Archive for October, 2013

Ku Temukan Surga Dalam Tari Tradisional Indonesia

Indonesia kaya akan seni budaya dan sumber daya alam yang melimpah ruah, anak kecil pun tahu. Belanda dan Portugis yang bermil-mil jaraknya, berusaha bertahun-tahun untuk menemukan dan akhirnya berhasil mengeruk kekayaan Nusantara. Malaysia beberapa kali mencoba mengklaim kesenian budaya Nusantara untuk dijadikan identitas negaranya. Bahkan, banyak pelajar dari Amerika dan Eropa yang ingin belajar kesenian Nusantara, seperti angklung dan gamelan. Pertanyaanya, sudah sadarkah kita kalau kita itu “kaya”?

Pertanyaan itu mungkin ga akan “menusuk” ku jika dilontarkan pada saat aku masih remaja. Aku dulu lebih gandrung dengan kesenian pop semacam hip hop dan break dance. Pernah saat SMP dulu aku mengikuti ekstrakulikuler wajib, tari daerah. Saat itu aku berpikir, kenapa ga break dance aja ekstrakulikulernya? Kan lebih modern. Mainset  ini mungkin juga berlaku untuk remaja sekarang, apalagi dengan hadirnya K-POP. Aga jengkel emang kalau lihat anak SMP-SMA saat ini yang lebih rajin mendengarkan lagu-lagu korea selatan dari pada lagu Indonesia. Rasanya udah mau tak marahin aja tuh anak. Malah, tambah jengkel juga yang teman kuliahku dulu, sekiranya lebih dewasa, sampai-sampai mempelajari budaya dan bahasa Korea. Ya, sah-sah aja sih emang. Toh, ga ada larangan untuk itu.

Aku baru sadar kalau Indonesia kaya akan seni dan budaya, saat aku pergi meninggalkan kampung halaman. Saat pertama membuka mata, ternyata Indonesia itu luas dan beragam. Moment itu aku dapat saat aku jalan di mall sendiri dan secara tak sengaja pada saat itu juga ada sebuah acara pertukaran budaya Indonesia dengan beberapa negara di Asia. Yang membuatku interest untuk gabung melihat acara itu sebenarnya pada MC membuka acara dengan lihai dan natural. Acara itu murni penampilan kesenian tradisional masing-masing negara. untuk pembuka, penampilan Tari Selamat Datang dari Papua. Moment itu lah, pertama kali aku melihat ada yang beda dari seni daerah. Disusul selanjutnya penampilan tari tunggal dari China yang aku ga tahu namanya. yah, semacam tari drama gitu lah pokoknya. Aku ga tahu pesan apa yang disampaiakan tari itu, tapi aku dapat feel-nya. Disusul kesenian tradisional Korea Selatan berupa seni musik alat pukul dengan durasi agak panjang. Tapi lumayan, aku dapat klimaksnya.

Baru, saat penampilan Tari Piring, adrenalinku naik. Tari Piring ini lah yang akhirnya membuatku kepincut dan dapat melihat “seni”nya tari tradisional. Entah dari sisi mananya, apakah karena sebelum penampilan tadi ada sebuah prosesi “bacaan-bacaan” yang dibaca oleh bapak-bapak dibelakang. Gerakan-gerakan tarian ini seakan-akan mengelus-elus hatiku dan mengelitiki otakku sehingga serasa dibelai dan dimanja. Padahal, kalau dilihat dari gerakanya, Tari ini lebih terkesan tegas dan tidak cenderung lemah gemulai. Antiklimaks dari tarian ini adalah saat para penari menginjak-injak beling yang tidak aku duga sebelumnya. Mereka terus menginjak dan menginjaknya berulang-ulang sehingga penonton bertepuk tangan seperti reflek. Wow, luar baisa indah sekali.

Euforia itu berlanjut tiga bulan setelahnya aku masuk Beswan Djarum. Tampil di panggung malam puncak Dharma Puruhita 2011 adalah sebuah moment yang tak akan terlupakan seumur hidup. Bukan gagap gempitanya yang membuatku terkesan tapi proses belajar menarinya yang hanya 3 hari untuk penampilan di sebuah pentas pertunjukan besar. meskipun tari kontemporer yag aku pelajari di sini, tapi seenggaknya akau belajar dan mengerti bahwa tari itu indah. Meskipun latihan mulai pagi sampai malam, tapi ga ada capeknya karena menari membuat hati senang. Meski paginya susah bangun karena badan terasa kaku semua. Setelah moment ini, aku baru sadar bahwa seni budaya nusantara itu indah sekali dan beragam. aku ingin melihat dan menguasainya satu per satu.

Setelah sadar akan istimewanya seni budaya nusantara, aku jadi kangen dengan budaya asli daerah kelahiran, Jejer Gandrung atau lebih dikenal dengan sebutan Tari Gandrung. Aku menyesal, kenapa saat masih sekolah dulu aku tidak mendalaminya dengan baik? Sebaliknya, malah lebih memilih untuk belajar budaya asing. Ngomong-ngomong saat itu lagi ngetren-ngetrennya F4, jadi pada wo ai ni-wo ai ni gitu.

Dan akhirnya, aku selalu merindukan segala bentuk budaya tradisional yang di miliki Nusantara ini. akhir 2012, aku benar-benar menikmati Festival 1000 Gandrung yang digelar di kampung halamanku, Banyuwangi. Sungguh sebuah sajian seni budaya istimewa yang sangat funtastik sekali yang digelar di tepi pantai saat sore hari. Aku berharap setelah ini, akau bisa terus menikmati seni budaya tradisional nusantara dan aku bisa berkeliling Indonesia untuk menemukan setiap detailnya.

Tags:

Indonesia Adalah “The Hidden Paradise”, Tapi…………………

Aku pernah dengar kalau Atlantantis, kota yang tenggelam, berubah menjadi dan itu Indonesia. Aku juga pernah dengar, kalau Indonesia adalah harta terpendam Raja Korun yang kaya raya itu. Tapi semua itu hanya sekedar rumor yang belum terbukti kebenaranya. Mungkin, bisa dibilang semua itu sebagai penggambaran keindahan bumi Indonesia. Faktanya, Indonesia memang kaya raya dan subur alamnya. Ibarat kata, tongkat saja bisa tumbuh menjadi pohon subur jika ditancapkan di bumi Indonesia.

Januari 2013 adalah pengalaman pertama dalam hidup yang tak akan pernah aku lupakan. Pengalaman pertama yang membuat mata terbuka bahwa tuhan telah meletakkan secuil surganya di bumi dalam bentuk Indonesia.

Sebuah tugas akhir yang diberikan oleh kampus sebagai salah satu syarat kelulusan mutlak. Aku dan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam satu kelompok ditugaskan untuk mengabdi di masyarakat desa terpencil yang sebelumnya belum pernah aku dengar namanya meski masih lingkup Jawa Timur. dengar punya dengar, desa ini sangat jauh dari pusat kota dan fasilitas umum, bahkan sulit dijangkau kendaraan umum.

Mau ga mau, kalau mau lulus, harus menyelesaikan tugas ini. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 3 jam dari Surabaya, akhirnya sampai di Lokasi pukul 21.00 wib. Tempat ini bernama Dusun Tretes Desa Kedungsumber yang masih masuk wilayah Kabupaten Bojonegoro. Benar, sampai di sini sinyal hilang sama sekali dan mobil L 300 yang kami tumpangi harus berhati-hati karena jalan naik turun gunung tanpa lampu penerangan jalan. Ketika memasuki dusun, kami harus jalan kaki karena kondisi jalan yang tidak mungkin untuk dilewati mobil. Jalan sempit berbatu dengan campuran tanah gamping alami, membuat kondisi jalan ini licin karena baru saja diguyur hujan. Selain itu, untuk masuk desa ini harus melewati jembatan kayu yang sudah lubang di sana-sini. Lokasi dusun ini dikelilingi bukit hutan jati. Bisa dibilang, dusun ini terisolasi ditengah hutan. Sempat terlintas dipikiran, kira-kira betah ga ya tinggal di sini?.

Ketika hari mulai terang, embun di dusun ini masih sangat tebal dan baru pertama kali ini otak dan jiwaku terasa fresh. Polusi pekat Surabaya seakan luntur seketika saat aku menghirup udara kualitas nomor wahid yang pernah ku temui. mata beredar ke sekeliling semua terhampar hijau dan alami deretan pohon jati berbaris rapi. Aku pun tergoda untuk berkeliling dusun. bukit hijau di depan rumah tinggal sementara menggoda untuk didaki. aku nekat mengajak teman, karena hari pertama masih belum terlalu banyak tugas, maka kudakilah bukit ini. dengan susah payah mendaki bukit karena tidak tahu jalan, akhirnya sampai juga di puncak. Begitu indah pemandangan di bawah sana. Dusun yang ku tempati kelihatan asri dengan pola bangunan masih dari kayu. Hamparan jati sangat luas sekali yang membuat kami terkagum-kagum. Setelah jalan beberapa meter, kami menemukan di bawah sana yang ga terlalu jauh sebuah danau hijau alami. Tanpa berpikir panjang, kami langsung ke sana. Luar biasa indah waduk yang kami anggap danau itu. Dan, mumpung kamera LSR yang dari tadi ku pegang masih full batery, kami manfaatkan moment ini untuk photo-photo. Ini hanya sebuah dusun kecil yang terpencil dari secuil keindahan Indonesia. Semakin penasaran dan aku berkeinginan suatu saat aku akan jelajahi keindahan Indonesia.

Waktu sudah berjalan beberapa hari dan saatnya untuk bekerja. Memang, kalau ditotal sih, waktu satu bulan di sini lebih banyak refreshingnya dengan hamparan alam yang indah. Mandi di sungai, mancing di waduk, bakar jagung dari ladang penduduk, dan masih banyak hal menyenangkan lainya. Tapi kita tetap fokus untuk menguraikan masalah di dusun ini.

Kondisi penduduk di dusun ini masih sangat terbelakang, khususnya di bidang pendidikan, baik umum maupun agama. Dari 250 penduduk yang mendiami wilayah ini, sebagian besar adalah lulusan sekolah dasar, 17% SMP, 6% SMA, dan hanya tiga orang yamg melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan, ada beberapa penduduk yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Tak heran jika penduduk di sini kurang peduli masalah kebersihan sanitasi dan lingkungan. Bayangkan, hanya 5 rumah saja yang memiliki kakus. Sisanya, berak di sungai atau di hutan.

Sebagian besar dari mereka mempunyai pola pikir “Ekonomi lebih Penting dari Pendidikan”. Keseharian mereka habis di ladang, ngurus ternak, cari kayu di hutan, dan menangkap ikan di waduk. Hidup mereka memang sederhana dan ga neko-neko. Makanya, mereka tidak terlalu menanggapi secara serius keinginan anak untuk menempuh pendidikan tinggi demi cita-cita. Anak pun terbawa kondisi orang tua dan secara perlahan-lahan mereka akan mengikuti pola yang sama dengan orang tua mereka. Remaja dan pemuda di dusun ini hampir semuanya merantau ke Surabaya bekerja di sektor infomal, Yang cewek jadi pembantu yang cowok jadi tukang batu.

Padahal, dusun ini sangat berpotensi dan memiliki modal alam yang sangat melimpah. Kayu jati, keindahan alam, dan kekayaan waduk yang melimpah. Yah, meskipun kayu jati tinggal yang kecil-kecil karena yang besar habis di jarah pada era Presiden Abdurrahman Wahid, juga waduk yang tidak selalu berair sepanjang tahun. tapi seenggaknya mereka bisa mengolah potensi kekayaan alam yang mereka miliki juga bisa meningkatkan potensi pariwisata daerahnya.

Di sisi lain, mereka bisa memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitar, seperti kotoran ternak. Jika dilihat, hampir setiap rumah di kampung ini memiliki ternak, terutama sapi. Jika mereka mau melanjutkan program yang telah kita bikin, yaitu bank kotoran ternak, dimana value dari program ini nanti pada akhirnya penduduk bisa mandiri dengan membuat pupuk sendiri dari kotoran ternak yang sudah dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk organik. Sehingga mereka tidak perlu lagi mengandalkan pupuk kimia yang harganya tambah hari tambah “mencekik” petani.

Memang, semua itu tidak bisa dirubah dalam waktu satu bulan. Butuh sebuah program yang berkelanjutan terus menerus yang akhirnya membuat masyarakat dusun ini mandiri. Tidak hanya pada program institusi perguruan tinggi yang berlangsung sebualan atau program pemerintah yang bersifat kampanye, tapi lebih pada pemandirian masyarakat yang menjadikan mereka sebagai subyek perubahan untuk daerah bukan obyek.

Tags: ,

Yes, I Love Indonesian Movie So Much……..

Kalau ngomongin tentang film , biasanya terlintas list film-film Hollywood baru yang keren dan canggih, yang terkadang membuat film Indonesia tersisihkan. Banyak film Indonesia yang ga kalah seru dan menarik yang rilis dan tayang di bioskop namun hanya mampu bertahan selama seminggu dan menariknya tidak lebih dari 5.000 penonton, seperti Film Minggu Pagi di Victoria Park. Apa yang salah dengan Film Indonesia?

 

Jika saya pergi ke bioskop atau mungkin melihat jadwal tayang film di koran, yag terlihat lebih banyak komposisi film asing dari pada film dalam negeri. Jika dilihat perbandingannya, bisa dibilang 1:5 antara film Indonesia dan film luar negeri, khususnya Hollywood, yang tayang di bioskop seluruh Indonesia. Well, sepertinya penonton Indonesia telah menjadi tuan rumah yang baik untuk industri seni asing hingga “menomor duakan” industri seni sendiri.

 

Yah, itulah faktanya. Aku juga tidak mungkin mendiskriminasikan film Hollywood yang sudah merajai bioskop tanah air. Atau mungkin memojokkan pemerintah yang kelihatanya kurang serius merawat industri seni negeri sendiri, khususnya industri perflman.

 

Jika aku mensurvey 10 dari 10 orang temanku, antara memilih untuk nonton sekuel terbaru Film Iron Man atau nonton film bergenre perjuangan Indonesia semacam Soegija, pasti lebih memilih nonton sekuel terbaru Film Iron Man. Ini bukan survey yang pasti sih tapi juga bisa dipastikan begitu.

 

Fakta ini cukup berat bagi para sineas perfilman tanah air. Mereka harus bersaing secara ketat, tidak hanya dengan film Hollywood saja, tetapi juga dengan beberapa film asing yang sudah berhasil masuk ke dalam list jadwal tayang bioskop tanah air, seperti film-film dari Hongkong, Korea, Jepang, India, bahkan Thailand.

 

Namun, jika diperhatikan, film Indonesia semakin ke sini memang semakin membaik bahkan mendunia. Beberapa tahun belakangan ini, banyak film-film tanah air yang diboyong ke luar negeri bahkan berhasil masuk theater berkelas Hollywood, seperti The Raid. Ga hanya sampai di sini, salah satu pemain film The Raid diambil oleh salah satu produser film Hollywood untuk bermain di sekue ke 6 film Fast and Farious.  Bangganya lihat Joe Taslim ada di film berkelas yang ga hanya sekedar sebagai figuran. Dan kabar terbaru yang membanggakan dari Film Indonesia adalah masuknya film Sang Kiai sebagai nominasi film terbaik Oscar kategori Film Berbahasa Asing yang sebelumnya ada Sang Penari yang juga berhasil masuk di nominasi yang sama di tahun sebelumnya.

Banggaku terhadap film nasional bukan saat Film Sang Penari atau Sang Kiai yang berhasil masuk ke dalam nominasi begengsi sekelas Oscar. Namun, aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Dian Santro main di Film Ada Apa Dengan Cinta, atau mungkin Sandy Aulia di film Eifel I’m in Love. Waktu itu aku memang belum sempet nonton di bioskop sih karena aku besar di kota kecil ujung Pulau Jawa. Tapi aku rajin sewa DVD-nya saat weekend atau siap-siap dimarahin Ibu karena tidur malam akibat bela-belain lihat Film bioskop Indonesia yang tayang di TV.

 

Memang, sepertinya aku sudah menonton sebagian besar film Indonesia, kecuali Film yang ga jelas, seperti film-film horor JUPE-DP. by the way, akting Jupe di Film Cinta Setaman dan Gending Sriwijaya oke juga loh. Ralat, aku hanya menoton Film Indonesia yang berkualitas, kecuali film horor komedi esek-esek dengan alur cerita ga jelas, seperti Filmnya Nikita Mirzani-Dewi Persik.

 

Mulai dari Pertualangan Sherina sampai Tanah Surga Katanya, Catatan Akhir Sekolah sampai Radio Galau, dan Sang Penari sampai Sang Kiai. Jika ada sebuah kuis untuk menyebutkan judul-judul Film Indonesia, mungkin akulah pemenangnya. Tapi bukan berarti aku anti film luar negeri. Aku juga pemburu sekuel Harry Potter beberapa waktu yang lalu, dan aku paling gandrung dengan film Hollywood bengenre Sci Fi macam Avatar. Tapi rasanya beda aja kalau nonton film Indonesia. Rasanya itu kayak deket banget antara cerita yang dicitrakan dalam film dengan kehidupan sehari-hari dan rasa bagganya itu lebih besar berlipat-lipat jika dibandingkan nonton film Hollywood box office sekalipun.

 

Kenapa aku lebih tertarik menonton film Indonesia dibanding film Hollywoond, mungkin lebih ke cerita dan alur film. Jika nonton film Hollywood semacam Batwan dan sejenisnya, alur dan serita sudah bisa ditebak. Lakon super hero terseok-seok dulu di awal cerita dan tersohor diakhir cerita. Tidak berhenti sampai di situ saja, diakhir film pasti ada sebuah clue yang menandakan film ini bersambung layaknya sinetron. Tapi, bukan berarti semua film Hollywood seperti ini. Banyak juga yang bagus alur dan ceritanya seperti Beautiful Mind, Black Swan, Brokeback Mountain, Passion, dan masih banyak lagi.

 

Namun, pilihanku masih tetap pada film Indonesia. Gambaran menjadi seorang anak Kiai besar yang mempunyai beban moral segunung yang meski dipikul, hanya akan aku temukan di film  Perempuan Berkalung Sorban. Beratnya menanggung beban hidup keluarga di desa dan sulitnya mengimbangi diri karena negative mindset masyarakat tentang TKW tidak akan aku temukan di film dunia manapun kecuali di film Minggu Pagi di Victoria Park.

 

Seperti apa perasaanku atau mungkin kecintaanku terhadap film Indonesia, memang susah digambarkan. Dan, jika memang bisa digambarkan, satu halaman blog tidak akan cukup. Kecintaanku terhadap film Indonesia bisa dilihat pada keputusan study yang aku pilih. Kenapa aku mengambil study Ilmu Komunikasi, nah itulah bentuk kecintaanku terhadap Film Indonesia. Memang, aga rumit sih dan terkesan ga nyambung.

 

Sejak pertama kali aku lihat Sandy Aulia di Film Eifel I’m in Love, aku langsung berucap “suatu saat aku akan beracting seperti itu”. Dan kegilaanku semakin menjadi-jadi saat aku tonton film Kuntilanak-nya Julie Estele. Aku banyak belajar acting dari film ini saat SMA. dan euforianya, aku selalu berakting ketakuatan dengan berlari seakan-akan aku dikejar-kejar setan ketika pulang sekolah.

 

Hubungan antara kecintaanku terhadap Film Indonesia dengan study Ilmu Komunikasi, lebih pada aku ingin belajar ilmu perfilman. Meski ga sedalam anak Jurusan Sinematografi, namun di Komunikasi ini jalanku untuk belajar film sangat terbuka lebar meski aku ambil fokus study di Public Relations. Aga rumit sih sebenarnya. Namun diawal-awal kuliah aku banyak belajar dengan kakak kelas yang juga sama-sama pecinta film dan akhirnya membentuk komunitas film indie. Sebenarnya komunitas inilah yang membuka jalanku hingga akhirnya kenal beberapa sineas film indie Jawa Timur bahkan Jogja dan Jawa Tengah. komunitas inilah yang membuatku mengikuti beberapa kompetisi video and sort movie tingkat daerah bahkan nasional. Dan, yang paling menggembirakan, aku bisa sering jumpa dengan para sineas film nasional bahkan belajar banyak dengan mereka, seperti Joko Anwar.

 

Namun, saat ini aku terlempar jauh dari impian. Aku harus kembali ke realitas dan untuk sementara waktu, break dari mengejar impian untuk terjun ke dunia film. Sebagai fresh graduate, aku harus merelakan diri menjadi karyawan dan bekerja layaknya orang pada umumnya demi bertahan hidup. Namun, bukan berarti impianku mati begitu saja. Aku terus mengatur langkan untuk terus maju mengejar impian sampai akhirnya bisa masuk di dunia perfilman tanah air dan membawanya bangkit lebih tegak lagi.