Archive for category something to write

Adaptasi hingga Metamorphosis V

Saat harus memilih antara mana yang benar dan mana yang salah, itu adalah sebuah dilema. Setiap orang mempunyai versi masing-masing dalam menanggapi orang lain dan berpotensi untuk melakukan sebuah hegemoni. Berusaha menyakinkan yang lain bahwa pandanganya merupakan pandangan yang paling kuat dan tidak dapat di bantah lagi. Aku kagum dengan orang yang berkepribadian seperti itu. Meski kelihatanya sagat jahat, namun aku memandang sisi kuat dari dirinya.

Sepengalaman ku, setiap orang mempunyai motif dalam setiap dia melakukan relasi. Ada sebuah dorongan yang mengakibatkan dia melakukan komunikasi dengan orang lain. Ketulusan tanpa ada maksud apa-apa merupakan sebuah tanda tanya terselubung. Jika orang tidak mempunyai ketertarikan, tidak ada kepentingan, dan tidak ada hubungan, tidak mungkin seseorang melakukan komunikasi dengan yang lain. Dia akan mencoba untuk menklarifikasi dan mencari kebenaran sebuah fakta tentang apa opini yang berlaku terkait dirinya.

Kadang, seseorang menjadi yakin sekali dengan omongan orang yang dia kenal atau bahkan orang asing sekalipun. Dan, tidak jarang pula orang akan meragukan omongan seseorang yang telah digambarkan buruk dengan yang lain meski sebenarnyaapa yang disampaikanya benar. Terkadang orang tergantung dengan persepsi dan gambaran yang tampak dapat mengaburkan kondisi yang sebenarnya.

Orang tidak pernah tahu dampak apa yang akan terjadi atas persepsinya tentang orang lain. Seseorang akan menjadi yakin jika persepsi atas dirinya tersebut dikatakan oleh orang banyak. Biasanya dalam sebuah perkumpulan atau suatu kelompok sebuah persepsi atas seseorang akan sangat mudah menyebar dan sangat berpengaruh. Bayangkan saja jika seorang ketua kelompok atau orang berpengaruh dalam suatu kelompok berpendapat jelek tentang seseorang dan dipercaya oleh anggota kelompok. Itu akan membentuk seseorang yang dianggap jelek tersebut menjadi benar-benar nyata karena dia meyakini bahwa persepsi yang berlaku dikelompok tersebut tentang dirinya adalah mutlak. Sangat parah sekali dampaknya jika budaya seperti itu terus berkembang.

Terkadang proses penyesuaian diri memang berat. Banyak sekali konflik dan dilema yang terjadi yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah proses penyesuaian diri. Apakah tenggelam dan terbawa arus hingga menjadi sesuatu yang berbeda sesuatu yang kehilangan jati diri. Atau bahkan dapat bertahan dan diterima menjadi sesuatu diri yang utuh sesuatu yang mempunyai jati diri teguh. Ini memang bukan pilihan. Namun, ini adalah sebuah proses yang menentukan seberapa kuatkah diri seseorang jika harus dihadapkan pada sesuatu yang komplek yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri tanpa kehilangan sebuah jati diri.

*Bersambung………

Tags:

Adaptasi hingga Metamorfosis IV

“Aku mulai merasa terasing di sini”

“ Aku sudah tidak kenal lagi dengan siapa pun”

“ Serasa orang baru yang berkunjung ke tempat ini”

Itulah yang aku rasakan sebagai orang lama yang sempat beberapa waktu fakum. Sebuah komunitas pertama yang menerima ku pertama kali ketika aku berada di kota “boyo” ini. Komunitas yang mengajarkan banyak hal dan menunjukkan ku seperti apa kota Surabaya. sengaja tak ku sebutkan komunitas apa jelasnya. Tapi yang jelas komunitas ini mengajarkan ku banyak hal. Mulai dari bagaimana cara menyesuiakan diri, berelasi dengan orang lain, sampai harus tahu bagaimana cara menjadi diri sendiri.

Entalah…..

Banyak pertimbangan, hingga akhirnya terucap kata “I finished”. Aku selalu teringat rasa-rasa awal aku menyesuaikan diri di komunitas ini. Perih, kecewa, iri, dan sampai aku relakan air mata mengalir untuk ini. Berkompetisi dengan yang lebih tua, mencari perhatian pembina agar sedikit saja dilirik, selalu mengasah rasa ingin tahu apa yang sebenarnya diinginkan komunitas. Aku rela dipermalukan, hanya ingin dapat perhatian mereka. Mereka yang suda lebih dahulu menjadi anggota komunitas. Mencoba menjadi sesuatu seperti layaknya mereka agar dapat diterima dan akhirnya menjadi seseorang yang eksis.

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk berjuang menyesuaikan diri. Bukan waktu yang singkat untuk merasakan menjadi seseorang yang diabaikan bahkan dilirik pun tidak. Lebih baik dianggap aneh dan dikutuk dengan sumpah serapah karena itu masih ada pedulinya. Tapi, jika dianggap ngobrol saja engga apalagi dilibatkan dalam sebuah moment. Rasanya seperti kejatuhan durian jika tiba-tiba mereka mengajak ku keluar untuk sekedar karoke atau hanya makan biasa. Setahun pertama keberadaan ku bagaikan mahluk halus yang keberadaanya tak pernah di sadari namun ditakuti. Mereka asyik bercanda kesana kemari namun ketika giliran ku ikut nimbrung, keadaan berubah senyap dengan seketika. Seakan-akan merka menyaksikan mahluk asing lewat di depan mereka.

Bersambung…….

Tags:

Adaptasi hingga Metamorfosis III

Di bagian ini aku akan bercerita sedikit banyak mengenai pengalamanku tentang manusia. sesuai dengan pengalamanku selama ini, manusia adalah mahluk terliar sejagat raya dengan segudang motif yang dimilinya. meski aku belum pernah berinteraksi dengan mahluk lain, namun subjekku tentang manusia adalah mahluk licin penuh tipu muslihat. Di sisi lain dia dapat melakukan kegiatan sosial untuk berbagi dengan sesama dan peduli lingkungan. Namun, dengan melakukan kegiatan tersebut sebenarnya ada motif pribadi terselubung yang orang lain tidak ketahui. Mungkin untuk sebuah citra agar dia dipuji dan dikatakan sebagai orang yang mulia dan akhirnya banya orang orang yang peduli dan hormat kepada dia. Siapa yang nebak.

Cerita lain, mungkin dia bisa saja menunjukkan bahwa dia adalah orang paling menderita di dunia dengan menceritakan peristiwa melo masa lalunya ke yang lain yang agar dia dapat dinilai sebagai orang yang tegar dan kuat dalam menghadapi hidup.

Kalau keadaanya demikian, saatnya untuk bangun. Dunia ini diciptakan bukan layaknya sebuah film. Dimana hanya kamu sebagai pemeran utama dan yang lain pendukung dan figuran. Dalam dunia ini, dunia yang benar-benar nyata, bukan kamu saja yang mederita dan seolah-olah paling menderita, tetapi yang lain juga sama. Semua orang punya cerita dengan masalahnya masing-masing.

Mungkin, dari permukaan setiap orang terlihat sama. Terlihat sama-sama baik. Namun, coba hadapkan dalam suatu masalah, atau mungkin dalam sebuah perkumpulan layaknya kelompok. Pasti dari situ mulai tampak seperti apa manusia itu sebenarnya. Manusia-manusia yang mempunyai jiwa selalu ingin tampil dan selalu ingin dianggap lebih dari pada yang lain akan berusaha menonjolkan diri. Dia akan mengambil sikap seolah-olah pahlawan dan rela melakukan apa saja demi kepentingan bersama. Sampai-sampai dia rela bekerja lebih dari pada yang lain. Dibalik semua itu, tidak ada yang nebak motif apa yang sebenarnya dia miliki. Bahkan dia sendiri mungkin tidak menyadarinya.

Dalam sebuah kelompok, orang-orang seperti ini telah terbiasa dianggap pahlawan dengan pengalaman terdahulunya dan dia sendiri meyakini bahwa dia adalah orang baik. Namun, terkadang dia tidak menyadari kelalaian-kelalaian yag telah ia perbuat. Dia mungkin bisa melebih-lebihkan sebuah serita tentang apa yang telah dia perbuat sehingga mereka yang di sekelilingnya merasa yakin dengan jiwa kepahlawananya. Bahkan dia selalu berusaha untuk menjadi sosok yang diinginkan oleh kelompok tersebut.

Di sisi lain, ada beberapa orang yang mempunyai motif pribadi, namun dia kurang lihai dalam menutupinya. Orang seperti ini mudah terpelanting karena kecerobohan-kecerobohan yang dia lakukan.

Dan, yang paling berbahaya menurutku adalah jenis manusia yang mempunyai motif untuk menguasai semuanya namun dia sendiri tidak mengetahui. Dia selalu berpikir bahwa apa yang dilakukanya benar dan kisah hidup yang telah ia lalui merupakan kisah paling menarik se gajat raya. Dia selalu memandang diri sendiri sebagai yang paling benar dan memandang yang lain selalu jahat. Ketika berkonflik, dia akan merasa bahwa dia yang ditindas dan yang lain menindas. Dia selalu memanajemen kisah pedihnya untuk menarik simpati yang lain.

Dan, yang satu ini juga cukup parah. Dia merasa tahu segalanya padahal kenyataanya apa yang dia katakan tidak pernah tepat. Dia selalu mencoba meyakinkan yang lain padahal dia sendiri belum tentu yakin dengan apa yang dia yakini. Dia selalu mengikuti kelompok yang dianggap paling keren. Dalam kenyataanya dia rapuh dan tak dapat berdiri sendiri.

Meski demikian, manusia juga dapat mengendalikan tabiatnya tersebut. Mereka selalu berusaha sedemikian mungkin agar tak terbawa oleh tabiatnya. Mencoba mengendalikan diri dengan hati nurani yang ia miliki.

bersambung……

Tags:

Adaptasi hingga Metamorfosis II

Apapun yang telah aku tulis di bagaian pertama, abaikan saja. Malah lebih baik jangan dibaca. Itu hanya sebuah pengantar yang berantakan dan sulit untuk dipahami. Mungkin hanya untuk formalitas saja agar dapat mengisi layaknya sebuah cerita.

Namun, di sini aku akan mulai bercerita. Atau tepatnya menulis apapun yang telah aku alami. Encoba untuk bertututr apa adanya tanpa ada upaya klasik membumbu-bumbui agar sebuah cerita terdengar menarik.

Surabaya Selatan tepatnya dipinggir jalan depan Graha Pena terlihat sangat wajar sekali. Bahkan lebih wajar ketika tiga tahun lalu aku baru nyampe di sini. Semua terlihat biasa saja dan pengap penuh dengan pendudukyag berjubel di gang-gang. Saking banyaknya penduduk, sampai-sampai bangunan ukuran dua kali tiga pun menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali sekeluarga. Oh, stop.. aku tidak akan memceritakan profil tempat tinggalku sementara ini. Aku harus fokus pada satu kisah dimana kisah tersebut akan menceritakan bagaimana berproses untuk membaur dengan sekitar. Apakah proses tersebut berhasil atau malah menyeret ku suatu tempat lain yang sama sekali aku tidak pahami. Dan, apakah aku akan kehilangan siapa diri aku..

Semuanya masih serba misteri. Misteri dan misteri. Toh, selama tiga tahun lebih ini aku masih terus berproses untuk membaur. Membaur dan membaur hingga membuat diriku menjadi sesosok lain tapi bukan orang lain. Sosok diriku yag terlahir kembali yang membuat segalanya menjadi lebih indah, lebih mudah, lebih elegan, dan itu suatu hal yang aku mau.

Tapi lupakan saja semua itu. Itu terlalu jauh dari jarakku sekarang. Sekarang aku masih terjebak dalam prosesku sendiri yang aku sendiri tidak tahu di mana ujungnya. Entahlah.. proses ini kadang membuatku putus asa dan membuatku berfikir lebih baik mundur dan menarik diri dari kehidupan konyol ini. Memang tidak ada aturan tertulis seseorang harus membaur agar diterima oleh lingkungan dimana dia berada. Tapi keadaan yang memaksa harus seperti ini. Terlalu naif jika aku mengharapkan lingkunganku untuk menerima ku apa adanya. Dan aku sadar, ini adalah tuntutan untukku dan untuk semua orang.

Minggu sore, 10 Juni 2012, aku keluar cari makan. Entahlah.. yang jelas aku telah kecewa dengan warung langgananku dan aku sudah tak nyaman lagi makan di sana. Jika aku bicarakan keburukan apa yang dimiliki warung langgananku tersebut di sini, itu akan menambah catatan dosaku dan memperburuk citranya. Sayang, dia sudah membagun citra yang ia miliki sejak lama. Sambil jalan, aku sebenarnya ingin menceritakan satu per satu warung favoritku. Tapi, itu ntar aja lah. Aku sekarang sedang mengantri di warung penyetan tanpa tenda, hanya gerobak saja, tak jauh dari tempat tinggal sementaraku.

Saking ga telatenya aku melihat lemah gemulainya si pemilik warung yang sedang hamil ini, aku melamun sambil memperhatikan apa yang lewat di hadapanku. Motor lalu lalang dengan pengendaranya, orang jalan kaki, pedagang eh degan di seberang jalan, sampai ibu-ibu renta yang menutup warungnya. Entahlah.. yang jelas pemilik warung lama sekali melayani pesananku.

Tiba-tiba aku melihat dua pasangan remaja boncengan motor berhenti di seberang tepat di depanku. Aku coba mengamati mereka dan perhatianku jatuh ke si cewek yang turun dari motor di seberang sana. Opiniku berkembang liar tentang cewek tersebut. Sampai-sampai aku beranggapan bahwa cewek tersebut gampangan. Ga gampangan bagaimana. Dia nongkrong bareng cowok-cowok sampai larut malam di warung kopi depan gang rumahnya. Di satu saat dia menggendong bayi dan mencoba untuk menimangnya. Dan terkadang juga dia kelaur dengan cowok lain yang ga karuan mukanya saat malam hari. Aku heran dan bahkan di satu sisi aku iri dengan cewek ini. Begitu mudahnya dia membaur dan begitu mudah dia mendapatkan teman. Aku berfikir bahwa aku perlu kenal dengan cewek ini dan belajar banyak denganya.

Aku sudah capek menilai dan melamun. Ku lihat pemilik warung apakah dia sudah selesai dengan pesananku atau belum. Ku lihat dia masih mendadar telur di penggorengan. Ya sudahlah, aku tunggu dan coba menguping kira-kira topik apa yang jadi perbincangan antara penjual dan pembeli baru setelah aku. Yang aku lewatkan di sini tiba-tiba ada pelanggan ibu-ibu dan mungkin dia juga tetangga pemilik warung karena kelihatan akrab. Topik ga jelas dan aku mencoba cari perhatian lain. Sebelum aku menemukanya, tiba-tiba pesananku rampung dan aku langsung membayar.

Sampai di tempat tinggal sementara, aku melihat tetangga kamarku lagi sit up. Akhir-akhir ini dia terlihat rajin sekali berolah raga bahkan yoga. Entahlah, dari mana ia dapat ilmu yoga dengan dengerin lantunan ayat-ayat al quran. Tapi menurutku itu hal lucu aja. Tapi, ngomongin tetangga kostku yang satu ini, aku punya cerita lucu tentang dia. Tapi sekarang belum tepat untuk diceritakan.

bersambung….

Tags:

Adaptasi hingga Metamorfosis

image access form google.co.id

Jika anjing laut harus jadi anjing darat, apakah ia harus merelakan diri terbakar panasnya terik pesisir sampai ekornya berubah menjadi kaki?

Jika se ekor kuda harus menjadi hewan laut, apakah dia harus beredam hingga kulitnya berubah menjadi sisik dan kakinya menjadi sirip?

Dan jika se ekor ayam harus hidup di udara, apakah dia harus menggali tanah menemukan “jarum emas” untuk menjahit sayapnya agar dapat membentang tinggi di langit?

Semua butuh beradaptasi jika ingin diterima dan bertahan di lingkungan baru. tuntutan menyesuaikan diri seakan-akan telah menjadi dorongan alamiah yang harus di tempuh.

Namun, apakah harus benar-benar menyesuaikan diri, membaur, dan jadi seperti mereka?

Apakah harus merubah diri hingga kehilangan jati diri?

Saya sangat meyakini bahwa manusia dapat berubah kapan saja. Berkat anugrah pikiran yang diberi oleh tuhan, dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Mana yang pantas dan mana yang tidak. Semua terus berjalan. Berjalan terus seakan-akan tiada tempat pemberhentian yang harus di tempuh.

Namun, dalam pergerakan tersebut apakah mesti dia harus benar-benar menjadi sesuatu yang lain hingga keluar “frame”?

Dalam hal ini, saya meyakini setiap orang terlahir dengan karakter masing-masing yang tidak dapat dirubah. Karakter tersebut menentukan seperti apa orang ini dan sifat bawaanya. Jika dia mencoba untuk menjadi “something different” yang tidak sesuai dengan karakter dasarnya atau sering disebut melampaui jati dirinya, akan Nampak aneh dan aneh.

Mungkin hal ini akan menyebabkan dia hilang dan tak tahu arah untuk kembali.

Bersambung…..

Tags: