Archive for category Coretan Beswan

SERUNI RAMPAI “catatan Facebook, 8 Mei 2010″

sebenarnya keinginan untuk menulis telah menggebu-gebu saat kelas dua SMA.   ada beberapa tulisan yang telah rampung namun belum sempat di-publish. tapi juga ada yang tak pernah terselesaikan seperti tulisan ini…

” malam tak pernah terasa begitu boogie ketika engkau tinggalkan bekas yang mendalam dan dangat berat bagiku untuk menghapus bekas itu. langkahku tak pernah lagi segesit waktu dulu kau mengisi setiap celah di sudut hatiku yamg selalu hampa. si tepi jalan jendral sudirman aku termenung sendiri menunggu bus kota yang akan mengantarku ke citra arumi di mana tempatku mengais riski. tepat di depan mataku bus kota menuju ke arah pusat kota parkir menungguku menumpang. aku duduk di bangku paling belakang. “jova!” ku dengar suara memanggil, ” hei jova! di sini” ke tengok di mana arah sura tersebut berasal. akhirnya ku temukan asal suara tersebut berasal. adalah dim teman sewek sekantorku. aku hanya melempar senyum. tanpa aku suruh, dia berjalan ke arahku, “kamu di situ aja dim, di sini ga ada tempat” , ” alah, ga pa-pa. abis di sana ga nyaman aku” jawab dim, ” ya udah, aku berdiri aja kamu duduk”, dim begitu menurut dengan saranku. bus terus melaju ke arah joyo pati.”

buatku menulis bukan suatu hal yang mudah apalagi harus sampai selesai. sangat membutuhkan tempat dan waktu tersendiri agar semuanya tercipta secara sempurna. dan, suatu saat nanti aku pasti mempunyai semua itu agar semua tulisan, baik yang sudah tergores maupun yang masih tersimpan di otak, terampungkan.

Tags:

Ramadhan Tahun Ini Berbeda

Aroma tanah kering di pinggir sungai, lantunan ayat suci Al-Quran dari pengeras suara surau, percikan air dari kran kamar mandi, dan kekeringan tanah ini mengingatkanku pada kampung halaman. Kampung halaman menjelang musim Ramadhan.

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Namun, aku masih berada di kota rantau. Pikiran sudah berada di kampung halaman yang berjarak beberapa mil dari kota rantau sekarang ini. Kota Surabaya ini tak memberikan kesan apa-apa bagiku ketika Ramadhan. Hanya suara cekikikan anak-anak kecil berlarian di gang-gang sesaat buka puasa. Itu seingatku di awal bulan Ramadhan setahun yang lalu sebelum balik ke kampung. Berbeda dengan di kampung halaman Banyuwangi.

Di kota kecil ini, setiap tahunya aku selalu berkumpul dengan keluarga besar yang sangat hangat. Meski aku berada di kota rantau, namun khusus bulan penuh berkah ini, aku berada bersama keluarga satu bulan penuh. Dan itu kenangan setahun lalu. Sepertinya tahun ini aku harus merelakan bulan penuh kehangatan keluarga ini di kota rantau. Menyelesaikan tugas yang sudah terbebankan dan belum terselesaikan sampai beberapa bulan ke depan. Tugas yang sangat banyak dan butuh waktu lebih untuk penyelesaianya.

Seingatku, ketika Ramadhan tiba, semua terasa indah. Keluarga yang berada di luar kota, semua kembali ke rumah bersama-sama menikmati indahnya bulan yang datang setahun sekali ini. Kakak, adik, ibu, dan bapak semua berkumpul dalam satu rumah dan menciptakan kehangatan yang tak ada gantinya di dunia ini. Ketika sore tiba, masing-masing menyibukkan diri dengan tugas masing-masing. memasak, membereskan rumah, dan menyiapkan sajian buka puasa. Semua terasa istimewa ketika Adzan Mahrib dikumandangkan dan bersama-sama sekeluarga menyantap masakan yang telah di masak bersama. Tak ada yang istimewa dalam masakan ini. Semua biasa-biasa saja seperti masakan pada keluarga umumnya. Namun, entah dengan resep seperti apa, ibu menyulap segalanya menjadi istimewa dan lebih dari pada masakan manapun di dunia ini bahkan hotel bintang lima sekalipun.

Terasa lebih lagi ketika mendekati lebaran. Kita sekeluarga sibuk dengan aktivitas masing-masing. ibu dan kakak perempuan tiap harinya sibuk di dapur membuat kue-kue untuk hari kemenangan nanti. Aku dan kakak laki-laki sibuk membenahi rumah dan membuatnya tampak lebih indah. Mengecat, membenahi perabot yang rusak, mencuci karpet dan korden, dan menata taman rumah. yang lebih istimewa lagi ketika beebelanja baju lebaran sekeluarga. Berkeliling toko di kota kecil ini, serasa lebih menyenangkan dari pada keliling mall besar di Singapure sekalipun. Mencari perabot baru, menservis mobil, dan menyiapkan segala sesuatunya agar terlihat sempurna ketika lebaran datang nanti.

Lebaran datang, semua senang. Tak ada yang sedih di bulan ini. Semua orang desa keluar dengan raut muka bahagia bersalam-salaman berkunjung bergilir ke rumah tetangga. Semua saling mengucapkan selamat dan bermaaf-maafan tanpa terkecuali. Serasa apa yang terjadi selama setahun terasa ringan dan terbang tanpa beban. Tak ada moment satu pun di dunia ini yang menggantikan ini semua.

Yah, akhirnya aku harus merasakan Ramadhan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aku harus merelakan hangatnya karpet depan televisi di kampung halaman. Aku harus merelakan serunya mencat dan membuat rumah kelihatan lebih indah. Aku harus merelakan panen ubi di kebun milik orang tua dan memasak sajian takjil. harus merelakan sedapnya sambal teri campur petai spesial buatan ibu tercinta. Harus merelakan keliling kampung saat sahur bareng keponakan dak teman-temanya. Merelakan buka bareng keluarga besar di rumah nenek dan menginap. Dan aku harus merelakan moment istimewa lainya berpuasa dengan keluarga besar di kampung halaman.

Tags:

“After Rain”


Aku cuman aku saja. Aku ga pernah begitu tahu siapa diriku. Aku selalu berada di posisi tengah. Ga jelas dan ga pernah diperuntukkan. Selalu iri dengan orang lain.

Iri dengan orang lain?

Entahlah. Aku ga bisa menjawab dengan pasti. Mereka yang hidupnya datar, selalu dalam keadaan status quo, apakah mungkin pernah merasakan apa yang aku rasakan. Berjuang keras penuh pengorbanan. Entah, Aku juga bingung.

Semenjak aku mulai bisa merasakan sesuatu, seingatku mulai peka terhadap sesuatu, perasaan pertama yang aku rasakan adalah sedih. Menangis, dan menangis. Entahlah. Mugkin testimoni itu belum sepenuhnya benar. Tapi yang jelas aku ingin menguraikan segala perasaanku disini. Sedih, senang, tertawa, kecewa, kehilangan, luka, dan tangis. Semua bercampur jadi satu dan menghasilkan sebuah sajian gurih, pedas, tapi manis.

Entahlah. Aku hanya ingin berbagi. Berbagi suatu hal yang sudah basi yang seharusnya telah aku bagikan ke orang lain di waktu lampau. Aku kecewa karena aku kurang berani. Harus berpikir seribu kali sebelum melakukan tindakan.

Hari ini pikiranku bercampur aduk ga karuan. Banyak yang berlarian kesana kemari di kepalaku dan itu membautku kurang fokus. Kurang fokus terhadap satu titik. Semakin tinggi puncak yang kudaki semakin banyak hal yang ku lihat dan semakin banyak pilihan yang menantang. Ini membuat bergeming. Aku menjadi ragu-ragu dan kehilangan kepercayaan diriku.

