Belajar dari Deadlock Rapimnas PPP dan Model Organisasi Mahasiswa

Oleh:

M Rodhi Aulia

(Masih Bodoh)

Ditulis Minggu 11 Mei 2014 | Dimulai Pukul 13:15 WIB | Selesai Pukul 14:33 WIB| Durasi Baca: 4 Menit

Rapimnas PPP malam kemarin, Sabtu, (10/5) mempunyai banyak perspekif. Tentang tarik- ulur mendukung siapa dan partai apa terkait pilpres 9 Juli mendatang. Pagi sebelumnya, Sekjen PPP sudah mengatakan keputusan final arah koalisi bisa ditetapkan pada malam hari.

Sementara itu, Ketua Umum Suryadharma Ali mengatakan keputusan tidak perlu diambil lama-lama dan keputusan harus mufakat dan bulat. Namun sampai pukul 24:00 WIB, Rapimnas ditunda. Sebenarnya bukan ditunda, Rapimnas belum sama sekali dimulai, bahkan tata tertibnya saja belum dibahas.

Saya bertanya kepada salah seorang Ibu pengurus yang duduk lemas di sudut ruangan. “Jadi ngapain aja dari siang tadi bu”.

“Cuma main-main aja,”selorohnya bernada kesal.

Sebuah ilustrasi dan sekelumit cerita bagaimana sebuah keputusan diambil. Terutama dalam suatu partai politik yang sebenarnya muaranya adalah ajang lima tahun sekali ini. Mendukung calon A atau B atau diluar A dan B tersebut. Semua pilihan tersebut memiliki konsekuensi logis yang sangat jelas. Sangat berdampak pada eksistensi sebuah partai dan tujuan didirikannya.

Saya sangat meyakini semua partai pasti mempunyai tujuan, yang dapat di-break down menjadi visi dan misi yang tertulis rapi. Namun, sekumpulan orang yang menggerakkan partai tersebut juga mempunyai tujuan dan misi masing-masing. Nyaris tidak ada tujuan dan arah perjuangan partai yang mutlak sama dengan garis perjuangan masing-masing individu.

Saat Rapimnas berlangsung, saya sempat berbincang dengan salah seorang yang mengaku simpatisan PPP bukan kader. Dari cara berbicaranya terlihat sangat memahami ‘dalam’ apa yang diperjuangkan PPP kendati kalau dilihat dari penampilannya malam itu, seperti tampilan gaya preman saja. Semula saya menyangka dia adalah intel. Ia mengatakan bahwa PPP sangat berbeda dengan partai politik yang ada. Dari banyak model berpikirnya yang membuat saya takjub, ada beberapa hal yang ingin saya bagikan dan relevan dalam hal ini.

Menurutnya, parpol yang tercipta di muka bumi ini hanya ada dua, yakni sengaja didirikan dan mendirikan. Didirikan maksudnya adalah dibangun dengan seorang tokoh atau sejumlah tokoh yang sangat terbatas. Tokoh tersebut memiliki semua prasyarat, sehingga dengan mudah bisa mengendalikan kemudi arah partai, kendati secara formalitas didirikan dengan sejumlah orang.

Model kedua adalah sekumpulan orang yang setara memiliki kesamaan cara pandang dan kapasitas yang relatif sama dan berkeinginan melebur jadi satu dalam suatu wadah yang menjadi kendaraan politik. Para pendiri memiliki derajat pengaruh yang setara. Sehingga semua yang tergabung didalamnya merasa memiliki kekuatan yang sama.

Memiliki kesempatan yang sama dan hak yang sama,meskipun sudah ada pembagian porsi jabatan dan kewenangan di masing-masing posisi. Model inilah yang teridentifikasi dalam tubuh partai berlambang kabah tersebut. Istilah sederhananya adalah satu kendaraan memiliki banyak supir atau satu rumah, majikannya banyak.

Maka sangat wajar bila hampir semua agenda yang dilakukan oleh PPP, terutama menjelang pileg dan pilpres jadwal dan semua rencana yang sudah diagendakan berubah dan menjadi setia dengan gaya karet. Melentur, melebar, memanjang sampai pada batas akhirnya.

Memang benar, kata banyak orang, politik penuh dengan dinamika yang tidak menentu. Bahkan sang ketua Umum PPP Suryadharma Ali mengatakan bahwa PPP selama ini berada dalam berbagai posisi yang sangat angker. Dalam sambutan Rapimnas tersebut dia mengatakan seperti ini.

“Ada yang belok ke kanan dan ke kiri tanpa menghidupkan sen. Ada tikungan tajam. Ada turunan yang curam dan ada yang berupaya menyalip di tikungan.”

Hal tersebut menurut SDA merupakan indahnya cara berdemokrasi yang dipertontonkan PPP kepada khalayak luas. Sejurus dengan itu, SDA berharap pada Rapimnas final tersebut untuk segera mengambil kesepakatan yang mutlak selesai tanpa mengikuti sifat karet. Namun, harapan dan himbauan sang nahkoda partai seolah dianggap angin lalu saja. Mau tau kenapa?

Begini jawab seorang yang menggunakan pakaian preman di atas. “Kamu lihatlah, cara mereka Sekolah gimana dulu. Cara mereka berorganisasi gimana dulu. “

Saya langsung memahami apa yang dimaksud olehnya. Meskipun hal yang membuat macet keputusan tersebut adalah bagian dari dinamika perjuangan. Tapi saya tidak sependapat dengan alasan terakhir yang disebutkan olehnya, yaitu begitulah seharusnya demokrasi dijalankan karena latar belakang mereka seperti itu.

Menurut saya, dinamika dalam mengambil keputusan memang bagian yang tidak terpisahkan dalam pengambilan keputusan. Argumentasi, cara pandang, dan model penyampaian pendapat lainnya sangat boleh dilakukan. Namun tentunya harus mempunyai kerangka batas yang jelas.

Pertama gejolak internal jangan sampai bocor keluar. Kemudian, ketika proses penyampaian argumentasi dinilai tidak lagi sehat dan kondusif, maka semua yang berhak harus mendengarkan pandangan orang yang dituakan, terutama pemimpin tertinggi. Bukan hanya mengaku mendengar, tapi tidak pernah benar-benar sanggup dilaksanakan.

Apa gunanya mengangkat seorang pemimpin, lalu ketika dia menjabat seperti macan ompong. Seharusnya (Sami’na Wa Atho’na). Kami Mendengar dan kami Mentaati. Begitupun juga dengan pemimpin tertinggi. Tidak seharusnya memaksakan kehendak kepada yang dipimpin.

Sejatinya pemimpin adalah pengatur irama nada yang berkembang agar terdengar merdu dan harmoni. Mendengarkan aspirasi, mengkajinya, dan mengambil keputusan. Lalu sampaikan dengan jelas, kenapa keputusannya A atau B secara jelas dan clear, tanpa ada hal yang disembunyikan dari mereka yang berkompeten untuk tahu. Inilah yang dinamakan demorkasi sejati.

Pun halnya dengan Mahasiswa yang mengaku aktif di berbagai organisasi besar di Indonesia. Ketidakharmonisan para pejabat publik atau para policy makers di negara ini sering terjadi. Meski semua kanal sudah dibuka lebar. Namun hasil akhirnya, selalu tidak disetujui dan dipahami oleh semua yang terlibat.

Mahasiswa yang mengaku aktif dalam organisasi sejatinya adalah miniatur decision maker dalam negara ini. Jangan pernah berekspektasi lebih untuk melihat pejabat kita di level strategis sana mempertontonkan cara mengambil dan menerima keputusan yang sportif dan bersifat ksatria. Bila kita saja, kalian saja, yang aktif dalam berorganisasi selalu chaos dalam setiap pertemuan, rapat kerja, dan pemilihan ketua yang baru. Padahal masih ada cara smart lainnya.

“Seperi halnya, memecahkan kaca, bersuara tidak lazim, melempar kursi, beradu kekuatan otot dan sebagainya. “

Saya sangat paham chaos dan sejenisnya adalah dinamika. Namun seberapa setiakah kalian dengan dinamika itu? Apakah tidak mungkin dinamika yang bermodel chaos tersebut bisa dihilangkan, atau di-skip saja dengan menggantikannya dengan pola-pola yang santun, cerdas dan rapih.

“Jika tidak, jangan terlalu percaya diri memberi raport merah kepada para penguasa. Kepada para pemangku kebijakan. Kepada petinggi. Kepada siapapun itu.”

Bahkan saking kesalnya saya melihat itu, pernah saya katakan kepada pentolan kubu yang sedang bertikai di Jalanan.

“Kalau memang mau beradu otot dalam mengambil keputusan ada dua syaratnya. Jangan Cuma berani rame-rame. Yang kedua, kalau memang mau berantem harus ada yang mati.”Sadis ga tuh.

Jangan-jangan hipotesis saya selama ini benar. Organisasi kampus seperti ‘itu’ melahirkan prilaku pejabat yang tidak Wow.

*Tulisan iseng bangun tidur abis begadang di Rapimnas PPP.

Posted: May 11th, 2014
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Gara-gara Sampah, Bandung Dijuluki The City of Pigs

Adalah sebuah keniscayaan dimana adakehidupan berlangsung, disana ada sampah. Namun yang menjadi permasalahan ketika sampah tersebut menumpuk bukan pada tempatnya. Sehingga dapat merusak pemandangan serta menjadi sumber penyakitdan sebagainya.

Seorang warga Bulgaria, Inna Savova, mendadak ngetrend di dunia maya Indonesia. Ia menuliskan pandangannya terhadap sampah yang banyak menumpuk di Indonesia, terutama di Bandung dalam blog pribadinya venusgotgonorrhea.wordpress.com.

Tulisan yang dikemukakannya bukanlah sebuah complain saja, melainkan ia sedang mencoba membersihkan dan memungut sampah semampunya. Namun tulisan tersebut menuai banyak komentar sejak diposting pada pertengahan Januari silam. Terutama komentar yang bernada kontra. Lagi-lagi sebagian besar masyarakat kita terjebak dengan sesuatu yang tidak subtantif. Hanya terjebak dan bersemangat menyalahkakan secara manner, pemilihan kata (diksi), atau pelengkap lainnya.

Berawal dari sang penulis menganalogikan Bandung sebagai the city of pigs. Menurut pengakuannya, sebutan tersebut diambil olehnya dari istilah yang pernah digunakan Socrates. Dalam hal ini, ia kembali menggunakan karena melihat mayoritas warga Bandung tidak suka dan jijik dengan babi dan terlalu kotor untuk dimakan. Sementara itu, mereka hidup di lingkungan yang lebih kotor dari babi.

Mulai dari tempat sampah yang telah disediakan pemerintah kota tidak berguna secara maksimal hingga kesadaran membuang sampah pada tempatnya serta paradigma dan kebiasaan memungut sampah yang masih dianggap sebuah kebiasaan orang miskin, tak terdidik, hina dan sebagainya.

Kalimat tersebut memang sekilas terlihat tidak elok dan sebagainya. Ia sadar bahwa hal demikian sengaja ia gunakan agar kesadaran masyarakat kota lebih meningkat lagi. Tidak hanya sebatas ingin dan memimpikan kota yang bersih, bebas dari banjir dan sebagainya lalu cukup duduk manis sambil komat kamit sana-sini.

Ironisnya, mimpi masih sekedar mimpi. Sampah berserakan dimana-mana. Sepanjang mata memandang, sampah selalu ada dan sebagainya. Terutama saat hujan melanda kota Bandung. Hampir sepanjang jalanan selalu terlihat parade sampah berjalan mengikuti genangan air yang meluap di atas aspal. Hal tersebut sungguh lazim terjadi.

Dan sekarang, apakah masyarakat kota masih hanya bisa bermimpi saja atau berharap pada sosok yang bernama Ridwan Kamil dan perangkatnya untuk mewujudkan itu semua. Tentu hal ini sangat mustahil akan terwujudnya Bandung yang bermartabat. Pada dasarnya, semua kebijakan apapun yang dikeluarkan pemerintah sangat bergantung pada kesiapan masyarakat atau respon mereka. Apakah berpartisipasi aktif dalam menyukseskannya atau hanya sekedar menyalahkan saja tanpa berperan apa-apa.

Maka tida heran bila akhir-akhir ini Walikota Ridwan Kamil selalu mengeluhkan hal ini. Ia mengajak semua lapisan masyarakat agar berperan aktif dalam mendukung segala bentuk kebijakan yang sebenarnya untuk kebaikan bersama. Kebijakan demi menata kota menjadi lebih baik dan asri. Sesuai dengan julukannya, Bandung kota bermartabat.

Jika tidak mampu berperan aktif dalam mendukung program pemerintah, Ridwan Kamil meminta masyarakat untuk tidak menjadi bagian dari permasalahan tersebut. Tidak hanya masalah sampah, masalah lainnya pun sebisanya tidak dilakukan oleh masyarakat. Karena Sebagaimana yang diungkapkan sang walikota dalam akun twitternya.

1.komplain ttg sampah, padahal dirinya hobi buang sampah sembarangan. Marah2 ttg macet padahal dirinya yg bikin macet. #Mari_Introspeksi

2.You often blame the society, but you are the society. You often blame the problem, but you are part of the problem. #Mari_Introspeksi

3.Nu matak tong sok miceun runtah dimana wae. RT @AndRieCoach: Kumaha tah pa “@kompascom: Penuh Sampah, Bandung Dibilang “The City of Pigs”

4.keduanya penting. peraturan adlh “kesepakatan” RT @rahim_abs: diobati oleh keteladanan pemimpinnya, tidak oleh *peraturan*. *zonamerah *PKL

Dari sejumlah pernyataannya, terlihat jelas sang walikota membutuhkan kontribusi nyata dari masyarakat kota itu sendiri. Setidaknya tidak menjadi bagian yang merusak cita-cita mulia yang sedang dibangun. Tanpa menganggap sudah sempurna, walikota yang baru terpilih tersebut telah banyak membuat terobosan super kreatif. Rencana membuat taman-taman tematik yang lebih banyak, danau-danau kecil, melokalisir para pengamen di sekitar 300-an hotel di seluruh Bandung, angkutan sekolah gratisdan sebagainya.

Kalau diperjelas lagi, tentu hal demikian salah satu cara untuk terus berbenah dan mengembalikan image Bandung sebagai paris van java.Rencana pembuatan danau-danau kecil, sumur resapan, membuang sampah pada tempatnya adalah langkah nyata menuju Bandung bebas banjir.

Program satu hotel satu grup pengamen, penertiban PKL, bus gratis bagi pelajar, adalah langkah nyata menuju jalanan Bandung bebas dari macet dan sebagainya. Pembangunan taman-taman tematik, disamping menjalankan UU Ruang Terbuka Hijau (RTH), juga termasuk upaya pemerintah kota dalam memelihara kreatifitas, dan juga memelihara rasa bahagia agar tetap menyelimuti perasaan-perasaan warga kota secara manusiawi. Hal-hal sederhana tersebutlah yang menentukan masa depan kota Bandung dan banyak lagi program kreatif lainnya.

Rasanya beruntung sekali Kota Bandung dipimpin oleh seorang Ridwan Kamil. Mungkin perlu dicermati, seorang pemimpin dipilih bukanlah untuk hanya menaikkan posisinya sebagai pemimpin saja lalu cukup. Akan tetapi masyarakat selaku pihak yang dipimpin harus terus menstimulus agar pemimpin bersemangat mengeluarkan ide-ide briliannya dan masyarakat siap mewujudkan nyata ide-ide brilian tersebut.

Bukan hanya sebatas jadi tim sukses saja, relawan saja, atau loyalis saja, melainkan lebih dari itu. Karena inti dari kepemimpinan adalah perwujudan ide-ide dan sebagainya.

Inilah yang menjadi kegelisahan saya setiap kali menerima mater-materi kepemimpinan, politik, manajemen dan sebagainya. Masyarakat ‘terkadang’ tidak terlalu mengerti dengan statemen besar atau narasi besar yang cenderung absurd, melainkan mereka hanya butuh ide-ide sederhana, kecil dan nyata. Terlebih lagi harus konsisten.

Dan pada akhirnya, tulisan yang dibuat oleh Inna Savova,sejatinya hanya bentuk ungkapan untuk menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat kota, tidak hanya yang bermukim lama saja, melainkan para pendatangpun harus ikut serta mewujudkan ide-ide tersebut. Inna pun membuktikan hal tersebut. Ia akan tetap mencintai dan memimpikan kota ini menjadi lebih baik.

Maka dari itu, dalam tulisan terbarunya, ia mengundang seluruh lapisan masayarakat kota agar ikut serta memungut sampah bersama di Taman Lansia pada hari Sabtu (08-02-2014) pukul 8 pagi. Semoga ini menjadi langkah sederhana yang konsisten dalam mewujudkan Bandung Juara, Bandung Bermartabat, dan Paris van Java yang baru. Bule saja peduli, masyarakat kota, why not?

Mari merevolusi negeri ini dengan hati (Ridwan Kamil)

Hanya tuhan yang lebih tahu kesempurnaannya.

Posted: February 5th, 2014
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Evan Dimas: Semua Bisa Dikalahkan, kecuali Tuhan dan Orang Tua

Oleh:

M. R. Aulia

(Beswan 27, Bandung)

*Ditulis Minggu Pagi, 13 Oktober 2013.

Suasana haru, tangis bahagia, menderu langit malam Indonesia 12/10/2013. Pasalnya, Evan Dimas dan kawan-kawan, berhasil mengukir sejarah mengalahkan tim asal negara Ginseng, Korea Selatan yang notabene pemegang rekor terbanyak 12 kali juara. Evan Dimas mengungkapkan bahwa ia dan teman-temannya sangat senang dan bersemangat berkat pemain ke 12 yang membanjiri Gelora Bung Karno. Mereka para pemain timnas U 19 tidak pernah melihat GBK semerah dan meriah jika dibandingkan pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Sebelumnya, Evan Dimas merupakan satu-satunya alumni Nike The Chance 2012 di La Masia, Barcelona yang tampil di piala AFF 2013. Namun, Anak muda kelahiran Surabaya, 13 Maret 1995 tersebut, tidak bisa melanjutkan latihannya di La Masia dikarenakan tidak terpilih untuk maju ke tahap selanjutnya. Akan tetapi, kegagalan tersebut tidak membuatnya bersedih, ia berkeyakinan akan ada jalan yang lebih baik nantinya. Terbukti kontribusi besarnya, hatrick ke gawang Korea Selatan.

Malam itu, ketika on match, Evan Dimas Darmono dkk, berhasil memberikan performa permainan yang sangat menarik. Hal itu diakui oleh Pelatih Indra Sjafri selang beberapa waktu setelah pertandingan usai. Anak asuhnya tidak hanya menggetarkan gawang Korea Selatan, melainkan membuat pemain Korea kewalahan melihat cara bermain Evan Dimas Dkk. Ia juga memberikan kepercayaan kepada pemainnya, untuk melawan siapapun, kalian pasti bisa. Tim raksasa asia sekalipun bahkan tim raksasa dunia.

Maka dari itu, Evan Dimas dkk, mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi. Ketenaran dan kebesaran timnas Korea Selatan tidak membuat nyalinya ciut. Ia berkeyakinan bahwa semua bisa dikalahkan kecuali tuhan dan orang tua. Maka tidak heran, tiga lesakan bola yang dihempaskannya masuk sempurna mengelabuhi kiper Korea Selatan.

Kepercayaan diri bangsa Indonesia yang selama ini menggerogoti kualitas timnas Indonesia. Indra Sjafri, sangat optimis bisa mengalahkan Korea Selatan. Namun keyakinan tersebut dibantah banyak pihak. Mereka menyebutkan pernyataan Indra Sjafri tersebut merupakan pernyataan yang sangat arogan. Maka dari itu, Indra Sjafri sangat menyesalkan. Inilah penyakit bangsa Indonesia. Selalu merasa lebih bodoh dibandingkan tim yang sudah dikenal daya tempurnya. Oleh karena itu, Indra Sjafri menyerukan kepada masyarakat Indonesia, mulai malam ini, pasca kemenangan Indonesia, tanamkan dalam hati, bahwa raksasa Asia akan datang dari Indonesia.

Saya sangat setuju dengan optimisme sang pelatih. Walaupun di masa yang akan datang ditemukan hasil di luar harapan, tapi setidaknya, Indra Sjafri memberikan terapi kepada seluruh masyarakat Indonesia tentang mentalitas sebagai bangsa yang sangat besar. Tentunya tidak hanya besar secara populasi, melainkan besar dalam kualitas.

Akhirnya, apa yang diperagakan Evan Dimas Darmono dan kawan-kawan dalam pertandingan Indonesia versus Korea Selatan adalah bentuk kepercayaan diri yang telah dibangun Indra Sjafri dan tim. Siapapun bisa dikalahkan. Tak harus ciut ketika dengar profil calon lawan, melainkan coba dahulu dengan penuh daya juang, karena hanya dua yang mustahil di kalahkan di dunia ini, yaitu, Tuhan dan Orang Tua, ujar Evan Dimas saat diwawancarai beberapa saat di terowongan Gelora Bung Karno.

Terima Kasih Evan Dimas

Terima Kasih Coach Indra Sjafri

Terima Kasih seluruh Pemain Timnas U 19

Terima Kasih Seluruh Pemain Ke 12

Dan terima kasih seluruh tim dan official Timnas U 19

Posted: October 13th, 2013
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Setangkai Kembang Pun Ikut Menangis di Atas Meja Kerja Akil Mocthar (Dr.A)

Gunung emas meletus. Lahar mengalir ke telinga penduduk seantero negeri. Batu demi batu bergelindingan dari puncak menyapu pemukiman penduduk yang baru saja menarik kain selimut, memadamkan pencahayaan kamar, dan juga baru melafalkan doa sebelum memejamkan mata. Lahar dan bebatuan tak pernah mau tahu kondisi mereka. Terus menyapu dengan luapan genangan demi genangan. Penduduk mau tidak mau harus bangun. Melupakan niatnya untuk tidur dan beristirahat setelah seharian mencari dan mengolah kesempatan menjadi setitik berlian.

Alih-alih gunung yang bernama emas memecahkan kepadatannya dengan membagi sepotong batangan emas kepada para penduduk yang berada persis dekart lerengnya, gunung tersebut mengeluarkan bebatuan yang tajam. Menusuk dan menghujam raga dan jiwa mereka. Bebatuan itu tersiar dengan jelas setelah media layar kaca, media online, serta jejaring sosial secara massif menyebarkan luas di seantero negeri. Bagaimana tidak, punggawa atau kuncen dimana lembaga yang mempunyai kredibilitas tinggi bak wakil tuhan di muka bumi Indonesia, terjerat kasus yang sering dimaki-maki oleh dirinya sendiri.

Nasi telah menjadi bubur. Upaya apapun untuk mengembalikan marwah lembaga peradilan konstitusi negara ini sama seperti maghrib atau sebelum jam 22:00 di hari Rabu, 03 Oktober 2013, tidak akan pernah bisa dan sama. Superhero manapun juga tak berdaya. Para punggawa terdahulu, Prof J dan Prof M sangat menyesalkan. Tidak hanya menyesalkan, tapi meminta Dr A dihukum mati, Prof M pun tidak ketinggalan, saking kesalnya, ia memimpikan Lembaga Peradilan tersebut dibubarkan saja. Pasrah dan lelah.

Hampir semua makhluk yang hidup di bumi pertiwi ini sudah tahu apa saja yang memaksa mereka bersedih melihat kasus yang melumat reputasi Dr. A, sang punggawa lembaga peradilan yang baru saja dilantik. Mungkin tak hanya makhluk hidup sejenis manusia saja yang bersedih. Tumbuhan, kembang yang ada di meja kerja Dr. A pun ikut menangis, sedih dan berkabung, sambil berpikir “kok bisa ya, Pak Bos termakan isu yang selalu dimakinya”.

Sebagai penduduk yang ikut terhempas akibat genangan bebatuan tersebut, kita tak harus meratapi musibah ini. Semua sudah tertulis di lauhul mahfudz. Tentang apa dan kemana segala sesuatu berakhir. Sedih, dan meyesalkan itu manusiawi.

Namun, jika harus terus meratapi, tidak akan pernah bisa selesai. Kita harus berupaya kembali, menerbangkan dan membuat lembaga peradilan yang memiliki kerendahan marwah dapat mengangkasa kembali. Titik rendah kepercayaan terhadap lembaga tinggi negara ini, harus diangkat kembali. Inilah sikap kita sebagai korban yang bijak, tak harus sedih selamanya. Berbuat dari diri sendiri. Kembalikan optimisme buat bangsa secara keseluruhan, bahwa masa depan Indonesia akan cerah. Kejadian yang menimpa punggawa Dr. A hanya pelajaran yang harus dicari tahu, apa hikmah dibalik semua ini.

“Bangkitlah Negeriku, Harapan Itu Masih Ada”.

Posted: October 3rd, 2013
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Pahlawan Titik Balik

 

Mr. Aulia

Beswan 27 Regional Bandung

 

Sebagian besar orang yang kita anggap sukses saat ini, pasti mempunyai pahlawan titik balik. Sosok yang berperan besar akan kesuksesannya. Seperti halnya, orang yang merekomendasikan kita untuk hadir dalam kegiatan tertentu, atau mereka yang mengundang kita untuk mengikuti ajang kompetisi tertentu, sehingga ketika berhasil, nama kita mulai bersinar dan sebagainya.

 

 

Seperti halnya aktor Indra L Brugman. Seorang anak daerah yang bersinar di Ibu kota. Sebelumnya, ia bukan siapa-siapa. Anak kampung yang terlahir dari keluarga sederhana. Penuh dengan keperihatinan dalam menjalani roda kehidupan. Suatu waktu, ia diajak temannya untuk ikut casting. Setelah berkali-kali gagal dan terus berbenah, ia bertemu dengan sosok yang bisa dikatakan pahlawan titik balik dalam karir keartisannya, yaitu Benny Simanjuntak. Atas rekomendasi temannya dan bimbingan Benny, Indra L Brugman mendapat keberuntungan di dunia keartisan di samping peran sang maha pencipta, orang tua dan kerabat lainnya.

 

 

Lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana kabar diriku, kita dan kalian semua yang sedang berjuang menggapai impian? Siapa yang menjadi pahlawan titik balik diri? seorang yang benar-benar menyelamatkan raga dengan menggandeng tangan kita ketika mata tak mampu melihat, telinga tak berdaya mendengar, hati kehilangan getarannya, lidah yang lupa menjalankan perannya untuk merasa.

 

 

Di saat kehilangan arah dalam perjalanan menggapai impian. Punya impian saja sudah naik kelas, dibandingkan yang sampai sekarang tidak mengenal apa yang menjadi impiannya. Punya impian saja, juga tidak cukup. Sering kali kita menemukan jalan buntu ketika dalam perjalanan menggapai impian.

 

 

Lelah, putus asa, membatalkan perjalanan secara tiba-tiba menjadi cerita yang berkenan hadir dan sangat setia dalam kehidupan pejuang untuk menggapai impian. Pandangan mata mendadak kelam, resah, gelisah, keputusan sesaat diambil. Ini menjadi saat yang sangat menentukan. Dimanakah kita saat itu? Siapa saja yang berada dalam lingkaran keseharian kita? Apa saja yang sering kita baca? Ketika siapa dan apa yang ada dikala kita melemah adalah mereka yang punya jiwa pembela, jiwa penopang dan jiwa penghibur, mereka adalah pahlawan titik balik yang sebenarnya.

 

 

Mereka ini yang bisa dianggap titik balik semangat untuk terus berjalan menggapai impian. Sikap membela, menopang, dan menggandeng tangan kita untuk menelusuri ke arah tempat impian bersemayam. Sosok penyelamat yang sengaja dikirimkan sang maha pencipta. Kita berharap penopang itu segera hadir, terasa nyata akan ikhlas membantu.

 

Pertanyaannya, apakah sudah hadir atau belum? Bisa jadi, kita jarang menyadari orang yang kita harapkan sudah hadir dalam keseharian, atau mereka masih dalam perjalanan untuk menemukan kita.

 

 

 

Namun, harapan dan semangat untuk berbenah harus terus diasah langsung dari dalam diri, sambil menanti sosok yang menjadi hero sekaligus sahabat selama mengarungi perjalanan hidup. Tidak hanya menanti sampainya mereka, tapi harus menjemputnya dengan kemampuan yang ada. Bagaimana cara menjemputnya? tentu dengan terus berbenah, berbenah dan berbenah di setiap kali mata terbuka setelah bangun dari lelapnya tidur.

 

 

Apa itu berbenah? To Do Something. To Do and To Do. Not just enjoying, listening and sleeping. Percuma kita bertemu langsung orang yang mampu menginspirasi, kalau kita hanya jadi penikmat, mendengarkan, tergugah ruah, namun sebatas dalam ruangan, tanpa berkeinginan kuat terus berbenah dan menujukkan progres yang kita hasilkan sendiri, hari demi hari.

 

Perjalanan harus berlanjut. Komitmen yang harus tertanam dalam jiwa. Apapun keadaan kita saat ini, tak boleh menjadikan kelemahan sebagai alasan yang mematikan langkah. Cemoohan, cibiran serta makian bukan alasan untuk berhenti. Begitupun pujian, bukan alasan untuk merasa bahwa perjalanan sudah sampai dan berakhir.

 

Karena sejatinya, pahlawan titik balik yang sebenarnya adalah motifasi yang tersimpan dalam sanubari setiap manusia. Cara yang termudah adalah mengolah energi positif orang sekitar dan melahap bacaan yang menginspirasi.

 

Bermunajat pada sang pencipta, meminta dukungan orang tua serta terus berusaha dan berbenah, baik dikala ada yang memegang tangan kita dan menuntun diri, atau dikala kita kehilangan teman dalam berjuang.

 

 

 

Posted: September 29th, 2013
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Dooooooorrrrrrrrrr (Stop)

 

Oleh:

Mr. Aulia

Dooorr Suara Moncong Meletup

Membuyarkan pikiran orang sekitar

Kuli tinta semula mencari kehebohan

Dari dalam gedung tempat dimana

Banyak pejabat menjadi tersangka

Berhamburan berbalik arah

Mencari sumber suara

Door Door Door Door

Empat kali suara itu menyambung

Tiba-tiba aparat berbaju Abu Coklat

Tergeletak bersimbah darah

Peluru masuk tanpa izin dalam

Tubuh sang Aparat

Untuk kesekian kalinya

Aparat menjadi incaran

Mungkin ini…

Ajang memberi peringatan

Agar aparat lebih ramah kepada banyak orang

Tak slalu menunjukan kekuatan

Di semua titik keberadaan

Semoga menjadi pelajaran

 

 

*Ditulis sebagai bentuk kekhawatiran agar kejadian serupa tidak terjadi lagi, karena saya merasa semakin banyak aturan, semakin ketat penjagaan akan sesuatu apalagi tempat publik, alih-alih rasa aman yang didapatkan, malah rasa ketidaknyamanan yang seringkali muncul. Pengalaman saya juga dirasakan Mbak @TrinityTraveler  di setiap negara yang menjadi destinasinya. Intinya, kalau jadi orang ‘gede’ ga perlu lebay banget penjagaannya. hehee

Turut berduka buat keluarga besar Bripka Sukardi dan Umumnya Kepolisian RI.

 

 

 

 

 

 

 

Posted: September 10th, 2013
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Tema: SKCK dan Kartu Kuning

Labuhan Masa Depan Para Lulusan

Mr. Aulia

Bebas dari gelombang selimut

Yang menggulung raga sejak malam

Siang terik mengarahkan tunggangan

Menuju salah satu titik penjelas dimana akan

Mendedikasikan ilmu dan pengalaman

Kartu kuning, SKCK, surat keterangan lainnya

Titik demi titik yang berkenan

Memperjelas labuhan masa depan

Ragam tingkatan dan lama belajar

Tak merubah cara menduduki

Suatu perusahaan maupun lembaga

Sesampainya di suatu ruangan

Yang berwenang mengeluarkan

Dokumen berstatus wajib

Mau tak mau semua harus mendapatkannya

Untuk menukarkan di meja lamaran

Harapan besar cemas menduga-duga

Agar diterima sebagai pekerja

Menjadi bagian dari tempat impian

Mendapatkan banyak ganjaran

Inilah yang sedang

Banyak dilakukan

Para lulusan tahunan

Menjadi pekerja dimana saja hati inginkan

Mondar-mandir demi dokumen

Rela dijalankan

Asal labuhan masa depan

Didapatkan penuh keharuan

Posted: September 10th, 2013
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Tema: Sarjana Bodong

 

Sang Sarjana Bermental ‘Percuma’

@Auliaphd*

Cihanjuang, 10 September 2013

Pagi Ku Cerah

Cahaya Luar Jendela

Pagi Ku Kelam

Tak bisa Buka Mata

Terbuai banyak mimpi-mimpi palsu

Yang Ku hanya bisa

Tidur mengurung diri

Bergelombang dengan selimut

Walau pagi sudah beranjak menjauh

Raga belum bisa bangkit

Tak tahu apa yang

Harus dikerjakan

Apakah ini yang namanya malas

Aku tak tahu, aku juga bingung

Mati langkah dan mati gaya

Semua terganjal aturan dan kebijakan

Dari sang pembesar

Yang katanya orang berpendidikan

Yang katanya mengerti masalah itu klasik

Tapi tak mampu menghapuskannya

Mau bergerak, percuma saja

Sampai kapan harus begini

Aku juga paham

Haruskah melangkah jika ada restu saja

Kendati restu yang ditunggu tak pernah mendekat

Sarjana Bodong itu namanya

Kalau masih bermental Percuma.

Menunggu dan menunggu.

 Kasih sayang pemberi.

*Ditulis di kala baru saja bangun tidur pukul 10:00 WIB hari Selasa 10 September 2013, jemari ingin bicara menyampaikan pesan hati pagi ini, inilah hasilnya. Mencoba mengerti apa maksud semua ini.

 

 

Posted: September 9th, 2013
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Pesan Buat Maba UIN Bandung Angkatan 2013

 

 

Oleh:

M. Rodhi Aulia*

Administrasi Negara 2009

Durasi Baca: 3-6 Menit Saja

Selamat datang wahai Maba UIN Bandung. Kalian adalah putra-putri terbaik bangsa. Angkatan 2013 yang sangat cemerlang. Semoga kalian bisa menjadi penerus bangsa yang lahir dari rahim UIN Bandung. Apapun jurusan yang kalian pilih, sengaja menjadi pilihan atau terjebak dengan pilihan yang sulit, sebenarnya inilah gerbang dan jalan masa depan kalian. Tidak ada yang kebetulan. Semua telah direncanakan oleh sang pencipta di Skenario Lauhul Mahfudz. Tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana masa depan akan mewarnai kehidupan kita selanjutnya. Semua tergantung kalian dalam memulai. Apakah dengan penuh semangat atau biasa-biasa saja.

Perjuangan kalian dalam persaingan agar bisa diterima di UIN Bandung tentu banyak cerita. Banyak hal yang mungkin dapat kalian tuliskan, panjangnya berlembar-lembar. Kalaupun diceritakan juga pasti akan berdurasi panjang. Datang dari berbagai daerah terutama dari seantero Jawa Barat,  bahkan dari seluruh Indonesia. Pilihan kalian datang ke kampus ini adalah pilihan tepat. Masa depan ada di tangan kalian. Bukan hanya ada di tangan kampus.

Kalian adalah pewarna bagi kanvas baru yang kalian miliki. Setelah masa putih abu kalian lewati. Siklus kehidupan baru menanti di depan mata. Kanvas tersebut adalah lembaran-lembaran hari, cerita suka, duka bahkan cerita garing,  berbagai hal dari hari pertama sejak dinyatakan sebagai mahasiswa UIN Bandung hingga kalian bisa menyelesaikan pendidikan sarjana tepat pada waktunya.

Tidak akan ada gambar yang menarik di atas kanvas yang kalian miliki, selama kalian pribadi sebagai pewarna, tak pernah mau dan cepat serta tepat dalam menggoreskan segala potensi terbaik dan kreatifitas yang dimiliki. Karena masa depan yang cerah adalah milik mereka yang mampu membenahi dan meningkatkan kualitas diri. Bukan bagi mereka yang hanya menunggu dan bergerak pasif. Kalian makhluk tuhan yang sempurna. Kalian punya potensi terbaik yang sadar atau tidak sedang kalian miliki. Pancarkanlah ia demi masa depan yang cerah.

Dunia kampus adalah dunia akademik dan organisasi. Kalian diminta untuk memenuhi target akademik yang memuaskan. Target penilaian dari berbagai mata kuliah yang kalian ambil. Diharapkan semua mata kuliah sebagai konsekuensi jurusan atau konsentrasi yang dipilih dapat bernilai baik. Lebih-lebih sempurna. Sementara itu, pencapaian akademik yang baik tidak akan membuahkan hasil yang manis ketika bersikap pasif dalam dunia organisasi.

 

Dunia akademik tidak bisa dipisahkan dengan dunia organisasi. Ibarat Air Sirup dan Cereknya. Akademik itu diibaratkan air sirup. Sementara organisasi adalah Cerek. Akan bermanfaat ketika air tersebut dapat dialirkan melalui cerek  kepada gelas-gelas yang membutuhkan. Artinya penguasaan akademik yang baik dapat terlihat ketika mahasiswa tersebut dapat berbuat banyak, aktif dalam suatu organisasi.

Sepertinya, tidak akan pernah rugi ketika kalian bisa menyeimbangkan kemampuan akademik dan organisasi. Suatu saat, jika telah lulus dari pendidikan sarjana, apalagi saat interview kerja, apply buat master bahkan doktor, kalian akan ditanyakan apa saja yang telah kalian perbuat selama di kampus. Terutama pencapaian nilai akademik serta keaktifan dalam berorganisasi.

Kampus ini, mempunyai banyak Unit Kegiatan Mahasiswa  (UKM), Himpunan Mahasiswa, BEM, Dewan Mahasiswa (DEMA) dan Lain sebagainya. Itu semua adalah wadah tempat mengasah kreatifitas sesuai dengan minat dan bakat. Kalian harus mampu bergerak cepat dan tepat dalam menentukan wadah kreatiftas yang kalian inginkan. Tentunya berdasarkan passion, desire, hasrat serta hati nurani kalian. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan belaka. Ikutan teman, pacar dan lain sebagainya.

Perjuangan mahasiswa tidaklah mudah. Apalagi menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Perjuangan menjalani hari demi hari saat berstatus sebagai mahasiswa tidak akan pernah lepas dari debu-debu perjalanan. Artinya, tidak ada perjuangan yang santai dan bebas dari suka dan duka. Semua ada pengorbanan. Baik fisik, materi dan psikis. ‘Cape hati, cape harta, cape raga,..’ dan sebagainya. Itu semua konsekuensi yang tidak pernah hilang dari setiap peredaran kaum pejuang.

Saat ini, sekarang ini saat kalian baru menyandang status sebagai mahasiswa baru, pasti melihat begitu ramainya orang yang berstatus sama dengan kalian. Ribuan mahasiswa baru yang masuk setiap tahunnya. Terutama tahun 2013 ini. Seiring berjalannya waktu, teman dan orang yang banyak itu, sedikit demi sedikit akan berguguran di tengah perjalanan. Berhenti sengaja atau dengan alasan lain. Menyandang status sebagai mahasiswa pasti jauh berbeda dengan masa putih abu dan masa-masa sebelumnya. Kalian masuk di tahun yang sama, tahun 2013, tidak menjamin akan lulus bareng di tahun yang sama. Tergantung ketekunan dalam berjuang.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa baru adalah pilihan yang tepat dan hanya dapat dinikmati bagi mereka yang beruntung. Karena tidak semua kaum putih abu dapat merasakan apa yang kalian rasakan saat ini. Pilihan yang sudah dan sedang melekat di pundak kalian, yaitu pilihan jurusan, kampus, daerah dan sebagainya adalah pilihan yang tepat. Karena ini gerbang masa depan yang telah ditetapkan sang sutradara yang mahabesar. Sebagai mahasiswa kita hanya dituntut berusaha semaksimal mungkin dan terus mengembangkan kualitas diri secara pro aktif dan sekali lagi pro aktif.

 

 

Sebagai pemahaman, bukan dimana kita belajar, tetapi bagaimana cara kita belajar. Bagaimana mengisi dan mewarnai kanvas yang sedang kita miliki agar menjadi indah dan dapat menyejukan mata yang memandang, telinga yang mendengar, hati yang merasa. Sehingga perjuangan kalian mempunyai nilai kebermanfaatan yang tinggi dan membuat senyum, kebahagiaan, tawa mengembang karena rasa sumringah yang terpancar jelas dari wajah orang tua kalian  dan dalam hati mereka, semakin mantap dan menancap keyakinan bahwa mereka sangat bangga memiliki buah hati seperti kalian.

Sekali lagi selamat datang mahasiswa baru UIN Bandung angkatan 2013. Rahim UIN Bandung merindukan kelahiran penerus bangsa. Siapa lagi kalau bukan kalian dan kita semua.

*Ditulis oleh mahasiswa yang baru lulus dengan penuh kesalahan, penuh penyesalan, kenapa tidak bisa berbuat banyak, kenapa dulu hanya tidur, malu-malu,  menghabiskan waktu dengan berleha-leha, kenapa, kenapa  dan sebagainya. Ditulis sekedar untuk menyampaikan rasa agar Maba angkatan 2013 tidak menyesal dikemudian hari.

Pencapaian’S

  1. Awardee Beswan Djarum angkatan 27
  2. Mawapres Terbaik Pertama tingkat Fakultas tahun 2010
  3. Pemenang berbagai kompetisi Nasional 2012
  4. Delegasi Indonesia dalam Intl. Youth Forum 2012,  New Delhi, India
  5. Delegasi kampus dalam Seminar di berbagai Kota di Indonesia
  6. Runner Up Pidato Bahasa Arab tingkat Fakultas 2010
  7. Runner Up Futsal Tingkat Jurusan 2010
  8. Wapres HMJ Administrasi Negara 2011-2012
  9. Harapan 3, makan kerupuk satu kampung.

 

(Bukan Narsis tapi sekedar motifasi, biar semangat agar bisa melebihi pencapaian cetek yang aku miliki, heehehe)

 

Ditulis dari jam 09:48-10:49 WIB, 26 Agustus 2013, dikala angin memaksa masuk dan blusukan melalui jendela kamar sederhana. Penuh kesejukan dan kesegaran yang sengaja dikirimkan Tuhan. Pertanda bahwa ia mendukung agar kita semua dapat sukses melewati tahapan dan siklus kehidupan ini.

 

 

Posted: August 26th, 2013
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.

Para Periuh Suasana, Semua Ada Maksudnya

Dunia bebas. Kata banyak orang yang ingin terus mengepakan sayap. Terbang lebih tinggi. Berkicau menderu angin dunia. Langit membatasi pandangan ke atas. Suara berdentum keras. Apalagi di era serba genggaman. Segala sesuatu bisa terbang kemana-mana. Seperti kapas yang terus melayang selama angin dihembuskan.

Dalam sehari, selalu ada kegiatan. Dimana mempunyai kosa kata yang selalu menarik dan pantas diledakkan atas terjadinya sesuatu. Semua gerak-gerik manusia mengandung nilai. Oleh karena itu, semua orang men-declare ia bebas. Bebas segalanya. Selama dapat membuat hatinya bahagia. Kebebasan demi kebebasan. Salah satu keping dari kebebasan adalah berpendapat. Berkicau. Mengomentari suasana yang ada. Karena setiap suasana terdapat aktor penting (dibalik suasana atau diluar suasana) yang membuat suasana menjadi hangat dan kadang bisa jadi dingin, membeku dan lain sebagainya.

Media online, jejaring sosial menjadi lahan berekspresi. Membuat susana riuh. Datang dari setiap genggaman banyak orang. Terutama yang memiliki akses dan gadget yang kompatibel. Dari berbagai kalangan sudah ketagihan memberikan pandangan ala mereka. Suasana berkembang, memporak-porandakan halaman jejaring. Satu hari ramai menjadi perbincangan. Belum puas, terus dibahas di hari baru, terus dan berkelanjutan. Segala ruang, segala sudut dan segala titik loncatan tak pernah sepi untuk diramaikan.

Suasana terjadi secara alamiah. Berdasarkan keinginan yang maha ingin. Segala kehendak dan kemauan, gairah berkicau adalah buntut pemahaman akan sesuatu. Episode yang terjadi, dikait-kaitkan dengan episode sebelumnya serta mencoba peramalan demi peramalan, kemana suasana akan bermuara dan menepi. Kicauan suasana banyak makna. Dilihat dari sang pemberi, periuh suasana. Kicauan pertama, biasanya sekedar iseng memberi pandangan. Jarang dari membebani suatu keadaan suasana. Hanya sekedar iseng beneran selama tak ada upaya dan cara selanjutnya yang ikut memberi keriuhan. Ketika ada celah melanjutkan kicauan dan menjawab peluang itu, maka tak lain, kicauan bermakna pendukungan atau sebaliknya. Ikut menggoyangkan.

Suasana pendukungan, bahkan suasana penolakan. Dari genggaman banyak orang, mempertontonkan ia mendukung. Datang pula dari sebelah kamar, ikut berperan, menolak suasana. Ramai dan lancar. Suasana memanas. Aktor dibalik suasana memberi kesempatan bagi dirinya. Disenangkan, atau disudutkan. Sementara, para pemilik genggaman, tak peduli, sikapnya membuat susana riuh. Tak peduli kebenarannya.

 

 

Para pemilik genggaman, bukan orang biasa-biasa. Mereka berpengalaman duduk lama di bangku pendidikan. Bangku pemenuhan cita rasa tinggi. Kasta dan level ditentukan dari sini. Dari genggaman, mereka melemparkan kicauan. Banyak yang benar dalam pelemparan, sesuai dengan kadar pendidikan. Seringpula yang melenceng. Sekedar ikut nimbrung dengan cara yang tidak elegan. Berkata seolah-olah yakin dan menenggelamkan aktor di balik suasana. Sering juga mengangkat tinggi aktor yang sebenar rendah secara realita.

Semua orang masa kini seolah-olah ditakdirkan untuk saling mengingatkan. Saling menertawakan. Saling mendukung. Saling berhadap-hadapan. Membusungkan dada dan saling merendahkan. Namun, takdir tergantung keyakinan dalam dada. Akan membasahi mata atau membuat tawa mengembang.

Tiada seorangpun yang lepas dari kicauan. Hari ini memberi kicauan bagi aktor di suatu suasana. Boleh jadi suatu hari, suatu saat pemilik genggaman juga menjadi target kicauan. Sepertinya konsep roda, berjalan dengan semestinya. Penilaian demi penilaian terus eksis di bawah kolong langit. Lancar dan gesit berjalan di permukaan bumi. Inilah nasib para manusia. Semua tindak tanduk berpotensi penilaian. Datang dari manusia dan juga muncul dari sang maha penilai.

Akan indah, ketika upaya periuhan suasana, mempunyai semangat pengembangan. Pelurusan dan penopang tiang yang hampir roboh ditiup angin kencang. Bukan menjadi ajang iseng, ajang mencari kesenangan belaka, kepuasan hati atas derasnya air mata orang lain. Zaman bebas. Bagi siapapun. Siap ditaruh harga tinggi, dan harus siap pula direndahkan bahkan diinjak-injak, tanpa nilai kebaikan setitik atompun. Disini ketegaran diuji. Semua ada maksudnya.

*entah apa yang aku maksud. Satu detik sebelum huruf pertama dituliskan. Belum jelas arah kemana akan menyongsong. Siapa saja yang ikut dan dimana kata akhir menepi dan bermuara. Detik-detik terakhir, pertengahan jalan, aku mengerti apa maksud semua ini. Aku putuskan terus berjalan. Menemukan batas tepi kata yang sudah terlanjur berjalan. Upaya mempertajam dibalik semua hal yang didepankan.

Ditulis ketika sore hari menjelang, dipinggir jalan, penuh dengan suara lalu lalang pengendara yang memacu kendaraannya. Suara melengking seolah-olah mereka sedang terburu-buru. Entah kemana dan hendak berbuat apa setelah sampai. Masa bodoh, semua suara menjadi teman saat ku menuangkan gejolak rasa di hari ini.

Dimulai Pukul 16:08 berakhir 17:13 WIB. 23 Bulan Kemerdekaan 2013

 

Posted: August 23rd, 2013
Categories: No post
Tags:
Comments: No Comments.