Kalau ngomongin tentang film , biasanya terlintas list film-film Hollywood baru yang keren dan canggih, yang terkadang membuat film Indonesia tersisihkan. Banyak film Indonesia yang ga kalah seru dan menarik yang rilis dan tayang di bioskop namun hanya mampu bertahan selama seminggu dan menariknya tidak lebih dari 5.000 penonton, seperti Film Minggu Pagi di Victoria Park. Apa yang salah dengan Film Indonesia?

 

Jika saya pergi ke bioskop atau mungkin melihat jadwal tayang film di koran, yag terlihat lebih banyak komposisi film asing dari pada film dalam negeri. Jika dilihat perbandingannya, bisa dibilang 1:5 antara film Indonesia dan film luar negeri, khususnya Hollywood, yang tayang di bioskop seluruh Indonesia. Well, sepertinya penonton Indonesia telah menjadi tuan rumah yang baik untuk industri seni asing hingga “menomor duakan” industri seni sendiri.

 

Yah, itulah faktanya. Aku juga tidak mungkin mendiskriminasikan film Hollywood yang sudah merajai bioskop tanah air. Atau mungkin memojokkan pemerintah yang kelihatanya kurang serius merawat industri seni negeri sendiri, khususnya industri perflman.

 

Jika aku mensurvey 10 dari 10 orang temanku, antara memilih untuk nonton sekuel terbaru Film Iron Man atau nonton film bergenre perjuangan Indonesia semacam Soegija, pasti lebih memilih nonton sekuel terbaru Film Iron Man. Ini bukan survey yang pasti sih tapi juga bisa dipastikan begitu.

 

Fakta ini cukup berat bagi para sineas perfilman tanah air. Mereka harus bersaing secara ketat, tidak hanya dengan film Hollywood saja, tetapi juga dengan beberapa film asing yang sudah berhasil masuk ke dalam list jadwal tayang bioskop tanah air, seperti film-film dari Hongkong, Korea, Jepang, India, bahkan Thailand.

 

Namun, jika diperhatikan, film Indonesia semakin ke sini memang semakin membaik bahkan mendunia. Beberapa tahun belakangan ini, banyak film-film tanah air yang diboyong ke luar negeri bahkan berhasil masuk theater berkelas Hollywood, seperti The Raid. Ga hanya sampai di sini, salah satu pemain film The Raid diambil oleh salah satu produser film Hollywood untuk bermain di sekue ke 6 film Fast and Farious.  Bangganya lihat Joe Taslim ada di film berkelas yang ga hanya sekedar sebagai figuran. Dan kabar terbaru yang membanggakan dari Film Indonesia adalah masuknya film Sang Kiai sebagai nominasi film terbaik Oscar kategori Film Berbahasa Asing yang sebelumnya ada Sang Penari yang juga berhasil masuk di nominasi yang sama di tahun sebelumnya.

Banggaku terhadap film nasional bukan saat Film Sang Penari atau Sang Kiai yang berhasil masuk ke dalam nominasi begengsi sekelas Oscar. Namun, aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Dian Santro main di Film Ada Apa Dengan Cinta, atau mungkin Sandy Aulia di film Eifel I’m in Love. Waktu itu aku memang belum sempet nonton di bioskop sih karena aku besar di kota kecil ujung Pulau Jawa. Tapi aku rajin sewa DVD-nya saat weekend atau siap-siap dimarahin Ibu karena tidur malam akibat bela-belain lihat Film bioskop Indonesia yang tayang di TV.

 

Memang, sepertinya aku sudah menonton sebagian besar film Indonesia, kecuali Film yang ga jelas, seperti film-film horor JUPE-DP. by the way, akting Jupe di Film Cinta Setaman dan Gending Sriwijaya oke juga loh. Ralat, aku hanya menoton Film Indonesia yang berkualitas, kecuali film horor komedi esek-esek dengan alur cerita ga jelas, seperti Filmnya Nikita Mirzani-Dewi Persik.

 

Mulai dari Pertualangan Sherina sampai Tanah Surga Katanya, Catatan Akhir Sekolah sampai Radio Galau, dan Sang Penari sampai Sang Kiai. Jika ada sebuah kuis untuk menyebutkan judul-judul Film Indonesia, mungkin akulah pemenangnya. Tapi bukan berarti aku anti film luar negeri. Aku juga pemburu sekuel Harry Potter beberapa waktu yang lalu, dan aku paling gandrung dengan film Hollywood bengenre Sci Fi macam Avatar. Tapi rasanya beda aja kalau nonton film Indonesia. Rasanya itu kayak deket banget antara cerita yang dicitrakan dalam film dengan kehidupan sehari-hari dan rasa bagganya itu lebih besar berlipat-lipat jika dibandingkan nonton film Hollywood box office sekalipun.

 

Kenapa aku lebih tertarik menonton film Indonesia dibanding film Hollywoond, mungkin lebih ke cerita dan alur film. Jika nonton film Hollywood semacam Batwan dan sejenisnya, alur dan serita sudah bisa ditebak. Lakon super hero terseok-seok dulu di awal cerita dan tersohor diakhir cerita. Tidak berhenti sampai di situ saja, diakhir film pasti ada sebuah clue yang menandakan film ini bersambung layaknya sinetron. Tapi, bukan berarti semua film Hollywood seperti ini. Banyak juga yang bagus alur dan ceritanya seperti Beautiful Mind, Black Swan, Brokeback Mountain, Passion, dan masih banyak lagi.

 

Namun, pilihanku masih tetap pada film Indonesia. Gambaran menjadi seorang anak Kiai besar yang mempunyai beban moral segunung yang meski dipikul, hanya akan aku temukan di film  Perempuan Berkalung Sorban. Beratnya menanggung beban hidup keluarga di desa dan sulitnya mengimbangi diri karena negative mindset masyarakat tentang TKW tidak akan aku temukan di film dunia manapun kecuali di film Minggu Pagi di Victoria Park.

 

Seperti apa perasaanku atau mungkin kecintaanku terhadap film Indonesia, memang susah digambarkan. Dan, jika memang bisa digambarkan, satu halaman blog tidak akan cukup. Kecintaanku terhadap film Indonesia bisa dilihat pada keputusan study yang aku pilih. Kenapa aku mengambil study Ilmu Komunikasi, nah itulah bentuk kecintaanku terhadap Film Indonesia. Memang, aga rumit sih dan terkesan ga nyambung.

 

Sejak pertama kali aku lihat Sandy Aulia di Film Eifel I’m in Love, aku langsung berucap “suatu saat aku akan beracting seperti itu”. Dan kegilaanku semakin menjadi-jadi saat aku tonton film Kuntilanak-nya Julie Estele. Aku banyak belajar acting dari film ini saat SMA. dan euforianya, aku selalu berakting ketakuatan dengan berlari seakan-akan aku dikejar-kejar setan ketika pulang sekolah.

 

Hubungan antara kecintaanku terhadap Film Indonesia dengan study Ilmu Komunikasi, lebih pada aku ingin belajar ilmu perfilman. Meski ga sedalam anak Jurusan Sinematografi, namun di Komunikasi ini jalanku untuk belajar film sangat terbuka lebar meski aku ambil fokus study di Public Relations. Aga rumit sih sebenarnya. Namun diawal-awal kuliah aku banyak belajar dengan kakak kelas yang juga sama-sama pecinta film dan akhirnya membentuk komunitas film indie. Sebenarnya komunitas inilah yang membuka jalanku hingga akhirnya kenal beberapa sineas film indie Jawa Timur bahkan Jogja dan Jawa Tengah. komunitas inilah yang membuatku mengikuti beberapa kompetisi video and sort movie tingkat daerah bahkan nasional. Dan, yang paling menggembirakan, aku bisa sering jumpa dengan para sineas film nasional bahkan belajar banyak dengan mereka, seperti Joko Anwar.

 

Namun, saat ini aku terlempar jauh dari impian. Aku harus kembali ke realitas dan untuk sementara waktu, break dari mengejar impian untuk terjun ke dunia film. Sebagai fresh graduate, aku harus merelakan diri menjadi karyawan dan bekerja layaknya orang pada umumnya demi bertahan hidup. Namun, bukan berarti impianku mati begitu saja. Aku terus mengatur langkan untuk terus maju mengejar impian sampai akhirnya bisa masuk di dunia perfilman tanah air dan membawanya bangkit lebih tegak lagi.