Indonesia kaya akan seni budaya dan sumber daya alam yang melimpah ruah, anak kecil pun tahu. Belanda dan Portugis yang bermil-mil jaraknya, berusaha bertahun-tahun untuk menemukan dan akhirnya berhasil mengeruk kekayaan Nusantara. Malaysia beberapa kali mencoba mengklaim kesenian budaya Nusantara untuk dijadikan identitas negaranya. Bahkan, banyak pelajar dari Amerika dan Eropa yang ingin belajar kesenian Nusantara, seperti angklung dan gamelan. Pertanyaanya, sudah sadarkah kita kalau kita itu “kaya”?

Pertanyaan itu mungkin ga akan “menusuk” ku jika dilontarkan pada saat aku masih remaja. Aku dulu lebih gandrung dengan kesenian pop semacam hip hop dan break dance. Pernah saat SMP dulu aku mengikuti ekstrakulikuler wajib, tari daerah. Saat itu aku berpikir, kenapa ga break dance aja ekstrakulikulernya? Kan lebih modern. Mainset  ini mungkin juga berlaku untuk remaja sekarang, apalagi dengan hadirnya K-POP. Aga jengkel emang kalau lihat anak SMP-SMA saat ini yang lebih rajin mendengarkan lagu-lagu korea selatan dari pada lagu Indonesia. Rasanya udah mau tak marahin aja tuh anak. Malah, tambah jengkel juga yang teman kuliahku dulu, sekiranya lebih dewasa, sampai-sampai mempelajari budaya dan bahasa Korea. Ya, sah-sah aja sih emang. Toh, ga ada larangan untuk itu.

Aku baru sadar kalau Indonesia kaya akan seni dan budaya, saat aku pergi meninggalkan kampung halaman. Saat pertama membuka mata, ternyata Indonesia itu luas dan beragam. Moment itu aku dapat saat aku jalan di mall sendiri dan secara tak sengaja pada saat itu juga ada sebuah acara pertukaran budaya Indonesia dengan beberapa negara di Asia. Yang membuatku interest untuk gabung melihat acara itu sebenarnya pada MC membuka acara dengan lihai dan natural. Acara itu murni penampilan kesenian tradisional masing-masing negara. untuk pembuka, penampilan Tari Selamat Datang dari Papua. Moment itu lah, pertama kali aku melihat ada yang beda dari seni daerah. Disusul selanjutnya penampilan tari tunggal dari China yang aku ga tahu namanya. yah, semacam tari drama gitu lah pokoknya. Aku ga tahu pesan apa yang disampaiakan tari itu, tapi aku dapat feel-nya. Disusul kesenian tradisional Korea Selatan berupa seni musik alat pukul dengan durasi agak panjang. Tapi lumayan, aku dapat klimaksnya.

Baru, saat penampilan Tari Piring, adrenalinku naik. Tari Piring ini lah yang akhirnya membuatku kepincut dan dapat melihat “seni”nya tari tradisional. Entah dari sisi mananya, apakah karena sebelum penampilan tadi ada sebuah prosesi “bacaan-bacaan” yang dibaca oleh bapak-bapak dibelakang. Gerakan-gerakan tarian ini seakan-akan mengelus-elus hatiku dan mengelitiki otakku sehingga serasa dibelai dan dimanja. Padahal, kalau dilihat dari gerakanya, Tari ini lebih terkesan tegas dan tidak cenderung lemah gemulai. Antiklimaks dari tarian ini adalah saat para penari menginjak-injak beling yang tidak aku duga sebelumnya. Mereka terus menginjak dan menginjaknya berulang-ulang sehingga penonton bertepuk tangan seperti reflek. Wow, luar baisa indah sekali.

Euforia itu berlanjut tiga bulan setelahnya aku masuk Beswan Djarum. Tampil di panggung malam puncak Dharma Puruhita 2011 adalah sebuah moment yang tak akan terlupakan seumur hidup. Bukan gagap gempitanya yang membuatku terkesan tapi proses belajar menarinya yang hanya 3 hari untuk penampilan di sebuah pentas pertunjukan besar. meskipun tari kontemporer yag aku pelajari di sini, tapi seenggaknya akau belajar dan mengerti bahwa tari itu indah. Meskipun latihan mulai pagi sampai malam, tapi ga ada capeknya karena menari membuat hati senang. Meski paginya susah bangun karena badan terasa kaku semua. Setelah moment ini, aku baru sadar bahwa seni budaya nusantara itu indah sekali dan beragam. aku ingin melihat dan menguasainya satu per satu.

Setelah sadar akan istimewanya seni budaya nusantara, aku jadi kangen dengan budaya asli daerah kelahiran, Jejer Gandrung atau lebih dikenal dengan sebutan Tari Gandrung. Aku menyesal, kenapa saat masih sekolah dulu aku tidak mendalaminya dengan baik? Sebaliknya, malah lebih memilih untuk belajar budaya asing. Ngomong-ngomong saat itu lagi ngetren-ngetrennya F4, jadi pada wo ai ni-wo ai ni gitu.

Dan akhirnya, aku selalu merindukan segala bentuk budaya tradisional yang di miliki Nusantara ini. akhir 2012, aku benar-benar menikmati Festival 1000 Gandrung yang digelar di kampung halamanku, Banyuwangi. Sungguh sebuah sajian seni budaya istimewa yang sangat funtastik sekali yang digelar di tepi pantai saat sore hari. Aku berharap setelah ini, akau bisa terus menikmati seni budaya tradisional nusantara dan aku bisa berkeliling Indonesia untuk menemukan setiap detailnya.