Aku pernah dengar kalau Atlantantis, kota yang tenggelam, berubah menjadi dan itu Indonesia. Aku juga pernah dengar, kalau Indonesia adalah harta terpendam Raja Korun yang kaya raya itu. Tapi semua itu hanya sekedar rumor yang belum terbukti kebenaranya. Mungkin, bisa dibilang semua itu sebagai penggambaran keindahan bumi Indonesia. Faktanya, Indonesia memang kaya raya dan subur alamnya. Ibarat kata, tongkat saja bisa tumbuh menjadi pohon subur jika ditancapkan di bumi Indonesia.

Januari 2013 adalah pengalaman pertama dalam hidup yang tak akan pernah aku lupakan. Pengalaman pertama yang membuat mata terbuka bahwa tuhan telah meletakkan secuil surganya di bumi dalam bentuk Indonesia.

Sebuah tugas akhir yang diberikan oleh kampus sebagai salah satu syarat kelulusan mutlak. Aku dan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam satu kelompok ditugaskan untuk mengabdi di masyarakat desa terpencil yang sebelumnya belum pernah aku dengar namanya meski masih lingkup Jawa Timur. dengar punya dengar, desa ini sangat jauh dari pusat kota dan fasilitas umum, bahkan sulit dijangkau kendaraan umum.

Mau ga mau, kalau mau lulus, harus menyelesaikan tugas ini. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 3 jam dari Surabaya, akhirnya sampai di Lokasi pukul 21.00 wib. Tempat ini bernama Dusun Tretes Desa Kedungsumber yang masih masuk wilayah Kabupaten Bojonegoro. Benar, sampai di sini sinyal hilang sama sekali dan mobil L 300 yang kami tumpangi harus berhati-hati karena jalan naik turun gunung tanpa lampu penerangan jalan. Ketika memasuki dusun, kami harus jalan kaki karena kondisi jalan yang tidak mungkin untuk dilewati mobil. Jalan sempit berbatu dengan campuran tanah gamping alami, membuat kondisi jalan ini licin karena baru saja diguyur hujan. Selain itu, untuk masuk desa ini harus melewati jembatan kayu yang sudah lubang di sana-sini. Lokasi dusun ini dikelilingi bukit hutan jati. Bisa dibilang, dusun ini terisolasi ditengah hutan. Sempat terlintas dipikiran, kira-kira betah ga ya tinggal di sini?.

Ketika hari mulai terang, embun di dusun ini masih sangat tebal dan baru pertama kali ini otak dan jiwaku terasa fresh. Polusi pekat Surabaya seakan luntur seketika saat aku menghirup udara kualitas nomor wahid yang pernah ku temui. mata beredar ke sekeliling semua terhampar hijau dan alami deretan pohon jati berbaris rapi. Aku pun tergoda untuk berkeliling dusun. bukit hijau di depan rumah tinggal sementara menggoda untuk didaki. aku nekat mengajak teman, karena hari pertama masih belum terlalu banyak tugas, maka kudakilah bukit ini. dengan susah payah mendaki bukit karena tidak tahu jalan, akhirnya sampai juga di puncak. Begitu indah pemandangan di bawah sana. Dusun yang ku tempati kelihatan asri dengan pola bangunan masih dari kayu. Hamparan jati sangat luas sekali yang membuat kami terkagum-kagum. Setelah jalan beberapa meter, kami menemukan di bawah sana yang ga terlalu jauh sebuah danau hijau alami. Tanpa berpikir panjang, kami langsung ke sana. Luar biasa indah waduk yang kami anggap danau itu. Dan, mumpung kamera LSR yang dari tadi ku pegang masih full batery, kami manfaatkan moment ini untuk photo-photo. Ini hanya sebuah dusun kecil yang terpencil dari secuil keindahan Indonesia. Semakin penasaran dan aku berkeinginan suatu saat aku akan jelajahi keindahan Indonesia.

Waktu sudah berjalan beberapa hari dan saatnya untuk bekerja. Memang, kalau ditotal sih, waktu satu bulan di sini lebih banyak refreshingnya dengan hamparan alam yang indah. Mandi di sungai, mancing di waduk, bakar jagung dari ladang penduduk, dan masih banyak hal menyenangkan lainya. Tapi kita tetap fokus untuk menguraikan masalah di dusun ini.

Kondisi penduduk di dusun ini masih sangat terbelakang, khususnya di bidang pendidikan, baik umum maupun agama. Dari 250 penduduk yang mendiami wilayah ini, sebagian besar adalah lulusan sekolah dasar, 17% SMP, 6% SMA, dan hanya tiga orang yamg melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan, ada beberapa penduduk yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Tak heran jika penduduk di sini kurang peduli masalah kebersihan sanitasi dan lingkungan. Bayangkan, hanya 5 rumah saja yang memiliki kakus. Sisanya, berak di sungai atau di hutan.

Sebagian besar dari mereka mempunyai pola pikir “Ekonomi lebih Penting dari Pendidikan”. Keseharian mereka habis di ladang, ngurus ternak, cari kayu di hutan, dan menangkap ikan di waduk. Hidup mereka memang sederhana dan ga neko-neko. Makanya, mereka tidak terlalu menanggapi secara serius keinginan anak untuk menempuh pendidikan tinggi demi cita-cita. Anak pun terbawa kondisi orang tua dan secara perlahan-lahan mereka akan mengikuti pola yang sama dengan orang tua mereka. Remaja dan pemuda di dusun ini hampir semuanya merantau ke Surabaya bekerja di sektor infomal, Yang cewek jadi pembantu yang cowok jadi tukang batu.

Padahal, dusun ini sangat berpotensi dan memiliki modal alam yang sangat melimpah. Kayu jati, keindahan alam, dan kekayaan waduk yang melimpah. Yah, meskipun kayu jati tinggal yang kecil-kecil karena yang besar habis di jarah pada era Presiden Abdurrahman Wahid, juga waduk yang tidak selalu berair sepanjang tahun. tapi seenggaknya mereka bisa mengolah potensi kekayaan alam yang mereka miliki juga bisa meningkatkan potensi pariwisata daerahnya.

Di sisi lain, mereka bisa memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitar, seperti kotoran ternak. Jika dilihat, hampir setiap rumah di kampung ini memiliki ternak, terutama sapi. Jika mereka mau melanjutkan program yang telah kita bikin, yaitu bank kotoran ternak, dimana value dari program ini nanti pada akhirnya penduduk bisa mandiri dengan membuat pupuk sendiri dari kotoran ternak yang sudah dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk organik. Sehingga mereka tidak perlu lagi mengandalkan pupuk kimia yang harganya tambah hari tambah “mencekik” petani.

Memang, semua itu tidak bisa dirubah dalam waktu satu bulan. Butuh sebuah program yang berkelanjutan terus menerus yang akhirnya membuat masyarakat dusun ini mandiri. Tidak hanya pada program institusi perguruan tinggi yang berlangsung sebualan atau program pemerintah yang bersifat kampanye, tapi lebih pada pemandirian masyarakat yang menjadikan mereka sebagai subyek perubahan untuk daerah bukan obyek.

Tags: ,