama. Ini yang selama ini jadi “momok” yang sangat menakutkan dalam hidupku. Sebenarnya hal yang lumrah untuk seorang keluarga, terlebih nyokab, menginginkan yang terbaik buat anaknya. Namun bagaimanapun juga hati ini kurang srek aja dengan kemauan keluarga satu ini. Rasanya hati in ingin menjerit menggugurkan salju dipuncak gunung Jaya Wijaya ketika keluarga sudah mulai memaksakan kehendaknya. Di sisi lain, finansilaku masih ditanggung nyokab sepenuhnya sampai saat ini. Dan, kondisi kritis pada finansial saat ini mau ga mau aku harus nodong nyokab minta ditranfer uang untuk beberapa hari ke depan bahkan satu bulan ke depan. Yah, aku sendiri sebenarnya ga enak hati, sungkan lah. Tapi mau gimana lagi, kalo ga nodong, ya ga makan. Memang, pilihan yang benar-benar sulit.

 

(10 Maret 2013)

Aku punya waktu 20 hari.

 

Satu minggu,

 

Atau sebenarnya aku ga pernah punya waktu sama sekali?

Sebenernya Sih Bukan “Etnic Runway” (30 Januari 2013)

Gini nih kalo lagi nulis dengerin lagu galaunya Agnes Monica, ga konsen……….

 

———————————————————————————

 

(diary fiksinya ga sempet selesai karena lagi sibuk pas KKN “SEBENERNYA SIH, LAGI MALES NULIS AJA :D)

HARI INI ANTARA BULE CANTIK TINGGI SEMAMPAI DENGAN DIKTAKTOR UDIK…. (Jumat, 7 September 2012)

Perasaanku hari ini “huaaaaaaaaaaakkkkkkkkk” banget nget. Group BBM satu ini memang membuatku bener-bener ingin teriak ngilangin suntuk yang membeban di kepala. Gimana ga suntuk, tiba-tiba aja ada undangan yang sangat begitu ga jelas yang ngajakin ke arah ga jelas.

Oh ya, aku belum jelasin group apa ini yang membuatku begitu enek dan haduh, saking eneknya ga bisa digambarin pake kata-kata. Sebut aja group itu bernama paduan suara. Beberapa bulan yang lalu aku sudah menonaktifkan diri karena, yah mungkin udah ga betah lagi dengan sistemnya, banyak hal yang ga bisa ku sebut satu persatu. Yang jelas sudah ga ada lagi alasan yang membuatku harus bertahan di tempat itu.

Ceritanya jam 15.00 tiba ada pemberitahuan kurang lebih gini “pelatih said, saya minta tolong ke jenegan kumpulkan dan datangkan semua agkatan jenengan agar datang tanggal 11 pukul 18.00 d kampus acara Choir 2012 sampaikan salam saya pada alumni paduan suara. Terima kasih, cc: pelatih”. Tanpa pikir panjang aku bales “aku kan belum alumni L”, dan selang beberapa detik langsung ada balesan dari anggota group yang lain yang sangat “shit” banget.

Yah, aku rasa kalian bisa bayangin hal apa yang pernah aku alami dengan group ini sehingga ngebuat akau begitu membenci dan, aduh, males nyeritainya. Soal pelatih yang aku sebut ‘diktaktor udik’ juga males banget ditulis di sini. Terlalu males untuk dijabarin. Kalian tebak aja seperti apa mereka dari tulisanku di atas.

Hah, aku mau balik aja ke beberapa jam belakang di mana aku berpapasan dengan bule cantik yang tingginya hampir dua meteran. Bule yang ngebuatku ke-GR-an dan cari perhatian ketika jalan di depanya. Haduuuuhhhh, luar biasa pokoknya moment itu.

Well, ceritanya kenapa aku begitu pede sampai ke-GR-an di depan bule, karena temenku yang pernah ke Amrik cerita kalau bule kayak gitu tuh seleranya orang seperti aku, bermuka Indonesia asli dengan kulit hitam tropis. Keyakinanku diperteguh dengan pengalamanku ketika kerja beberapa bulan lalu di sebuah Advertising.

Nah, gini ceritanya. Waktu itu aku lagi presentasi produk di salah satu mall surabaya sebut aja PTC. Di lantai bawah, tepatnya DI KFC sebelah pintu masuk bagian tengah, aku presentasiin produk ke beberapa pengunjung di tempat itu. Waktu itu memang targetku koko-koko berbaju kantoran. Selesai presentasi sama mimi-mimi labil, aku mencoba mendekati koko-koko berbaju kerja rapi sedang santap menikmati friedchicken di bangku pojok. Dengan pede-nya aku langsung say hi dan duduk begitu saja. Setelah sort story, ngenalin diri, dan dia menjawab “sorry, I’m Japanese can’t speak Indonesia”. Speachless dan seketika itu pula otak berputar keras untuk berimprovisasi dengan muka senyum dibuat-buat. “damn, salah market guwe!” batinku. Yah, mau ga mau akhirnya aku presentasi produk dengan bahasa inggrisku yang miskin kosa kata dan dia hanya senyum sambil berpikir keras memahami apa yang aku omongin.

 

Setelah lima menit aku presentasi, dari awal aku nebak ga bakalan closing dengan bule jepang satu ini dan tebakanku terjawab benar. Sebagai seorang marketing profesional, aku harus tetap mengontrol emosi dan merehash kembali presentasi dengan tarik ulur komunikasi. Tapi bule itu jawab “you’re so sweet” dengan senyum anehnya layak om-om sakit. Mausia mana kalo disanjung ga seneng dan reflek aku jawab “thank you sir” dengan cengangas-cengenges ga jelas. Dia nyabung lagi “you know JW Mariott hotel?”. Aku jawab aja “yes” tanpa meninggalkan senyum murahan. “how much you?”. Hah, speachless dan aku jawab”what do you mean”, dia hanya senyum ga jelas dan aku jawab lagi “me?!”, dia tetap senyum dan menatapku dalam. Oh men, kenapa aku ketemu bule hombreng ditengah kerja siang bolong gini….. “no, thank you sir”, aku ngucapinya dengan senyum murahan dan meninggalkan bule gila itu dengan salah tingkah.

Sebenernya waktu itu perasaanku campur aduk, antara kepedean, geer, dan ingin menceritakan kejadian ga biasa ini ke siapa saja. Tapi kalo aku bangga seperti ini kelihatan begitu murahanya diriku. Alasan kenapa aku bangga karena bule jepang gila itu masuk lah kalo dibilang cakep, tajir ya pasti, dan yang paling gila adalah ini pengalaman pertama. Tapi hati baikkku bilang, jangan jadi orang gila dengan kejadian semacam ini. Yah, ini ga bener.

Itu lah alasan yang menguatkan kenapa aku begut kegeeran ketika ada bule lewat depan mata. Bawaanya pengen tebar pesona aja kalo-kalo bule itu nyapa dan ngajak kenalan. Betapa senangnya diriku kalo hal itu benar-benar terjadi. sorry, aga norakJ.

Tapi tebar pesonaku kali ini ga ngebuain apa-apa. Bule tinggi semampai berbaju olahraga tersebut berlalu tanpa memperhatikanku hanya fokus sama Ipod di genggamannya. Tapi aku yakin bule tersebut berpikir betapa mempesonannya aku dan menunggu waktu tepat aja untuk kenalan dengan ku, gubrrraaaaaaaaakkkkkkkkk.