Entahlah. Tapi yang aku lihat disini orang bisa gampang aja membicarakan orang lain tanpa tahu kepastian sesungguhnya. Kepastian apakah yang mereka omongin atau jadi bahan topik begaadang itu benar keadaanya. Entahlah. Aku sendiri juga kurang paham dengan itu.

Setiap hari yang aku lihat adalah orang stres karena keadaan hilang begitu saja tidak sesuai yang diinginkan. Entahalah. Apakah mereka benar-benar dalam keadaan depresi atau mereka hanya ingin ingin istirahat sejenak dari kompetisi yang semakin ke ujung semakin meruncing. Mengambil napas, istirahat sejenak sambil berpikir mencari strategi untuk berperang. Berperang dan berperang merebutkan posisi yang ada di puncak sana.

Entahlah. Semakin meruncing keadaan ini, semakin aku mencari posisi netral yang cenderung aman. Aku ga mau terlibat begitu jauh meski sebenarnya aku berambisi. Berambisi untuk berperang merebutkan posisi puncak. Namun aku tahu bahwa dunia ga hanya itu saja. Aku ingin keluar melihat peluang lain yang belum aku ketahui meski dunia yang aku berada sekarag ga sepenuhnya aku ketahui juga. Hanya aku dengar melalui kicauan burung riang di laur sana.

Tags:

Curhatan Basi

access form google.co.id

Jum’at, 9 des 2011 (12.01)

· Aku bener-bener ga paham dengan diriku sendiri. Kenapa aneh yang aku rasakan. Belakangan ini aku telah berubah menjadi orang yang paling tak berguna di dunia. Aku merasa setiap kali bangun tidur, badan berat banget untuk diangkat. Setiap kali baca buku, rasa kantuk menjadi semakin dominan. Ketika mau beribadah, meski berdebat panjang dengan diri sendiri. Apa yang salah. Aku merasa kalah dengan diriku sendiri. Aku merasa kurang berdaya ketika harus berhadaban dengan diriku sendiri. Apa karena terlalu sibuk. Itu bukan alasan. Yang ada motivasi dalam diri sudah mulai menurun. Aku perlu memotivasi diri aku sendiri agar aku kembali pada posisi yang stabil. Memang aku sering berada dalam posisi kacau. Namun, aku ga mau selamanya posisi tersebut selalu dominan dalam diriku. Aku harus terus berproses untuk menjadi lebih baik.

Selasa, 13 des 2011 (08.08)

· Aku semakin ga paham dengan diriku sendiri. Begini dan begini aja yang terjadi. Selalu telat bangun dan telat shalat. Sumpah, aku semakin ga paham dengan diriku sendiri. Seandainya saja aku bisa berubah, aku ingin berubah. Aku kepengen on time dan disiplin kembali. Ga ada lagi kata buat telat.

Rabo, 14 des (09.31)

· Sialan… kenapa sih ketika giliran aku yang ontime, mereka yang ditunggu malah molor. Ini nih yang membuat semangat disiplinku menurun. Ga asyik… aku paling ga betah kalo ngumpul-ngumpul tapi ga jelas. Don’t waste my time!

Event Sepak Bola Rame, Aku Kesepian

access form uefa.com

Event empat tahunan piala eropa kini sedang rame-ramenya digelar. Event ini telah menyedot perhatian pemirsa dunia bahkan sampai Indonesia. Di negara satu ini, beberapa pusat perbelanjaan dan hotel di kota-kota besar berlomba-lomba memanfatkan moment ini untuk mengadakan nonton bareng. Moment yang sangat tepat untuk meningkatkan kunjungan.

Mereka yang tidak sempat nonton bareng di mall atau di restoran, rame-rame nonton bareng di rumah dengan keluarga atau teman-teman dekat. Atau mungkin yang tidak sempat pulang ke rumah, mereka nonton bareng di tempat kerja.

Moment seperti ini membuat ku merasa kesepian karena teman-temanku semua fokus pada acara ini. Bahkan keluarga sampai-sampai pacar juga gandrung sekali dengan acara ini. Jika acara ini sudah berlangsung, aku merasa terasing ke dunia antah berantah. Semua orang, selama kurang lebih dua jam, fokus dengan program ini.

Tidak hanya itu, topik pembicaraan ketika berkumpul juga soal pertandingan semalam. Mereka selalu mendiskusikan prediksi pertandingan selanjutnya. Bahkan, taruhan pun sudah menjadi hal biasa.

Padahal, mereka sudah tahu bahwa aku bukan penggemar acara bola. Terkadang aku menjadi sok tahu agar dapat dilibatkan dalam pembicaraan. Namun, lagi-lagi aku merasa sangat aneh jika aku harus begini terus.

Memang, setiap orang mempunyai selera masing-masing. dan selera tidak bisa dipaksakan begitu saja karena bicara soal hati. sangat menyedihkan sekali jika selera yang kita miliki tidak sejalan dengan orang-orang dekat kita. Mungkin, akan menjadi suatu hal yang sangat canggung jika harus dipaksa sama.

Tags: ,

Tradisi Bullying

“dasar, bodoh kamu…”

“dasar, jelek kamu..”

“kamu tuh bukan apa-apa, cuman penggangu…”

Dan masih banyak lagi kata-kata kasar lainya yang sering diucapkan. Mungkin, dengan kata-kata tersebut seseorang ingin menunjukkan ke yang lain, bisa kepada orang yang lebih muda, bahwa dia lebih. Dia ingin menunjukkan bahwa dia lebih berkuasa, lebih dituakan, dan dia ingin dihargai dengan melakukan penindasan lewat kata-kata tersebut.

Tanpa disadari, terkadang dengan mudahnya seseorang mengeluarkan statement yang men-judge. Dan lebih parahnya lagi, orang tersebut melakukan lagi dan lagi tanpa ia sadari. Hal semacam itu terkadang sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun dalam sebuah lingkungan. Bahkan, kebanyakan keluarga di Indonesia pun juga melakukan hal yang sama. Mereka beranggapan, dengan cara seperti itu akan mendidik anak menjadi pribadi yang tegar dan mandiri. Lingkungan sekitar, bahkan dalam akademisi pendidikan pun juga melakukan hal yang sama. Dalam sebuah pengkaderan, atau masa adaptasi siswa baru mereka dibentak-bentak dengan sumpah serapah dan tidak jarang main fisik terjadi.

Hal semacam ini bisa saja dilakukan. Namun, harus melihat kondisi psikologi seseorang. Jika seseorang menghakimi yang lain dengan perkataan “bodoh”, maka orang tersebut akan merasa ragu dengan dirinya dan dia akan mempersepsikan dirinya seperti apa yang orang lain bilang. Tentu hal semacam ini akan menjadi sesuatu yang sangat fatal jika diterapkan pada generasi muda. Pengkaderan semacam yang berlaku di institusi pendidikan Indonesia sekarang ini sungguh disayangkan. Karakter mereka akan semakin buruk jika hal semacam ini terus berlaku.

Tags:

Orkes Dangdut Makin Erotis, FPI Diam Saja

access form www.wordpress.com

Beberapa waktu lalu media sangat rajin menyuguhkan berita tentang aksi FPI menolak Lady Gaga. Sampai-sampai membuat topik hangat yang lain menjadi kabur akibat masyarakat fokus dengan topik satu ini. Jejaring social juga lebih tertarik untuk mendiskusikan topik ini dari pada curhat tentang kehidupan cintanya. Dan keingginan FPI untuk menggagalkan konser Mother of Moster ini akhirnya berhasil.

Lalu, pihak manakah yang paling dibanggakan?

Sudah bukan rahasia lagi kalau dunia bisnis dan politik penuh dengan persaingan. Bagi mereka benar salah bukan menjadi amsalah, tetapi menang kalah yang harus mereka capai. Tapi tulisan ini tidak akan membahas soal ini. Penulis ingin mengorek lebih dalam lagi mengenai idealisme Front Pembela Islam (FPI).

Ormas islam yang berdiri pada tahun 1998 ini memang penuh dengan kontroversi. Tidak ada yang tahu, apakah memang dibuat seperti ini atau bagaimana. Namun, yang tampak dari apa yang disajikan media mengenai aksi-aksi dari ormas Islam ini, seakan-akan idealis banget. Seakan-akan dia akan membabat habis aksi-aksi yang mengandung unsur-unsur maksiat.

Lalu, bagaimana orkes dangdut yang semakin erotis?

Kalau melihat kasus ini, seakan-akan FPI tidak pernah tahu acara ini dan seakan-akan jarak FPI dengan acara dangdut ini bermil-mil jauhnya. Padahal, kalau FPI menyayangkan Lady Gaga konser di Indonesia akan merusak moral bangsa Indonesia, itu sudah telat. Moral bangsa Indonesia telah kritis bahkan sebelum Lady Gaga terkenal sampai Indonesia. Moral bangsa ini sudah mengalami degradasi sekian tahun lamanya. Korupsi, trafficking, dan lain sebagainya yang ekarang lagi panas diomongin di media manapun.

Kalaupun memang FPI merupakan ormas Islam yang mempunyai idealisme yang tinggi, seharusnya dia harus bebas dari kepentingan manapun baik yang datang dari dalam maupun luar organisasi. Masyarakat, khususnya yang muslim, memang perlu dihindarkan dari segala hal yang berbau maksiat. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang adil dan makmur. Namun, dalam pelaksanaanya tidak perlu dengan aksi anarkis yang membabi buta. Hal ini akan memperburuk citra Islam di mata masyarakat dunia. Kembali lagi bahwa sesungguhnya islam itu ramah dan cinta damai.

Tags: ,

Kenapa Indonesia Ga Bikin Karnaval Gede Tahunan Aja?

access form google.co.id

Sudah bukan hal rahasia lagi kalau memang negeri ini mempunyai banyak sekali kebudayaan dan alam yang bagus. Mulai dari kebudayaan yang udah diketahui oleh umum maupun yang masih malu-malu buat di-expose. Tapi anehnya kekayaan tersebut ga dijadiin sebagai modal untuk ngedapetin masukan negara. Meski sudah ada usaha untuk mencoba, Kenapa kebudayaan tersebut ga coba untuk dijual atau dikemas lebih apik lagi sehingga orang-orang yang di luar sana jadi tertarik untuk berkunjung. Misal, melalui program visit apalah atau bikin semacam event tahunan kayak karnaval.

access form google.co.id

Sebenarnya kalau ngomongin soal karnaval, bukan hal baru lagi di Indonesia. Beberapa daerah sudah beberapa tahun belakangan ini mencoba menggelar seperti Parade Bunga di Surabaya, Jember Feshion Carnaval, sampai karnaval perahu hias Sungai Musi. Memang beberapa karnaval yang telah di buat oleh beberapa daerah tersebut telah berhasil mengundang masyarakat luar untuk datang. Tetapi itu masih sebatas turis lokal dan itu pun juga kurang greget. Perlu sesuatu yang lebih agar para bule yang doyan banget berwisata dapat berbondong-bondong dateng untuk berkunjung ke Indonesia.

Sebagai referensi, dapat dilihat karnaval tahunan di Brazil. Perayaan karnaval tahunan yang berpusat di Rio De Jenairo ini mampu menyedot perhatian turis dunia pada musim panas. Perayaan yang berkonsep Brazil dengan mengusung segudang kebudayaan yang mereka miliki, seperti tari samba, musik bosa nova, dan beberapa daerah wisata dan tempat-tempat kebanggaan mereka seperti pantai Balneario, patung raksasa kristus penebus, dan lain-lain. Perayaan spektakuler ini juga di dukung penampilan dari artis lokal maupun mancanegara tiap tahunya.

access form google.co.id

Dengan konsep seperti ini, tentu akan semakin menjual Indonesia ke kancah dunia sebagai salah satu tujuan wisata terbaik dan kebudayaan yang dimiliki akan semakin lestari karena banyak orang yang tahu dan peduli. Ide kreatif dan inovatif harus terus dikembangkan untuk membawa kemajuan bangsa. Tidak ada batasan dalam kreasi dan tidak ada penilaian buruk untuk sebuah kreatifitas.

Tags:

Memotivasikah Talent Show?

the image access form kapanlagi.com

belakangan ini para remaja Indonesia pada dibikin hebring dengan talent show di salah satu TV nasional. Wow, selalu dibikin funtastic dengan berbagai kejutan para kontestanya yang dipadu dengan teknik panggung yang keren. Tentu ini akan membuat mereka, Remaja ababil, menjadi lebih termotivasi untuk mengembangkan bakat dan lebih percaya diri untuk show off.

Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah Ini akan selalu menjadi hal  positif?. Tentu tidak semua hal hanya mempunyai satu sisi saja. Jika ada segi positif pasti ada segi negatif. Mungkin, jika para remaja ini terus intensif mengikuti acara talent show seperti ini mereka akan menjadi naif dan menganggap semua bisa dilalui dengan mudah. Padahal dalam meraih suatu, pasti ada upaya dan keputusan dalam pilihan yang tidak semudah yang dilihat.

Tanggap saya para remaja ababil ini perlu dampingan orang yang lebih dewasa dalam menyaksikan acara seperti ini agar mereka dapat terarahkan. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa acara semacam ini dapat memotivasi para pemirsanya untuk percaya diri dengan bakat yang mereka miliki.

Tags:

Renungan Sore Tadi, Membuatku Tahu

Selasa sore tadi (29 Mei 2012) begitu ga bisa dirasionalkan. Tiba-tiba aku males ngapa-ngapain hanya bengong aja di depan laptop. Padahal kalo ngomongin soal kerjaan, banyak banget yang udah deadline. Tapi ga tahu kenapa badan ini berat banget buat digerakin.

Udah bengong ga jelas di kost-an, lama-lama juga ngerasa berdosa. Keluar kamar kost, nangkring di balkon, ngidupin sebatang rokok sambil nikmati suasana senja. Ga kerasa, satu hisapan rokok dapat mengantarkanku jauh ke masa lalu. Di sana, satu demi satu pintu dalam ingatan aku buka. Ga tahu sudah berapa hisapan rokok, sampai aku berada di ruangan ukuran sedang. Di sana ku temukan diriku masih usia remaja. Mencoba membangun prinsip demi prinsip, belajar dengan teguh hati untuk berkomitmen pada prinsip yang di buat, hingga mengantarku di ruang yang sempit sekali.

Di ruang itu, ku temukan diriku yang lagi-lagi gagal dalam komitmen prinsip. Berjanji untuk tidak telat brerangkat sekolah, namun kenyataanya hampir tiap hari dihukum guru BP. Berjanji untuk menabung, namun nyatanya berselancar ria di warung internet sampai berjam-jam.

Ruang sempit itu membuatku gerah hingga akhirnya aku kembali lagi ke balkon kamar kost. Sebatang rokok tadi sisa setengah. Fill untuk menengok bilik-bilik masa lalu udah ga asyik lagi. Kini ku lihat diriku sekarang. Setelah beberapa saat aku mampir ke bilik-bilk masa lalu tersebut, aku mencoba bercermin.

“adakah yang telah berubah?…..”

Sejenak aku pandangi satu persatu dalam diri sekarang ini. Ku pikir-pikir dan k u bandingkan.

“apa bedanya aku sekarang dengan yang lalu?…”

Setelah sejenak, aku tahu jawabanya. Ga ada yang berubah dalam diri ini. Hanya saja bertambah tua pasti iya. Namun, setelah aku tahui jawaban itu, aku jadi murung. Sedih karena “aku telah kalah dengan diriku sendiri”.

Tags: