Archive for category opini

Candaan atau Celaan?

access form metrotvnews.com

“eh, muka kamu tuh kayak moncong bemo….”

“saking putihnya kulit kamu, sampe-sampe aku ga bisa bedain dengan knalpot bututku”

“bagus, bagus kok body kamu. Sampe aku bingung mana yang kendang mana yang pantat kamu, *hahahahaaaa…”

*bercanda

Kata-kata tersebut kadang dengan mudah sekali keluar dari mulut tanpa melihat bagaimana perasaan yang lain. Mungkin, kita berpikir bahwa dengan dicandain seperti itu, orang lain akan merasa diperdulikan dan merasa lebih dekat. Padahal tidak setiap orang kebal dengan candaan yang terkadang kelewat batas.

Memang, manusia tidak hidup dengan kondisi yang tegang terus dan terkadang butuh rileksasi. dengan sedikit selingan komedi ditengah-tengah aktifitas, akan menjadikan pikiran refresh. Situasi tidak selalu tegang agar pikiran tidak jadi stres. Namun, komedi juga ada batasnya.

Tidak semua orang suka dengan komedi meski rata-rata orang menyenaginya. Ada tipe-tipe orang cukup sensitif dan tidak bisa menerima gurauan sambil lalu. Tipe orang seperti ini akan merasa direndahkan jika dijadikan bahan lelucon.

Juga tidak semua kondisi dapat dijadikan bahan tawaan. Ketika kondisi yang membutuhkan perhatian lebih, akan sangat tidak lucu sekali jika tiba-tiba ada orang dalam suatu kondisi tersebut membuat suatu candaan yang tidak pas.

Seorang pelawak pun juga terkadang tidak suka dijadikan bawan lawakan dengan teman sepanggung. Dia bisa jadi tertekan dan merasa dilecehkan karena apa yang dijadikan bahan lawakan tersebut merupakan suatu hal yang sensitif. Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu, ada seorang pelawak yang cukup terkenal melaporkan teman sepanggungnya karena dia merasa bahan lawakan yang dibawakan teman sepanggungnya tersebut sudah kelewatan.

Mungkin ada baiknya jika para pelawak layar kaca dapat membatasi candaanya. Akan menjadi lebih baik lagi jika dia dapat membedakan mana yang patut untuk dijadiin bahan tawaan dan mana yang tidak. Karena percaya atau tidak, lawakan yang dibawakan di layar kaca tidak jarang menjadi sebuah trending topic dan ditirukan oleh pemirsa se Indonesia.

Sudah tepatkah Demokrasi Untuk Indonesia?

access form pustakasekolah.com

Indonesa adalah negara yang mempunyai sejarah panjang dalam membangun keberadabanya. Mulai dari jaman kerajaan, penjajahan, sampai pada negara yang merdeka saat ini. Dari jaman kerajaan sampai pada jaman kemerdekaan, sudah banyak sekali sistem negara yang telah diterapkan di dalamnya. Mulai dari sistem kolonial belanda, komunis, liberal, authoritarian, sampai demokrasi pada era reformasi saat ini. Dari beberapa fase penerapan sistem negara tersebut, Indonesia telah mencari sistem mana yang paling tepat untuk negara yang multi kultural ini. Namun, apakah sudah tepat penerapan sistem Demokrasi pada saat ini untuk Indonesia?

Jika dilihat, Demokrasi merupakan sebuah sistem yang menyampiakan aspirasi dari rakyat untuk rakyat. Kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat. Jika demikian, sistem ini lebih subur ditanamkan dalam sebuah negara egaliter. Sebuah negara dimana tidak ada perbedaan kasta atau tingkatan, dimana bangsa dalam negara tersebut di pandang sama derajatnya. Namun, jika membahas soal keterkaitan antara sistem demokrasi dengan budaya bangsa, maka perlu ditinjau lagi apakah sudah tepat penerapan demokrasi di Indonesia. Sedangakan Indonesia adalah negara yang mempunyai bangsa berkebudayaan hirarki. Mereka sudah terbiasa dengan pembedaan tingkatan umur, jenis kelamin, status sosial, dan sebagainya. Dalam adat Indonesia selalu ada yang dianggap lebih tinggi dan patut dihormati.

Lalu, Demokrasi seperti apa yang patut di terapkan di Indonesia?

access form centraldemokrasi.com

Kalau kembali kepada ideologi dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila, memang di dalamnya terkandung asas-asas demokrasi. Namun, demokrasi tersebut berbeda dengan demokrasi yang ada pada negara-negara barat. Demokrasi yang terkandung dalam Pancasila tersebut telah disusun sedemikian rupa oleh bapak-bapak bangsa disesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia yang beragam dan mempunyai budaya tinggi. Demokrasi ini lebih berasaskan pada kerakyatan dan tanggung jawab sosial. Tidak sepenuhnya rakyat meraja lela dalam bertindak dan bertingkah laku. Ada batasan yang membatasi yaitu tanggung jawab sosial. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh rakyat, harus berdasarkan tanggung jawab dan nilai-nilai yang dianut oleh sistem sosial setempat. Nilai-nilai sosial tersebut tidak dapat dihapus begitu saja karena nilai-nilai ini merupakan cerminan jati diri bangsa Indonesia yang mempunyai sistem budaya yang tinggi.

Tags:

Surabaya Kurang Ramah Dengan Pejalan Kaki

“Surabaya, Surabaya, oh Surabaya… kota kenangan, kota kenangan, tak kan terlupa…”

Yakin banget dah, kalau kalian arek Suroboyo pasti kenal dengan lagu keroncong satu ini. Bahkan kalau kalian orang luar Suarabaya pun, gue yakin kalian juga pernah dengar. Memang, kota metropolitan yang satu ini nih mempunyai ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan kota metropolitan lain yang ada di Indonesia. Sebutannya pun juga beragam. Mulai dari kota pahlawan, kota Bajul Ijo, sampai kota sarang Bonek. Tapi, kita ga bakal ngebahas soal itu. Di sini akan kita bahas soal Surabaya yang “menganak tirikanpara pejalan kaki.

Sudah menjadi perbincangan publik dunia, bahwa Indonesia adalah negara yang “tak bertrotoar”. Sebagai salah satu bukti, mari kita tengok Surabaya. sebagai metropolitan kedua Indonesia, dalam hal pembangunan, surabaya tak pernah berhenti membangun. Sampai-sampai sungai pun ditutup demi membangun flyover untuk menghindari kemacetan. Bahkan, yang lebih kontroversial lagi tol poros tengah kota pun juga bakal dibangun, demi kemajuan Surabaya di berbagai bidang salah satunya bidang ekonomi. Saking sibuknya membangun dan mempercantik kota, sampai-sampai lupa dengan para pejalan kaki. “Ditaruh dimanakah mereka?”. Kalo kita nge-cek trotoar yang di miliki Surabaya, sepanjang jalan Darmo sampai Blauran, sekilas tampak bersih dan lebar. tapi, kalau musim berangkat dan pulang kantor, nih trotoar berubah menjadi sirkuit balap bagi para pengendara motor yang ga sabaran. Ga hanya itu, grobak pedagang kaki lima pun juga ga mau ikutan kalah wara-wiri menjajakan jajanakan ke anak-anak sekolah. Ini baru di lokasi yang mendingan.

Kita beralih ke jalanan yang bertrotoar sempit atau bahkan ga ada sama sekali. Dari pengamatan gue sebagai orang yang lumayan hobby jalan kaki, lintasan maut bagi pejalan kaki adalah jalan A Yani. Sepanjang jalan ini hampir ga ada sama sekali trotoar yang nongol. gue kurang paham apakah memang di desain sedemikian rupa atau entah bagaimana. Yang jelas potensi jumlah pejalan kaki di daerah ini lumayan banyak karena sepanjang jalan ini berderet gedung perkantoran, pusat perbelanja’an, rumah sakit, sekolahan, bahkan sampai perguruan tinggi. Jika dilihat pun sepanjang jalan ini merupakan daerah pemukiman padat penduduk. Bisa kebangan betapa ngerinya menyebrangi zebra cross di tengah-tengah kendaraan yang lajunya kayak di sirkuit balap. Bisa jadi orang yang begitu hati-hati akan menunggu sampai banyak menit demi sepinya jalan protokol yang kayaknya ga akan pernah sepi ini.

Kalau keadaanya sudah demikian, maka kita sebagai pejalan kaki pun terpaksa harus turun ke jalan karena mengalah dengan para pengendara motor dan pedagang kaki lima. Tidak hanya itu, penataan kota yang meletakkan pot-pot bunga di trotoar juga membuat kita, para pejalan kaki, mengalah lagi turun ke jalan karena medan tidak memungkinkan untuk berpapasan. Kita ga pernah cerewet, meski kadang lahan kita diunakan kios tambal ban. Kita ga pernah protes, meski kita hampir terserempet dari belakang oleh pengendara motor ga sabaran yang memakai hak kami. Dan kita ga pernah berorasi di depan Grahadi karena hak kita diambil oleh orang-orang yang ga sabaran dan mengais rezeki di lahan jalan kami.

Tags:

Kenaikan Harga BBM Versus Tomcat

Isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) per tanggal 1 April 2012 beberapa waktu lalu, sempat membuat resah masyarakat Indonesia. Terbukti dengan adanya demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa sampai para pejabat pemerintah daerah di beberapa kota besar di Indonesia. Tidak hanya kenaikan BBM saja, tetapi isu wabah serangga Tomcat yang terjadi di Surabaya dan sekitarnya pada awal bulan Maret lalu, juga membuat masyarakat was-was bahkan sampai paranid. Kedua isu ini bergulir hampir bersamaan dan keduanya telah menjadi trandinig topik di masyarakat beberapa. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar bagi sebagian kalangan masyarakat pengamat media massa Indonesia.

Ditengah-tengah bergulirnya isu akan kenaikan harga BBM pada bulan April, pada awal bulan Maret 2012 masyarakat Surabaya dan sekitarnya dikejutkan dengan wabah serangga tomcat. Berita ini semakin mengejutkan karena serangga ini dapat mengeluarkan cairan yang menyebabkan kulit melepuh, seperti herpes, bila serangga ini bersentuhan dengan manusia. Percepatan perkembangan wabah ini sangat cepat sehinnga mewabah sampai ke Jawa Tengah hingga luar pulau.

Selain itu, Isu kenaikan harga BBM merupakan hal yang selalu dikhawatirkan oleh masyarakat Indonesia. Isu ini sudah bergulir sekitar tahun 1998 dengan terus naiknya harga minyak mentah dunia dan keluarnya Indonesia dari organisasi negara pengahasil minyak dunia, OPEK. Hal menyebabkan isu ini terus menggelinding bagai bola salju hingga sekarang. Dan seakan-akan pemerintah selalu memanfaatkan isu ini untuk pengalih perhatian publik.

Walaupun pemerintah telah menunjukkan data konkrit mengenai sebab bergulirnya wacana ini atau bahkan pemerintah telah menunjukkan semacam hitungan anggaran pengeluaran negara yang merugi dampak dari subsidi BBM, namun pemerintah nampak kurang serius menangani isu ini. Terbukti keputusan yang diambil selalu setengah-setengah, bahkan yang paling mengecewakan kenaikan harga BBM per- 1 April 2012 adalah serangakaian April mop pemerintah yang sangat mengecewakan. Masyarakat terlihat seperti ditimang oleh keputusan pemerintah dengan menunda kenaikan harga BBM.

Pemerintah sangat lihai dalam mengolah menejemen isu pengalihan perhatian masyarakat. Pengalihan isu ini untuk menutupi krisis yang terjadi pada tubuh partai pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudoyono, yakni partai Demokrat. Beberapa waktu lalu media massa sempat fokus dengan krisis yang terjadi pada tubuh partai ini. mulai dari kasus korupsi Wisma Atlet yang dilakukan Nazarudin hingga menyerang Anas Urbaningrum yang merupakan ketua umum DPP partai Demokrat.

Dengan managemen pengalihan isu yang luar biasa ini, diharapkan masyarakat lupa dengan krisis partai demokrat. Bahkan masyarakat akan berterima kasih karena harga BBM tidak jadi dinaikan bulan April. Dan citra partai penguasa ini akan kembali bersih pada pemilihan umum 2012.

Namun selayaknya pemerintahan yang arif seharusnya pemerintah yang berkuasa pada sa’at ini harus berani jujur dan terbuka kepada masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi. masyarakat tidak dibodohi lagi dengan serangkaian managemen pencitraan palsu yang menguntung salah pihak berkuasa sa’at ini.

Tags: