Belajar dari Deadlock Rapimnas PPP dan Model Organisasi Mahasiswa

Oleh:

M Rodhi Aulia

(Masih Bodoh)

Ditulis Minggu 11 Mei 2014 | Dimulai Pukul 13:15 WIB | Selesai Pukul 14:33 WIB| Durasi Baca: 4 Menit

Rapimnas PPP malam kemarin, Sabtu, (10/5) mempunyai banyak perspekif. Tentang tarik- ulur mendukung siapa dan partai apa terkait pilpres 9 Juli mendatang. Pagi sebelumnya, Sekjen PPP sudah mengatakan keputusan final arah koalisi bisa ditetapkan pada malam hari.

Sementara itu, Ketua Umum Suryadharma Ali mengatakan keputusan tidak perlu diambil lama-lama dan keputusan harus mufakat dan bulat. Namun sampai pukul 24:00 WIB, Rapimnas ditunda. Sebenarnya bukan ditunda, Rapimnas belum sama sekali dimulai, bahkan tata tertibnya saja belum dibahas.

Saya bertanya kepada salah seorang Ibu pengurus yang duduk lemas di sudut ruangan. “Jadi ngapain aja dari siang tadi bu”.

“Cuma main-main aja,”selorohnya bernada kesal.

Sebuah ilustrasi dan sekelumit cerita bagaimana sebuah keputusan diambil. Terutama dalam suatu partai politik yang sebenarnya muaranya adalah ajang lima tahun sekali ini. Mendukung calon A atau B atau diluar A dan B tersebut. Semua pilihan tersebut memiliki konsekuensi logis yang sangat jelas. Sangat berdampak pada eksistensi sebuah partai dan tujuan didirikannya.

Saya sangat meyakini semua partai pasti mempunyai tujuan, yang dapat di-break down menjadi visi dan misi yang tertulis rapi. Namun, sekumpulan orang yang menggerakkan partai tersebut juga mempunyai tujuan dan misi masing-masing. Nyaris tidak ada tujuan dan arah perjuangan partai yang mutlak sama dengan garis perjuangan masing-masing individu.

Saat Rapimnas berlangsung, saya sempat berbincang dengan salah seorang yang mengaku simpatisan PPP bukan kader. Dari cara berbicaranya terlihat sangat memahami ‘dalam’ apa yang diperjuangkan PPP kendati kalau dilihat dari penampilannya malam itu, seperti tampilan gaya preman saja. Semula saya menyangka dia adalah intel. Ia mengatakan bahwa PPP sangat berbeda dengan partai politik yang ada. Dari banyak model berpikirnya yang membuat saya takjub, ada beberapa hal yang ingin saya bagikan dan relevan dalam hal ini.

Menurutnya, parpol yang tercipta di muka bumi ini hanya ada dua, yakni sengaja didirikan dan mendirikan. Didirikan maksudnya adalah dibangun dengan seorang tokoh atau sejumlah tokoh yang sangat terbatas. Tokoh tersebut memiliki semua prasyarat, sehingga dengan mudah bisa mengendalikan kemudi arah partai, kendati secara formalitas didirikan dengan sejumlah orang.

Model kedua adalah sekumpulan orang yang setara memiliki kesamaan cara pandang dan kapasitas yang relatif sama dan berkeinginan melebur jadi satu dalam suatu wadah yang menjadi kendaraan politik. Para pendiri memiliki derajat pengaruh yang setara. Sehingga semua yang tergabung didalamnya merasa memiliki kekuatan yang sama.

Memiliki kesempatan yang sama dan hak yang sama,meskipun sudah ada pembagian porsi jabatan dan kewenangan di masing-masing posisi. Model inilah yang teridentifikasi dalam tubuh partai berlambang kabah tersebut. Istilah sederhananya adalah satu kendaraan memiliki banyak supir atau satu rumah, majikannya banyak.

Maka sangat wajar bila hampir semua agenda yang dilakukan oleh PPP, terutama menjelang pileg dan pilpres jadwal dan semua rencana yang sudah diagendakan berubah dan menjadi setia dengan gaya karet. Melentur, melebar, memanjang sampai pada batas akhirnya.

Memang benar, kata banyak orang, politik penuh dengan dinamika yang tidak menentu. Bahkan sang ketua Umum PPP Suryadharma Ali mengatakan bahwa PPP selama ini berada dalam berbagai posisi yang sangat angker. Dalam sambutan Rapimnas tersebut dia mengatakan seperti ini.

“Ada yang belok ke kanan dan ke kiri tanpa menghidupkan sen. Ada tikungan tajam. Ada turunan yang curam dan ada yang berupaya menyalip di tikungan.”

Hal tersebut menurut SDA merupakan indahnya cara berdemokrasi yang dipertontonkan PPP kepada khalayak luas. Sejurus dengan itu, SDA berharap pada Rapimnas final tersebut untuk segera mengambil kesepakatan yang mutlak selesai tanpa mengikuti sifat karet. Namun, harapan dan himbauan sang nahkoda partai seolah dianggap angin lalu saja. Mau tau kenapa?

Begini jawab seorang yang menggunakan pakaian preman di atas. “Kamu lihatlah, cara mereka Sekolah gimana dulu. Cara mereka berorganisasi gimana dulu. “

Saya langsung memahami apa yang dimaksud olehnya. Meskipun hal yang membuat macet keputusan tersebut adalah bagian dari dinamika perjuangan. Tapi saya tidak sependapat dengan alasan terakhir yang disebutkan olehnya, yaitu begitulah seharusnya demokrasi dijalankan karena latar belakang mereka seperti itu.

Menurut saya, dinamika dalam mengambil keputusan memang bagian yang tidak terpisahkan dalam pengambilan keputusan. Argumentasi, cara pandang, dan model penyampaian pendapat lainnya sangat boleh dilakukan. Namun tentunya harus mempunyai kerangka batas yang jelas.

Pertama gejolak internal jangan sampai bocor keluar. Kemudian, ketika proses penyampaian argumentasi dinilai tidak lagi sehat dan kondusif, maka semua yang berhak harus mendengarkan pandangan orang yang dituakan, terutama pemimpin tertinggi. Bukan hanya mengaku mendengar, tapi tidak pernah benar-benar sanggup dilaksanakan.

Apa gunanya mengangkat seorang pemimpin, lalu ketika dia menjabat seperti macan ompong. Seharusnya (Sami’na Wa Atho’na). Kami Mendengar dan kami Mentaati. Begitupun juga dengan pemimpin tertinggi. Tidak seharusnya memaksakan kehendak kepada yang dipimpin.

Sejatinya pemimpin adalah pengatur irama nada yang berkembang agar terdengar merdu dan harmoni. Mendengarkan aspirasi, mengkajinya, dan mengambil keputusan. Lalu sampaikan dengan jelas, kenapa keputusannya A atau B secara jelas dan clear, tanpa ada hal yang disembunyikan dari mereka yang berkompeten untuk tahu. Inilah yang dinamakan demorkasi sejati.

Pun halnya dengan Mahasiswa yang mengaku aktif di berbagai organisasi besar di Indonesia. Ketidakharmonisan para pejabat publik atau para policy makers di negara ini sering terjadi. Meski semua kanal sudah dibuka lebar. Namun hasil akhirnya, selalu tidak disetujui dan dipahami oleh semua yang terlibat.

Mahasiswa yang mengaku aktif dalam organisasi sejatinya adalah miniatur decision maker dalam negara ini. Jangan pernah berekspektasi lebih untuk melihat pejabat kita di level strategis sana mempertontonkan cara mengambil dan menerima keputusan yang sportif dan bersifat ksatria. Bila kita saja, kalian saja, yang aktif dalam berorganisasi selalu chaos dalam setiap pertemuan, rapat kerja, dan pemilihan ketua yang baru. Padahal masih ada cara smart lainnya.

“Seperi halnya, memecahkan kaca, bersuara tidak lazim, melempar kursi, beradu kekuatan otot dan sebagainya. “

Saya sangat paham chaos dan sejenisnya adalah dinamika. Namun seberapa setiakah kalian dengan dinamika itu? Apakah tidak mungkin dinamika yang bermodel chaos tersebut bisa dihilangkan, atau di-skip saja dengan menggantikannya dengan pola-pola yang santun, cerdas dan rapih.

“Jika tidak, jangan terlalu percaya diri memberi raport merah kepada para penguasa. Kepada para pemangku kebijakan. Kepada petinggi. Kepada siapapun itu.”

Bahkan saking kesalnya saya melihat itu, pernah saya katakan kepada pentolan kubu yang sedang bertikai di Jalanan.

“Kalau memang mau beradu otot dalam mengambil keputusan ada dua syaratnya. Jangan Cuma berani rame-rame. Yang kedua, kalau memang mau berantem harus ada yang mati.”Sadis ga tuh.

Jangan-jangan hipotesis saya selama ini benar. Organisasi kampus seperti ‘itu’ melahirkan prilaku pejabat yang tidak Wow.

*Tulisan iseng bangun tidur abis begadang di Rapimnas PPP.

Posted: May 11th, 2014
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Gara-gara Sampah, Bandung Dijuluki The City of Pigs

Adalah sebuah keniscayaan dimana adakehidupan berlangsung, disana ada sampah. Namun yang menjadi permasalahan ketika sampah tersebut menumpuk bukan pada tempatnya. Sehingga dapat merusak pemandangan serta menjadi sumber penyakitdan sebagainya.

Seorang warga Bulgaria, Inna Savova, mendadak ngetrend di dunia maya Indonesia. Ia menuliskan pandangannya terhadap sampah yang banyak menumpuk di Indonesia, terutama di Bandung dalam blog pribadinya venusgotgonorrhea.wordpress.com.

Tulisan yang dikemukakannya bukanlah sebuah complain saja, melainkan ia sedang mencoba membersihkan dan memungut sampah semampunya. Namun tulisan tersebut menuai banyak komentar sejak diposting pada pertengahan Januari silam. Terutama komentar yang bernada kontra. Lagi-lagi sebagian besar masyarakat kita terjebak dengan sesuatu yang tidak subtantif. Hanya terjebak dan bersemangat menyalahkakan secara manner, pemilihan kata (diksi), atau pelengkap lainnya.

Berawal dari sang penulis menganalogikan Bandung sebagai the city of pigs. Menurut pengakuannya, sebutan tersebut diambil olehnya dari istilah yang pernah digunakan Socrates. Dalam hal ini, ia kembali menggunakan karena melihat mayoritas warga Bandung tidak suka dan jijik dengan babi dan terlalu kotor untuk dimakan. Sementara itu, mereka hidup di lingkungan yang lebih kotor dari babi.

Mulai dari tempat sampah yang telah disediakan pemerintah kota tidak berguna secara maksimal hingga kesadaran membuang sampah pada tempatnya serta paradigma dan kebiasaan memungut sampah yang masih dianggap sebuah kebiasaan orang miskin, tak terdidik, hina dan sebagainya.

Kalimat tersebut memang sekilas terlihat tidak elok dan sebagainya. Ia sadar bahwa hal demikian sengaja ia gunakan agar kesadaran masyarakat kota lebih meningkat lagi. Tidak hanya sebatas ingin dan memimpikan kota yang bersih, bebas dari banjir dan sebagainya lalu cukup duduk manis sambil komat kamit sana-sini.

Ironisnya, mimpi masih sekedar mimpi. Sampah berserakan dimana-mana. Sepanjang mata memandang, sampah selalu ada dan sebagainya. Terutama saat hujan melanda kota Bandung. Hampir sepanjang jalanan selalu terlihat parade sampah berjalan mengikuti genangan air yang meluap di atas aspal. Hal tersebut sungguh lazim terjadi.

Dan sekarang, apakah masyarakat kota masih hanya bisa bermimpi saja atau berharap pada sosok yang bernama Ridwan Kamil dan perangkatnya untuk mewujudkan itu semua. Tentu hal ini sangat mustahil akan terwujudnya Bandung yang bermartabat. Pada dasarnya, semua kebijakan apapun yang dikeluarkan pemerintah sangat bergantung pada kesiapan masyarakat atau respon mereka. Apakah berpartisipasi aktif dalam menyukseskannya atau hanya sekedar menyalahkan saja tanpa berperan apa-apa.

Maka tida heran bila akhir-akhir ini Walikota Ridwan Kamil selalu mengeluhkan hal ini. Ia mengajak semua lapisan masyarakat agar berperan aktif dalam mendukung segala bentuk kebijakan yang sebenarnya untuk kebaikan bersama. Kebijakan demi menata kota menjadi lebih baik dan asri. Sesuai dengan julukannya, Bandung kota bermartabat.

Jika tidak mampu berperan aktif dalam mendukung program pemerintah, Ridwan Kamil meminta masyarakat untuk tidak menjadi bagian dari permasalahan tersebut. Tidak hanya masalah sampah, masalah lainnya pun sebisanya tidak dilakukan oleh masyarakat. Karena Sebagaimana yang diungkapkan sang walikota dalam akun twitternya.

1.komplain ttg sampah, padahal dirinya hobi buang sampah sembarangan. Marah2 ttg macet padahal dirinya yg bikin macet. #Mari_Introspeksi

2.You often blame the society, but you are the society. You often blame the problem, but you are part of the problem. #Mari_Introspeksi

3.Nu matak tong sok miceun runtah dimana wae. RT @AndRieCoach: Kumaha tah pa “@kompascom: Penuh Sampah, Bandung Dibilang “The City of Pigs”

4.keduanya penting. peraturan adlh “kesepakatan” RT @rahim_abs: diobati oleh keteladanan pemimpinnya, tidak oleh *peraturan*. *zonamerah *PKL

Dari sejumlah pernyataannya, terlihat jelas sang walikota membutuhkan kontribusi nyata dari masyarakat kota itu sendiri. Setidaknya tidak menjadi bagian yang merusak cita-cita mulia yang sedang dibangun. Tanpa menganggap sudah sempurna, walikota yang baru terpilih tersebut telah banyak membuat terobosan super kreatif. Rencana membuat taman-taman tematik yang lebih banyak, danau-danau kecil, melokalisir para pengamen di sekitar 300-an hotel di seluruh Bandung, angkutan sekolah gratisdan sebagainya.

Kalau diperjelas lagi, tentu hal demikian salah satu cara untuk terus berbenah dan mengembalikan image Bandung sebagai paris van java.Rencana pembuatan danau-danau kecil, sumur resapan, membuang sampah pada tempatnya adalah langkah nyata menuju Bandung bebas banjir.

Program satu hotel satu grup pengamen, penertiban PKL, bus gratis bagi pelajar, adalah langkah nyata menuju jalanan Bandung bebas dari macet dan sebagainya. Pembangunan taman-taman tematik, disamping menjalankan UU Ruang Terbuka Hijau (RTH), juga termasuk upaya pemerintah kota dalam memelihara kreatifitas, dan juga memelihara rasa bahagia agar tetap menyelimuti perasaan-perasaan warga kota secara manusiawi. Hal-hal sederhana tersebutlah yang menentukan masa depan kota Bandung dan banyak lagi program kreatif lainnya.

Rasanya beruntung sekali Kota Bandung dipimpin oleh seorang Ridwan Kamil. Mungkin perlu dicermati, seorang pemimpin dipilih bukanlah untuk hanya menaikkan posisinya sebagai pemimpin saja lalu cukup. Akan tetapi masyarakat selaku pihak yang dipimpin harus terus menstimulus agar pemimpin bersemangat mengeluarkan ide-ide briliannya dan masyarakat siap mewujudkan nyata ide-ide brilian tersebut.

Bukan hanya sebatas jadi tim sukses saja, relawan saja, atau loyalis saja, melainkan lebih dari itu. Karena inti dari kepemimpinan adalah perwujudan ide-ide dan sebagainya.

Inilah yang menjadi kegelisahan saya setiap kali menerima mater-materi kepemimpinan, politik, manajemen dan sebagainya. Masyarakat ‘terkadang’ tidak terlalu mengerti dengan statemen besar atau narasi besar yang cenderung absurd, melainkan mereka hanya butuh ide-ide sederhana, kecil dan nyata. Terlebih lagi harus konsisten.

Dan pada akhirnya, tulisan yang dibuat oleh Inna Savova,sejatinya hanya bentuk ungkapan untuk menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat kota, tidak hanya yang bermukim lama saja, melainkan para pendatangpun harus ikut serta mewujudkan ide-ide tersebut. Inna pun membuktikan hal tersebut. Ia akan tetap mencintai dan memimpikan kota ini menjadi lebih baik.

Maka dari itu, dalam tulisan terbarunya, ia mengundang seluruh lapisan masayarakat kota agar ikut serta memungut sampah bersama di Taman Lansia pada hari Sabtu (08-02-2014) pukul 8 pagi. Semoga ini menjadi langkah sederhana yang konsisten dalam mewujudkan Bandung Juara, Bandung Bermartabat, dan Paris van Java yang baru. Bule saja peduli, masyarakat kota, why not?

Mari merevolusi negeri ini dengan hati (Ridwan Kamil)

Hanya tuhan yang lebih tahu kesempurnaannya.

Posted: February 5th, 2014
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Evan Dimas: Semua Bisa Dikalahkan, kecuali Tuhan dan Orang Tua

Oleh:

M. R. Aulia

(Beswan 27, Bandung)

*Ditulis Minggu Pagi, 13 Oktober 2013.

Suasana haru, tangis bahagia, menderu langit malam Indonesia 12/10/2013. Pasalnya, Evan Dimas dan kawan-kawan, berhasil mengukir sejarah mengalahkan tim asal negara Ginseng, Korea Selatan yang notabene pemegang rekor terbanyak 12 kali juara. Evan Dimas mengungkapkan bahwa ia dan teman-temannya sangat senang dan bersemangat berkat pemain ke 12 yang membanjiri Gelora Bung Karno. Mereka para pemain timnas U 19 tidak pernah melihat GBK semerah dan meriah jika dibandingkan pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Sebelumnya, Evan Dimas merupakan satu-satunya alumni Nike The Chance 2012 di La Masia, Barcelona yang tampil di piala AFF 2013. Namun, Anak muda kelahiran Surabaya, 13 Maret 1995 tersebut, tidak bisa melanjutkan latihannya di La Masia dikarenakan tidak terpilih untuk maju ke tahap selanjutnya. Akan tetapi, kegagalan tersebut tidak membuatnya bersedih, ia berkeyakinan akan ada jalan yang lebih baik nantinya. Terbukti kontribusi besarnya, hatrick ke gawang Korea Selatan.

Malam itu, ketika on match, Evan Dimas Darmono dkk, berhasil memberikan performa permainan yang sangat menarik. Hal itu diakui oleh Pelatih Indra Sjafri selang beberapa waktu setelah pertandingan usai. Anak asuhnya tidak hanya menggetarkan gawang Korea Selatan, melainkan membuat pemain Korea kewalahan melihat cara bermain Evan Dimas Dkk. Ia juga memberikan kepercayaan kepada pemainnya, untuk melawan siapapun, kalian pasti bisa. Tim raksasa asia sekalipun bahkan tim raksasa dunia.

Maka dari itu, Evan Dimas dkk, mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi. Ketenaran dan kebesaran timnas Korea Selatan tidak membuat nyalinya ciut. Ia berkeyakinan bahwa semua bisa dikalahkan kecuali tuhan dan orang tua. Maka tidak heran, tiga lesakan bola yang dihempaskannya masuk sempurna mengelabuhi kiper Korea Selatan.

Kepercayaan diri bangsa Indonesia yang selama ini menggerogoti kualitas timnas Indonesia. Indra Sjafri, sangat optimis bisa mengalahkan Korea Selatan. Namun keyakinan tersebut dibantah banyak pihak. Mereka menyebutkan pernyataan Indra Sjafri tersebut merupakan pernyataan yang sangat arogan. Maka dari itu, Indra Sjafri sangat menyesalkan. Inilah penyakit bangsa Indonesia. Selalu merasa lebih bodoh dibandingkan tim yang sudah dikenal daya tempurnya. Oleh karena itu, Indra Sjafri menyerukan kepada masyarakat Indonesia, mulai malam ini, pasca kemenangan Indonesia, tanamkan dalam hati, bahwa raksasa Asia akan datang dari Indonesia.

Saya sangat setuju dengan optimisme sang pelatih. Walaupun di masa yang akan datang ditemukan hasil di luar harapan, tapi setidaknya, Indra Sjafri memberikan terapi kepada seluruh masyarakat Indonesia tentang mentalitas sebagai bangsa yang sangat besar. Tentunya tidak hanya besar secara populasi, melainkan besar dalam kualitas.

Akhirnya, apa yang diperagakan Evan Dimas Darmono dan kawan-kawan dalam pertandingan Indonesia versus Korea Selatan adalah bentuk kepercayaan diri yang telah dibangun Indra Sjafri dan tim. Siapapun bisa dikalahkan. Tak harus ciut ketika dengar profil calon lawan, melainkan coba dahulu dengan penuh daya juang, karena hanya dua yang mustahil di kalahkan di dunia ini, yaitu, Tuhan dan Orang Tua, ujar Evan Dimas saat diwawancarai beberapa saat di terowongan Gelora Bung Karno.

Terima Kasih Evan Dimas

Terima Kasih Coach Indra Sjafri

Terima Kasih seluruh Pemain Timnas U 19

Terima Kasih Seluruh Pemain Ke 12

Dan terima kasih seluruh tim dan official Timnas U 19

Posted: October 13th, 2013
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Setangkai Kembang Pun Ikut Menangis di Atas Meja Kerja Akil Mocthar (Dr.A)

Gunung emas meletus. Lahar mengalir ke telinga penduduk seantero negeri. Batu demi batu bergelindingan dari puncak menyapu pemukiman penduduk yang baru saja menarik kain selimut, memadamkan pencahayaan kamar, dan juga baru melafalkan doa sebelum memejamkan mata. Lahar dan bebatuan tak pernah mau tahu kondisi mereka. Terus menyapu dengan luapan genangan demi genangan. Penduduk mau tidak mau harus bangun. Melupakan niatnya untuk tidur dan beristirahat setelah seharian mencari dan mengolah kesempatan menjadi setitik berlian.

Alih-alih gunung yang bernama emas memecahkan kepadatannya dengan membagi sepotong batangan emas kepada para penduduk yang berada persis dekart lerengnya, gunung tersebut mengeluarkan bebatuan yang tajam. Menusuk dan menghujam raga dan jiwa mereka. Bebatuan itu tersiar dengan jelas setelah media layar kaca, media online, serta jejaring sosial secara massif menyebarkan luas di seantero negeri. Bagaimana tidak, punggawa atau kuncen dimana lembaga yang mempunyai kredibilitas tinggi bak wakil tuhan di muka bumi Indonesia, terjerat kasus yang sering dimaki-maki oleh dirinya sendiri.

Nasi telah menjadi bubur. Upaya apapun untuk mengembalikan marwah lembaga peradilan konstitusi negara ini sama seperti maghrib atau sebelum jam 22:00 di hari Rabu, 03 Oktober 2013, tidak akan pernah bisa dan sama. Superhero manapun juga tak berdaya. Para punggawa terdahulu, Prof J dan Prof M sangat menyesalkan. Tidak hanya menyesalkan, tapi meminta Dr A dihukum mati, Prof M pun tidak ketinggalan, saking kesalnya, ia memimpikan Lembaga Peradilan tersebut dibubarkan saja. Pasrah dan lelah.

Hampir semua makhluk yang hidup di bumi pertiwi ini sudah tahu apa saja yang memaksa mereka bersedih melihat kasus yang melumat reputasi Dr. A, sang punggawa lembaga peradilan yang baru saja dilantik. Mungkin tak hanya makhluk hidup sejenis manusia saja yang bersedih. Tumbuhan, kembang yang ada di meja kerja Dr. A pun ikut menangis, sedih dan berkabung, sambil berpikir “kok bisa ya, Pak Bos termakan isu yang selalu dimakinya”.

Sebagai penduduk yang ikut terhempas akibat genangan bebatuan tersebut, kita tak harus meratapi musibah ini. Semua sudah tertulis di lauhul mahfudz. Tentang apa dan kemana segala sesuatu berakhir. Sedih, dan meyesalkan itu manusiawi.

Namun, jika harus terus meratapi, tidak akan pernah bisa selesai. Kita harus berupaya kembali, menerbangkan dan membuat lembaga peradilan yang memiliki kerendahan marwah dapat mengangkasa kembali. Titik rendah kepercayaan terhadap lembaga tinggi negara ini, harus diangkat kembali. Inilah sikap kita sebagai korban yang bijak, tak harus sedih selamanya. Berbuat dari diri sendiri. Kembalikan optimisme buat bangsa secara keseluruhan, bahwa masa depan Indonesia akan cerah. Kejadian yang menimpa punggawa Dr. A hanya pelajaran yang harus dicari tahu, apa hikmah dibalik semua ini.

“Bangkitlah Negeriku, Harapan Itu Masih Ada”.