“Surabaya, Surabaya, oh Surabaya… kota kenangan, kota kenangan, tak kan terlupa…”

Yakin banget dah, kalau kalian arek Suroboyo pasti kenal dengan lagu keroncong satu ini. Bahkan kalau kalian orang luar Suarabaya pun, gue yakin kalian juga pernah dengar. Memang, kota metropolitan yang satu ini nih mempunyai ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan kota metropolitan lain yang ada di Indonesia. Sebutannya pun juga beragam. Mulai dari kota pahlawan, kota Bajul Ijo, sampai kota sarang Bonek. Tapi, kita ga bakal ngebahas soal itu. Di sini akan kita bahas soal Surabaya yang “menganak tirikanpara pejalan kaki.

Sudah menjadi perbincangan publik dunia, bahwa Indonesia adalah negara yang “tak bertrotoar”. Sebagai salah satu bukti, mari kita tengok Surabaya. sebagai metropolitan kedua Indonesia, dalam hal pembangunan, surabaya tak pernah berhenti membangun. Sampai-sampai sungai pun ditutup demi membangun flyover untuk menghindari kemacetan. Bahkan, yang lebih kontroversial lagi tol poros tengah kota pun juga bakal dibangun, demi kemajuan Surabaya di berbagai bidang salah satunya bidang ekonomi. Saking sibuknya membangun dan mempercantik kota, sampai-sampai lupa dengan para pejalan kaki. “Ditaruh dimanakah mereka?”. Kalo kita nge-cek trotoar yang di miliki Surabaya, sepanjang jalan Darmo sampai Blauran, sekilas tampak bersih dan lebar. tapi, kalau musim berangkat dan pulang kantor, nih trotoar berubah menjadi sirkuit balap bagi para pengendara motor yang ga sabaran. Ga hanya itu, grobak pedagang kaki lima pun juga ga mau ikutan kalah wara-wiri menjajakan jajanakan ke anak-anak sekolah. Ini baru di lokasi yang mendingan.

Kita beralih ke jalanan yang bertrotoar sempit atau bahkan ga ada sama sekali. Dari pengamatan gue sebagai orang yang lumayan hobby jalan kaki, lintasan maut bagi pejalan kaki adalah jalan A Yani. Sepanjang jalan ini hampir ga ada sama sekali trotoar yang nongol. gue kurang paham apakah memang di desain sedemikian rupa atau entah bagaimana. Yang jelas potensi jumlah pejalan kaki di daerah ini lumayan banyak karena sepanjang jalan ini berderet gedung perkantoran, pusat perbelanja’an, rumah sakit, sekolahan, bahkan sampai perguruan tinggi. Jika dilihat pun sepanjang jalan ini merupakan daerah pemukiman padat penduduk. Bisa kebangan betapa ngerinya menyebrangi zebra cross di tengah-tengah kendaraan yang lajunya kayak di sirkuit balap. Bisa jadi orang yang begitu hati-hati akan menunggu sampai banyak menit demi sepinya jalan protokol yang kayaknya ga akan pernah sepi ini.

Kalau keadaanya sudah demikian, maka kita sebagai pejalan kaki pun terpaksa harus turun ke jalan karena mengalah dengan para pengendara motor dan pedagang kaki lima. Tidak hanya itu, penataan kota yang meletakkan pot-pot bunga di trotoar juga membuat kita, para pejalan kaki, mengalah lagi turun ke jalan karena medan tidak memungkinkan untuk berpapasan. Kita ga pernah cerewet, meski kadang lahan kita diunakan kios tambal ban. Kita ga pernah protes, meski kita hampir terserempet dari belakang oleh pengendara motor ga sabaran yang memakai hak kami. Dan kita ga pernah berorasi di depan Grahadi karena hak kita diambil oleh orang-orang yang ga sabaran dan mengais rezeki di lahan jalan kami.

Tags: