Apapun yang telah aku tulis di bagaian pertama, abaikan saja. Malah lebih baik jangan dibaca. Itu hanya sebuah pengantar yang berantakan dan sulit untuk dipahami. Mungkin hanya untuk formalitas saja agar dapat mengisi layaknya sebuah cerita.

Namun, di sini aku akan mulai bercerita. Atau tepatnya menulis apapun yang telah aku alami. Encoba untuk bertututr apa adanya tanpa ada upaya klasik membumbu-bumbui agar sebuah cerita terdengar menarik.

Surabaya Selatan tepatnya dipinggir jalan depan Graha Pena terlihat sangat wajar sekali. Bahkan lebih wajar ketika tiga tahun lalu aku baru nyampe di sini. Semua terlihat biasa saja dan pengap penuh dengan pendudukyag berjubel di gang-gang. Saking banyaknya penduduk, sampai-sampai bangunan ukuran dua kali tiga pun menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali sekeluarga. Oh, stop.. aku tidak akan memceritakan profil tempat tinggalku sementara ini. Aku harus fokus pada satu kisah dimana kisah tersebut akan menceritakan bagaimana berproses untuk membaur dengan sekitar. Apakah proses tersebut berhasil atau malah menyeret ku suatu tempat lain yang sama sekali aku tidak pahami. Dan, apakah aku akan kehilangan siapa diri aku..

Semuanya masih serba misteri. Misteri dan misteri. Toh, selama tiga tahun lebih ini aku masih terus berproses untuk membaur. Membaur dan membaur hingga membuat diriku menjadi sesosok lain tapi bukan orang lain. Sosok diriku yag terlahir kembali yang membuat segalanya menjadi lebih indah, lebih mudah, lebih elegan, dan itu suatu hal yang aku mau.

Tapi lupakan saja semua itu. Itu terlalu jauh dari jarakku sekarang. Sekarang aku masih terjebak dalam prosesku sendiri yang aku sendiri tidak tahu di mana ujungnya. Entahlah.. proses ini kadang membuatku putus asa dan membuatku berfikir lebih baik mundur dan menarik diri dari kehidupan konyol ini. Memang tidak ada aturan tertulis seseorang harus membaur agar diterima oleh lingkungan dimana dia berada. Tapi keadaan yang memaksa harus seperti ini. Terlalu naif jika aku mengharapkan lingkunganku untuk menerima ku apa adanya. Dan aku sadar, ini adalah tuntutan untukku dan untuk semua orang.

Minggu sore, 10 Juni 2012, aku keluar cari makan. Entahlah.. yang jelas aku telah kecewa dengan warung langgananku dan aku sudah tak nyaman lagi makan di sana. Jika aku bicarakan keburukan apa yang dimiliki warung langgananku tersebut di sini, itu akan menambah catatan dosaku dan memperburuk citranya. Sayang, dia sudah membagun citra yang ia miliki sejak lama. Sambil jalan, aku sebenarnya ingin menceritakan satu per satu warung favoritku. Tapi, itu ntar aja lah. Aku sekarang sedang mengantri di warung penyetan tanpa tenda, hanya gerobak saja, tak jauh dari tempat tinggal sementaraku.

Saking ga telatenya aku melihat lemah gemulainya si pemilik warung yang sedang hamil ini, aku melamun sambil memperhatikan apa yang lewat di hadapanku. Motor lalu lalang dengan pengendaranya, orang jalan kaki, pedagang eh degan di seberang jalan, sampai ibu-ibu renta yang menutup warungnya. Entahlah.. yang jelas pemilik warung lama sekali melayani pesananku.

Tiba-tiba aku melihat dua pasangan remaja boncengan motor berhenti di seberang tepat di depanku. Aku coba mengamati mereka dan perhatianku jatuh ke si cewek yang turun dari motor di seberang sana. Opiniku berkembang liar tentang cewek tersebut. Sampai-sampai aku beranggapan bahwa cewek tersebut gampangan. Ga gampangan bagaimana. Dia nongkrong bareng cowok-cowok sampai larut malam di warung kopi depan gang rumahnya. Di satu saat dia menggendong bayi dan mencoba untuk menimangnya. Dan terkadang juga dia kelaur dengan cowok lain yang ga karuan mukanya saat malam hari. Aku heran dan bahkan di satu sisi aku iri dengan cewek ini. Begitu mudahnya dia membaur dan begitu mudah dia mendapatkan teman. Aku berfikir bahwa aku perlu kenal dengan cewek ini dan belajar banyak denganya.

Aku sudah capek menilai dan melamun. Ku lihat pemilik warung apakah dia sudah selesai dengan pesananku atau belum. Ku lihat dia masih mendadar telur di penggorengan. Ya sudahlah, aku tunggu dan coba menguping kira-kira topik apa yang jadi perbincangan antara penjual dan pembeli baru setelah aku. Yang aku lewatkan di sini tiba-tiba ada pelanggan ibu-ibu dan mungkin dia juga tetangga pemilik warung karena kelihatan akrab. Topik ga jelas dan aku mencoba cari perhatian lain. Sebelum aku menemukanya, tiba-tiba pesananku rampung dan aku langsung membayar.

Sampai di tempat tinggal sementara, aku melihat tetangga kamarku lagi sit up. Akhir-akhir ini dia terlihat rajin sekali berolah raga bahkan yoga. Entahlah, dari mana ia dapat ilmu yoga dengan dengerin lantunan ayat-ayat al quran. Tapi menurutku itu hal lucu aja. Tapi, ngomongin tetangga kostku yang satu ini, aku punya cerita lucu tentang dia. Tapi sekarang belum tepat untuk diceritakan.

bersambung….

Tags: