Archive for category fictions diary

Gurita dan Lintah Darat (19 Maret 2013)

Sebenernya lagu wajib yang harus aku putar ketika nyalain laptop itu “Suara Hati Seorang Kekasih”-nya Melly Guslow. Tapi ga tau kenapa malah “Separuh Aku”-nya Noah yang masuk playlist windows media player. Lagu lawas memang ga ada duanya jika harus dibanding dengan lagu yang release baru-baru ini. Banyak kenangan yag melekat dengan lagu tersebut sehingga membuat lagu itu tambah klasik dan melekat di hati.

Sebenarnya aku ga mau ngebahas masalah lagu favorit atau lagu ngebanding-bandingin lagu yang satu dengan yang lain. Semua punya selera masing-masing. entah kenapa “fokus” yang ada dalam otak ini semakin kabur. Tadi pagi mikirin apa, fokus dengan apa, malem ini jadi fokus ke mana juga arahnya kemana. Entah mengapa setelah moment wisuda kemaren Sabtu membuat tujuanku terombang ambing. Ga terombang ambing gimana, kerjaan aja belum pasti dan saldo di tabungan tinggal 27ribu doang. …………………………………………………………………………………………………

Sebenernya bukan masalah kerjaan yang belum pasti sih yang membuat pikiranku terombang-ambing selama tiga hari berturut-turut. Hanya saja permintaan nyokab dan keluarga yang memintaku untuk mendalami ilmu agama. Ini yang selama ini jadi “momok” yang sangat menakutkan dalam hidupku. Sebenarnya hal yang lumrah untuk seorang keluarga, terlebih nyokab, menginginkan yang terbaik buat anaknya. Namun bagaimanapun juga hati ini kurang srek aja dengan kemauan keluarga satu ini. Rasanya hati in ingin menjerit menggugurkan salju dipuncak gunung Jaya Wijaya ketika keluarga sudah mulai memaksakan kehendaknya. Di sisi lain, finansilaku masih ditanggung nyokab sepenuhnya sampai saat ini. Dan, kondisi kritis pada finansial saat ini mau ga mau aku harus nodong nyokab minta ditranfer uang untuk beberapa hari ke depan bahkan satu bulan ke depan. Yah, aku sendiri sebenarnya ga enak hati, sungkan lah. Tapi mau gimana lagi, kalo ga nodong, ya ga makan. Memang, pilihan yang benar-benar sulit.

 

(10 Maret 2013)

Aku punya waktu 20 hari.

 

Satu minggu,

 

Atau sebenarnya aku ga pernah punya waktu sama sekali?

Sebenernya Sih Bukan “Etnic Runway” (30 Januari 2013)

Gini nih kalo lagi nulis dengerin lagu galaunya Agnes Monica, ga konsen……….

 

———————————————————————————

 

(diary fiksinya ga sempet selesai karena lagi sibuk pas KKN “SEBENERNYA SIH, LAGI MALES NULIS AJA :D)

HARI INI ANTARA BULE CANTIK TINGGI SEMAMPAI DENGAN DIKTAKTOR UDIK…. (Jumat, 7 September 2012)

Perasaanku hari ini “huaaaaaaaaaaakkkkkkkkk” banget nget. Group BBM satu ini memang membuatku bener-bener ingin teriak ngilangin suntuk yang membeban di kepala. Gimana ga suntuk, tiba-tiba aja ada undangan yang sangat begitu ga jelas yang ngajakin ke arah ga jelas.

Oh ya, aku belum jelasin group apa ini yang membuatku begitu enek dan haduh, saking eneknya ga bisa digambarin pake kata-kata. Sebut aja group itu bernama paduan suara. Beberapa bulan yang lalu aku sudah menonaktifkan diri karena, yah mungkin udah ga betah lagi dengan sistemnya, banyak hal yang ga bisa ku sebut satu persatu. Yang jelas sudah ga ada lagi alasan yang membuatku harus bertahan di tempat itu.

Ceritanya jam 15.00 tiba ada pemberitahuan kurang lebih gini “pelatih said, saya minta tolong ke jenegan kumpulkan dan datangkan semua agkatan jenengan agar datang tanggal 11 pukul 18.00 d kampus acara Choir 2012 sampaikan salam saya pada alumni paduan suara. Terima kasih, cc: pelatih”. Tanpa pikir panjang aku bales “aku kan belum alumni L”, dan selang beberapa detik langsung ada balesan dari anggota group yang lain yang sangat “shit” banget.

Yah, aku rasa kalian bisa bayangin hal apa yang pernah aku alami dengan group ini sehingga ngebuat akau begitu membenci dan, aduh, males nyeritainya. Soal pelatih yang aku sebut ‘diktaktor udik’ juga males banget ditulis di sini. Terlalu males untuk dijabarin. Kalian tebak aja seperti apa mereka dari tulisanku di atas.

Hah, aku mau balik aja ke beberapa jam belakang di mana aku berpapasan dengan bule cantik yang tingginya hampir dua meteran. Bule yang ngebuatku ke-GR-an dan cari perhatian ketika jalan di depanya. Haduuuuhhhh, luar biasa pokoknya moment itu.

Well, ceritanya kenapa aku begitu pede sampai ke-GR-an di depan bule, karena temenku yang pernah ke Amrik cerita kalau bule kayak gitu tuh seleranya orang seperti aku, bermuka Indonesia asli dengan kulit hitam tropis. Keyakinanku diperteguh dengan pengalamanku ketika kerja beberapa bulan lalu di sebuah Advertising.

Nah, gini ceritanya. Waktu itu aku lagi presentasi produk di salah satu mall surabaya sebut aja PTC. Di lantai bawah, tepatnya DI KFC sebelah pintu masuk bagian tengah, aku presentasiin produk ke beberapa pengunjung di tempat itu. Waktu itu memang targetku koko-koko berbaju kantoran. Selesai presentasi sama mimi-mimi labil, aku mencoba mendekati koko-koko berbaju kerja rapi sedang santap menikmati friedchicken di bangku pojok. Dengan pede-nya aku langsung say hi dan duduk begitu saja. Setelah sort story, ngenalin diri, dan dia menjawab “sorry, I’m Japanese can’t speak Indonesia”. Speachless dan seketika itu pula otak berputar keras untuk berimprovisasi dengan muka senyum dibuat-buat. “damn, salah market guwe!” batinku. Yah, mau ga mau akhirnya aku presentasi produk dengan bahasa inggrisku yang miskin kosa kata dan dia hanya senyum sambil berpikir keras memahami apa yang aku omongin.

 

Setelah lima menit aku presentasi, dari awal aku nebak ga bakalan closing dengan bule jepang satu ini dan tebakanku terjawab benar. Sebagai seorang marketing profesional, aku harus tetap mengontrol emosi dan merehash kembali presentasi dengan tarik ulur komunikasi. Tapi bule itu jawab “you’re so sweet” dengan senyum anehnya layak om-om sakit. Mausia mana kalo disanjung ga seneng dan reflek aku jawab “thank you sir” dengan cengangas-cengenges ga jelas. Dia nyabung lagi “you know JW Mariott hotel?”. Aku jawab aja “yes” tanpa meninggalkan senyum murahan. “how much you?”. Hah, speachless dan aku jawab”what do you mean”, dia hanya senyum ga jelas dan aku jawab lagi “me?!”, dia tetap senyum dan menatapku dalam. Oh men, kenapa aku ketemu bule hombreng ditengah kerja siang bolong gini….. “no, thank you sir”, aku ngucapinya dengan senyum murahan dan meninggalkan bule gila itu dengan salah tingkah.

Sebenernya waktu itu perasaanku campur aduk, antara kepedean, geer, dan ingin menceritakan kejadian ga biasa ini ke siapa saja. Tapi kalo aku bangga seperti ini kelihatan begitu murahanya diriku. Alasan kenapa aku bangga karena bule jepang gila itu masuk lah kalo dibilang cakep, tajir ya pasti, dan yang paling gila adalah ini pengalaman pertama. Tapi hati baikkku bilang, jangan jadi orang gila dengan kejadian semacam ini. Yah, ini ga bener.

Itu lah alasan yang menguatkan kenapa aku begut kegeeran ketika ada bule lewat depan mata. Bawaanya pengen tebar pesona aja kalo-kalo bule itu nyapa dan ngajak kenalan. Betapa senangnya diriku kalo hal itu benar-benar terjadi. sorry, aga norakJ.

Tapi tebar pesonaku kali ini ga ngebuain apa-apa. Bule tinggi semampai berbaju olahraga tersebut berlalu tanpa memperhatikanku hanya fokus sama Ipod di genggamannya. Tapi aku yakin bule tersebut berpikir betapa mempesonannya aku dan menunggu waktu tepat aja untuk kenalan dengan ku, gubrrraaaaaaaaakkkkkkkkk.

PAGIKU DIAWALI DENGAN CERAMAH AGAMA PINGGIR JALAN…… (Jumat, 7 Desember 2012)

Ga seperti biasa, jam 4.30 aku sudah bangun tidur. Sebenernya kalo nengok jadwal yang aku buat kemaren malem, jam 3.00 udah harus bangun tapi ya seperti bisa molor. Tapi untuk kali ini molornya ga terlalu parah lah biasanya jam 7.00 baru bangun.

Dengan berat hati aku mengangkat tubuh ini yang masih terlalu lengket sama bantal dan kasur keras kost-kostan seratus ribuan per bulan. Ku tengok temen se kost dan se kasur kalo-kalo dia udah bangun tapi yang bangun bukan dianya tapi bagian tubuh dia yang lain “sebutnya aja Mr.P”. ngidupin lampu dan keluar ke kamar mandi umum yang ada di lantai bawah. Seperti biasa langsung aku lepas celanaku hot pant tidurku, telanjang bawah, dan ganti sarung. Shalat Shubuh dilanjut baca surat Waqiah dan habis itu ngececk BB yang semaleman aku tinggal tidur.

Ada dua BBM spam jualan dan ngasih info ga penting banget. check tweeter ada beberapa mention-an salah satunya dari Prof yang aku tunggu-tunggu balesanya dari kemarin-kemarin, padahal baru beberapa jam saja dari semalem *lebay, tapi aku lagi ga mood buat bales mention. Keluar tweeter dan masuk facebook. Ada beberapa pemberitahuan yang salah satunya dari akun “sang benevaktor” yang ngasih komen photo bareng-bareng 2 tahun lalu. Bayangin ini orang ngomenya setiap setahu sekali. Tuh photo diphost 8 Agustus 2010 dan aku ngasih koment “liat tuh, sebelah anak berkaca mata paling cool kan… hahahaha” dan dia baru komen “ini malah ada orang ngerasa paling oke… ooo00000..pukul pake gitar baru tahu rasa” di 9 September 2011. Dan kali ini dia koment lagi dengan kata-kata alay “aduh, kapan ya kita bisa kumpul-kumpul lagi kayak gini?” di 7 Desmber 2012 jam 2.00, pemuda yang malang.

 

 

Komennya memang lumayan jleb sebenernya, mampu bertahan di otak sampe beberapa jam. Selese ngotak-atik BB menit, jam 5.00 keluar kost cari sarapan di warung bu Retno. Seperti biasa, mau keluar gang aku ngelewatin segerombolan ms-mas yang berjudi on line setiap saat di kontrakan mbak Sri. Keluar gang lewat rumah berhalaman luas milik juragan kost-kostan Pabrik rambut dan ketemu pasuntri yang sudah stay menjajalkan gorenganya di depan musholla. Keluar jalan ketemu toko Parmin yang muter kenceng-kenceng ceramah Yusuf Mansur yang samar-samar apa berceramah entah tentang apa. Masuk warung bu Retno, sudah ngantri ibu-ibu campur nenek-nenek juga ada mas-mas yang berebut dadar jagung yang memang dagangan laris milik bu Retno.

Alasanya kenapa warung Bu Retno, pertama  aku bisa beli nasi pecel Rp.4000 dengan lauk dadar jagung plus dapat cemilan krupuk segenggam. Kedua, warung ini tergolong bersih jadi enak aja makan di sini.

Setelah selesai di layani mas-mas putra bu Retno, aku keluar dari kerumpulan antrian dan balik ke kost. Lewat toko Parmin, ada kata-kata dari Yusuf Mansur yang tiba-tiba kedengaran jelas. Nih potonganya “…. Dan mereka akan meminum minumanya ahli neraka. Minumanyaahli neraka itu.. bla bla bla bla”. Kata-kata itu sejenak membuatku tertegun dan berpikir sejenak, tepatnya melamun, yang ga aku dapat ke mana arah pkiranku berjalan. Yang jelas ceramah semacam itu sudah menjadi sarapanku rutin sejak kecil.

RANDOM FILM, MELO DRAMA (10 Desember 2012)

Jarang-jarang aku nulis cerita di masjid. Paling-paling kalo ke masjid, ya shalat doang. Tapi kali ini aku pengen ambil suasana masjid yang ga begitu aku  sukai, bising jalan, banyak mahasiswa cangkru’an, malah ada yang kuliah di sini, payah kan. Ya, maklum gedung kuliahnya lagi direnovasi.

Seberang lagi fokus kuliah entah kuliah apa. Jurusan, fakultas apa, juga ga tau aku. Lah, ngapain juga kondisi kayak gini aku masukin ke cerita?

Yah, mau gimana lagi. Mahasiswa tingkat akhir kayak aku gini memang otaknya random. lagi dimana pikiran lari ke mana. Yah begitulah kondisinya.

Hari ini aku berencana ke kampus jam 8.00. seperti biasa pengen fokus sama tugas akhir. Aduh, kuliah sebelah ganggu, mecah konsentrasi nih. Biarin deh,  terusin nulis diary ga pa pa. tapi seperti biasa planing yang sudah disusun cantik semalem ambyar gara-gara bangun kesiangan. Lihat, kebiasaan bodoh yang selalu terulang dan terulang lagi setiap harinya. Terpaksa sampai planing mau fitness pun juga ga dilakoni. Yah, cuman sampe pada pemanasan suara bentar sampe satu jam aja, habis itu keinget film semalem yang belum selesai ditonton.

Buka laptop jam 8.30 dan langsung buka file “Sang Pencerah”. Videonya kacau udah banyak yang rusak, maklum filmnya udah out of date. Duh, kok tiba-tiba suasana masjid ini ngebuat ku ga mood ya untuk lanjut cerita? Berisik banget tuh pemotong rumput depan. Duh, kenapa ini serambi masjid mendadak jadi ruang kuliah gini ya? Pindah ga ya enaknya? Terusin aja deh. Kalo kayak gini tuh aku teringat dialog film “Perempuan Berkalung Sorban”,  “mood tuh bukan untuk dicari tapi diciptakan”… ya deh kalo gitu, aku lanjut cerita.

 

 

Singkat cerita aku mainin filmnya di laptop pas bagian akhir-akhir, bagian adegan Ky Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Eh, ngomong -ngomong semua film Indonesia yang bintangin Lukman Sardi ya?, hahahaaa…. Lanjut cerita adegan sudah masuk ke scene pertemuan tokoh-tokoh Masjid Gede ngediskusiin soal kelahiran Muhammdiyah.  Well, akhirnya adegan sampe pada perseteruan antara pengikut masjid gede yang ngejudge “kafir” para santri Ky Ahmad Dahlan sebagai golongan Muhammdiyah. Nah, diakhir-akhir film ini banyak banget quoto-quoto sakti yang aku up date di time line. Diantaranya, “kita boleh punya prinsip tapi jangan fanatik. Karena fanatik itu ciri-ciri orang bodoh…”, dialog Ky Ahmad Dahlan saat adegan diskusi sama murid-muridnya, trus “Agama itu adalah sebuah proses seperti udara pagi yang kita hirup dan masuk ke tubuh kita”, dialog Ahmad Dahlan saat adegan sidang dengan petinggi Masjid Gede soal pemikiranya, “kadang manusia lebih melindungi dari pada bertanya untuk apa sebenarnya kewibawaan yang dia punya untuk dirinya”, dialog peran yang diamani Slamet Raharjo saat scene berdialog dengan karakter Ahmad dahlan.

Film ini membuatku ngelihat bagaimana seseorang teguh dengan prinsip dan pemikiranya. Tak peduali banyak yang menentang sampai  keluarganya sendiri, dia tetap teguh tegak berdiri diatas pendirianya. Luar biasa sih, Cuman kalo hidupku aku bentuk seperti film tersebut,  pasti akan sangat melo drama setiap saat meski karakter Ky Ahmad Dahlan yang dicitrakan ada kemiripan dengan karakterku.

Film kelar, nama-nama pemain dan crew mulai ditampilkan, soundtrack dinyanyikan satu persatu, dan tiba-tiba telingaku terasa panas karena hadset. Hedset aku copot dan tanganku meraba-raba sekitar nyari BB merah maroon. BB ketemu dan tangan langsung skrol satu persatu socnet diawali dengan tweeter. Ga ada mention-an langsung beralih ke facebook yang juga ga ada pemberitahuan penting. Ngececk BBM ga ada yang nge-ping dan untuk ngisi waktu, liat profil BB temen-temen.

Waktu berlalu dua jam dan aku masih males untuk beranjak dari tempat tidur. Laptop masih nyala dan mata masih melek. Coba ngacak-ngacak file dan dengan sengaja mengarah ke file video be-ef alias bokep. Emang sengaja banget buka file video ini cari hiburan ditengah kondisi badan yang males setengah mati. Satu persatu video aku mainkan, mulai dari American style sampe japanese style yang mebuat ku fokus sampai klimaks, tau lah yang dimaksud klimaks di sini.

Habis klimaks, aku udah ga nafsu lagi liat video bokep. Kondisi badan semakin lemes aja dan membuatsemakin males ngapa-ngapai. Stock file film memang banyak banget di laptop. Tanpa pikir panjang, aku langsung buka file drama percintaan Jepang. Kalo ga salah judulnya “”. Yah, kayak giman sih film drama percintaan, pasti udah ketebak kayak gimana alur ceritanya apalagi drama Asia. Cuman yang membuatku semakin tambah idih sama cewek Jepang, dalam film itu digambarkan kalau cewek Jepang  udah jatuh cinta, diapain aja sama pasanganya mau-mau aja. Bahkan sampe hamil. Nah loh, efek nonton bokep. Dan begitulah seterusnya, pokoknya inti dari cerita film ini si cowok mati gara-gara kanker. Yah, pasti bisa nebak kayak gimana jalan ceritanya, si cewek setia ngerawat si cowok sampe mati dan bla bla bla….

Capek  mainan laptop akhirnya aku punya dorongan untuk ke kamar mandi dan mandi tentunya, dilanjut Dzuhuran dan berangkat ke kampus, entah mau ngapain di kampus. Namun, pas di kamar mandi aku sempat kepikiran untuk merubah kebiasaan buruk ini. Entah siapa yang membisiki aku yang begitu kacau parah di tengah-tengah dilema usia 20 tahunan. Yah, aku hanya bisa berharap meski aku tahu perubahan itu ga bisa diraih hanya dengan berharap, harus ada tindakan.

Tags:

TENGKUK LEHER PUTIH ITU, SESUATU…. (kamis, 6 December 2012)

Jam 9.30 aku sudah berada di perpus. Seperti biasa aku ga begitu mood dengan petugas perpus yang mukaknya selalu di tekuk dan bahkan hari ini parah banget, dia tidur di depan pintu masuk perpus. Sangat sangat dan sangat pemandangan yang kurang pantas bagi seorang pelayan publik yang seharusnya memberi servis bagus ke pengguna jasa tempatnya. Hah, lupain saja tuh penjaga perpus, memang dari awal sudah seperti itu dia. Lain kali aku akan ceritain panjang lebar petugas birokrasi kampus satu ini. Tapi ntar lain kali saja, sekarang aku lagi fokus dengan cerita satu ini.

Masuk perpus, aku ga begitu merhatiin suasana sekitar. Toh, di sini suasana masih sama saja seperti tiga tahun lalu waktu pertama kali aku masuk kampus ini. Ngelewati koperasi yang mereka nyebutnya kafe, naik tangga dan masuk koleksi umum. Cari bangku kosong dan sedetik lewat aku langsung nemu bangku yang tanpa disangka pas dibelakang si putih berkaca mata bulat dengan frame hitam bertubuh seksi nan beraura menggoda. Sumpah, aku langsung seribu salah tingkah entah kenapa aku curi-curi pandang ke dia. Ku lihat telinga bagian belakangnya yang begitu membuatku merinding dan potongan rambut belakangnya yang membuat dia begitu menawan. Well, aga sedikit jomplang ketika para cewek-cewek dari kalangan sosial bawah tiba menghampiri dia satu per satu. Serasa mau muntah ketika tiba-tiba mereka mendiskusikan tugas yang menurutku sangat engga penting tapi mereka menganggapnya seolah-olah itu tugas pertaruhan hidup dan mati.

gambaran isi hatiku

Yang membuatku geregetan ketika dia mengeliat menaruh tangannya ke belakang tepat di depanku. Entah dia sengaja mancing atau memang dia tidak menyadari keberadaanku dibelakangnya atau gimana tapi yang jelas aku pengen saja meremas tangan itu dan merasakan sensasi kesenangan hati ini.

BB bunyi “ping” yang membuat fantasiku seketika buyar. Fokusku beralih ke arah blackberry meseger dan membuatkan tanganku gatel mensekrol timeline tweeter ngececk kalo ada mentionan yang ga kedeteksi. Setelah itu, seperti biasa aku ngetweet sampah hanya kalau-kalau aku biar tetep eksis aja di dunia yang berlambang burung biru tanpa mata dan kaki berkicau.

Hah, dia sudah pergi gitu aja tanpa aku sadari. Hemmmm, lagi-lagi BB ini memecahkan kosenterasi penting yang moment-nya ga setiap saat ku dapat.

Kembali ke tugas akhir, ngececk sudah sampe mana tugas ini terselesaikan kembali lagi fokus dan membuat otak ini berpikir keras dan fokus. Entah apa yang membuatku mengambil permasalahan periklanan. Padahal kalau ditengok selama 3 tahun menghabiskan waktu dibangku yang gandeng sama meja sekaligus hanya pelajaran gimana caranya diri ini bisa tampil mempesona dan menjaga kata-kata dengan kontrol emosi. Yah, public relations atau PR yang jadi fokusku selama 3 tahun tahun terakhir di kota metropolitan nomer dua di Indonesia ini.

Sudah sampe tahap mana pikiranku menegang akhirnya lelah juga dan aku sedikit menyerah dan mencoba mencari bantuan dengan beranjak ke ruang koleksi khusus yang hanya di huni oleh mahasiswa tingkat akhir yang kesemuanya cewek kecuali aku. Di pojok sana sebelum masuk ke rak kumpulan skripsi, disertasi, dan tesis, ada mbak-mbak atau entah ibu-ibu yang mencoba profesional dengan membuat para mahasiswa labil menjadi tambah sepuluh kali lipat labil karena pertanyaanya yang mbulet. “yah, jelas lah buk ke sini tuh mau cari skripsi masak mau cari novel”. Terserah lah, aku hanya bisa senyum kecut ngeliat pelayanan mbak-mbak setengah ibu-ibu itu. Padahal kerjanya cuman ngerumpi keras-keras dengan teman sejawatnya diskusiin hal-hal yang sampah banget. padahal di ruagan itu tertulis gede banget “Haram Berbicara Keras Dalam Ruangan”, dipigura malah.

Ah, aku males nyeritain kisah boring di dalam perpus dengan petugasnya yang ga sama sekali enak untuk dipandang. Mereka seolah-olah kerja tanpa bayaran. Males ah, mending aku cerita soal kasmaranku yang ga pernah berujung.

Jam 14.30 tiba-tiba ada BBM dari kotak yang emang sudah biasa BBM-an sama ku setiap saat. Tapi kali ini pesanya beda. Rupanya si dia pinjam BB temennya yang juga temenku karena Whatsup-an dia ga sempet kebales. Sebenernya udah mau kebales cuman lagi fokus sama tugas akhir.

Yah, mungkin dia juga sudah diceritai sama si Tia kalo aku barusan aja dapet job ngemce dan dia ngajakin makan mie ayam di tempat favoritku. Aga wah, banget malah. Jarang-jarang bisa keluar bareng meski kali ini harus dengan si Tia. Tapi aku harus nyelesaiin deadline yang udah semakin mepet dan aku minta dia buat nunggu aku bentar saja untuk ngelarin deadline yang padahal nyleseinya butuh waktu ga hanya bentar.

Singkat cerita, dia aku ping berkali-kali ga bales dan tebakanku pasti dia udah pulang. Yah, emang dia udah pulang, Tia pun juga. Tapi dia ga bener-bener pulang masih ada nongkrong dengan temennya.

Tapi kalaupun iya pasti PHP banget!