TENGKUK LEHER PUTIH ITU, SESUATU…. (kamis, 6 December 2012)

Jam 9.30 aku sudah berada di perpus. Seperti biasa aku ga begitu mood dengan petugas perpus yang mukaknya selalu di tekuk dan bahkan hari ini parah banget, dia tidur di depan pintu masuk perpus. Sangat sangat dan sangat pemandangan yang kurang pantas bagi seorang pelayan publik yang seharusnya memberi servis bagus ke pengguna jasa tempatnya. Hah, lupain saja tuh penjaga perpus, memang dari awal sudah seperti itu dia. Lain kali aku akan ceritain panjang lebar petugas birokrasi kampus satu ini. Tapi ntar lain kali saja, sekarang aku lagi fokus dengan cerita satu ini.

Masuk perpus, aku ga begitu merhatiin suasana sekitar. Toh, di sini suasana masih sama saja seperti tiga tahun lalu waktu pertama kali aku masuk kampus ini. Ngelewati koperasi yang mereka nyebutnya kafe, naik tangga dan masuk koleksi umum. Cari bangku kosong dan sedetik lewat aku langsung nemu bangku yang tanpa disangka pas dibelakang si putih berkaca mata bulat dengan frame hitam bertubuh seksi nan beraura menggoda. Sumpah, aku langsung seribu salah tingkah entah kenapa aku curi-curi pandang ke dia. Ku lihat telinga bagian belakangnya yang begitu membuatku merinding dan potongan rambut belakangnya yang membuat dia begitu menawan. Well, aga sedikit jomplang ketika para cewek-cewek dari kalangan sosial bawah tiba menghampiri dia satu per satu. Serasa mau muntah ketika tiba-tiba mereka mendiskusikan tugas yang menurutku sangat engga penting tapi mereka menganggapnya seolah-olah itu tugas pertaruhan hidup dan mati.

gambaran isi hatiku

Yang membuatku geregetan ketika dia mengeliat menaruh tangannya ke belakang tepat di depanku. Entah dia sengaja mancing atau memang dia tidak menyadari keberadaanku dibelakangnya atau gimana tapi yang jelas aku pengen saja meremas tangan itu dan merasakan sensasi kesenangan hati ini.

BB bunyi “ping” yang membuat fantasiku seketika buyar. Fokusku beralih ke arah blackberry meseger dan membuatkan tanganku gatel mensekrol timeline tweeter ngececk kalo ada mentionan yang ga kedeteksi. Setelah itu, seperti biasa aku ngetweet sampah hanya kalau-kalau aku biar tetep eksis aja di dunia yang berlambang burung biru tanpa mata dan kaki berkicau.

Hah, dia sudah pergi gitu aja tanpa aku sadari. Hemmmm, lagi-lagi BB ini memecahkan kosenterasi penting yang moment-nya ga setiap saat ku dapat.

Kembali ke tugas akhir, ngececk sudah sampe mana tugas ini terselesaikan kembali lagi fokus dan membuat otak ini berpikir keras dan fokus. Entah apa yang membuatku mengambil permasalahan periklanan. Padahal kalau ditengok selama 3 tahun menghabiskan waktu dibangku yang gandeng sama meja sekaligus hanya pelajaran gimana caranya diri ini bisa tampil mempesona dan menjaga kata-kata dengan kontrol emosi. Yah, public relations atau PR yang jadi fokusku selama 3 tahun tahun terakhir di kota metropolitan nomer dua di Indonesia ini.

Sudah sampe tahap mana pikiranku menegang akhirnya lelah juga dan aku sedikit menyerah dan mencoba mencari bantuan dengan beranjak ke ruang koleksi khusus yang hanya di huni oleh mahasiswa tingkat akhir yang kesemuanya cewek kecuali aku. Di pojok sana sebelum masuk ke rak kumpulan skripsi, disertasi, dan tesis, ada mbak-mbak atau entah ibu-ibu yang mencoba profesional dengan membuat para mahasiswa labil menjadi tambah sepuluh kali lipat labil karena pertanyaanya yang mbulet. “yah, jelas lah buk ke sini tuh mau cari skripsi masak mau cari novel”. Terserah lah, aku hanya bisa senyum kecut ngeliat pelayanan mbak-mbak setengah ibu-ibu itu. Padahal kerjanya cuman ngerumpi keras-keras dengan teman sejawatnya diskusiin hal-hal yang sampah banget. padahal di ruagan itu tertulis gede banget “Haram Berbicara Keras Dalam Ruangan”, dipigura malah.

Ah, aku males nyeritain kisah boring di dalam perpus dengan petugasnya yang ga sama sekali enak untuk dipandang. Mereka seolah-olah kerja tanpa bayaran. Males ah, mending aku cerita soal kasmaranku yang ga pernah berujung.

Jam 14.30 tiba-tiba ada BBM dari kotak yang emang sudah biasa BBM-an sama ku setiap saat. Tapi kali ini pesanya beda. Rupanya si dia pinjam BB temennya yang juga temenku karena Whatsup-an dia ga sempet kebales. Sebenernya udah mau kebales cuman lagi fokus sama tugas akhir.

Yah, mungkin dia juga sudah diceritai sama si Tia kalo aku barusan aja dapet job ngemce dan dia ngajakin makan mie ayam di tempat favoritku. Aga wah, banget malah. Jarang-jarang bisa keluar bareng meski kali ini harus dengan si Tia. Tapi aku harus nyelesaiin deadline yang udah semakin mepet dan aku minta dia buat nunggu aku bentar saja untuk ngelarin deadline yang padahal nyleseinya butuh waktu ga hanya bentar.

Singkat cerita, dia aku ping berkali-kali ga bales dan tebakanku pasti dia udah pulang. Yah, emang dia udah pulang, Tia pun juga. Tapi dia ga bener-bener pulang masih ada nongkrong dengan temennya.

Tapi kalaupun iya pasti PHP banget!

My Frist Trip to Jogjakarta

“Berlibur keliling nusantara merupakan sebuah impian yang harus diwujudkan. Pertama kali ku awali dari Jogjaarta dan Jawa tengah.”

Nusantara merupakan anugerah luar biasa dengan alam pemandangan eksotis dan keberanekaragaman budaya. Secuil alam surga yang berada di seberang samudera Pasifik ini membutuhkan waktu dan tenaga lebih untuk mengelilinginya. Mulai dari putihnya pasir pantai Kuta, mahakarya Borobudur, pesona surga bawah laut Bunaken, dan beribu keindahan lainya yang ada di Nusantara. Dan dari kesemuanya itu, ingin aku nikmati satu per satu.

Pertama, aku awali langkahku ke pesona yang paling dekat, Jogjakarta dan Jawa Tengah. Dengan bermodal numpang liburan kakak laki-laki, awal Juli 2008, kita berangkat menyusuri perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah dengan Toyota Kijang keluaran tahun 90’an. Meski sebenarnya bukan sebuah liburan gratis, tapi aku menikmati moment ini. Sambil nyambi sebagai pengasuh untuk dua keponakan yang masih di bawah sepuluh tahun, aku masih bisa melihat hamparan pegunungan dan luasan Jawa tengah dari atas Borobudur.

sabtu pagi, kira-kira pukul 05.00, kita tinggal mengemasi barang yang sudah di siapkan semalam dan memasukkanya ke dalam mobil. Mulai dari kotak P3, nasi buntel buatan ibu, sambel goreng, baju ganti, dan segudang barang persiapan lainya yang sudah kita siapkan beberapa hari sebelum berangkat. Setelah semua siap, kita tinggalkan kota Banyuwangi tepat pukul 06.00 dengan Kijang keluaran 90’an bersama kakak dan kedua anak laki-lakinya. Sebuah awal pertualangan paling berkesan telah dimulai.

Pukul 7.30 kita sudah sampai di Banyuwangi Barat dan hampir memasuki kabupaten Jember. Sebelum masuk ke Jember, kita harus melewati jalan berkelok-kelok naik-turun gunung Kumitir yang membuat perut terasa mual. Pukul 9.00 kita sudah melewati Jember kota dan terus menuju ke barat. Sampai di Surabaya, sekitar pukul 13.00, kita berhenti sejenak, berziarah sambil shalat Dzuhur di makam Sunan Ampel. Setelah selesai shalat lalu berdzikir di makam Sunan Ampel, kita lanjut makan siang bekal yang sudah dibikinin ibu. Setelah istirahat selesai dan badan kembali fresh, kita melanjutkan perjalanan pukul 14.00 tepat dengan terus melaju melalui ke barat jalur pantai selatan Lamongan.

Hampir tengah malam, sekitar pukul 23.00, kita sudah memasuki kabupaten Demak. Kondisi badan yang capek sudah tidak memungkinkan lagi untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya kakak memutuskan untuk berhenti di masjid agung Demak sekalian berziarah dan bermalam di sana.

Kumadang Adzan subuh membangunkan kami yang tertidur pulas karena kecapean. Kami bangun dan shalat subuh setelah itu mencari sarapan dan langsung berangkat lagi meneruskan perjalanan.

pukul 10.00 kita sudah memasuki wilayah Magelang dan beberapa menit lagi kita sudah berada di candi termegah di dunia yakni Borobudur. Tepat sesuai dugaan, pukul 10.15 kakak sudah memarkir mobil di pelataran candi Borobudur. Dengan tiket masuk Rp.9000 per orang, kita memulai pertualangan mengelilingi candi yang pernah di nobatkan menjadi 7 wonders ini. Di sini semua tumbuhan di kasih nama yang memudahkan aku untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan. Perjalanan menuju Borobudur cukup melelahkan karena jarak pintu masuh dengan lokasi candi cukup jauh. Setelah 15 menit berjalan, kita sampai di lokasi Candi. Memang yang di ceritakan orang tentang kemegahan candi ini terbukti. Bangunan yang dibangun oleh raja Samaratungga pada dinasti Syailendra ini mempunyai luas 123×123 meter dengan tinggi 42 meter dengan 10 tingkat. Pemandangan dari puncak Borobudur sangant eksotis sekali dengan deretan bukit Manoreh sebagai backgroud dan hamparan bumi Jawa tengah yang terlihat sangat luas. Musim liburan seperti ini lokasi Borobudur dipadati oleh wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga untuk berkelililng mengelilingi kompleks sangat tidak memungkinkan. Akhirnya kita memutuskan untuk keluar candi dan memasuki museum yang ada di depan candi.

Sebenarnya banyak sekali wahana wisata yang ditawarkan, seperti naik kuda keliling candi dan pertunjukan gajah melukis. namun kakak lebih memilih masuk museum. Di dalam museum ini terdapat perahu layar asli Indonesia, yaitu Pinisipi, dan barang-barang peninggalan kerajaan Mataram dan kerajaan kuno lainya seperti pecahan logam dan bentuk-bentuk kerajinan seperti Guci dan piring.

Setelah puas berwisata di Borobudur, pukul 13.00, kita langsung bertolak menuju tujuan wisata selanjutnya, yakni keraton Jogjakarta. Tak sempat membeli oleh-oleh memang ketika di Borobudur dan hanya berphoto sekali saja di lokasi candi dengan biaya Rp. 20.000. sekitar pukul 14.00 kakak sudah memarkir mobil di area parkir wisata keraton Jogjakarta. Setelah selesai shalat Dzuhur di masjid agung sebelah keraton, kakak langsung mengajak aku dan kedua anaknya masuk keraton Jogjakarta. Memang tidak ada yang istimewa di sini. Hanya miniatur patung yang memeragakan aktifitas keraton dan beberapa pernak-pernik khas keraton. Hanya 15 menit saja mengelilingi keraton, kami langsung beranjak menuju pasar Beringharjo di jalan Malioboro. Di sini kita memanjakan diri dengan makan sepuasnya kuliner yang dijajalkan pasar ini serta belanja puas sovenir khas Jogja seperti: tas, baju, dan pernak-pernik lainya. Memang kita sengaja menumpahkan nafsu di sini karena di pasar ini harga semua barang yang dipasarkan relatif murah dan pastinya terjangkau.

Puas dengan pasar Beringharjo, kita kembali ke area keraton. Di sini kita hanya duduk santai sembari menghilangkan rasa capek. Pukul 16.00, kita sudah bertolak meninggalkan Jogjakarta dan kembali ke Banyuwangi. Perjalanan kembali Jogjakarta-Banyuwangi memang memakan waktu sehari semalam. Namun, memori keceriaan liburan ini tak terlupakan sampai saat ini dan ketika menulis kisah ini, kenangan empat tahun masih terasa sekali membekas di hati.

Tags:

Menyentuh Kota Surabaya dengan Jalan Kaki

“Surabaya Surabaya oh Surabaya….

Kota kenangan kota kenangan tak kan ku lupa….”

Lirik lagu Nasional di atas mungkin sudah ga asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Memang, Surabaya merupakan kota yang mempunyai banyak sekali julukan. Mulai dari kota Pahlawan sampai dengan kota Buaya. Di kota yang merupakan ibu kota Jawa Timur ini banyak sekali bangunan kuno peninggalan Belanda, baik yang masih terawat dengan baik sampai saat ini maupun yang tak terjamah oleh tangan pemerintah akibat ditutup dengan pagar seng. Selain itu kota terbesar nomor dua di Indonesia ini juga mempunyai segudang kuliner khas yang sudah tersohor seantero nusantara dan sayang sekali untuk dilewatkan.

Kota ini memang tak memiiki jajaran gunung dan pantai bersih untuk refreshing menghilangkan penat akibat deadline kerjaan bagi penduduknya. Hanya jajaran gedung-gedung perkantoran dan mall yag berlomba-lomba menawarkan paket hiburan modern di musim liburan tiba. Tapi coba sesekali di saat weekend atau mungkin pada saat berkunjung ke kota rujak cingur ini anda menghemat uang anda untuk membayar taksi, mengistirahatkan kendaraan di garasi rumah, dan tabung sebagian anggaran belanja di Bank. Kemudian anda bawa peta kota Surabaya dan bekal secukupnya untuk memulai jalan-jalan dalam arti sesungguhnya.

Memang, untuk berjalan kaki mengelilingi kota Surabaya bukanlah sesuatu yang diminati banyak orang. Namun, dengan berjalan kaki anda dapat menyentuh kota kenangan ini. Dapat benar-benar merasakan atmosfir kota Surabaya sesungguhnya yang terkenal dengan budaya tinggi yang masih mengakar sampai sekarang serta jajaran arsitektur bangunan kuno yang mengagumkan. Anda tak butuh berbaju rapi namun cukup pakai pakaian sepantasnya dengan sendal jepit atau sendal outdoor dan teman jalan agar rasa capek tak terasa.

Bagi saya mengelilingi kota Surabaya dengan berjalan kaki merupakan sebuah pengalaman menarik dan tak terlupakan. Mulai dari menikmati megahnya gedung-gedung bertingkat sampai menemukan sesuatu yang sama sekali tidak disangka keberadaaanya. Untuk jalan-jalan perdana diawali sekitar setahun silam yakni 2011. Sekitar bulan Juli, jalan-jalan dengan tujuan Taman Tugu Pahlawan. Start dimulai dari Wonokromo pada pukul 10.00 dengan menilik pintu air kali Jagir bersama dua temen kampus saat weekend. Pintu kali jagir ini dibangun pada tahun 1923 dan tertulis di dinding “bangunan cagar budaya sebagai lokasi paoekan, tempat bersauhnya tentara tar—tar yang akan menyerbu Kediri pada tahun 1923” . saat malam tiba, pintu air ini akan kelihatan cantik dengan efek lampu hias warna-warni dan tak sedikit pula komunitas photografer kota rujak cinggur mangkal di tempat ini untuk hunting bareng-bareng. Selesai di pintu air Jagir, kami lanjut ke kampung bantaran kali Jagir. Rata-rata orang yang menduduki kampung ini adalah para pekerja Informal seperti: pengamen, pengemis, pemulung, dan waria yang tinggal bersama keluarga di rumah semi permanen. Yang menarik ketika kita masih menyusuri bantaran sungai Jagir ini adalah warung dengan nameboard “Bali 9”. Sebenarnya kalau bicara masalah menu yang dijajalkan biasa saja hanya masakan rica-rica pada umumnya. Tapi yang membuat berbeda di sini adalah nama “Bali 9” . konon ceritanya pemilik warung yang bernama Eric adalah seorang pelatih olahraga untuk para tahanan yang dikenal dengan sebutan “Bali 9”. Para tahanan tersebut sudah mendekam di penjara Denpasar selama 8 tahun untuk kasus narkoba dan mereka telah dihukum mati. Untuk mengenang mereka maka Eric menamai warungnya dengan “Bali 9”. Selesai mengintari kali Jagir, kami lanjut dengan menyusuri sepanjang jalan Darmo. Trotoar disini ngedukung banget para pejalan kaki dengan badan trotoar yang luas dan hampir tidak ada motor yang melewatinya. Istirahat sebentar di Taman Bungkul untuk minum, kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan cukup lama, kita sampai di keputran dan lanjut ke jalan Tunjungan. Di jalan yang menjadi pusat kota Surabaya ini berderet banguna kuno yang masih terawat dengan baik sampai saat ini, seperti: Hotel Majapahit, Grahadi, SMA Negeri 6 Surabaya, yang rukun bersanding dengan bangunan modern.

Sampai di daerah Jalan Embong Malang, kami mencoba untuk mencari jalan pintas menuju Tugu Pahlawan dengan memasuki kampung Kedung Rukem. Kampung yang berada di belakang Hotel JW Marriot ini terlihat biasa-biasa saja seperti layaknya kebanyakan kampung lainya di Surabaya. namun yang istimewa dari kampung ini adalah jalannya yang ribet karena saking padatnya penduduk yang menghuni. Entah dari mana asal petunjuknya, kami memilih jalan gang yang membuat kami balik lagi ke Tunjungan Plaza. Ternyata kami kesasar. Kembali lagi masuk gang dan kami sampai di Jalan Kedung Doro. Sungguh jalan yang terlalu nyempal dari arah Tugu pahlawan. Akhirnya kami tanya jalan arah Tugu pahlawan ke warga setempat. Setelah tahu tempat, kami langsung lurus ke arah jalan Blauran kemudian belok ke arah Bubutan. Sensasi kota sepi Bubutan sebenarnya lebih terasa saat pagi hari. Banyak bangunan kuno dan ruko-ruko berjajar di jalan ini. Sekitar 30 menit kita sudah sampai di Tugu Pahlawan yang menjadi target jalan kaki perdana kita kali ini. Lokasi ini pas untuk hunting photo dengan museum barang-barang peninggalan sisa perang saat kemerdekaan. Mulai dari senjata sampai dengan kendaraan tempoe doeloe di pamerkan di sini.

Sensasi wisata seperti ini hanya bisa didapatkan dengan berjalan kaki dan tidak mungkin didapatkan dengan berkendara. Dengan berjalan kaki, jiwa sosial kita akan terbuka dengan melihat dan merasakan kondisi lingkungan yang sebenarnya. Selain itu kita juga mengurangi emisi gas buang atau memperlambat laju pemanasan global. Dan yang terpenting adalah saku kita akan semakin tebal karena wisata seperti ini relatif hemat.

Tags:

Pesona Sunrise Pantai Bama Baluran dan Kawah Ijen Banyuwangi

Banyuwangi merupakan kawasan Jawa Timur paling indah pesona bentang alamnya. Ini telah saya buktikan dengan menjelajahi beberapa pesona alam seperti surfing di ombak tertinggi ke-2 dunia yaitu pantai Plengkung atau bule biasa menyebut dengan G-land, melihat pelepasan penyu di penangkaran penyu pantai Sukomade, menikmati indahnya air terjun Lider, dan masih banyak pesona alam lainya yang telah saya jelajahi di tanah kelahiran ini. Pesona alam ini terbentuk karena posisi Banyuwangi berada di perbatasan Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia dan terdapat beberapa gunung api yang masih maupun sudah tidak aktif. Namun ada satu pengalaman yang tak terlupakan sampai saat ini ketika menjelajah sunrise di kawah Gunung Ijen kemudian berlanjut berpetualang Afrika di taman nasional Baluran.

access form google.co.id

Petualangan ini dimulai saat lulus sekolah menengah atas atau sekitar awal bulan Juli tahun 2009. Bersama dengan lima teman lainya, petualangan ini dimulai dengan mendaki gunung Ijen untuk melihat pesona sunrise di puncak kawah Ijen. Sabtu malam sekitar pukul 22.00, kami menuju lokasi yang dapat ditempuh kurang lebih sekitar satu jam setengah melalui jalur Banyuwangi dengan menggunakan motor. Sekitar pulul 23.30 kita telah sampai di Paltuding , titik awal sebelum mendaki gunung Ijen. Di Paltuding ini tersedia beberapa fasilitas seperti: penginapan, lapangan camping, Musholla, toilet, penangkaran rusa dan penangkaran berbagai jenis tumbuhan langka.

Setelah beberapa jam mengistirahatkan badan di penginapan bertarif 150ribu permalam, pukul 4.30 kami mulai mendaki gunung Ijen untuk menikmati pesona sunrise di atas gunung. Jalan tanah menanjak dengan ketinggia 2.400 meter di atas permukaan laut akan kami lalui dengan berjalan kaki. Pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan kendaraaan demi keselamatan dan hanya petugas Vulkanologi saja yang diperbolehkan menggunakan motor.

Sepanjang perjalanan menuju kawah, kami menjumpai para pengangkut bongkahan sulfur atau belerang yang telah mereka ambil dari dasar kawah. Tak jarang kami bertemu dengan wisatawan asing yang memang jumlahnya cukup banyak di area wisata ini. Perjalanan cukup jauh, pengelola menyediakan beberapa pos peristirahatan dipinggir jalan pendakian untuk istirahat sejenak. Namun kami tidak memanfaatkan fasilitas tersebut karena tak ingin ketinggalan momen sunrise di puncak gunung.

access from google.co.id

Setelah berjalan sejauh 3 kilometer, kita sampai di puncak gunung kawah Ijen. Setelah beberapa detik, sinar keemasan muncul dari balik gundukan tanah menjulang tinggi menyinari danau kawah hijau toska dan jajaran gunung hijau di sekeliling Ijen. Dingin yang menusuk secara perlahan tergeser oleh rasa hangat sinar matahari yang mulai merambah ke tubuh. Bunga Edelweis dan pohon cemara gunung yang tadinya terlihat samar-samar, kini semakin berani menonjolkan keelokanya menambah pesona kecantikan kawah Ijen. Untuk melihat lebih dekat keindahan danau kawah, kita harus menuruni jalan setapak tebing kaldera yang biasa dilalui para penambang. Sering kali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan karena itu sangat disarankan untuk para pengunjung menggunakan sapu tangan basah. Air kawah cukup tenang dan berwarna hijau toska. Memang, pemandangan di sini terlihat begitu menakjubkan di pagi hari.

access form google.co.id

Setelah puas menikmati pesona kawah Ijen, kami turun gunung untuk kembali ke pos Paltuding. Sepanjang perjalanan menuruni gunung, pemandangan hijau cemara dan jajaran gunung berderet membentuk pesona alam yang menyejukkan mata. Sampai di Paltuding, kami langsung melanjutkan perjalanan ke air terjun Banyuputih. Air terjun yang terdapat di kabupaten Situbondo ini merupakan saluran pembuangan air danau kawah. Saking tergiurnya dengan warna air hijau toska cerah layaknya softdrink, saya mencuci muka dengan air ini. Kulit muka perih bukan main karena kadar asam  air ini sangat tunggi.

access form google .co.id

Puas menikmati pesona gunung Ijen, sekitar pukul 9.00, kami melanjutkan petualangan menuju Taman Nasional Baluran. Hampir pukul 10.00, kita sudah sampai di pusat Banyuwangi. Karena sudah lama penasaran dengan Rujak Soto, kami berhenti di Warung yang terletak di depan Stadion Diponegoro Banyuwangi. Kuliner khas Banyuwangi ini merupakan paduan Rujak Cingur dan Soto Babat, tapi rujaknya berbeda dengan Rujak Cingur Surabaya. Selain tidak memakai cingur Petis yang digunakan terasa keset dan lebih nikmat dibandingkan petis biasa. Untuk sotonya, mirip soto Madura tapi hanya menggunakan daging babat saja. Saat disajikan, Rujak Soto tak ubahnya seperti rujak yang disiram soto. Ditambah taburan emping mlinjo dan kerupuk udang yang menjadikan makanan ini makin gurih. Warung yang kita kunjungi ini memang baru buka beberapa menit. Namun, pelanggan yang antri sudah lumayan padat. Dengan harga Rp. 7.500 per porsi, ditambah dengan segelas es teh, rasa penasaran nikmatnya kuliner yang hanya ada di Banyuwangi ini terbayar sudah.

access form nusantara.asia

11.00, kita sudah berada di Batangan kab. Situbondo.dengan harga tiket Rp. 2.500 per orang, kami telah mendapatkan akses penuh untuk berkeliling Taman Nasional yang merupakan perwakilan ekosistem hutan spesifik kering di pulau Jawa. Setelah selesai melihat panduan rute kunjungan, kami langsung menuju tempat pertama, yatu evergreen atau hutan hujan sepanjang tahun. Di tempat ini kita disugui pemandangan pohon-pohon besar dan tinggi serta sungai yang membelah hutan yang mengalir dengan air jernih. Setelah menghabiskan waktu setengah jam di evergreen, kita beranjak menuju Bekol untuk istirahat dan makan siang.

Perjalanan menuju Bekol melewati Savana atau padang rumput yang luasnya kurang lebih sekitar 12.000 hektar total 40% dari luas Baluran. Sengaja tidak berhenti di sini karena sangat terik dan tumbuhan yang mendominasi tempat ini rumput berduri. Kita hanya bermotor pelan sambil menikmati pemandangan dan sesekali menjumpai kumpulan rusa dan burung elang yang terbang berputar mencari mangsa. Sayang, kitak berjumpa dengan kumpulan banteng yang jadi ikon taman nasional ini.

access form google.co.id

access form google.co.id

Sekitar pukul 13.00, kita sudah sampai di Bekol. Setelah selesai makan di kafetaria dan shalat Dzuhur, kita menuju menara Bengkol. Di atas menara berketinggian 64 meter, kita dapat melihat berbagai jenis satwa seperti merak, ayam hutan, kerbau liar, rusa, kijang, dan hamparan padang rumput berlatar belakang dereten pegunungan serta sayup-sayup biru laut layaknya phatamorgana padang pasir.

Terik matahari sudah mulai bergeser ke barat, waktunya kami melanjutkan perjalanan ke pantai Bama. Sekitar pukul 16.00 kita sudah mendirikan tenda di tempat ini. Selain lapangan luas untuk becamping, pengelola juga menyediakan beberapa fasilitas seperti empat rumah panggung yang bagian bawah dapat difungsikan sebagai tempat makan, dan tempat kendaraan. Untuk penerangannya menggunakan generator diesel yang menyala dari jam 18.00- 24.00 WIB. Setelah itu, petromaks yang digunakan. Sementara itu, rumah permanen yang disewakan menggunakan listrik tenaga matahari dengan watt terbatas. Untuk makanan, biayanya relatif murah. Semuanya bergantung pada menu yang akan dipesan.

Usai mendirikan tenda, kami menikmati indahnya pantai Bama pada waktu surut.  hamparan padang rumput laut nan luas dengan berbagai macam hewan laut yang dapat dipegang dengan mudah seperti sotong, landak laut, ubur-ubur, mentimun laut, kuda laut, dan masih banyak hewan laut lainya. Namun, kita tidak boleh sembarangan mengambil biota laut untuk dikonsumsi. Ada sanksi yang berlaku dihutan lindung ini. melihat kondisi gelap hutan bakau pada sore hari, kami mengurungkan niat untuk menjelajah karena di hutan ini terdapat berbagai macam binatang buas seperti ular, biawak, babi hutan, ajax, dan binatang buas lainya. Dilokasi perkemahan banyak sekali monyet berkeliaran. Jadi disarankan untuk mengamankan bekal dan barang-barang yang sekiranya membuat monyet tertarik.

access form liocooper.com

Senja berganti malam, suasana pun berubah riang. Dengan diterangi bulan melingkar gembira dan api unggun diatas pasir lembut, kami pun bernyanyi dengan diiringi gitar oleh salah satu teman sambil asyik bercanda. Waktu yang lewat dengan cepat pun sama sekali tak terhiraukan sampai baru sadar kalau air laut sudah kembali pasang. Kami pun beranjak ke tenda untuk beristirahat.

Meski adzan Subuh tak membangunkan kami, namun pukul setengah lima kami sudah bersih dan segar merenung dipinggir pantai menanti datangnya sang mentari. Setelah beberapa menit berlalu, rona kemerahan muncul malu-malu dari seberang pulau perlahan-lahan menampakkan diri. Tak sabar dengan segera kami berpose ria berphoto bersama secara bergantian. Indahnya luar biasa. Air pantai tenang dengan memantulkan cahaya perak diiringi matahari yang secara perlahan naik ke tahta melebarkan sayap menerangi seluruh jagad. Tak sabar, kami segera melepas pakaian dan menikmati percikan cahaya perak segar penuh dengan kehangatan. Panorama bawah menari mengikuti irama air laut bersenandung bersama. Rumput laut, terumbu karang, ikan hias, kuda laut, mentimun, landak laut, dan yang lainya seirama menyambut datangnya sang pembawa kebahagiaan.

access form google.co.id

Puas berenang dan menikmati panorama bawah laut, kami berjemur ala bule dipinggir pantai. Meski kulit sudah hitam legam bawaan dari lahir tapi tetap percaya diri berjemur dengan telanjang dada. Hari sudah dirasa makin panas, sekitar pukul 9.30, kita merobohkan tenda dan mengemasi barang-barang. Pukul 10.00, kita beranjak meninggalkan hutan lindung Balura dan kembali ke rumah masing-masing.

Sampai di Banyuwangi Utara, kami berhenti untuk sarapan. Sego Tempong khas Banyuwangi menjadi menu pilihan pas. Dinamakan Sego Tempong karena Nasi dengan sambal khas ini disantap dengan lauk , seperti ikan laut segar goreng, tempe dan tahu goreng, bisa juga ayam goreng dan empal. Sambal diracik dengan bahan tomat, cabai, dan terasi. Bahkan saking pedasnya, orang yang habis menyatap Nasi Sambal ini seperti ditempong atau ditampar. Dari sinilah muncul istilah “Nasi Tempong” yang membuat penyuka makanan pedas menjadi ketagihan. Cukup merogoh kocek Rp. 5000- Rp. 8.500 per porsi, perut terisi dengan baik dan lidah pun terasa puas. Setelah sarapan di warung nasi tempong, kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

Tips berwisata di kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran

· Banyak agen wisata di kota Malang dan Surabaya yang menawarkan paket wisata

kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran

· Tarif yang mereka tawarkan berkisar antara Rp. 1.000.000 sampai Rp. 3.000.000 untuk paket wisata Kawah Ijeh dan Rp.600.000 sampai Rp. 1.000.000 untuk paket wisata Taman Nasional Baluran

· Pos pemberangkatan biasanya dari kota tempat agen wisata

· Jika anda ingin backpacking dari luar pulau atau mungkin daerah yang jaraknya jauh dari kabupaten Banyuwangi, sebaiknya anda naik pesawat turun di bandara Ngurah Rai karena jarak Banyuwangi dengan Bali sangat dekat.

· Sediakan bekal makanan secukupnya karena di kedua tempat ini jarang sekali ada tempat yang menjual makanan.

· Jika ke kawah Ijen, pakai pakaian tebal karena suhu di sini berkisar antara 10 sampai 2 derajat Celcius.

· Bulan kunjungan yang baik di Taman Nasional Baluran adalah bulan Maret hingga Agustus. Anda dapat menyaksikan perkelahian antara rusa jantan pada bulan Juli hingga Agustus juga  melihat sekawanan kera abu-abu yang memancing kepiting dengan ekornya saat air laut surut. Ada juga atraksi tarian burung merak saat musim kawin antara bulan Oktober hingga November.

· Untuk kunjungan ke Kawah Ijen, waktu terbaik saat matahari terbit dan sangat disaran bagi anda untuk tidak berkunjung pada sore hari diatas jam 16.00 karena sangat rentan sekali gas beracun.

Tags:

The Different Moment with “Beswan”

Senyum, tawa, bahagia, campur bangga ketika harus ketemu denga kalian orang-orang keren “Beswan Djarum”. Kapan lagi coba bisa ketemu dengan orang-orang yang berbeda-beda dengan karakter dan talenta masing-masing. Ada yang supelnya ga ketulungan, ada yang karismatik, jiwa penghibur, sampai-sampai ada yang ga bisa ngungkapin apa yang dia rasakan ketika tatap muka, atau istilahnya hanya rame di social network saja. Namun, keseluruhan dari itu semua adalah bahwa anak “beswan” merupakan orang yang baik hati di manapun dia berada. Selalu sigap ketika ada teman “beswan” yang lain memerlukan bantuan. Selalu berusaha memberikan kesan terbaik untuk teman sesama “beswan” dari belahan tanah air manapun.

Moment seperti ini memang disayangkan jika harus hilang begitu saja. Harus menjadi sebuah kenangan dan hanya bisa dilihat kembali melalui album-album photo atau album kenangan lainya yang sudah tak dapat dijamah lagi. Hanya dapat meraba-raba dan mengingat kira-kira seperti apa nuansa moment yang telah terlewat tersebut.

Memang, segalanya pasti akan berlalu. Waktu tidak mungkin berhenti dalam satu titik karena pasti waktu akan terus berjalan. Yang dapat aku lakukan saat ini menyimpan baik-baik memory terindah yang telah aku dapatkan dan membuka kembali sewaktu-waktu aku rindu dengan moment tersebut. Sebuah moment termanis dari perjalan hidup, “Beswan Djarum 27”.

Tags:

Kesan Pesan GW tentang Character Building

Candaan atau Celaan?

access form metrotvnews.com

“eh, muka kamu tuh kayak moncong bemo….”

“saking putihnya kulit kamu, sampe-sampe aku ga bisa bedain dengan knalpot bututku”

“bagus, bagus kok body kamu. Sampe aku bingung mana yang kendang mana yang pantat kamu, *hahahahaaaa…”

*bercanda

Kata-kata tersebut kadang dengan mudah sekali keluar dari mulut tanpa melihat bagaimana perasaan yang lain. Mungkin, kita berpikir bahwa dengan dicandain seperti itu, orang lain akan merasa diperdulikan dan merasa lebih dekat. Padahal tidak setiap orang kebal dengan candaan yang terkadang kelewat batas.

Memang, manusia tidak hidup dengan kondisi yang tegang terus dan terkadang butuh rileksasi. dengan sedikit selingan komedi ditengah-tengah aktifitas, akan menjadikan pikiran refresh. Situasi tidak selalu tegang agar pikiran tidak jadi stres. Namun, komedi juga ada batasnya.

Tidak semua orang suka dengan komedi meski rata-rata orang menyenaginya. Ada tipe-tipe orang cukup sensitif dan tidak bisa menerima gurauan sambil lalu. Tipe orang seperti ini akan merasa direndahkan jika dijadikan bahan lelucon.

Juga tidak semua kondisi dapat dijadikan bahan tawaan. Ketika kondisi yang membutuhkan perhatian lebih, akan sangat tidak lucu sekali jika tiba-tiba ada orang dalam suatu kondisi tersebut membuat suatu candaan yang tidak pas.

Seorang pelawak pun juga terkadang tidak suka dijadikan bawan lawakan dengan teman sepanggung. Dia bisa jadi tertekan dan merasa dilecehkan karena apa yang dijadikan bahan lawakan tersebut merupakan suatu hal yang sensitif. Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu, ada seorang pelawak yang cukup terkenal melaporkan teman sepanggungnya karena dia merasa bahan lawakan yang dibawakan teman sepanggungnya tersebut sudah kelewatan.

Mungkin ada baiknya jika para pelawak layar kaca dapat membatasi candaanya. Akan menjadi lebih baik lagi jika dia dapat membedakan mana yang patut untuk dijadiin bahan tawaan dan mana yang tidak. Karena percaya atau tidak, lawakan yang dibawakan di layar kaca tidak jarang menjadi sebuah trending topic dan ditirukan oleh pemirsa se Indonesia.

Adaptasi hingga Metamorphosis V

Saat harus memilih antara mana yang benar dan mana yang salah, itu adalah sebuah dilema. Setiap orang mempunyai versi masing-masing dalam menanggapi orang lain dan berpotensi untuk melakukan sebuah hegemoni. Berusaha menyakinkan yang lain bahwa pandanganya merupakan pandangan yang paling kuat dan tidak dapat di bantah lagi. Aku kagum dengan orang yang berkepribadian seperti itu. Meski kelihatanya sagat jahat, namun aku memandang sisi kuat dari dirinya.

Sepengalaman ku, setiap orang mempunyai motif dalam setiap dia melakukan relasi. Ada sebuah dorongan yang mengakibatkan dia melakukan komunikasi dengan orang lain. Ketulusan tanpa ada maksud apa-apa merupakan sebuah tanda tanya terselubung. Jika orang tidak mempunyai ketertarikan, tidak ada kepentingan, dan tidak ada hubungan, tidak mungkin seseorang melakukan komunikasi dengan yang lain. Dia akan mencoba untuk menklarifikasi dan mencari kebenaran sebuah fakta tentang apa opini yang berlaku terkait dirinya.

Kadang, seseorang menjadi yakin sekali dengan omongan orang yang dia kenal atau bahkan orang asing sekalipun. Dan, tidak jarang pula orang akan meragukan omongan seseorang yang telah digambarkan buruk dengan yang lain meski sebenarnyaapa yang disampaikanya benar. Terkadang orang tergantung dengan persepsi dan gambaran yang tampak dapat mengaburkan kondisi yang sebenarnya.

Orang tidak pernah tahu dampak apa yang akan terjadi atas persepsinya tentang orang lain. Seseorang akan menjadi yakin jika persepsi atas dirinya tersebut dikatakan oleh orang banyak. Biasanya dalam sebuah perkumpulan atau suatu kelompok sebuah persepsi atas seseorang akan sangat mudah menyebar dan sangat berpengaruh. Bayangkan saja jika seorang ketua kelompok atau orang berpengaruh dalam suatu kelompok berpendapat jelek tentang seseorang dan dipercaya oleh anggota kelompok. Itu akan membentuk seseorang yang dianggap jelek tersebut menjadi benar-benar nyata karena dia meyakini bahwa persepsi yang berlaku dikelompok tersebut tentang dirinya adalah mutlak. Sangat parah sekali dampaknya jika budaya seperti itu terus berkembang.

Terkadang proses penyesuaian diri memang berat. Banyak sekali konflik dan dilema yang terjadi yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah proses penyesuaian diri. Apakah tenggelam dan terbawa arus hingga menjadi sesuatu yang berbeda sesuatu yang kehilangan jati diri. Atau bahkan dapat bertahan dan diterima menjadi sesuatu diri yang utuh sesuatu yang mempunyai jati diri teguh. Ini memang bukan pilihan. Namun, ini adalah sebuah proses yang menentukan seberapa kuatkah diri seseorang jika harus dihadapkan pada sesuatu yang komplek yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri tanpa kehilangan sebuah jati diri.

*Bersambung………

Tags:

SERUNI RAMPAI “catatan Facebook, 8 Mei 2010″

sebenarnya keinginan untuk menulis telah menggebu-gebu saat kelas dua SMA.   ada beberapa tulisan yang telah rampung namun belum sempat di-publish. tapi juga ada yang tak pernah terselesaikan seperti tulisan ini…

” malam tak pernah terasa begitu boogie ketika engkau tinggalkan bekas yang mendalam dan dangat berat bagiku untuk menghapus bekas itu. langkahku tak pernah lagi segesit waktu dulu kau mengisi setiap celah di sudut hatiku yamg selalu hampa. si tepi jalan jendral sudirman aku termenung sendiri menunggu bus kota yang akan mengantarku ke citra arumi di mana tempatku mengais riski. tepat di depan mataku bus kota menuju ke arah pusat kota parkir menungguku menumpang. aku duduk di bangku paling belakang. “jova!” ku dengar suara memanggil, ” hei jova! di sini” ke tengok di mana arah sura tersebut berasal. akhirnya ku temukan asal suara tersebut berasal. adalah dim teman sewek sekantorku. aku hanya melempar senyum. tanpa aku suruh, dia berjalan ke arahku, “kamu di situ aja dim, di sini ga ada tempat” , ” alah, ga pa-pa. abis di sana ga nyaman aku” jawab dim, ” ya udah, aku berdiri aja kamu duduk”, dim begitu menurut dengan saranku. bus terus melaju ke arah joyo pati.”

buatku menulis bukan suatu hal yang mudah apalagi harus sampai selesai. sangat membutuhkan tempat dan waktu tersendiri agar semuanya tercipta secara sempurna. dan, suatu saat nanti aku pasti mempunyai semua itu agar semua tulisan, baik yang sudah tergores maupun yang masih tersimpan di otak, terampungkan.

Tags:

Ramadhan Tahun Ini Berbeda

Aroma tanah kering di pinggir sungai, lantunan ayat suci Al-Quran dari pengeras suara surau, percikan air dari kran kamar mandi, dan kekeringan tanah ini mengingatkanku pada kampung halaman. Kampung halaman menjelang musim Ramadhan.

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Namun, aku masih berada di kota rantau. Pikiran sudah berada di kampung halaman yang berjarak beberapa mil dari kota rantau sekarang ini. Kota Surabaya ini tak memberikan kesan apa-apa bagiku ketika Ramadhan. Hanya suara cekikikan anak-anak kecil berlarian di gang-gang sesaat buka puasa. Itu seingatku di awal bulan Ramadhan setahun yang lalu sebelum balik ke kampung. Berbeda dengan di kampung halaman Banyuwangi.

Di kota kecil ini, setiap tahunya aku selalu berkumpul dengan keluarga besar yang sangat hangat. Meski aku berada di kota rantau, namun khusus bulan penuh berkah ini, aku berada bersama keluarga satu bulan penuh. Dan itu kenangan setahun lalu. Sepertinya tahun ini aku harus merelakan bulan penuh kehangatan keluarga ini di kota rantau. Menyelesaikan tugas yang sudah terbebankan dan belum terselesaikan sampai beberapa bulan ke depan. Tugas yang sangat banyak dan butuh waktu lebih untuk penyelesaianya.

Seingatku, ketika Ramadhan tiba, semua terasa indah. Keluarga yang berada di luar kota, semua kembali ke rumah bersama-sama menikmati indahnya bulan yang datang setahun sekali ini. Kakak, adik, ibu, dan bapak semua berkumpul dalam satu rumah dan menciptakan kehangatan yang tak ada gantinya di dunia ini. Ketika sore tiba, masing-masing menyibukkan diri dengan tugas masing-masing. memasak, membereskan rumah, dan menyiapkan sajian buka puasa. Semua terasa istimewa ketika Adzan Mahrib dikumandangkan dan bersama-sama sekeluarga menyantap masakan yang telah di masak bersama. Tak ada yang istimewa dalam masakan ini. Semua biasa-biasa saja seperti masakan pada keluarga umumnya. Namun, entah dengan resep seperti apa, ibu menyulap segalanya menjadi istimewa dan lebih dari pada masakan manapun di dunia ini bahkan hotel bintang lima sekalipun.

Terasa lebih lagi ketika mendekati lebaran. Kita sekeluarga sibuk dengan aktivitas masing-masing. ibu dan kakak perempuan tiap harinya sibuk di dapur membuat kue-kue untuk hari kemenangan nanti. Aku dan kakak laki-laki sibuk membenahi rumah dan membuatnya tampak lebih indah. Mengecat, membenahi perabot yang rusak, mencuci karpet dan korden, dan menata taman rumah. yang lebih istimewa lagi ketika beebelanja baju lebaran sekeluarga. Berkeliling toko di kota kecil ini, serasa lebih menyenangkan dari pada keliling mall besar di Singapure sekalipun. Mencari perabot baru, menservis mobil, dan menyiapkan segala sesuatunya agar terlihat sempurna ketika lebaran datang nanti.

Lebaran datang, semua senang. Tak ada yang sedih di bulan ini. Semua orang desa keluar dengan raut muka bahagia bersalam-salaman berkunjung bergilir ke rumah tetangga. Semua saling mengucapkan selamat dan bermaaf-maafan tanpa terkecuali. Serasa apa yang terjadi selama setahun terasa ringan dan terbang tanpa beban. Tak ada moment satu pun di dunia ini yang menggantikan ini semua.

Yah, akhirnya aku harus merasakan Ramadhan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aku harus merelakan hangatnya karpet depan televisi di kampung halaman. Aku harus merelakan serunya mencat dan membuat rumah kelihatan lebih indah. Aku harus merelakan panen ubi di kebun milik orang tua dan memasak sajian takjil. harus merelakan sedapnya sambal teri campur petai spesial buatan ibu tercinta. Harus merelakan keliling kampung saat sahur bareng keponakan dak teman-temanya. Merelakan buka bareng keluarga besar di rumah nenek dan menginap. Dan aku harus merelakan moment istimewa lainya berpuasa dengan keluarga besar di kampung halaman.

Tags: